4.363 Hektare Lahan Terbakar di Jambi, Batang Hari Catat Kebakaran Terluas

- Jurnalis

Senin, 19 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI,JS- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi menghanguskan 4.363,86 hektare lahan sepanjang 1 Januari hingga 16 Oktober 2026. Pemerintah Provinsi Jambi menyoroti tingginya luas kebakaran tersebut, sementara aparat kepolisian terus menangani perkara yang berkaitan dengan dugaan pembakaran lahan.

Gubernur Jambi Al Haris mengungkapkan bahwa Kabupaten Batang Hari mencatat luas kebakaran terbesar di provinsi ini. Di sisi lain, Polda Jambi menangani 91 kasus karhutla hingga 16 Oktober 2026 dan menetapkan 18 orang sebagai tersangka.

Data tersebut menunjukkan bahwa karhutla masih menjadi tantangan serius bagi Jambi, terutama ketika kebakaran meluas di sejumlah kabupaten. Karena itu, pemerintah mengajak masyarakat memperkuat pencegahan sekaligus melaporkan kebakaran sejak awal agar api tidak menjalar ke wilayah yang lebih luas.

Batang Hari Catat Kebakaran Lahan Terluas di Jambi

Al Haris menyampaikan bahwa Batang Hari menempati urutan pertama dengan luas lahan terbakar mencapai 1.376,70 hektare. Angka ini menjadi yang tertinggi dibandingkan kabupaten dan kota lain di Provinsi Jambi.

Kabupaten Tanjung Jabung Barat menyusul dengan luas kebakaran 674,75 hektare. Berikutnya, Tanjung Jabung Timur mencatat 659,18 hektare, Muaro Jambi 626,87 hektare, Sarolangun 508,55 hektare, dan Tebo 403,76 hektare.

Sementara itu, kebakaran di Kabupaten Bungo mencapai 86,75 hektare. Merangin mencatat 17,30 hektare, sedangkan Kota Jambi mencapai 10 hektare.

Berbeda dari wilayah tersebut, Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh tidak mencatat lahan terbakar dalam data yang disampaikan Al Haris. Kedua daerah itu masing-masing mencatat nol hektare sepanjang periode pendataan tersebut.

“Luas lahan yang terbakar di Provinsi Jambi sejak 1 Januari hingga 16 Oktober 2026 mencapai 4.363,86 hektare,” kata Al Haris, Minggu (18/10/2026).

Besarnya luas kebakaran di Batang Hari menjadi perhatian pemerintah daerah. Pasalnya, kebakaran di beberapa titik masih menambah luas area yang terdampak.

Kebakaran Bertambah di Sejumlah Desa di Batang Hari

Al Haris menyoroti penambahan luas kebakaran di tiga lokasi di Kabupaten Batang Hari. Di Desa Sungai Sawo, Kecamatan Bajubang, api menghanguskan tambahan lahan sekitar 2 hektare.

Kemudian, Desa Mekar Jaya yang juga berada di Kecamatan Bajubang mencatat penambahan sekitar 3 hektare. Adapun Desa Pematang Gadung, Kecamatan Mersam, mengalami tambahan luas kebakaran sekitar 1 hektare.

Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya pengawasan di lokasi rawan kebakaran. Selain melakukan pemadaman, petugas dan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan ketika menemukan asap atau indikasi munculnya api.

Deteksi dini juga berperan penting untuk menekan risiko kebakaran meluas, terutama di kawasan yang memiliki vegetasi mudah terbakar. Semakin cepat masyarakat melaporkan kejadian, semakin cepat pula petugas dapat menindaklanjutinya.

Hotspot Karhutla Jambi Capai 15.677 Titik

Selain mencatat ribuan hektare lahan terbakar, Jambi juga menghadapi tingginya jumlah titik panas atau hotspot. Data yang disampaikan pemerintah menunjukkan 15.677 hotspot sejak 1 Januari hingga 15 Oktober 2026.

Khusus pada 15 Oktober, satelit Aqua Terra dan Suomi mendeteksi 870 titik panas di berbagai wilayah Jambi.

Tanjung Jabung Timur mencatat akumulasi hotspot tertinggi, yakni 4.528 titik. Muaro Jambi berada di urutan berikutnya dengan 2.515 titik, disusul Sarolangun sebanyak 2.290 titik.

Selanjutnya, Tebo mencatat 1.904 hotspot, Tanjung Jabung Barat 1.622 titik, dan Batang Hari 1.495 titik. Sementara itu, Merangin mencatat 709 titik dan Bungo 510 titik.

Di wilayah lainnya, satelit mendeteksi 90 hotspot di Kerinci, 11 titik di Kota Jambi, serta 3 titik di Kota Sungai Penuh.

