Harga Bitcoin Menguat, Sinyal The Fed Bikin Investor Waspada: Ini Faktor Penentunya

- Jurnalis

Kamis, 29 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BISNIS,JS- Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan penguatan menjelang pengumuman kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed.

Namun, kenaikan aset kripto terbesar di dunia ini belum sepenuhnya menghapus kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan moneter AS dan potensi gejolak pasar dalam waktu dekat.

Pada perdagangan Rabu (28/10/2026), Bitcoin sempat bergerak di kisaran US$80.000 per koin. Data perdagangan yang dikutip Warta Ekonomi menunjukkan BTC menguat 1,28% menjadi sekitar US$80.797 atau setara Rp1,46 miliar per koin pada siang hari.

Meski demikian, pergerakan positif tersebut belum mencerminkan pemulihan yang sepenuhnya kuat.

Bitcoin masih menghadapi tekanan dalam rentang mingguan dan bulanan, sementara pelaku pasar menunggu keputusan penting The Fed yang dapat mengubah ekspektasi terhadap suku bunga, dolar AS, dan aset berisiko.

Situasi ini membuat investor menghadapi dua kemungkinan. Bitcoin berpeluang melanjutkan pemulihan apabila komunikasi The Fed memberi sinyal yang lebih lunak. Sebaliknya, tekanan jual dapat kembali meningkat jika bank sentral AS menegaskan komitmennya menjaga inflasi melalui kebijakan moneter ketat.

Harga Bitcoin Hari Ini Menguat, tetapi Tren Pasar Belum Sepenuhnya Pulih

Penguatan Bitcoin menjelang akhir Oktober memberikan sedikit ruang bagi pasar kripto untuk bernapas setelah harga bergerak tidak stabil dalam beberapa pekan terakhir.

Berdasarkan laporan perdagangan Warta Ekonomi pada 28 Oktober 2026, BTC mencatat kenaikan 1,28% dalam 24 jam hingga mencapai sekitar US$80.797. Sementara itu, data Ajaib pada hari yang sama menunjukkan Bitcoin berada di sekitar US$80.900 pada pukul 08.00 WIB.

Perbedaan angka tersebut mencerminkan waktu pengamatan dan sumber data yang berbeda. Karena pasar kripto beroperasi sepanjang waktu, harga Bitcoin dapat berubah dalam hitungan menit.

Di sisi lain, kenaikan harian belum cukup untuk memastikan bahwa Bitcoin telah memasuki tren bullish baru. Investor tetap perlu memperhatikan pergerakan harga dalam rentang waktu yang lebih panjang, volume transaksi, serta kemampuan BTC mempertahankan level harga setelah reli.

Apabila pembeli terus masuk dan mampu mempertahankan momentum, Bitcoin berpeluang menguji area harga yang lebih tinggi. Namun, jika kenaikan hanya berlangsung sesaat, pasar dapat kembali menghadapi tekanan ketika investor mengambil keuntungan.

Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya berpatokan pada persentase kenaikan harian. Perubahan sentimen pasar dan perkembangan ekonomi global juga berperan besar dalam menentukan arah harga berikutnya.

Keputusan Suku Bunga The Fed Menjadi Sorotan Utama

Faktor penting yang memengaruhi pergerakan Bitcoin pada akhir Oktober adalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), komite yang menentukan kebijakan suku bunga The Fed.

Keputusan yang dijadwalkan pada Kamis (29/10/2026) pukul 01.00 WIB menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi biaya pinjaman, imbal hasil obligasi, dan daya tarik investasi pada aset berisiko.

Pasar sebelumnya memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,75%–4,00%. Namun, perkiraan pasar bukanlah keputusan resmi. Investor tetap perlu mencermati pengumuman bank sentral dan penjelasan mengenai prospek kebijakan berikutnya.

Jika The Fed mempertahankan suku bunga sekaligus memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi mulai terkendali, sentimen terhadap Bitcoin berpotensi membaik. Harapan terhadap pelonggaran kebijakan moneter pada masa mendatang dapat mendorong sebagian investor kembali mengambil risiko.

