JAMBI,JS- Pemerintah Provinsi Jambi mengambil langkah cepat untuk melindungi masyarakat dari dampak buruk asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Keputusan tersebut muncul setelah kualitas udara di Kota Jambi terus mengalami penurunan dan masuk dalam kategori tidak sehat.
Gubernur Jambi, Al Haris, menetapkan kebijakan penghentian sementara kegiatan belajar tatap muka untuk jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kota Jambi. Kebijakan ini bertujuan mengurangi risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan terhadap paparan polusi udara.
Selain itu, pemerintah juga mengimbau seluruh masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perlindungan kesehatan di tengah meningkatnya konsentrasi partikel debu dan asap.
“Kita sudah memutuskan penggunaan masker dan meliburkan TK serta PAUD di Kota Jambi. Kebijakan berikutnya akan menyesuaikan kondisi kualitas udara di setiap daerah,” kata Al Haris.
Indeks Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat
Berdasarkan pemantauan kualitas udara terbaru, sejumlah wilayah di Kota Jambi menunjukkan peningkatan polusi udara akibat kabut asap. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran karena paparan asap dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi mata, hingga memperburuk penyakit kronis.
Para ahli kesehatan menyarankan masyarakat membatasi aktivitas luar ruangan, terutama pada pagi dan sore hari ketika konsentrasi polutan cenderung meningkat.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi:
- Anak-anak
- Lansia
- Ibu hamil
- Penderita asma
- Penderita penyakit paru dan jantung
Karena itu, penggunaan masker menjadi langkah sederhana namun efektif untuk mengurangi dampak paparan asap.
794 Hotspot Karhutla Terpantau di Tanjung Jabung Barat
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanjung Jabung Barat mencatat sebanyak 794 hotspot atau titik panas tersebar di sejumlah kecamatan.
Data pemantauan satelit Terra-Aqua, SNPP, dan NOAA20 hingga 22 Agustus 2026 menunjukkan sebaran hotspot sebagai berikut:
| Kecamatan | Jumlah Hotspot |
| Betara | 308 |
| Batang Asam | 226 |
| Bram Itam | 173 |
| Renah Mendaluh | 53 |
| Senyerang | 12 |
| Muara Papalik | 10 |
| Pengabuan | 8 |
| Merlung | 2 |
| Kuala Betara | 1 |
| Tungkal Ilir | 1 |
Data tersebut menunjukkan bahwa Kecamatan Betara dan Batang Asam menjadi wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi.
Peningkatan jumlah hotspot biasanya berkaitan dengan musim kemarau yang berlangsung lebih panjang. Selain itu, kondisi lahan gambut yang kering juga mempercepat penyebaran api.
Ratusan Hektare Lahan Terbakar
Selain memantau hotspot, BPBD juga mencatat luas lahan yang mengalami kebakaran sepanjang Januari hingga 22 Agustus 2026 mencapai 214,4 hektare.
Berikut rincian luas lahan terbakar:
- Batang Asam: 125,7 hektare
- Renah Mendaluh: 60,3 hektare
- Bram Itam: 17 hektare
- Senyerang: 5 hektare
- Betara: 4,2 hektare
- Merlung: 1,5 hektare
- Muara Papalik: 0,5 hektare
- Kuala Betara: 0,2 hektare
Data tersebut menunjukkan bahwa wilayah Batang Asam menjadi daerah dengan tingkat kebakaran paling tinggi selama tahun 2026.
Jumlah Kejadian Karhutla Mencapai 210 Kasus
BPBD juga mencatat sebanyak 210 kejadian karhutla di berbagai kecamatan.
Rinciannya meliputi:
- Batang Asam: 119 kejadian
- Renah Mendaluh: 73 kejadian
- Senyerang: 7 kejadian
- Bram Itam: 3 kejadian
- Merlung: 3 kejadian
- Betara: 3 kejadian
- Muara Papalik: 1 kejadian
- Kuala Betara: 1 kejadian
Pemerintah daerah terus memperkuat patroli lapangan serta meningkatkan koordinasi dengan TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, dan masyarakat peduli api.
Dampak Karhutla terhadap Ekonomi dan Kesehatan
Karhutla tidak hanya berdampak pada lingkungan. Asap juga memengaruhi sektor kesehatan, pendidikan, transportasi, dan ekonomi masyarakat.
Beberapa dampak yang mulai dirasakan antara lain:
- Meningkatnya risiko ISPA
- Terganggunya aktivitas belajar
- Menurunnya produktivitas masyarakat
- Berkurangnya jarak pandang
- Potensi gangguan transportasi
Karena itu, langkah antisipasi menjadi sangat penting agar dampak karhutla tidak meluas.
Pemerintah Siapkan Kebijakan Lanjutan
Pemerintah Provinsi Jambi akan terus memantau perkembangan kualitas udara dalam beberapa hari ke depan. Apabila kondisi memburuk, pemerintah dapat memperluas kebijakan belajar dari rumah ke jenjang pendidikan lainnya.
Selain itu, pemerintah juga mengajak masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Pencegahan sejak dini menjadi langkah paling efektif dalam mengurangi risiko kebakaran.
Dengan kerja sama semua pihak, kualitas udara di Jambi diharapkan segera membaik dan aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.(*)










