JAMBI – Dinas Sosial Kota Jambi kembali turun ke jalan untuk menertibkan gelandangan dan pengemis (gepeng), Minggu (1/3/2026). Operasi ini menyasar sejumlah titik strategis kota dan sempat diwarnai aksi kejar-kejaran antara petugas dan para gepeng.
Pertama-tama, petugas mengawali razia di simpang empat lampu merah Pasar Jambi. Kehadiran mobil operasional langsung memicu kepanikan. Sejumlah gelandangan, pengamen, hingga penjual tisu berlarian ke berbagai arah untuk menghindari penertiban.
Beberapa di antaranya bahkan berlari cukup jauh. Akibatnya, petugas tidak berhasil mengamankan seluruh gepeng yang berada di lokasi tersebut.
Gepeng Sudah Hafal Pola Razia
Kepala Dinas Sosial Kota Jambi, Yunita Indrawati, menjelaskan bahwa kejadian tersebut kerap berulang. Menurutnya, para gepeng sudah mengenali kendaraan dinas petugas.
“Begitu melihat mobil Dinsos, mereka langsung kabur. Larinya cepat sekali, jadi tidak semuanya bisa kami kejar,” ujarnya.
Penyisiran Berlanjut ke Titik Rawan Lain
Selanjutnya, petugas melanjutkan razia ke sejumlah lokasi lain yang kerap menjadi tempat aktivitas mengemis. Salah satu titik yang disisir berada di lampu merah dekat Museum Rakyat Jambi.
Di lokasi tersebut, petugas mengamankan seorang pria yang menjajakan tisu kepada pengendara. Petugas kemudian membawanya untuk pendataan dan pembinaan.
Badut dan Anak Kecil Ikut Terjaring
Tak berhenti di situ, petugas juga menemukan seorang pria berkostum badut yang membawa seorang anak perempuan untuk mengemis di persimpangan lampu merah. Temuan ini kembali menyoroti praktik eksploitasi anak di ruang publik.
Sementara itu, di titik berbeda, petugas menjaring seorang ibu bersama empat anak kecil. Keluarga tersebut mengumpulkan barang rongsokan menggunakan gerobak di pinggir jalan.
Lima KK dan Puluhan Orang Terdata
Berdasarkan hasil pendataan, Dinas Sosial mencatat lima kepala keluarga (KK) dengan total 13 orang dalam satu kelompok keluarga. Selain itu, petugas juga menambahkan 19 orang lain yang terjaring dalam operasi sebelumnya.
“Totalnya ada 32 orang gelandangan dan pengemis yang kami amankan. Di antaranya terdapat anak-anak,” jelas Yunita.
Pembinaan hingga Pengantaran ke Rumah
Petugas kemudian membawa seluruh gepeng ke kantor Dinas Sosial Kota Jambi. Di lokasi tersebut, petugas melakukan pendataan sekaligus memberikan pembinaan singkat.
Setelah itu, petugas mengantar mereka kembali ke rumah masing-masing. Namun, dalam proses pengantaran, petugas menemukan sejumlah alamat yang tidak sesuai dengan data KTP.
Untuk kasus tersebut, Dinas Sosial menyerahkan penelusuran lanjutan kepada ketua RT setempat agar data kependudukan dapat diverifikasi.
“Sebagian besar merupakan warga Kota Jambi. Namun, satu orang berasal dari Muaro Jambi,” tambah Yunita.
Ramadan Picu Aktivitas Mengemis
Memasuki bulan Ramadan, Yunita mengakui adanya peningkatan aktivitas gepeng di jalanan. Meski begitu, ia menilai lonjakan tersebut belum tergolong signifikan.
Menurutnya, kebiasaan masyarakat yang masih memberi uang secara langsung di jalan turut memperkuat praktik mengemis.
“Karena sering diberi, mereka terbiasa. Akhirnya mentalnya selalu meminta,” ujarnya.
Imbauan untuk Masyarakat
Sebagai langkah pencegahan, Dinas Sosial mengimbau masyarakat agar menyalurkan sedekah melalui lembaga resmi atau program sosial pemerintah. Cara tersebut dinilai lebih tepat sasaran dan mampu melindungi anak-anak dari eksploitasi.
Ke depan, Dinsos memastikan razia dan pemantauan akan terus dilakukan secara berkala. Langkah ini bertujuan menjaga ketertiban kota sekaligus menekan jumlah gelandangan dan pengemis di ruang publik, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri.(*)









