Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Ekonom Ungkap 3 Tekanan Global yang Bisa Bikin Kurs Makin Tertekan

- Jurnalis

Minggu, 27 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Nilai tukar rupiah terhadap dolar hari ini

Nilai tukar rupiah terhadap dolar hari ini

BISNIS,JS- Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan kuat dan semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar valuta asing masih menghadapi tekanan eksternal yang cukup besar, terutama dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat, penguatan dolar AS, serta lonjakan risiko energi global.

Data Bloomberg mencatat rupiah mengakhiri perdagangan Jumat (25/9/2026) pada posisi Rp17.903 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan 0,07% dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Posisi itu sekaligus menempatkan rupiah hanya sekitar Rp97 dari level Rp18.000 per dolar AS. Bagi pelaku pasar, angka Rp18.000 memiliki arti penting karena menjadi salah satu level psikologis dalam perdagangan USD IDR.

Namun, ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai masyarakat dan investor tidak perlu langsung mengartikan level tersebut sebagai tanda krisis ekonomi domestik.

Menurutnya, tekanan terhadap Indonesian rupiah saat ini lebih banyak datang dari lingkungan ekonomi global. Fundamental dalam negeri masih memberikan bantalan, meskipun kekuatannya belum cukup untuk mendorong rupiah kembali menguat secara konsisten.

Rupiah Bergerak Mendekati Rp18.000

Pergerakan rupiah menunjukkan tekanan yang cukup konsisten sepanjang pekan terakhir.

Syafruddin mencatat rupiah berada di sekitar Rp17.855 per dolar AS pada 22 September 2026. Setelah itu, tekanan kembali muncul sehingga nilai tukar bergerak di kisaran Rp17.900-an.

Pada perdagangan Jumat, rupiah akhirnya menetap di Rp17.903 per dolar AS.

Kondisi tersebut membuat perhatian pasar kembali tertuju pada level Rp18.000. Meski demikian, Syafruddin menilai angka tersebut lebih tepat sebagai batas psikologis dan likuiditas pasar.

Artinya, jika rupiah menembus level tersebut, kondisi itu tidak otomatis menunjukkan terjadinya krisis. Investor tetap perlu melihat kecepatan pelemahan, pergerakan arus modal asing, kondisi pasar Surat Berharga Negara (SBN), serta langkah Bank Indonesia.

Dengan kata lain, level USD IDR 18.000 perlu dibaca bersama sejumlah indikator lain agar pasar tidak mengambil kesimpulan hanya dari satu angka.

Tiga Faktor Global Menekan Rupiah

Syafruddin melihat tiga variabel utama yang saat ini memengaruhi pergerakan rupiah.

Ketiganya terdiri atas US Treasury yield, Dollar Index (DXY), dan harga minyak dunia.

Ketika ketiga indikator tersebut bergerak dalam arah yang sama, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dapat meningkat.

Pertama, kenaikan US Treasury yield membuat aset berbasis dolar AS semakin menarik bagi investor global. Investor biasanya membandingkan imbal hasil aset di Amerika Serikat dengan peluang investasi di negara berkembang.

Kedua, penguatan Dollar Index atau DXY menunjukkan peningkatan permintaan terhadap dolar AS dibandingkan sejumlah mata uang utama dunia. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang emerging market.

Ketiga, kenaikan harga minyak meningkatkan risiko bagi negara yang masih membutuhkan impor energi dalam jumlah besar. Harga minyak yang tinggi dapat memperbesar kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor.

Ketiga faktor tersebut kemudian dapat memengaruhi sentimen investor terhadap aset Indonesia.

Baca Juga :  BEI Catat 6 Calon Emiten Baru, 3 Sektor Ini Siap Ramaikan Pasar Saham

BI Pertahankan Suku Bunga 5,75%

Di tengah tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate pada level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 23 September 2026.

Keputusan tersebut menunjukkan tantangan yang harus BI hadapi. Bank sentral perlu menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.

Jika BI terlalu agresif menurunkan suku bunga ketika tekanan eksternal meningkat, selisih imbal hasil dengan aset dolar AS dapat menyempit.

Sebaliknya, mempertahankan suku bunga pada level tertentu dapat membantu menjaga daya tarik aset rupiah. Namun, kebijakan tersebut juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kredit, konsumsi, dan aktivitas ekonomi.

Karena itu, arah BI Rate menjadi salah satu faktor penting yang akan terus diperhatikan pasar dalam beberapa bulan mendatang.

Fundamental Indonesia Masih Memberi Bantalan

Meskipun rupiah menghadapi tekanan, kondisi fundamental Indonesia masih memberikan sejumlah penyangga.

Cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 tercatat mencapai US$146,5 miliar.