Sebaliknya, pernyataan yang lebih ketat dapat memicu respons berbeda. Apabila pejabat The Fed menilai inflasi masih terlalu tinggi, mereka dapat memberi sinyal bahwa suku bunga perlu bertahan pada tingkat tinggi lebih lama.

Ekspektasi tersebut berpotensi menguatkan dolar AS dan meningkatkan daya tarik instrumen berpendapatan tetap. Dalam situasi seperti itu, sebagian investor mungkin mengurangi eksposur terhadap aset yang memiliki volatilitas tinggi, termasuk Bitcoin.

Dengan demikian, pasar tidak hanya menunggu keputusan suku bunga. Nada pernyataan The Fed dan petunjuk mengenai langkah selanjutnya juga menjadi penentu penting bagi pergerakan BTC.

Mengapa Sinyal The Fed Bisa Mengubah Harga Bitcoin?

Bitcoin memang beroperasi di luar sistem perbankan konvensional, tetapi harganya tetap dipengaruhi kondisi likuiditas global dan keputusan investasi pelaku pasar.

Baca Juga :  Merangkak Naik, Berikut Harga BBM Pertamina Terbaru Hari ini

Ketika suku bunga AS berada pada tingkat tinggi, investor dapat memperoleh imbal hasil yang relatif menarik dari instrumen tertentu dengan risiko yang berbeda dibandingkan aset kripto. Kondisi ini dapat mengurangi dorongan untuk membeli aset berisiko.

Sebaliknya, ketika pasar memperkirakan suku bunga akan turun, sebagian investor mungkin mulai mencari peluang keuntungan dari saham dan aset digital. Perubahan ekspektasi tersebut dapat mendukung permintaan terhadap Bitcoin.

Namun, hubungan antara suku bunga dan harga BTC tidak selalu berjalan satu arah.

Bitcoin juga dipengaruhi arus dana institusional, aktivitas perdagangan derivatif, sentimen global, dan perubahan posisi investor.
Selain itu, pasar kerap bergerak berdasarkan perbedaan antara keputusan aktual dan ekspektasi sebelumnya.

Keputusan mempertahankan suku bunga, misalnya, belum tentu membuat Bitcoin naik apabila investor menganggap pernyataan The Fed lebih ketat daripada perkiraan.

Sebaliknya, keputusan yang sudah diperkirakan pasar dapat memicu kenaikan apabila bank sentral memberikan petunjuk yang lebih mendukung aset berisiko.

Oleh sebab itu, investor perlu membaca keseluruhan pesan kebijakan, bukan hanya melihat apakah The Fed menaikkan, mempertahankan, atau menurunkan suku bunga.

Inflasi AS dan Harga Minyak Menambah Ketidakpastian

Selain keputusan The Fed, perkembangan inflasi AS juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor Bitcoin.

Inflasi yang bertahan tinggi dapat membatasi ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter. Jika tekanan harga kembali meningkat, The Fed mungkin perlu mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama demi menjaga stabilitas harga.

Pada saat bersamaan, kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik dapat menambah tekanan terhadap biaya produksi dan transportasi. Jika kondisi tersebut mendorong inflasi, pasar dapat kembali mengubah perkiraan mengenai arah kebijakan moneter AS.

Sebaliknya, apabila tekanan inflasi mereda secara konsisten, investor berpotensi memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai prospek suku bunga.

Perhatian pasar juga tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE), salah satu indikator inflasi yang digunakan The Fed untuk menilai perkembangan harga barang dan jasa di AS.

Rilis PCE dan data pertumbuhan ekonomi AS pada 29 Oktober 2026 dapat memberikan informasi tambahan setelah keputusan FOMC. Kombinasi data tersebut berpotensi memperkuat atau mengubah respons awal pasar terhadap pengumuman suku bunga.

Jika data inflasi lebih tinggi daripada perkiraan, Bitcoin berpotensi menghadapi tekanan tambahan. Namun, inflasi yang lebih rendah dapat mendukung optimisme, terutama jika kondisi ekonomi tetap cukup kuat.

Meski demikian, respons pasar akan bergantung pada data aktual, perkiraan sebelumnya, dan bagaimana investor menilai dampaknya terhadap kebijakan The Fed.

