KESEHATAN,JS- Banyak pekerja baru menyadari pentingnya saldo Jaminan Hari Tua (JHT) ketika mereka bersiap mengundurkan diri. Niat awal ingin mencairkan dana justru berubah menjadi kekecewaan setelah mengetahui saldo tidak bertambah selama berbulan-bulan. Kondisi ini bukan cerita langka.
Dalam sejumlah kasus, perusahaan terlambat atau tidak menyetorkan iuran meski gaji karyawan tetap terpotong setiap bulan.
Agar risiko itu tidak terjadi, karyawan perlu memahami alasan penting di balik kebiasaan rutin mengecek saldo JHT.
Pertama, potongan gaji tidak selalu menjamin iuran langsung masuk ke rekening JHT. Beberapa perusahaan menunda setoran karena kendala internal, bahkan ada yang lalai tanpa memberi tahu karyawan.
Melalui aplikasi Jamsostek Mobile (JMO), karyawan bisa memantau status pembayaran iuran setiap bulan. Aplikasi ini menampilkan periode yang sudah dibayarkan dan bulan yang masih tertunggak. Jika menemukan kejanggalan, karyawan bisa segera menanyakan ke HRD sebelum masalah berkembang lebih besar.
Dengan langkah sederhana ini, karyawan menjaga hak finansialnya tetap aman.
Selanjutnya, Cocokkan Angka Iuran dengan Slip Gaji
Selain memastikan iuran dibayarkan, karyawan juga perlu memeriksa kesesuaian nominal. Iuran JHT ditetapkan sebesar 5,7 persen dari upah bulanan, yang terdiri dari gaji pokok dan tunjangan tetap. Dari jumlah itu, karyawan menanggung 2 persen, sedangkan perusahaan membayar 3,7 persen.
Karena itu, angka di slip gaji harus selaras dengan iuran yang tercatat di aplikasi JMO. Dengan rutin mencocokkan data, karyawan memastikan setiap rupiah tercatat secara transparan.
Tanpa Riwayat Lengkap, Pencairan Bisa Tersendat
Lebih jauh lagi, saldo dan riwayat iuran yang rapi memegang peran penting saat karyawan ingin mencairkan JHT. Banyak klaim tertunda karena data tidak lengkap atau ada iuran yang belum tercatat.
Jika karyawan rutin memantau sejak awal, kendala administratif bisa dicegah. Proses pencairan pun berjalan lebih cepat, sehingga karyawan dapat fokus menyusun rencana karier atau usaha berikutnya tanpa beban tambahan.
Jangan Abaikan Akurasi Data Kepesertaan
Selain saldo, data pribadi juga perlu mendapat perhatian. Kesalahan penulisan nama, NIK, atau riwayat perusahaan sering menghambat penggabungan saldo dari tempat kerja sebelumnya.
Dengan mengecek data kepesertaan secara berkala di aplikasi, karyawan bisa memastikan seluruh informasi tetap sinkron. Data yang akurat mempermudah akses ke berbagai manfaat jaminan sosial dan mencegah masalah saat klaim.(*)