Angka tersebut menjadi salah satu sumber kekuatan bagi stabilitas eksternal Indonesia. Cadangan devisa dapat mendukung kebutuhan transaksi internasional dan memberikan ruang bagi otoritas untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing.

Selain itu, arus investasi portofolio pada kuartal III 2026 hingga 21 September masih mencatat net inflow sekitar US$400 juta.

Data tersebut menunjukkan bahwa investor asing belum sepenuhnya meninggalkan aset Indonesia.

Namun, Syafruddin menilai kondisi tersebut belum cukup untuk membalikkan tren apabila tekanan global terus meningkat.

Menurutnya, kenaikan global risk-free rate dan premi risiko energi dapat mengurangi daya tarik aset rupiah meskipun fundamental domestik masih relatif memberikan bantalan.

Harga Minyak Jadi Perhatian Baru

Pergerakan harga minyak dunia juga menjadi perhatian penting dalam prospek rupiah.

Harga Brent crude oil kembali bergerak di atas US$100 per barel setelah meningkatnya risiko energi di Timur Tengah.

Kenaikan tersebut memberikan tekanan tambahan bagi negara-negara yang membutuhkan impor minyak dan produk energi.

Bagi Indonesia, harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan biaya impor. Jika kebutuhan dolar untuk pembayaran impor ikut meningkat, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dapat bertambah.

Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko imported inflation.

Inflasi impor muncul ketika pelemahan mata uang domestik dan kenaikan harga barang dari luar negeri meningkatkan biaya barang atau bahan baku yang masuk ke dalam negeri.

Karena itu, pergerakan harga minyak tidak hanya memengaruhi sektor energi. Dampaknya dapat merambat ke nilai tukar, inflasi, kebijakan moneter, hingga aktivitas ekonomi.

Risiko Kebijakan The Fed

Faktor lain yang perlu diperhatikan pasar berasal dari Amerika Serikat.

Jika inflasi AS kembali meningkat, pelaku pasar dapat mengubah perkiraan mengenai arah kebijakan Federal Reserve.

Pasar dapat memperkirakan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam periode yang lebih panjang.

Ekspektasi tersebut berpotensi mendorong kenaikan yield Treasury AS.

Ketika imbal hasil aset Amerika Serikat meningkat, investor global dapat mengalihkan sebagian dana menuju aset berbasis dolar. Situasi tersebut kemudian dapat mengurangi aliran modal ke negara berkembang.

Dalam konteks Indonesia, dampaknya dapat terlihat melalui beberapa jalur.

Arus portofolio asing dapat melambat. Yield SBN dapat meningkat. Permintaan terhadap dolar AS dapat bertambah. Pada akhirnya, rupiah dapat kembali menghadapi tekanan.

Dampaknya Tidak Berhenti di Pasar Valuta Asing

Syafruddin menjelaskan bahwa perubahan kebijakan The Fed dapat memberikan efek berantai terhadap perekonomian.

Tekanan tersebut tidak berhenti pada pasar valuta asing.

Perubahan yield Treasury dapat memengaruhi arus modal global. Selanjutnya, perubahan arus modal dapat memengaruhi rupiah dan pasar obligasi domestik.

Jika rupiah melemah terlalu cepat, biaya impor dapat meningkat. Kondisi tersebut kemudian dapat mendorong tekanan inflasi.

Pada tahap berikutnya, Bank Indonesia dapat menghadapi ruang kebijakan moneter yang lebih terbatas.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan kurs memiliki hubungan erat dengan pasar keuangan dan perekonomian secara keseluruhan.

Karena itu, investor tidak hanya melihat kurs rupiah hari ini, tetapi juga memperhatikan perkembangan suku bunga AS, DXY, harga minyak, yield SBN, dan arus modal asing.

Rupiah Bisa Menghadapi Tekanan hingga Akhir 2026

Syafruddin memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.700 hingga Rp18.200 per dolar AS sampai akhir 2026.

Ia menempatkan titik tengah proyeksinya di sekitar Rp17.950 per dolar AS.

Proyeksi tersebut mempertimbangkan posisi rupiah saat ini, BI Rate sebesar 5,75%, tingginya yield AS, serta meningkatnya kembali risiko harga minyak.

Dengan posisi rupiah yang sudah berada di Rp17.903 per dolar AS pada 25 September, pasar akan mencermati apakah tekanan tersebut berlanjut atau mulai mereda.

Namun, proyeksi nilai tukar tetap memiliki tingkat ketidakpastian tinggi karena pasar global dapat berubah dengan cepat.

Skenario Rupiah Tembus Rp18.200

Syafruddin juga melihat skenario yang lebih berat.