Arus Dana Investor Institusional Turut Memengaruhi BTC

Selain faktor makroekonomi, arus dana investor institusional juga berperan dalam pergerakan harga Bitcoin.

Salah satu indikator yang sering dipantau adalah arus dana pada produk ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Produk tersebut memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap Bitcoin melalui instrumen investasi yang diperdagangkan di bursa.

Arus dana masuk dapat menunjukkan meningkatnya permintaan dari investor melalui produk tersebut. Sebaliknya, arus dana keluar dapat mencerminkan berkurangnya minat atau keputusan investor mengurangi eksposur.

Data yang dirangkum Ajaib pada 28 Oktober menunjukkan ETF Bitcoin spot AS mencatat arus dana bersih masuk sebesar US$304,7 juta pada pekan yang berakhir 23 Oktober. Angka tersebut berbalik dari arus keluar bersih US$228,6 juta pada pekan sebelumnya.

Walaupun demikian, data mingguan tersebut tidak menjamin bahwa arus dana akan terus positif. Perubahan sentimen setelah pengumuman The Fed dapat memengaruhi keputusan investor institusional dalam waktu singkat.

Karena itu, pelaku pasar perlu membandingkan perkembangan arus ETF dengan volume perdagangan dan pergerakan harga BTC.

Ketika harga naik bersamaan dengan permintaan yang kuat, pemulihan berpotensi memperoleh dukungan lebih baik. Namun, kenaikan tanpa dukungan permintaan yang konsisten tetap berisiko kehilangan momentum.

Baca Juga :  Rupiah Jebol Rp17.700 per Dolar AS, BI Terdesak Naikkan Suku Bunga? Investor Mulai Panik

Level Harga Bitcoin yang Perlu Dicermati

Dalam menghadapi volatilitas pasar, investor juga dapat memantau area support dan resistance Bitcoin.

Support merupakan area harga yang berpotensi menahan tekanan jual, sedangkan resistance adalah area yang berpotensi menghadirkan tekanan jual ketika harga bergerak naik.

Analisis CoinMarketCap pada 28 Oktober 2026 menempatkan US$79.500 sebagai salah satu area dukungan yang perlu diperhatikan. Sementara itu, kisaran US$81.400–US$82.500 menjadi area resistance yang perlu dicermati dalam skenario pemulihan jangka pendek.

Level tersebut merupakan referensi dari analisis pada waktu tertentu, bukan jaminan bahwa harga akan bertahan atau berbalik pada angka tersebut. Perubahan kondisi pasar dapat membuat level teknikal kehilangan relevansinya.

Jika Bitcoin mampu menembus resistance dan mempertahankan harga di atas area tersebut, sentimen pemulihan dapat menguat. Sebaliknya, kegagalan menembus resistance dapat membuka peluang konsolidasi atau penurunan kembali.

Investor juga perlu memperhatikan volume perdagangan saat harga menembus suatu level. Penembusan yang disertai peningkatan aktivitas pasar dapat memberikan konfirmasi lebih baik daripada pergerakan harga dengan volume yang lemah.

Namun, analisis teknikal tetap memiliki keterbatasan, terutama ketika pasar menghadapi pengumuman ekonomi besar. Pergerakan harga yang tajam dapat menembus support maupun resistance dalam waktu singkat.

Tiga Skenario Pergerakan Bitcoin Setelah Pengumuman The Fed

Pelaku pasar dapat mempertimbangkan tiga skenario untuk memahami kemungkinan respons Bitcoin terhadap perkembangan kebijakan moneter AS.

Pertama, Bitcoin melanjutkan penguatan. Skenario ini dapat terjadi apabila The Fed memberikan sinyal yang lebih lunak daripada perkiraan pasar, sementara data inflasi mendukung ekspektasi pelonggaran kebijakan. Permintaan investor yang meningkat dapat membantu BTC menguji resistance berikutnya.

Kedua, Bitcoin bergerak mendatar. Pasar dapat memilih menunggu apabila keputusan The Fed sesuai perkiraan, tetapi pernyataannya belum memberikan petunjuk jelas mengenai arah kebijakan selanjutnya. Dalam kondisi tersebut, investor mungkin menunggu data ekonomi tambahan sebelum mengambil keputusan.

