IHSG Anjlok 1,51 Persen, Ini 3 Saham Pilihan untuk Trading Pekan Ini

- Jurnalis

Senin, 28 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi pergerakan pasar saham

Ilustrasi pergerakan pasar saham

BISNIS,JS- Pasar saham Indonesia memasuki pekan perdagangan 28 September-2 Oktober 2026 dengan tekanan yang cukup kuat. Sentimen suku bunga global, pergerakan harga minyak mentah, serta pelemahan rupiah kembali menjadi perhatian investor.

Tekanan tersebut terlihat dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Setelah mengalami koreksi pada pekan sebelumnya, IHSG kembali melemah pada perdagangan Senin (28/9/2026).

IHSG kehilangan 94,03 poin atau 1,51 persen dan berakhir di level 6.147,86. Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa investor masih berhati-hati menghadapi kombinasi sentimen global dan domestik.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah saham tetap masuk radar pelaku pasar. Indo Premier Sekuritas melalui risetnya menempatkan tiga saham, yakni PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), dan PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR), sebagai pilihan untuk strategi trading pekan ini.

Namun, rekomendasi tersebut tetap memiliki risiko karena kondisi pasar masih sangat dipengaruhi perkembangan suku bunga, nilai tukar, harga komoditas, serta sentimen geopolitik.

IHSG Tertekan di Awal Pekan

Pergerakan IHSG pada awal pekan menunjukkan tekanan yang cukup besar. Pada Senin (28/9), indeks turun 1,51 persen ke posisi 6.147,86.

Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan yang terjadi pada perdagangan pekan sebelumnya. Investor asing juga mencatatkan aksi jual bersih di pasar reguler sehingga menambah tekanan terhadap pasar saham domestik.

Kondisi itu membuat perhatian pelaku pasar tertuju pada arah kebijakan moneter global. Selain itu, pergerakan dolar AS dan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat turut menjadi faktor penting dalam menentukan arah aliran modal.

Dalam situasi seperti ini, investor biasanya meningkatkan perhatian terhadap saham dengan likuiditas yang memadai serta memiliki katalis perusahaan yang jelas.

Dengan demikian, strategi trading jangka pendek dapat berbeda dengan strategi investasi jangka panjang. Investor tetap perlu menyesuaikan keputusan dengan profil risiko dan tujuan investasinya.

Baca Juga :  Skor Kredit Jadi Penentu Utama! Ini Cara Masyarakat Lolos Pinjaman Bank di 2026

Suku Bunga Global Jadi Perhatian Investor

Salah satu sentimen utama yang membayangi pasar saham pekan ini adalah kebijakan suku bunga global.

Tema higher-for-longer kembali mendapat perhatian setelah sejumlah bank sentral utama mempertahankan arah kebijakan moneter yang relatif ketat.

Federal Reserve atau The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen pada September 2026. Kebijakan tersebut memperkuat perhatian pasar terhadap kemungkinan berlanjutnya periode suku bunga tinggi.

Di sisi lain, kondisi ekonomi Amerika Serikat yang masih cukup kuat ikut memberikan ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Pergerakan pasar saham global kemudian ikut memengaruhi aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kenaikan yield US Treasury juga menjadi perhatian. Ketika imbal hasil aset Amerika Serikat meningkat, sebagian investor dapat mempertimbangkan kembali komposisi portofolionya.

Situasi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap pasar negara berkembang karena investor memiliki lebih banyak alternatif untuk menempatkan dana pada aset berdenominasi dolar AS.

Karena itu, perkembangan interest rates, yield obligasi Amerika Serikat, dan arah kebijakan The Fed akan menjadi faktor penting bagi stock market pada pekan ini.

Dolar AS Menguat, Rupiah Menghadapi Tekanan

Selain suku bunga, nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian pasar.

Data Bank Indonesia menunjukkan JISDOR pada 25 September 2026 berada di level Rp17.917 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih cukup besar.

