BISNIS,JS- Rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) pada 2027 mulai menarik perhatian pelaku pasar modal. Langkah tersebut berpotensi membuka peluang investasi baru sekaligus memperluas sumber pendanaan perusahaan pelat merah.
Di tengah rencana itu, rekam jejak IPO BUMN dan anak usahanya menjadi salah satu hal yang menarik untuk dicermati. Sejumlah perusahaan telah menghimpun dana triliunan rupiah melalui penjualan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI).
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) memimpin daftar berdasarkan nilai bruto penawaran saham dalam data yang dihimpun untuk artikel ini. Anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. tersebut mencatatkan nilai IPO sekitar Rp18,34 triliun pada 2021.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) menyusul dengan nilai penawaran sekitar Rp9,06 triliun pada 2023. Sementara itu, sejumlah emiten lain dari sektor konstruksi, penerbangan, perbankan, energi, dan telekomunikasi turut masuk dalam daftar 10 besar.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, pada 7 Oktober 2026 menyampaikan bahwa Danantara tengah mengidentifikasi dan mengkaji perusahaan yang berpotensi melantai di bursa pada 2027. Kajian tersebut mencakup sejumlah sektor, termasuk finansial, infrastruktur, dan pertambangan.
Danantara menargetkan pengumuman sejumlah kandidat sebelum akhir 2026. Namun, hingga pengumuman resmi keluar, investor perlu membedakan rencana awal dari keputusan final mengenai perusahaan yang akan menggelar IPO.
MTEL Pimpin IPO BUMN dengan Nilai Rp18,34 Triliun
MTEL menempati posisi pertama dalam daftar IPO jumbo dengan nilai penawaran sekitar Rp18,34 triliun. Mitratel, nama yang dikenal untuk perusahaan penyedia infrastruktur telekomunikasi tersebut, mencatatkan saham di BEI pada 22 November 2021.
Dalam penawaran perdana itu, MTEL menawarkan sekitar 22,92 miliar saham dengan harga Rp800 per saham. Perhitungan jumlah saham dan harga penawaran menghasilkan nilai bruto sekitar Rp18,34 triliun.
Nilai tersebut menempatkan MTEL di atas sejumlah emiten pelat merah lainnya dalam daftar ini. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur telekomunikasi, Mitratel memiliki peran dalam mendukung kebutuhan jaringan dan layanan komunikasi.
Meski demikian, investor perlu memperhatikan bahwa nilai IPO tidak otomatis mencerminkan keuntungan perusahaan atau potensi kenaikan harga saham. Kinerja bisnis, kondisi keuangan, prospek industri, dan valuasi tetap menjadi pertimbangan penting ketika menilai suatu emiten.
PGEO Himpun Dana Rp9,06 Triliun dari IPO
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) menempati posisi kedua dengan nilai IPO sekitar Rp9,06 triliun. Perusahaan energi panas bumi tersebut melantai di BEI pada 24 Februari 2023.
PGEO menawarkan sekitar 10,35 miliar saham dengan harga Rp875 per saham. Perusahaan yang berada dalam kelompok usaha Pertamina ini menjalankan bisnis pengembangan dan pemanfaatan energi panas bumi.
Sektor panas bumi menjadi salah satu bagian dari industri energi yang menarik perhatian karena Indonesia memiliki potensi sumber daya panas bumi yang besar. Namun, investor tetap perlu menilai kemampuan perusahaan mengembangkan proyek, kebutuhan belanja modal, kondisi utang, dan prospek pendapatan sebelum mengambil keputusan investasi.
Dengan nilai penawaran yang mencapai triliunan rupiah, IPO PGEO menjadi salah satu transaksi besar di antara perusahaan dalam kelompok usaha BUMN yang masuk dalam daftar ini.
WSBP dan Garuda Indonesia Masuk Empat Besar
PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP) menempati posisi ketiga dengan nilai IPO sekitar Rp5,17 triliun. Perusahaan yang bergerak di bidang beton pracetak tersebut mencatatkan saham di BEI pada 20 September 2016.