Meski demikian, masyarakat perlu memahami perbedaan antara hotspot dan kebakaran yang telah terkonfirmasi. Hotspot merupakan indikasi panas yang terdeteksi satelit. Petugas tetap perlu melakukan pemeriksaan lapangan untuk memastikan apakah indikasi tersebut benar-benar menunjukkan kebakaran aktif.

Oleh sebab itu, data hotspot menjadi salah satu petunjuk penting untuk menentukan wilayah yang memerlukan pemantauan lebih lanjut. Pemerintah dan petugas dapat menggunakan informasi tersebut untuk mendukung upaya pencegahan serta penanganan karhutla.

Baca Juga :  Sawah Mengering di Merangin Jambi, Petani Berjuang Selamatkan Tanaman Padi

Polda Jambi Tangani 91 Kasus Karhutla

Di sisi penegakan hukum, Al Haris menyebut Polda Jambi menangani 91 kasus karhutla hingga 16 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, penyidik masih menyelidiki 71 kasus, sedangkan 20 kasus telah memasuki tahap penyidikan.

Dalam penanganan perkara tersebut, polisi menetapkan 18 orang sebagai tersangka.

Penegakan hukum menjadi bagian penting dalam upaya mengendalikan kebakaran hutan dan lahan. Melalui proses penyelidikan dan penyidikan, aparat berupaya mengungkap dugaan pelanggaran serta meminta pertanggungjawaban pihak yang terbukti melakukan tindak pidana.

Selain itu, proses hukum diharapkan dapat mencegah praktik pembakaran lahan yang berpotensi memicu kebakaran lebih luas. Namun, penanganan perkara tetap harus mengikuti proses hukum dan pembuktian sesuai ketentuan yang berlaku.

Upaya penanggulangan karhutla karena itu tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman. Pemerintah juga membutuhkan pengawasan, edukasi kepada masyarakat, pelaporan cepat, serta penegakan hukum yang konsisten.

Al Haris Ingatkan Warga Tidak Membakar Lahan

Menghadapi kondisi tersebut, Al Haris meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kebiasaan tersebut berisiko memicu api yang sulit dikendalikan, terutama ketika kondisi lingkungan mendukung penyebaran kebakaran.

Gubernur juga mengajak warga segera melaporkan kejadian kebakaran kepada petugas agar penanganan dapat berlangsung lebih cepat.

“Pencegahan karhutla harus menjadi perhatian bersama. Saya mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan kebakaran,” ujar Al Haris.

Partisipasi masyarakat menjadi salah satu kunci untuk mengurangi risiko kebakaran berulang. Warga dapat membantu dengan menghindari pembakaran lahan, menjaga lingkungan sekitar, serta menyampaikan informasi ketika menemukan asap atau api.

Dengan luas kebakaran yang telah mencapai 4.363,86 hektare dan 18 orang yang tercatat sebagai tersangka, Jambi masih menghadapi pekerjaan besar dalam menekan karhutla. Pemerintah, aparat penegak hukum, pelaku usaha, dan masyarakat perlu memperkuat kerja sama agar kebakaran tidak terus meluas serta dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan warga dapat ditekan.(*)

Berita Terkait

Tiga Besar Hasil Seleksi 5 Kepala OPD Sungai Penuh Diumumkan, Berikut Namanya
133 ASN Pemkab Tebo Pensiun hingga September 2026, Guru Paling Banyak
Hari Kesadaran Nasional, ASN Sungai Penuh Diingatkan soal Disiplin dan Pelayanan
Kejari Sungai Penuh Ikut Gerakan 3S, Alfin Dorong Kepedulian Sosial Meluas
Wako Alfin Hadiri Pengukuhan DPC PKB Sungai Penuh 2026–2031
MTQH Jambi 2026, Merangin Bidik Tiga Besar dengan 62 Kafilah
Bukan Cuma Cek Bangunan! Aktivis Minta Proyek P3-TGAI Kerinci dan Sungai Penuh Diaudit APH Hingga BPK
Pemekaran 4 Desa di Muaro Jambi Masuk Tahap Akhir, Kapan Mulai Beroperasi?
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:58 WIB

Tiga Besar Hasil Seleksi 5 Kepala OPD Sungai Penuh Diumumkan, Berikut Namanya

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:31 WIB

133 ASN Pemkab Tebo Pensiun hingga September 2026, Guru Paling Banyak

Senin, 19 Oktober 2026 - 19:01 WIB

Hari Kesadaran Nasional, ASN Sungai Penuh Diingatkan soal Disiplin dan Pelayanan

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Kejari Sungai Penuh Ikut Gerakan 3S, Alfin Dorong Kepedulian Sosial Meluas

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:01 WIB

4.363 Hektare Lahan Terbakar di Jambi, Batang Hari Catat Kebakaran Terluas

Berita Terbaru