Penguatan dolar AS dapat memberikan dampak terhadap pasar saham Indonesia. Kondisi tersebut terutama menjadi perhatian bagi perusahaan yang memiliki kewajiban atau kebutuhan bahan baku dalam dolar AS.

Sebaliknya, sejumlah perusahaan yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS dapat memiliki karakter dampak yang berbeda.

Oleh sebab itu, investor perlu melihat struktur pendapatan dan biaya masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan.

Bank Indonesia sendiri mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 22-23 September 2026. Kebijakan tersebut tetap menempatkan stabilitas nilai tukar dan inflasi sebagai salah satu fokus utama.

Cadangan Devisa Jadi Bantalan Eksternal

Meskipun rupiah menghadapi tekanan, Indonesia masih memiliki cadangan devisa yang relatif kuat.

Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai US$146,5 miliar.

Posisi tersebut memberikan bantalan bagi sektor eksternal Indonesia. Cadangan devisa juga menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar ketika pasar keuangan global menghadapi volatilitas.

Dengan demikian, tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Investor juga perlu memperhatikan kemampuan sektor eksternal Indonesia dalam menghadapi gejolak pasar global.

Di sisi lain, kondisi inflasi domestik ikut menjadi perhatian.

Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY), meningkat dibandingkan 2,88 persen pada Juli.

Kenaikan tersebut terutama berkaitan dengan pergerakan volatile food dan inflasi inti.

Kondisi ini membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi salah satu perhatian pasar. Kenaikan harga energi dan potensi gangguan produksi pangan juga dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi.

Harga Minyak Mentah Jadi Faktor Penting

Pergerakan harga minyak mentah menjadi sentimen lain yang perlu diperhatikan investor.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat memengaruhi pasokan dan jalur distribusi energi global. Situasi tersebut kemudian dapat mendorong volatilitas harga minyak.

Harga Brent bahkan kembali bergerak di atas US$100 per barel dalam periode tertentu. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate atau WTI tercatat mengalami kenaikan bulanan yang cukup signifikan.

Perubahan harga minyak memiliki dampak yang berbeda terhadap setiap sektor saham.

Emiten energi dapat memperoleh sentimen positif ketika harga komoditas meningkat. Namun, perusahaan yang bergantung pada bahan bakar dan biaya transportasi dapat menghadapi kenaikan biaya operasional.

Karena itu, investor perlu melihat dampak harga minyak terhadap fundamental masing-masing perusahaan, bukan hanya pergerakan komoditas secara keseluruhan.

Pembicaraan mengenai kondisi geopolitik dan kemungkinan normalisasi jalur perdagangan energi juga menjadi faktor yang dapat mengubah arah harga minyak dalam waktu singkat.

Tiga Saham Masuk Radar Trading Pekan Ini

Di tengah tekanan pasar, Indo Premier Sekuritas menempatkan tiga saham dalam radar trading untuk pekan 28 September-2 Oktober 2026.

Ketiganya adalah MDKA, AUTO, dan KETR.

Rekomendasi tersebut menggunakan pendekatan teknikal. Karena itu, target harga dan batas kerugian yang tercantum dalam riset perlu dipandang sebagai bagian dari strategi trading, bukan jaminan keuntungan.

Baca Juga :  Viral! Risiko Gagal Bayar Pinjol 2026: Denda Membengkak, Skor Kredit Hancur, Hingga Ancaman Hukum

1. MDKA

PT Merdeka Copper Gold Tbk dengan kode saham MDKA menjadi salah satu saham yang masuk radar.

Indo Premier Sekuritas memberikan strategi buy pada area Rp3.070. Target harga berada di Rp3.300, sedangkan stop loss berada di Rp2.980.

Rasio risk to reward dalam rekomendasi tersebut mencapai sekitar 1:2,6.

Secara teknikal, MDKA menunjukkan pergerakan harga di atas MA5. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan analis melihat peluang kelanjutan momentum jangka pendek.

