TAPANULIUTARA,JS- Langkah Terakhir Ayah, Luka Panjang Rita
Rita Panggabean (22) tidak pernah membayangkan hidupnya berubah secepat itu. Mahasiswi semester lima Akper Tarutung ini sedang beraktivitas seperti biasa di asrama. Namun kabar duka datang tiba-tiba: ayahnya meninggal tertimpa longsor di Desa Mompang.
Rita tinggal jauh dari kampung halamannya, Desa Nagatimbul. Ayahnya tinggal bersama adik Rita yang tunarungu. Saat longsor terjadi pada Selasa, 25 November 2025, Rita tidak mengetahui apa pun. Listrik padam dan jaringan putus. Desanya terisolasi selama beberapa hari.
Ia baru menerima kabar itu pada Jumat, 28 November. Seorang tetangga berjalan kaki dari kampung menuju Tarutung untuk menyampaikan berita duka. Tetangga itu bertemu bibinya lebih dulu. Bibi lalu menghubungi Rita melalui ponsel.
“Ayah tertimbun longsor… belum ditemukan,” katanya. Rita langsung lemas.
Perjalanan Pulang yang Penuh Rintangan
Rita memutuskan pulang pada Minggu, 30 November. Ia berangkat bersama bibi, saudara ayah, dan abangnya. Mereka naik sepeda motor dari Tarutung ke Desa Parsingkaman. Setelah itu, mereka harus berjalan kaki sekitar dua setengah jam. Perjalanan itu melewati hutan, tanah retak, dan tumpukan longsor.
Mereka juga membawa sembako. Rita sudah mendengar bahwa kampungnya kekurangan bahan makanan.
Sesampainya di Nagatimbul, Rita tidak lagi menemukan ayahnya. Ia hanya berdiri di depan makam yang masih basah. Ia tidak sempat melihat wajah ayahnya. Ketika warga menemukan jasadnya, kondisinya sudah rusak.
“Ayahku selalu bilang, dia akan lakukan apa pun untuk kami,” ujar Rita lirih. Pada hari terakhirnya, ayah memang menolong warga lain yang tertimbun. Namun longsor susulan justru merenggut nyawanya.
Ketidakpastian Masa Depan
Sejak ibunya pergi, ayahlah yang membiayai kuliah Rita. Kini Rita tidak tahu apakah ia masih bisa melanjutkan studinya. Adiknya yang berkebutuhan khusus juga memerlukan tempat tinggal yang aman. Mereka akhirnya menitipkan adiknya kepada bibi, seorang penenun ulos yang hidup dengan penghasilan tidak menentu dan membesarkan dua anak seorang diri.
Adik Rita terus menangis. Ia menolak tinggal di posko. Ia ingin kembali ke rumah yang penuh kenangan tentang ayah.
“Aku tak sanggup melihatnya seperti itu… jadi kupaksa ia ikut ke rumah bibi,” kata Rita.
Kembali dan Pergi Lagi
Pada Rabu, 3 Desember, Rita kembali ke kampung untuk membawa obat bagi neneknya yang sakit. Setelah menyerahkan obat itu, ia kembali berjalan melewati hutan dan sisa longsor. Ia menumpang kendaraan apa pun yang lewat. Saat perjalanan pulang, tim media yang meliput bencana sempat memberinya tumpangan.
Rita masih trauma. Kampungnya selalu mengingatkannya pada ayah yang sudah tiada. Hatinya terasa kosong setiap kali ia memikirkan rumah itu.
“Ayah cuma ingin membantu orang lain… tapi justru dia yang pergi,” ujarnya.
Meski hidupnya berubah total, Rita tetap berusaha berdiri. Ia merawat adiknya, membantu neneknya dari jauh, dan berjuang untuk kuliahnya. Ia mencoba menata ulang hidup yang runtuh begitu cepat.
Rita tetap melangkah. Pelan, tapi pasti. Ia yakin ayahnya ingin ia terus maju, apa pun yang terjadi.(AN)