Saat itu, WSBP menawarkan sekitar 10,54 miliar saham dengan harga Rp490 per saham. Perusahaan ini berada dalam kelompok usaha PT Waskita Karya (Persero) Tbk.
Selanjutnya, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) menempati posisi keempat. Maskapai penerbangan nasional itu menggelar IPO pada 11 Februari 2011 dengan menawarkan sekitar 6,34 miliar saham pada harga Rp750 per saham.
Nilai bruto penawaran Garuda Indonesia mencapai sekitar Rp4,75 triliun. Berbeda dari perusahaan infrastruktur, bisnis penerbangan memiliki tantangan tersendiri, mulai dari biaya operasional, harga bahan bakar, persaingan maskapai, hingga perubahan permintaan perjalanan.
Karena itu, investor perlu menilai karakteristik industri masing-masing perusahaan. Besarnya dana IPO saja tidak cukup untuk menentukan apakah suatu saham cocok dengan tujuan dan profil risiko investasi.
Jasa Marga dan BRI Lengkapi Lima Besar hingga Enam Besar
PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) berada di posisi kelima dengan nilai IPO sekitar Rp3,47 triliun. Operator jalan tol tersebut mencatatkan saham di BEI pada 12 November 2007.
Jasa Marga menawarkan sekitar 2,04 miliar saham dengan harga Rp1.700 per saham. Perusahaan ini menjalankan bisnis yang berkaitan dengan pengelolaan jalan tol, sehingga kinerjanya juga berkaitan dengan lalu lintas kendaraan, pengembangan jaringan, dan kebutuhan investasi infrastruktur.
Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menempati posisi keenam dengan nilai IPO sekitar Rp3,33 triliun.
BRI mencatatkan sahamnya pada 10 November 2003 dengan menawarkan sekitar 3,81 miliar saham pada harga Rp875 per saham. Sebagai bank yang memiliki fokus kuat pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), BRI memiliki karakter bisnis berbeda dari emiten konstruksi maupun energi.
Dalam menilai saham perbankan, investor dapat mencermati pertumbuhan kredit, kualitas aset, rasio kredit bermasalah, margin bunga bersih, serta kemampuan perusahaan menghasilkan laba secara berkelanjutan.
Bank Mandiri, Krakatau Steel, PGAS, dan Telkom Masuk 10 Besar
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menempati posisi ketujuh. Bank tersebut menggelar IPO pada 14 Juli 2003 dengan menawarkan 4 miliar saham pada harga Rp675 per saham. Nilai bruto penawarannya mencapai sekitar Rp2,70 triliun.
Berikutnya, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) menempati posisi kedelapan dengan nilai IPO sekitar Rp2,68 triliun. Emiten industri baja tersebut mencatatkan saham di BEI pada 10 November 2010 melalui penawaran sekitar 3,155 miliar saham baru dengan harga Rp850 per saham.
PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) berada di urutan kesembilan. Perusahaan yang bergerak di bidang transmisi dan distribusi gas bumi itu menggelar IPO pada 15 Desember 2003 dengan menawarkan sekitar 1,296 miliar saham pada harga Rp1.500 per saham. Nilai penawarannya mencapai sekitar Rp1,94 triliun.
Adapun PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) melengkapi posisi 10 besar. Telkom mencatatkan saham di BEI pada 14 November 1995 dengan menawarkan sekitar 933,33 juta saham pada harga Rp2.050 per saham. Nilai bruto IPO tersebut mencapai sekitar Rp1,91 triliun.
Daftar 10 IPO BUMN dan Anak Usahanya Berdasarkan Nilai Penawaran
| Peringkat | Emiten | Tahun IPO | Nilai IPO |
|---|---|---|---|
| 1 | MTEL | 2021 | Rp18,34 triliun |
| 2 | PGEO | 2023 | Rp9,06 triliun |
| 3 | WSBP | 2016 | Rp5,17 triliun |
| 4 | GIAA | 2011 | Rp4,75 triliun |
| 5 | JSMR | 2007 | Rp3,47 triliun |
| 6 | BBRI | 2003 | Rp3,33 triliun |
| 7 | BMRI | 2003 | Rp2,70 triliun |
| 8 | KRAS | 2010 | Rp2,68 triliun |
| 9 | PGAS | 2003 | Rp1,94 triliun |
| 10 | TLKM | 1995 | Rp1,91 triliun |
Catatan: Angka dalam tabel merupakan nilai bruto penawaran saham perdana berdasarkan data yang digunakan dalam daftar ini. Nilai tersebut tidak menunjukkan kapitalisasi pasar saat ini, dana yang diterima bersih setelah biaya, ataupun kinerja saham setelah IPO.
