TEKNOLOGI,JS- Banyak mahasiswa menyimpan ide startup yang mampu menjawab persoalan di masyarakat. Sayangnya, keterbatasan modal sering memaksa ide tersebut berhenti di tahap wacana. Kondisi ini kerap menimbulkan rasa frustrasi, terutama ketika peluang pasar sudah terlihat jelas.
Namun, situasi kini berubah. Era digital membuka akses luas ke pendanaan, mentoring, dan jejaring bisnis. Mahasiswa tidak lagi harus menunggu lulus untuk memulai startup. Asalkan memahami strategi yang tepat, peluang pendanaan terbuka sejak dini.
Kompetisi Startup Jadi Langkah Awal Paling Masuk Akal
Pertama, mahasiswa bisa memulai dari kompetisi bisnis dan pitching startup. Saat ini, banyak institusi, perusahaan, hingga komunitas membuka lomba business plan khusus mahasiswa.
Melalui kompetisi ini, peserta tidak hanya mengejar hadiah. Mereka juga mendapat bimbingan langsung dari praktisi, memperluas jaringan, serta menguji kelayakan ide. Proses ini membantu mahasiswa mematangkan konsep bisnis sebelum masuk tahap pendanaan yang lebih serius.
Selain itu, rekam jejak kompetisi sering meningkatkan kepercayaan investor terhadap startup mahasiswa.
Jika Gagal Menang, Angel Investor Bisa Jadi Jalan Berikutnya
Selanjutnya, mahasiswa bisa melirik angel investor sebagai alternatif pendanaan. Investor jenis ini biasanya fokus pada potensi ide, kekompakan tim, dan kejelasan target pasar.
Agar menarik perhatian, mahasiswa perlu menyiapkan pitch deck yang ringkas dan mudah dipahami. Model bisnis harus realistis. Jika memungkinkan, mahasiswa juga perlu menunjukkan MVP atau prototype sederhana.
Di tahap ini, storytelling memegang peran penting. Investor tidak hanya menilai produk, tetapi juga menaruh kepercayaan pada visi dan karakter founder.
Inkubator dan Akselerator Bantu Startup Tumbuh Lebih Terarah
Selain mencari investor, mahasiswa sebaiknya memanfaatkan program inkubator dan akselerator. Program ini memberikan pendampingan intensif dari tahap awal hingga siap masuk pasar.
Melalui inkubator, mahasiswa belajar mengembangkan produk, memvalidasi pasar, dan menyusun strategi pemasaran. Beberapa program bahkan menyediakan modal awal serta akses pitching langsung ke investor.
Karena itu, inkubator menjadi jalur ideal bagi mahasiswa yang ingin membangun startup secara berkelanjutan.
Pitch Deck yang Kuat Jadi Senjata Utama Pendanaan
Selanjutnya, mahasiswa perlu memastikan pitch deck tampil solid dan meyakinkan. Presentasi harus menjelaskan masalah, solusi, pasar, serta potensi bisnis secara singkat.
Kalimat yang lugas dan data yang relevan akan membantu investor memahami nilai startup dengan cepat. Selain itu, kemampuan komunikasi yang baik membuat ide terasa hidup dan mudah diingat.
Tanpa pitch deck yang kuat, ide bagus pun sulit menarik perhatian pendana.
Personal Branding Founder Muda Perlu Dibangun Sejak Awal
Tidak kalah penting, mahasiswa perlu membangun personal branding sebagai founder. Investor sering menilai siapa orang di balik ide sebelum menilai produknya.
Mahasiswa bisa aktif di komunitas startup, rutin berbagi progres di LinkedIn atau media sosial, serta berani tampil pitching di berbagai forum. Langkah ini akan meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan terhadap startup yang dibangun.
Semakin kuat citra founder, semakin besar peluang mendapatkan pendanaan.
Peran Kampus Jadi Faktor Penentu Kesuksesan Startup Mahasiswa
Di sisi lain, dukungan kampus memegang peran krusial. Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) secara aktif mendorong mahasiswa mengembangkan jiwa kewirausahaan sejak dini sebagai Kampus Digital Kreatif.
Melalui BSI Entrepreneur Center (BEC) dan Inkubator Center UBSI, mahasiswa mendapat pendampingan langsung mulai dari penyusunan ide bisnis, pelatihan pitching, hingga akses ke dunia industri dan ekosistem startup.
Khusus di Kampus UBSI Purwokerto, BEC mengajak mahasiswa belajar secara praktis. Mahasiswa menyusun ide bisnis, mengasah kemampuan presentasi, serta membangun koneksi industri sejak masih kuliah.
Mahasiswa Tidak Perlu Menunggu Lulus untuk Jadi Founder
Pada akhirnya, keterbatasan modal tidak lagi menjadi alasan untuk menunda mimpi membangun startup. Dengan strategi yang tepat, pendanaan bisa datang dari berbagai jalur.
Lingkungan kampus yang mendukung, akses ke inkubator, serta keberanian memulai sejak dini akan menjadi pembeda. Mahasiswa yang bergerak lebih cepat akan memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh dan bersaing di dunia startup.(*)









