JAMBIS,JS- Pemprov Jambi mengajak seluruh ASN dan non-ASN mengenakan pakaian adat Melayu selama peringatan Hari Adat Melayu Jambi 2026. Melalui kebijakan ini, pemerintah ingin menghadirkan budaya Melayu secara nyata di kantor-kantor pemerintahan.
Selain memperkuat identitas daerah, langkah tersebut juga mendorong aparatur pemerintah untuk menjadi contoh dalam pelestarian budaya lokal. Karena itu, pemerintah memilih pendekatan yang melibatkan seluruh unsur birokrasi secara langsung.
Teluk Belango dan Baju Kurung Menjadi Simbol Kehormatan Melayu
Pegawai pria mengenakan Baju Teluk Belango, peci hitam, dan sarung. Sementara itu, pegawai wanita mengenakan Baju Kurung dan Tengkuluk.
Setiap unsur pakaian tersebut membawa makna filosofis yang kuat. Teluk Belango mencerminkan kesederhanaan, kehormatan, dan kesantunan. Di sisi lain, Baju Kurung dan Tengkuluk menggambarkan kelembutan, adab, dan martabat perempuan Melayu.
Karena itu, masyarakat Melayu tidak memandang pakaian adat hanya sebagai busana seremonial. Sebaliknya, masyarakat menjadikannya simbol identitas yang merepresentasikan nilai budaya turun-temurun.
Hari Adat Melayu Jambi Menjadi Momentum Pelestarian Budaya
Pemerintah menetapkan Hari Adat Melayu Jambi melalui Keputusan Gubernur Jambi Nomor 312/KEP.GUB/DISBUDPAR-2.3-2022. Melalui keputusan tersebut, pemerintah memberikan ruang yang lebih luas bagi upaya pelestarian budaya Melayu di Provinsi Jambi.
Tidak hanya itu, pemerintah juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga nilai-nilai adat yang telah membentuk karakter masyarakat Jambi selama bertahun-tahun.
Sejalan dengan itu, Pemprov Jambi terus mengembangkan berbagai program yang mendukung pelestarian budaya lokal agar generasi muda tetap mengenal akar budayanya.
Pemprov Jambi Ingin Budaya Hadir dalam Kehidupan Sehari-hari
Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Provinsi Jambi, Arief Munandar, menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin Hari Adat Melayu Jambi berhenti sebagai agenda seremonial tahunan.
Sebaliknya, pemerintah ingin menghadirkan budaya Melayu secara nyata dalam aktivitas sehari-hari, terutama di lingkungan pemerintahan. Oleh karena itu, ASN dan non-ASN memegang peran penting dalam menyampaikan pesan pelestarian budaya kepada masyarakat.
Menurut Arief, aparatur pemerintah dapat menunjukkan komitmen tersebut melalui tindakan sederhana, termasuk mengenakan pakaian adat Melayu Jambi selama peringatan Hari Adat Melayu berlangsung.
Pembangunan Daerah Tidak Hanya Berbicara Soal Ekonomi
Di tengah percepatan pembangunan dan kemajuan teknologi, masyarakat tetap membutuhkan identitas budaya yang kuat. Karena itu, Pemprov Jambi menempatkan pelestarian budaya sebagai bagian penting dari pembangunan daerah.
Pemerintah tidak hanya membangun jalan, jembatan, kawasan industri, dan investasi. Pada saat yang sama, pemerintah juga memperkuat karakter masyarakat melalui pelestarian adat dan budaya.
Dengan demikian, pembangunan tidak sekadar menghasilkan kemajuan fisik. Pembangunan juga melahirkan masyarakat yang tetap menghargai sejarah, budaya, dan identitas daerahnya.
Hari Adat Melayu Jambi 2026 Perkuat Kebanggaan terhadap Warisan Leluhur
Melalui peringatan Hari Adat Melayu Jambi 2026, Pemprov Jambi mengajak seluruh aparatur pemerintahan menampilkan wajah budaya Melayu selama sepekan penuh.
Selain mengenakan pakaian adat, setiap perangkat daerah juga mengirim papan ucapan Selamat Hari Adat Melayu Jambi ke Lembaga Adat Melayu Jambi. Langkah tersebut memperlihatkan dukungan nyata terhadap pelestarian budaya daerah.
Pada akhirnya, pemerintah berharap masyarakat tidak hanya menyimpan adat dalam buku sejarah. Sebaliknya, masyarakat perlu memakai, menjalankan, menjaga, dan mewariskan adat kepada generasi berikutnya.
Dengan cara itulah budaya Melayu Jambi akan tetap hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan masyarakat di tengah perubahan zaman.(*)









