BISNIS,JS- Harga saham yang rendah sering memancing minat investor, khususnya pemula. Banyak yang berharap saham murah mampu memberikan keuntungan besar dalam waktu singkat. Namun, realitas di pasar modal menunjukkan hal berbeda. Tidak sedikit investor justru terjebak pada saham murah yang berakhir merugikan.
Karena itu, investor perlu memahami bahwa saham murah tidak selalu identik dengan peluang emas. Tanpa analisis mendalam, harga rendah justru bisa menjadi sinyal masalah serius dalam bisnis perusahaan.
Saham Murah Bukan Sekadar Soal Nominal Harga
Pada tahap awal, banyak investor mengartikan saham murah sebagai saham dengan harga per lembar yang rendah. Padahal, definisi ini terlalu sempit.
Dalam praktik investasi, saham disebut murah ketika harga pasar berada di bawah nilai intrinsiknya. Nilai ini mencerminkan kondisi fundamental perusahaan, mulai dari kinerja laba, kekuatan aset, arus kas, hingga prospek pertumbuhan jangka panjang.
Sebagai contoh, tekanan sentimen pasar atau kondisi ekonomi tertentu sering menekan harga saham perusahaan berkualitas. Situasi ini justru membuka peluang bagi investor yang mampu menilai nilai wajar secara objektif.
Rasio Keuangan Menjadi Pintu Masuk Analisis
Selanjutnya, investor perlu menggunakan rasio keuangan untuk mengukur apakah saham benar-benar undervalued. Rasio ini membantu menyaring saham murah yang berkualitas dari saham murah bermasalah.
Beberapa rasio yang umum digunakan meliputi:
- Price to Earnings Ratio (PER) untuk membandingkan harga saham dengan laba per saham
- Price to Book Value (PBV) guna menilai harga saham terhadap nilai buku
- Price Earnings to Growth (PEG) untuk mengaitkan valuasi dengan pertumbuhan laba
- Return on Equity (ROE) sebagai tolok ukur efektivitas manajemen
- Debt to Equity Ratio (DER) untuk melihat tingkat risiko utang
Sebagai ilustrasi, saham dengan PER dan PBV lebih rendah dari rata-rata industri, ROE tinggi, serta DER rendah sering mencerminkan valuasi menarik dengan risiko lebih terkendali.
Laporan Keuangan Menjadi Fondasi Keputusan
Namun, rasio saja tidak cukup. Investor tetap harus membaca laporan keuangan secara menyeluruh.
Pertama, laporan laba rugi menunjukkan arah pertumbuhan pendapatan dan laba. Kedua, neraca keuangan menggambarkan kekuatan aset dan struktur kewajiban. Ketiga, laporan arus kas memastikan perusahaan menghasilkan uang nyata dari kegiatan operasional.
Pengalaman selama pandemi Covid-19 memperlihatkan pentingnya aspek ini. Banyak saham anjlok tajam, tetapi perusahaan dengan arus kas kuat dan neraca sehat mampu bangkit lebih cepat ketika kondisi membaik.
Analisis Teknikal Membantu Menentukan Timing
Setelah memilih saham yang tepat, investor perlu menentukan waktu beli dengan analisis teknikal. Pendekatan ini membantu menghindari pembelian di harga yang terlalu tinggi.
Indikator seperti moving average menunjukkan arah tren harga, sementara Relative Strength Index (RSI) membantu mengidentifikasi kondisi jenuh jual atau jenuh beli. Selain itu, area support dan resistance sering menjadi acuan penting dalam mengambil keputusan.
Sebagai gambaran, saham dengan RSI rendah sering menunjukkan tekanan jual berlebihan. Jika fundamental tetap solid, kondisi ini bisa membuka peluang pembelian yang menarik.
Strategi Aman untuk Investor Pemula
Bagi investor pemula, strategi konservatif tetap menjadi pilihan paling rasional. Investor dapat memulai dengan saham berkapitalisasi besar atau blue chip yang likuid dan stabil.
Selain itu, metode investasi berkala atau dollar cost averaging membantu mengurangi risiko kesalahan timing. Diversifikasi lintas sektor juga penting agar portofolio tidak bergantung pada satu saham saja.
Investor sebaiknya menghindari saham dengan pergerakan ekstrem tanpa dukungan kinerja bisnis yang jelas. Disiplin menerapkan batas kerugian juga menjadi kunci menjaga modal tetap aman.
Prinsip Investasi Nilai Masih Relevan
Prinsip value investing yang dipopulerkan oleh Warren Buffett tetap relevan hingga saat ini. Buffett menekankan pentingnya membeli saham dengan margin of safety, yaitu selisih yang cukup besar antara harga beli dan nilai intrinsik.
Ia juga menyoroti pentingnya memilih perusahaan dengan bisnis yang mudah dipahami, manajemen berintegritas, serta utang yang terkendali.
Catatan ; Artikel ini hanya memuat tentang informasi semata, bukan untuk mengajak masyarakat dan mengikuti investasi, pasar saham, trending dan sebagainya. segala resiko seperti kegagalan di luar tanggung jawab jambisun.id. (*)









