KERINCI,JS- Langit mendung menggantung di atas Tanjung Pauh Mudik, Kecamatan Danau Kerinci Barat, Kabupaten Kerinci, Minggu (5/7/2026). Udara sejuk yang berpadu dengan semilir angin menghadirkan suasana khidmat ketika ribuan masyarakat memenuhi arena Kenduri Sko Lima Desa.
Sejak pagi, warga dari berbagai penjuru Kerinci berdatangan. Tidak sedikit perantau yang sengaja pulang kampung demi menyaksikan salah satu tradisi adat paling sakral di Bumi Sakti Alam Kerinci.
Ketika para penari mulai memasuki arena, seluruh perhatian masyarakat langsung tertuju ke tengah lapangan. Percakapan berhenti seketika. Suasana berubah hening sebelum alunan syair adat mulai menggema.
“Iyo iyo… Depati-Depati kamai… Ninik mamak kamai… anak jantie anak batinu…”
Suara penyanyi laki-laki dan perempuan berpadu harmonis. Lantunan tersebut bukan sekadar musik tradisional, melainkan simbol penghormatan kepada leluhur yang telah membangun nilai adat masyarakat Kerinci selama berabad-abad.
Tari Iyo-Iyo Lagu Pusako kembali menjadi salah satu penampilan yang paling memikat dalam rangkaian Kenduri Sko Lima Desa tahun 2026.
Tari Iyo-Iyo Lagu Pusako Menjadi Simbol Identitas Budaya Kerinci
Berbeda dengan pertunjukan seni modern, Tari Iyo-Iyo Lagu Pusako tumbuh dari tradisi lisan masyarakat Kerinci. Para tetua adat terus mewariskan syair dan gerakannya kepada generasi berikutnya sehingga nilai budaya tetap terjaga hingga saat ini.
Setiap bait syair mengandung pesan yang sangat dalam. Masyarakat menyampaikan ajakan untuk menjaga persatuan, memperkuat musyawarah, menghormati depati dan ninik mamak, serta memelihara kehidupan yang harmonis.
Karena itu, masyarakat tidak hanya menikmati keindahan tarian. Mereka juga merasakan kembali hubungan emosional dengan para leluhur yang telah membentuk tatanan adat Kerinci.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan budaya modern, Tari Iyo-Iyo Lagu Pusako justru menunjukkan bahwa budaya lokal tetap mampu bertahan sekaligus menjadi kebanggaan daerah.
Syair Adat Mengajarkan Nilai Musyawarah dan Persatuan
Suasana semakin khusyuk ketika syair berikutnya mulai terdengar.
“Buluk kato mupakat… yang iyo kato iyo lah buluk… yang ijik kato ijik.”
Syair tersebut mengajarkan filosofi yang masih dipegang teguh masyarakat Kerinci hingga sekarang.
Masyarakat selalu mengutamakan musyawarah sebelum mengambil keputusan penting. Nilai mufakat menjadi fondasi utama dalam kehidupan adat sehingga setiap persoalan dapat diselesaikan melalui dialog, bukan melalui perpecahan.
Oleh karena itu, Tari Iyo-Iyo Lagu Pusako tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tradisional. Sebaliknya, tarian ini terus menjadi media pendidikan budaya yang memperkenalkan nilai kebersamaan kepada generasi muda.
Sambutan Hangat bagi Perantau dan Tamu Kehormatan
Selanjutnya, lantunan syair memasuki bagian yang paling emosional.
“Sairing salam merbah, salam yang lalu kami sembah kembali… Iyo Iyo…”
Suara penyanyi kemudian meninggi sebelum kembali melandai.
“Tanjung Pauh pinang sebatang, kayo jauh lah datang, kami dekat lah tibo pulo…”
Syair tersebut menyampaikan penghormatan kepada tamu yang hadir sekaligus menyiratkan kerinduan mendalam kepada masyarakat Kerinci yang selama ini merantau ke berbagai daerah.
Momentum Kenduri Sko memang selalu menjadi alasan bagi banyak keluarga untuk kembali berkumpul di kampung halaman.
Karena itulah, Tari Iyo-Iyo Lagu Pusako mampu membangun ikatan emosional yang sangat kuat antara masyarakat yang tinggal di kampung dengan mereka yang telah lama merantau.
Kenduri Sko Menjadi Magnet Wisata Budaya Indonesia
Kenduri Sko tidak hanya memiliki makna adat. Tradisi ini juga berkembang menjadi salah satu agenda budaya yang memiliki daya tarik besar bagi sektor pariwisata.
Setiap pelaksanaan Kenduri Sko selalu menghadirkan berbagai prosesi adat yang sarat makna.
