KERINCI,JS– Perambahan hutan di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) semakin meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi di Kabupaten Kerinci. Ketika hujan deras mengguyur, daerah dataran rendah kerap dilanda banjir karena fungsi hutan sebagai penahan air menurun drastis.
Perubahan Hutan di Pinggiran TNKS Semakin Signifikan
Hasil analisis citra 3D menunjukkan perubahan besar di pinggiran TNKS. Banyak hutan lindung beralih fungsi menjadi lahan perkebunan dan garapan masyarakat. Rudi Syaf, Manajer Program Komunikasi dan Informasi KKI Warsi, menekankan:
“Bentang alam yang sebelumnya hijau kini terbelah oleh pembukaan lahan skala luas dan berkelanjutan.”
Perubahan ini meluas dari punggungan Gunung Kerinci, sepanjang jalur Bukit Barisan bagian selatan, hingga perbatasan dengan Provinsi Bengkulu. TNKS sebagai kawasan hulu ratusan anak sungai kini kehilangan sebagian besar fungsi ekologisnya.
Hilangnya Fungsi Hutan Memperburuk Risiko Banjir
Dengan berkurangnya tutupan hutan, air hujan mengalir langsung ke hilir tanpa tertahan vegetasi. Akibatnya, genangan dan banjir muncul lebih sering di dataran rendah. Selain itu, permukiman yang tumbuh di dalam kawasan hutan, khususnya di perbatasan Kerinci-Bungo, menambah tekanan terhadap TNKS.
Rudi menambahkan bahwa aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) juga memperparah kerusakan. PETI merusak struktur tanah, menghilangkan vegetasi, dan mencemari aliran sungai. Kondisi ini membuat bukit dan kawasan berhutan kehilangan kemampuan menahan air dan longsor.
TNKS: Penyangga Hidup bagi Masyarakat
TNKS bukan hanya sekadar hutan, tetapi penopang utama keseimbangan air, tanah, dan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Rudi memperingatkan, jika pemerintah dan masyarakat tidak segera bertindak dengan pengawasan ketat dan penegakan hukum, risiko banjir dan tanah longsor akan menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga Kerinci.
“Perlindungan kawasan konservasi bukan pilihan, tetapi kebutuhan untuk menjamin keberlanjutan kehidupan,” tegasnya.(AN)









