JAMBI,JS- Musim kemarau 2026 mulai menunjukkan dampak nyata di Provinsi Jambi. Debit Sungai Batanghari yang menjadi sungai terpanjang di Sumatera terus mengalami penyusutan. Kondisi tersebut tidak hanya memicu kekhawatiran terhadap krisis air bersih, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi meluas apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Puncak musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga September 2026. Karena itu, pemerintah daerah bersama berbagai instansi terkait terus memperkuat langkah mitigasi agar dampaknya tidak semakin besar terhadap masyarakat, sektor pertanian, lingkungan, hingga aktivitas ekonomi.
Fenomena kemarau Jambi 2026 juga menjadi perhatian karena BMKG memprediksi musim kering tahun ini lebih ekstrem dibandingkan kondisi klimatologis dalam tiga dekade terakhir. Di sisi lain, potensi penguatan fenomena El Nino 2026 diperkirakan memperburuk kekeringan di sejumlah wilayah.
Debit Sungai Batanghari Terus Menurun
Sungai Batanghari selama ini menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Jambi. Sungai tersebut menyediakan air untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, perikanan, hingga transportasi di beberapa daerah.
Namun, dalam beberapa pekan terakhir, permukaan air Sungai Batanghari terlihat semakin rendah. Kondisi serupa juga terjadi pada sejumlah anak sungai, termasuk Batang Tembesi di Kabupaten Sarolangun.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengatakan penyusutan debit sungai menjadi salah satu dampak paling nyata dari musim kemarau yang sedang berlangsung.
Menurutnya, apabila hujan tidak segera turun dalam waktu dekat, masyarakat berpotensi menghadapi berbagai persoalan mulai dari keterbatasan air bersih hingga meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Krisis Air Bersih Mulai Mengintai
Penurunan debit sungai berpotensi mengurangi pasokan air bersih bagi masyarakat yang masih bergantung pada sumber air permukaan.
Apabila kemarau berlangsung lebih lama, sejumlah daerah berisiko mengalami kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari, terutama wilayah yang belum memiliki sistem penyediaan air bersih secara optimal.
Selain kebutuhan rumah tangga, sektor pertanian juga menghadapi tantangan besar. Berkurangnya ketersediaan air dapat mengganggu irigasi lahan pertanian sehingga berpotensi menurunkan produktivitas tanaman.
Kondisi tersebut tentu membutuhkan perhatian serius karena ketahanan pangan daerah sangat bergantung pada kecukupan pasokan air selama musim tanam.
Karhutla Menjadi Ancaman yang Semakin Nyata
Selain krisis air, musim kemarau juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Jambi.
Lahan yang semakin kering membuat api lebih mudah muncul dan menyebar dengan cepat, terutama pada kawasan gambut yang terkenal sulit dipadamkan.
BPBD Provinsi Jambi mengingatkan bahwa semakin sedikit cadangan air di sungai maupun embung, semakin berat pula upaya pemadaman ketika kebakaran terjadi.
Petugas membutuhkan sumber air dalam jumlah besar untuk mengendalikan api. Ketika debit sungai menurun, proses pengisian tangki kendaraan pemadam maupun pompa air menjadi lebih sulit.
Situasi tersebut berpotensi memperpanjang proses pemadaman apabila muncul kebakaran berskala besar.
Lahan Gambut Menjadi Titik Paling Rawan
Wilayah gambut selalu menjadi perhatian utama saat musim kemarau.
Ketika permukaan air tanah turun, lapisan gambut berubah menjadi sangat kering. Api kemudian dapat membakar hingga ke bagian bawah permukaan tanah sehingga sulit dideteksi maupun dipadamkan.
Karhutla di lahan gambut juga menghasilkan asap pekat yang berdampak terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, hingga transportasi.
Karena itu, pencegahan menjadi strategi paling efektif dibandingkan melakukan pemadaman setelah api membesar.
BMKG Prediksi Kemarau Lebih Kering
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi musim kemarau tahun 2026 di Provinsi Jambi berlangsung lebih kering dibandingkan rata-rata kondisi selama 30 tahun terakhir.
Selain faktor musim, peluang menguatnya fenomena El Nino pada periode Agustus hingga Oktober 2026 diperkirakan semakin mengurangi curah hujan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jambi.
Apabila prediksi tersebut terjadi sesuai perkiraan, potensi kekeringan diperkirakan meningkat hingga memasuki akhir musim kemarau.
BPBD Perkuat Pencegahan Karhutla
Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Provinsi Jambi bersama Satgas Karhutla terus memperkuat berbagai langkah antisipasi.
Patroli darat berlangsung secara rutin di daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Selain itu, petugas juga meningkatkan pemantauan titik panas melalui sistem pemantauan satelit agar potensi kebakaran dapat diketahui lebih cepat.
Edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan, terutama di wilayah yang selama ini sering mengalami kebakaran lahan.
BPBD menegaskan bahwa pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi luas area yang terbakar.
Imbauan Penting kepada Masyarakat
Pemerintah Provinsi Jambi mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan selama musim kemarau berlangsung.
Beberapa langkah sederhana dapat membantu menekan risiko kebakaran maupun krisis air, antara lain:
- Menghemat penggunaan air bersih.
- Tidak membuka lahan dengan cara membakar.
- Tidak membuang puntung rokok di area kering.
- Segera melaporkan titik api kepada aparat apabila menemukan kebakaran.
- Menjaga sumber air di sekitar permukiman agar tetap tersedia selama musim kemarau.
Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama agar dampak kemarau tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
Dampak Kemarau terhadap Perekonomian
Musim kemarau panjang tidak hanya memengaruhi lingkungan, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Sektor pertanian menghadapi risiko penurunan hasil panen akibat berkurangnya pasokan air. Peternakan juga berpotensi mengalami kesulitan memperoleh sumber air bagi ternak.
Di sisi lain, aktivitas transportasi sungai dapat terganggu apabila permukaan air terus menurun.
Apabila karhutla terjadi dalam skala luas, biaya penanganan bencana juga akan meningkat. Selain itu, aktivitas perdagangan dan pariwisata dapat ikut terdampak akibat kabut asap.
Perubahan Iklim Perlu Diwaspadai
Fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi menunjukkan pentingnya adaptasi terhadap perubahan iklim.
Kemarau yang lebih panjang maupun hujan dengan intensitas tinggi menjadi tantangan baru bagi pemerintah daerah dalam mengelola sumber daya air dan mengurangi risiko bencana.
Karena itu, penguatan sistem peringatan dini, konservasi hutan, perlindungan daerah resapan air, serta edukasi kepada masyarakat perlu terus dilakukan secara berkelanjutan.
Pencegahan Menjadi Kunci
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, menegaskan bahwa upaya pencegahan harus menjadi prioritas selama musim kemarau.
Menurutnya, langkah antisipatif jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah kebakaran meluas.
Dengan dukungan seluruh elemen masyarakat, pemerintah berharap ancaman karhutla, kekeringan, maupun krisis air bersih dapat diminimalkan hingga musim hujan kembali tiba.
Musim kemarau memang menjadi tantangan setiap tahun. Namun, kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan, menghemat air, serta tidak melakukan pembakaran lahan akan menjadi faktor penting dalam melindungi Provinsi Jambi dari dampak bencana yang lebih besar.(*)