Mulai dari pengasungan pusaka, penobatan pemangku adat, prosesi adat para depati, pertunjukan seni tradisional, hingga Tari Iyo-Iyo Lagu Pusako, seluruh rangkaian kegiatan menyuguhkan kekayaan budaya yang sulit ditemukan di daerah lain.
Selain itu, wisatawan dapat menyaksikan langsung bagaimana masyarakat Kerinci menjaga tradisi secara turun-temurun tanpa kehilangan nilai aslinya.
Tidak mengherankan apabila banyak pemerhati budaya menilai Kenduri Sko memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya unggulan Indonesia.
Generasi Muda Menjadi Garda Terdepan Pelestarian Budaya
Salah satu pemandangan yang paling membanggakan terlihat dari keterlibatan anak-anak dan remaja dalam pertunjukan tersebut.
Mereka tampil percaya diri membawakan gerakan tari sekaligus menghafalkan syair adat yang cukup panjang.
Lebih dari sekadar menari, generasi muda juga memahami makna setiap bait lagu yang mereka nyanyikan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses regenerasi budaya masih berjalan dengan baik.
Jika pola pewarisan seperti ini terus berlangsung, budaya Kerinci akan tetap hidup meskipun masyarakat menghadapi tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi digital.
Karena itu, tokoh adat, pemerintah daerah, sekolah, komunitas budaya, hingga masyarakat perlu terus bekerja sama memperkuat pendidikan budaya sejak usia dini.
Warisan Budaya Bernilai Tinggi bagi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Budaya tidak hanya memiliki nilai sejarah.
Saat ini, pelestarian budaya juga membuka peluang besar bagi sektor ekonomi kreatif dan industri pariwisata.
Tari Iyo-Iyo Lagu Pusako dapat menjadi daya tarik utama wisata budaya di Kabupaten Kerinci.
Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula peluang pertumbuhan sektor perhotelan, kuliner lokal, transportasi, kerajinan tangan, hingga usaha mikro masyarakat.
Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya menjaga identitas daerah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
Tari Iyo-Iyo Lagu Pusako Memiliki Peluang Mendunia
Kerinci selama ini terkenal sebagai daerah yang kaya akan tradisi adat dan keindahan alam.
Namun, kekayaan budaya seperti Tari Iyo-Iyo Lagu Pusako memiliki potensi yang sama besarnya untuk dikenal secara nasional bahkan internasional.
Nilai universal tentang persaudaraan, penghormatan kepada pemimpin adat, musyawarah, dan persatuan membuat tarian ini mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Apabila promosi budaya terus diperkuat melalui festival, media digital, serta kolaborasi dengan sektor pariwisata, Tari Iyo-Iyo Lagu Pusako dapat menjadi salah satu ikon budaya Indonesia di mata dunia.
Tepuk Tangan Panjang Menutup Penampilan yang Mengharukan
Setelah seluruh syair selesai dilantunkan, para penari menutup setiap gerakan dengan penuh ketenangan.
Beberapa detik kemudian, tepuk tangan panjang menggema dari seluruh arena.
Sebagian masyarakat berdiri sambil mengabadikan momen menggunakan telepon genggam. Sementara itu, banyak penonton tampak larut dalam suasana haru.
Di bawah langit yang masih diselimuti awan, Tari Iyo-Iyo Lagu Pusako berhasil membawa masyarakat menelusuri perjalanan sejarah, adat, dan jati diri Kerinci.
Yang bergerak bukan hanya para penari.
Yang hidup justru ingatan kolektif masyarakat adat yang terus menjaga amanah leluhur melalui syair, gerakan, dan nilai persatuan.
Selama masyarakat tetap merawat tradisi tersebut, Tari Iyo-Iyo Lagu Pusako akan terus menjadi denyut kehidupan budaya Kerinci sekaligus memperkuat posisi daerah ini sebagai salah satu destinasi wisata budaya terbaik di Indonesia.
Penutup
Kenduri Sko Lima Desa Tanjung Pauh Mudik tahun 2026 kembali membuktikan bahwa budaya mampu menyatukan masyarakat lintas generasi. Melalui Tari Iyo-Iyo Lagu Pusako, masyarakat Kerinci tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga memperkenalkan identitas daerah kepada Indonesia dan dunia.
Tradisi ini mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus menghapus budaya. Sebaliknya, budaya dapat menjadi fondasi pembangunan, penggerak ekonomi kreatif, sekaligus magnet wisata yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Dengan dukungan pemerintah, tokoh adat, komunitas budaya, dan generasi muda, Tari Iyo-Iyo Lagu Pusako berpeluang semakin dikenal sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang membanggakan dan layak tampil di panggung internasional.(*)