Tidak Semua Emiten Memiliki Status BUMN Langsung
Dalam membaca daftar tersebut, investor juga perlu memahami struktur kepemilikan setiap perusahaan. Tidak semua emiten yang masuk dalam kelompok usaha BUMN berstatus sebagai perusahaan milik negara secara langsung.
MTEL merupakan anak usaha Telkom, sedangkan WSBP berada dalam kelompok usaha Waskita Karya. PGEO dan PGAS juga memiliki hubungan dengan kelompok usaha Pertamina. Sementara itu, TLKM, BBRI, BMRI, JSMR, GIAA, dan KRAS merupakan perusahaan yang berstatus BUMN.
Perbedaan tersebut penting karena struktur kepemilikan, hubungan dengan induk usaha, serta kebijakan perusahaan dapat memengaruhi tata kelola dan pengambilan keputusan bisnis.
Selain itu, daftar ini menggunakan nilai bruto penawaran perdana sebagai dasar perbandingan. Investor sebaiknya tidak menyamakan angka tersebut dengan total nilai perusahaan atau kapitalisasi pasar setelah saham diperdagangkan di bursa.
Apa Arti Rencana IPO BUMN 2027 bagi Investor?
Rencana IPO BUMN pada 2027 berpotensi menambah pilihan saham bagi investor di pasar modal Indonesia. Jika sejumlah perusahaan benar-benar melantai di BEI, investor dapat memperoleh alternatif investasi dari berbagai sektor, mulai dari keuangan hingga infrastruktur dan pertambangan.
Bagi perusahaan, IPO dapat membuka akses pendanaan dari investor publik untuk mendukung ekspansi, pengembangan proyek, atau kebutuhan bisnis lainnya. Namun, perusahaan juga harus memenuhi ketentuan keterbukaan informasi dan menjalankan kewajiban sebagai emiten tercatat.
Bagi investor ritel, pengumuman kandidat IPO belum menjadi alasan untuk langsung membeli saham. Calon investor perlu menunggu prospektus resmi, memeriksa penggunaan dana hasil penawaran, mempelajari laporan keuangan, serta membandingkan valuasi perusahaan dengan emiten sejenis.
Investor juga perlu memperhatikan kondisi pasar ketika perusahaan melaksanakan IPO. Permintaan saham, harga penawaran, prospek sektor, dan sentimen pasar dapat memengaruhi respons investor setelah saham mulai diperdagangkan.
Danantara Belum Mengumumkan Daftar Final IPO
Hingga pengumuman resmi mengenai kandidat IPO 2027 keluar, belum ada kepastian mengenai perusahaan yang akan melaksanakan aksi korporasi tersebut. Kajian Danantara yang mencakup sektor finansial, infrastruktur, dan pertambangan masih menjadi bagian dari proses penjajakan.
Karena itu, investor perlu membedakan informasi mengenai perusahaan yang masuk dalam kajian dari pengumuman resmi mengenai jadwal dan nilai penawaran saham.
Jika rencana tersebut berlanjut, IPO BUMN berpotensi menambah aktivitas penghimpunan dana di pasar modal pada 2027. Namun, nilai dana yang berhasil dihimpun akan bergantung pada perusahaan yang dipilih, jumlah saham yang ditawarkan, harga IPO, serta kondisi pasar ketika penawaran berlangsung.
Catatan ; Artikel ini hanya memuat tentang informasi semata, bukan untuk mengajak masyarakat dan mengikuti investasi, pasar saham, trending dan sebagainya. segala resiko seperti kegagalan di luar tanggung jawab jambisun.id. (*)