Selain itu, aktivitas akumulasi dalam beberapa sesi perdagangan terakhir juga menjadi perhatian.

Bagi investor yang mencermati saham komoditas, pergerakan MDKA menarik untuk diperhatikan karena sentimen harga komoditas dan kondisi pasar global dapat memengaruhi sektor pertambangan.

Meski demikian, volatilitas sektor komoditas tetap perlu menjadi pertimbangan utama.

2. AUTO

Saham berikutnya adalah PT Astra Otoparts Tbk dengan kode AUTO.

Indo Premier Sekuritas memberikan rekomendasi buy pada area Rp3.380. Target harga berada di Rp3.610 dengan stop loss Rp3.290.

Strategi tersebut memiliki rasio risk to reward sekitar 1:2,6.

Dari sisi teknikal, AUTO menunjukkan pola retracement yang masih berada dalam fase tren naik.

Pergerakan harga juga memperlihatkan potensi breakout apabila tekanan jual mulai mereda dan volume perdagangan mendukung.

AUTO menarik perhatian karena sektor otomotif memiliki keterkaitan dengan aktivitas ekonomi domestik. Pergerakan permintaan kendaraan, penjualan suku cadang, serta kondisi konsumsi masyarakat dapat menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor.

Namun, seperti saham lainnya, pergerakan AUTO tetap dapat berubah mengikuti sentimen IHSG dan kondisi pasar secara keseluruhan.

3. KETR

Saham ketiga yang masuk daftar adalah PT Ketrosden Triasmitra Tbk dengan kode saham KETR.

Indo Premier Sekuritas memberikan rekomendasi buy pada area Rp975. Target harga berada di Rp1.080, sedangkan stop loss berada di Rp925.

Rasio risk to reward dalam strategi tersebut sekitar 1:2,1.

Secara teknikal, harga KETR masih bergerak di atas MA20. Saham tersebut juga mencatatkan volume perdagangan yang tinggi ketika mengalami breakout pada akhir pekan sebelumnya.

Volume menjadi salah satu indikator yang banyak diperhatikan trader karena dapat membantu melihat kekuatan suatu pergerakan harga.

Jika momentum volume berlanjut, saham tersebut berpotensi tetap menjadi perhatian pelaku pasar jangka pendek. Namun, investor tetap perlu mengantisipasi risiko pembalikan harga setelah breakout.

Apa yang Perlu Dicermati Investor Pekan Ini?

Pergerakan IHSG pada pekan 28 September-2 Oktober 2026 akan sangat bergantung pada kombinasi sentimen global dan domestik.

Pertama, investor perlu memantau arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat.

Kedua, pergerakan yield US Treasury dan dolar AS dapat memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang.

Ketiga, harga minyak mentah perlu mendapat perhatian karena perkembangan geopolitik dapat memicu perubahan harga secara cepat.

Keempat, rupiah menjadi indikator penting bagi stabilitas pasar keuangan Indonesia.

Kelima, investor juga perlu mencermati data inflasi dan kebijakan Bank Indonesia.

Kombinasi faktor tersebut dapat membuat volatilitas pasar saham tetap tinggi.

Baca Juga :  BEI Catat 6 Calon Emiten Baru, 3 Sektor Ini Siap Ramaikan Pasar Saham

Strategi Trading Perlu Memperhatikan Risiko

Dalam kondisi pasar yang bergerak cepat, strategi trading tidak cukup hanya mengandalkan target harga.

Investor juga perlu menentukan batas risiko sebelum melakukan transaksi.

Stop loss dapat menjadi salah satu alat manajemen risiko bagi trader. Selain itu, ukuran posisi juga perlu disesuaikan dengan toleransi risiko masing-masing.

Target harga dari analis pun tidak menjamin saham akan mencapai level tersebut. Perubahan sentimen global dapat membuat harga bergerak berlawanan dalam waktu singkat.