Jika tekanan dari yield Treasury AS, penguatan dolar, dan kenaikan harga minyak terjadi secara bersamaan, sementara arus modal asing berbalik keluar, rupiah dapat menghadapi tekanan yang lebih besar.

Dalam skenario tersebut, rupiah berpotensi bergerak menuju kisaran Rp18.200 hingga Rp18.400 per dolar AS.

Skenario itu tentu bergantung pada perkembangan sejumlah faktor eksternal dan respons pasar terhadap kebijakan moneter global.

Karena itu, level Rp18.000 tidak seharusnya menjadi satu-satunya patokan dalam membaca kondisi rupiah.

Investor perlu melihat apakah pelemahan berlangsung cepat atau bertahap, apakah arus modal asing tetap masuk, serta bagaimana Bank Indonesia merespons perubahan kondisi pasar.

Apa yang Perlu Dicermati Pasar?

Dalam beberapa pekan mendatang, setidaknya terdapat sejumlah indikator yang akan menentukan arah rupiah forecast 2026.

Pertama, pasar akan mencermati perkembangan US Treasury yield. Kenaikan yield dapat meningkatkan daya tarik aset dolar.

Kedua, pergerakan Dollar Index (DXY) akan menjadi indikator penting untuk melihat kekuatan dolar AS secara global.

Ketiga, harga minyak dunia juga perlu mendapat perhatian karena kenaikan harga energi dapat memperbesar kebutuhan impor dan risiko inflasi.

Keempat, investor akan melihat perkembangan foreign capital inflow ke pasar Indonesia.

Kelima, kebijakan Bank Indonesia tetap menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

Dengan demikian, arah rupiah tidak hanya bergantung pada kondisi domestik. Perubahan sentimen global dapat memberikan pengaruh besar terhadap mata uang Indonesia.

Level Rp18.000 Bukan Otomatis Tanda Krisis

Rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS memang menjadi perhatian pasar. Namun, angka tersebut tidak otomatis menandakan krisis ekonomi.

Pasar perlu melihat konteks yang lebih luas.

Cadangan devisa masih berada pada level US$146,5 miliar. Investasi portofolio juga masih mencatat arus masuk hingga 21 September 2026.

Di sisi lain, tekanan eksternal memang cukup kuat. Yield Treasury AS, kekuatan dolar, dan kenaikan harga minyak dapat menciptakan kombinasi yang menyulitkan mata uang negara berkembang.

Oleh sebab itu, arah rupiah dalam beberapa pekan mendatang akan sangat bergantung pada keseimbangan antara kekuatan fundamental domestik dan tekanan ekonomi global.

Jika tekanan global mulai mereda, ruang bagi rupiah untuk kembali stabil akan semakin terbuka. Sebaliknya, apabila ketiga tekanan utama tersebut terus bergerak searah dan investor asing mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia, rupiah dapat menghadapi volatilitas yang lebih tinggi hingga akhir 2026.(*)

Berita Terkait

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Senin 28 September 2026: Cek Harga per Gram Semua Kadar, Ada Perubahan Menarik
BEI Catat 6 Calon Emiten Baru, 3 Sektor Ini Siap Ramaikan Pasar Saham
Asuransi Kesehatan Cashless Terbaik 2026: 3 Pilihan dengan Fasilitas Klaim Tanpa Talangan
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 26 September 2026 Naik atau Turun? Cek Disini
Rupiah Tertekan Mendekati Rp18.000 per Dolar AS, Ini Risiko bagi Ekonomi dan Proyeksinya Pekan Depan
Bitcoin, Ethereum Rally More Than 14% in a Week as Institutional Money Drives Crypto Market
Asuransi Kendaraan Online: Cara Pilih All Risk atau TLO, Cek Premi dan Prosedur Klaim
Terbaru!, KUR 2026 Bunga Mulai 3 Persen, Cek Plafon Rp10 Juta hingga Rp500 Juta dan Bedanya di BRI-Mandiri
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 08:16 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Senin 28 September 2026: Cek Harga per Gram Semua Kadar, Ada Perubahan Menarik

Minggu, 27 September 2026 - 19:01 WIB

Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Ekonom Ungkap 3 Tekanan Global yang Bisa Bikin Kurs Makin Tertekan

Minggu, 27 September 2026 - 11:31 WIB

BEI Catat 6 Calon Emiten Baru, 3 Sektor Ini Siap Ramaikan Pasar Saham

Sabtu, 26 September 2026 - 16:01 WIB

Asuransi Kesehatan Cashless Terbaik 2026: 3 Pilihan dengan Fasilitas Klaim Tanpa Talangan

Sabtu, 26 September 2026 - 11:01 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini 26 September 2026 Naik atau Turun? Cek Disini

Berita Terbaru