Ketiga, Bitcoin kembali melemah. Risiko ini meningkat apabila The Fed menegaskan kebijakan ketat atau data inflasi menunjukkan tekanan harga yang lebih besar daripada perkiraan. Penguatan dolar AS dan perubahan posisi investor dapat menambah tekanan jual terhadap aset kripto.

Ketiga skenario tersebut merupakan kemungkinan, bukan kepastian arah harga. Investor sebaiknya menyusun keputusan berdasarkan toleransi risiko, jangka waktu investasi, dan kemampuan menghadapi kerugian.

Apa yang Perlu Dilakukan Investor Bitcoin

Menghadapi agenda ekonomi yang padat, investor sebaiknya menghindari keputusan terburu-buru hanya karena melihat kenaikan harga Bitcoin dalam satu hari.

  • Pertama, periksa perkembangan harga dari beberapa sumber tepercaya dan perhatikan waktu pembaruan datanya.
  • Kedua, cermati pengumuman resmi The Fed serta data inflasi yang relevan.
  • Ketiga, tentukan batas risiko sebelum melakukan transaksi, terutama jika menggunakan leverage.

Selain itu, investor perlu memahami bahwa Bitcoin memiliki volatilitas tinggi. Harga dapat naik maupun turun tajam dalam waktu singkat, sehingga keuntungan tidak pernah terjamin.

Investor jangka panjang juga sebaiknya membedakan perubahan harga jangka pendek dengan alasan fundamental yang mendasari keputusan investasinya.

Sementara itu, trader jangka pendek perlu menyadari bahwa pengumuman ekonomi dapat meningkatkan risiko slippage dan likuidasi, terutama pada posisi dengan leverage besar.

Pada akhirnya, penguatan Bitcoin menjelang akhir Oktober memberikan sinyal positif dalam jangka pendek, tetapi belum cukup untuk memastikan tren kenaikan yang berkelanjutan.

Pasar masih menunggu petunjuk dari The Fed, perkembangan inflasi AS, dan arus dana investor institusional. Ketiga faktor tersebut dapat menentukan apakah Bitcoin mampu melanjutkan pemulihan atau kembali menghadapi tekanan.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset kripto. Setiap keputusan investasi perlu mempertimbangkan kondisi keuangan, tujuan investasi, serta risiko yang dapat ditanggung masing-masing investor.(*)

Berita Terkait

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Kamis 29 Oktober 2026, Cek Daftar Harga per Karat Sebelum Membeli
Rupiah Tembus Rp18.175 per Dolar AS, Rekor Terlemah Sepanjang Masa! Ini Penyebabnya
BRI Buyback Saham Rp1 Triliun hingga Januari 2027, Apa Dampaknya bagi Investor?
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp18.120 per Dolar AS, Transaksi LCT dan Harga Minyak Jadi Sorotan
Harga Emas Perhiasan Hari Ini Selasa 27 Oktober 2026: Cek Daftar Harga per Karat
BSI dan Prudential Syariah Perkuat Bancassurance, Kontribusi Asuransi Mulai Rp1 Juta per Tiga Bulan
Rupiah Tembus Rp18.120 per Dolar AS, Pasar Waspadai Keputusan The Fed dan Gejolak Global
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 26 Oktober 2026: Cek Daftar Raja Emas dan Laku Emas
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:31 WIB

Harga Bitcoin Menguat, Sinyal The Fed Bikin Investor Waspada: Ini Faktor Penentunya

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:31 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Kamis 29 Oktober 2026, Cek Daftar Harga per Karat Sebelum Membeli

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:31 WIB

Rupiah Tembus Rp18.175 per Dolar AS, Rekor Terlemah Sepanjang Masa! Ini Penyebabnya

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:01 WIB

BRI Buyback Saham Rp1 Triliun hingga Januari 2027, Apa Dampaknya bagi Investor?

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:31 WIB

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp18.120 per Dolar AS, Transaksi LCT dan Harga Minyak Jadi Sorotan

Berita Terbaru