Karena itu, investor perlu membedakan antara stock recommendations untuk kebutuhan trading jangka pendek dan keputusan investasi berdasarkan fundamental perusahaan.

Bagi investor jangka panjang, kinerja keuangan, prospek bisnis, utang, arus kas, valuasi, serta kemampuan perusahaan menghasilkan laba tetap menjadi faktor penting.

Sementara itu, trader lebih banyak memperhatikan momentum harga, volume transaksi, support, resistance, serta katalis pasar.

IHSG dan Pasar Saham Masih Menghadapi Banyak Katalis

Pelemahan IHSG hingga 6.147 pada awal pekan menunjukkan tingginya sensitivitas pasar terhadap perubahan sentimen.

Tekanan tersebut datang ketika investor menghadapi kombinasi suku bunga global yang tinggi, dolar AS yang kuat, rupiah yang tertekan, serta harga minyak yang masih bergejolak.

Namun, pasar saham tetap memiliki peluang pergerakan dua arah. Investor perlu mencermati data dan katalis baru sebelum mengambil keputusan.

Tiga saham yang masuk radar Indo Premier Sekuritas, yaitu MDKA, AUTO, dan KETR, dapat menjadi perhatian pelaku pasar yang menggunakan strategi trading berbasis teknikal.

Meski demikian, setiap saham memiliki karakter risiko yang berbeda.

Dengan kondisi stock market today yang sangat dinamis, investor sebaiknya tidak menjadikan satu rekomendasi sebagai satu-satunya dasar transaksi.

Perkembangan suku bunga, rupiah, harga minyak, arus dana asing, dan pergerakan IHSG akan menjadi sejumlah indikator penting sepanjang pekan perdagangan 28 September-2 Oktober 2026.

Catatan: Harga target, area beli, dan stop loss dalam artikel ini merupakan bagian dari rekomendasi trading yang dikutip dari riset Indo Premier Sekuritas. Informasi tersebut bukan jaminan keuntungan dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Investor perlu melakukan analisis serta mempertimbangkan profil risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi.(*)

Berita Terkait

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Senin 28 September 2026: Cek Harga per Gram Semua Kadar, Ada Perubahan Menarik
Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Ekonom Ungkap 3 Tekanan Global yang Bisa Bikin Kurs Makin Tertekan
BEI Catat 6 Calon Emiten Baru, 3 Sektor Ini Siap Ramaikan Pasar Saham
Asuransi Kesehatan Cashless Terbaik 2026: 3 Pilihan dengan Fasilitas Klaim Tanpa Talangan
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 26 September 2026 Naik atau Turun? Cek Disini
Rupiah Tertekan Mendekati Rp18.000 per Dolar AS, Ini Risiko bagi Ekonomi dan Proyeksinya Pekan Depan
Bitcoin, Ethereum Rally More Than 14% in a Week as Institutional Money Drives Crypto Market
Asuransi Kendaraan Online: Cara Pilih All Risk atau TLO, Cek Premi dan Prosedur Klaim
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 23:01 WIB

IHSG Anjlok 1,51 Persen, Ini 3 Saham Pilihan untuk Trading Pekan Ini

Senin, 28 September 2026 - 08:16 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Senin 28 September 2026: Cek Harga per Gram Semua Kadar, Ada Perubahan Menarik

Minggu, 27 September 2026 - 19:01 WIB

Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Ekonom Ungkap 3 Tekanan Global yang Bisa Bikin Kurs Makin Tertekan

Minggu, 27 September 2026 - 11:31 WIB

BEI Catat 6 Calon Emiten Baru, 3 Sektor Ini Siap Ramaikan Pasar Saham

Sabtu, 26 September 2026 - 16:01 WIB

Asuransi Kesehatan Cashless Terbaik 2026: 3 Pilihan dengan Fasilitas Klaim Tanpa Talangan

Berita Terbaru