Surat Edaran Pemprov Jambi Resmi Terbit, ASN dan Non-ASN Diminta Pakai Baju Melayu hingga 16 Juni

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 10 Juni 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ; Gubernur Jambi, H Alharis

Foto ; Gubernur Jambi, H Alharis

JAMBIS,JS- Pemprov Jambi mengajak seluruh ASN dan non-ASN mengenakan pakaian adat Melayu selama peringatan Hari Adat Melayu Jambi 2026. Melalui kebijakan ini, pemerintah ingin menghadirkan budaya Melayu secara nyata di kantor-kantor pemerintahan.

Selain memperkuat identitas daerah, langkah tersebut juga mendorong aparatur pemerintah untuk menjadi contoh dalam pelestarian budaya lokal. Karena itu, pemerintah memilih pendekatan yang melibatkan seluruh unsur birokrasi secara langsung.

Teluk Belango dan Baju Kurung Menjadi Simbol Kehormatan Melayu

Pegawai pria mengenakan Baju Teluk Belango, peci hitam, dan sarung. Sementara itu, pegawai wanita mengenakan Baju Kurung dan Tengkuluk.

Setiap unsur pakaian tersebut membawa makna filosofis yang kuat. Teluk Belango mencerminkan kesederhanaan, kehormatan, dan kesantunan. Di sisi lain, Baju Kurung dan Tengkuluk menggambarkan kelembutan, adab, dan martabat perempuan Melayu.

Karena itu, masyarakat Melayu tidak memandang pakaian adat hanya sebagai busana seremonial. Sebaliknya, masyarakat menjadikannya simbol identitas yang merepresentasikan nilai budaya turun-temurun.

Baca Juga :  Bank Jambi Siapkan Langkah Besar, Pemkot Sungai Penuh Dukung Penguatan Perbankan Daerah

Hari Adat Melayu Jambi Menjadi Momentum Pelestarian Budaya

Pemerintah menetapkan Hari Adat Melayu Jambi melalui Keputusan Gubernur Jambi Nomor 312/KEP.GUB/DISBUDPAR-2.3-2022. Melalui keputusan tersebut, pemerintah memberikan ruang yang lebih luas bagi upaya pelestarian budaya Melayu di Provinsi Jambi.

Tidak hanya itu, pemerintah juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga nilai-nilai adat yang telah membentuk karakter masyarakat Jambi selama bertahun-tahun.

Sejalan dengan itu, Pemprov Jambi terus mengembangkan berbagai program yang mendukung pelestarian budaya lokal agar generasi muda tetap mengenal akar budayanya.

Pemprov Jambi Ingin Budaya Hadir dalam Kehidupan Sehari-hari

Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Provinsi Jambi, Arief Munandar, menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin Hari Adat Melayu Jambi berhenti sebagai agenda seremonial tahunan.

Sebaliknya, pemerintah ingin menghadirkan budaya Melayu secara nyata dalam aktivitas sehari-hari, terutama di lingkungan pemerintahan. Oleh karena itu, ASN dan non-ASN memegang peran penting dalam menyampaikan pesan pelestarian budaya kepada masyarakat.

Menurut Arief, aparatur pemerintah dapat menunjukkan komitmen tersebut melalui tindakan sederhana, termasuk mengenakan pakaian adat Melayu Jambi selama peringatan Hari Adat Melayu berlangsung.

Pembangunan Daerah Tidak Hanya Berbicara Soal Ekonomi

Di tengah percepatan pembangunan dan kemajuan teknologi, masyarakat tetap membutuhkan identitas budaya yang kuat. Karena itu, Pemprov Jambi menempatkan pelestarian budaya sebagai bagian penting dari pembangunan daerah.

Pemerintah tidak hanya membangun jalan, jembatan, kawasan industri, dan investasi. Pada saat yang sama, pemerintah juga memperkuat karakter masyarakat melalui pelestarian adat dan budaya.

Dengan demikian, pembangunan tidak sekadar menghasilkan kemajuan fisik. Pembangunan juga melahirkan masyarakat yang tetap menghargai sejarah, budaya, dan identitas daerahnya.

Baca Juga :  Beasiswa Pemprov Jambi 2026 Resmi Dibuka! Mahasiswa S1 Bisa Dapat Bantuan Kuliah, Cek Syarat dan Cara Daftarnya Sekarang

Hari Adat Melayu Jambi 2026 Perkuat Kebanggaan terhadap Warisan Leluhur

Melalui peringatan Hari Adat Melayu Jambi 2026, Pemprov Jambi mengajak seluruh aparatur pemerintahan menampilkan wajah budaya Melayu selama sepekan penuh.

Selain mengenakan pakaian adat, setiap perangkat daerah juga mengirim papan ucapan Selamat Hari Adat Melayu Jambi ke Lembaga Adat Melayu Jambi. Langkah tersebut memperlihatkan dukungan nyata terhadap pelestarian budaya daerah.

Pada akhirnya, pemerintah berharap masyarakat tidak hanya menyimpan adat dalam buku sejarah. Sebaliknya, masyarakat perlu memakai, menjalankan, menjaga, dan mewariskan adat kepada generasi berikutnya.

Dengan cara itulah budaya Melayu Jambi akan tetap hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan masyarakat di tengah perubahan zaman.(*)

Berita Terkait

Tradisi Kenduri Sko 6 Luhah Sungai Penuh Kembali Digelar, Alfin: Budaya Adalah Identitas Daerah
Aturan Baru Pemulangan Haji 2026: Jemaah Jambi Tidak Boleh Dijemput di Asrama, Ini Penjelasan Resminya
Anwar Sadat Dorong Produk Lokal Mendunia, Pelaku UMKM Tanjab Barat Dapat Dukungan Penuh
Wako Alfin Gandeng Yayasan Regen, Sungai Penuh Siapkan Revolusi Pengelolaan Sampah
Setelah Kerinci dan Sungai Penuh, Giliran Pemkab Tebo Dukung Batik Air Buka Rute Muara Bungo-Jakarta
Bank Jambi Siapkan Langkah Besar, Pemkot Sungai Penuh Dukung Penguatan Perbankan Daerah
Viral, Pemadaman Listrik 9 Juni 2026 di Sarolangun, Ini Daftar Lengkap Wilayah Terdampak
Pasien Cuci Darah Kini Lebih Nyaman, RSUD Mayjen Haji Thalib Lakukan Peremajaan Alat Medis
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 10:00 WIB

Surat Edaran Pemprov Jambi Resmi Terbit, ASN dan Non-ASN Diminta Pakai Baju Melayu hingga 16 Juni

Rabu, 10 Juni 2026 - 09:30 WIB

Tradisi Kenduri Sko 6 Luhah Sungai Penuh Kembali Digelar, Alfin: Budaya Adalah Identitas Daerah

Selasa, 9 Juni 2026 - 19:01 WIB

Anwar Sadat Dorong Produk Lokal Mendunia, Pelaku UMKM Tanjab Barat Dapat Dukungan Penuh

Selasa, 9 Juni 2026 - 15:35 WIB

Wako Alfin Gandeng Yayasan Regen, Sungai Penuh Siapkan Revolusi Pengelolaan Sampah

Selasa, 9 Juni 2026 - 12:30 WIB

Setelah Kerinci dan Sungai Penuh, Giliran Pemkab Tebo Dukung Batik Air Buka Rute Muara Bungo-Jakarta

Berita Terbaru