Rupiah Tembus Rp18.175 per Dolar AS, Rekor Terlemah Sepanjang Masa! Ini Penyebabnya

- Jurnalis

Rabu, 28 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BISNIS,JS- Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan berat pada Rabu, 28 Oktober 2026. Mata uang Indonesia ditutup pada level Rp18.175 per dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus mencetak rekor penutupan terlemah sepanjang sejarah berdasarkan data Refinitiv yang dikutip dalam laporan ini.

Pelemahan tersebut terjadi ketika ketidakpastian geopolitik global, lonjakan harga minyak, serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS menekan sentimen investor. Pada saat yang sama, kekhawatiran terhadap prospek pasar saham Indonesia turut menambah tekanan dari dalam negeri.

Data Refinitiv menunjukkan rupiah melemah 0,17 persen pada perdagangan Rabu. Dengan penutupan di level Rp18.175 per dolar AS, rupiah melewati rekor pelemahan sebelumnya sebesar Rp18.170 per dolar AS yang tercatat pada 8 Juni 2026.

Pergerakan ini menjadi perhatian pelaku pasar karena nilai tukar memiliki hubungan erat dengan biaya impor, kebutuhan dolar perusahaan, arus modal asing, serta stabilitas pasar keuangan nasional.

Konflik Timur Tengah Dorong Harga Minyak Tetap Tinggi

Bank Indonesia (BI) menilai ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah. Situasi geopolitik tersebut menjaga harga minyak dunia tetap tinggi dan memperbesar risiko terhadap perekonomian global.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dan sejumlah mata uang negara kawasan masih menghadapi pengaruh kuat dari ketidakpastian global.

Menurut Erwin, harga minyak bertahan di atas US$115 per barel. Level tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap beban fiskal dan prospek inflasi, terutama bagi negara yang masih mengandalkan impor energi.

Kenaikan harga minyak juga dapat menambah biaya transportasi dan produksi. Jika perusahaan menghadapi kenaikan biaya bahan bakar dan distribusi, mereka berpotensi menyesuaikan harga jual. Kondisi tersebut kemudian dapat menambah tekanan inflasi.

Selain itu, harga energi yang tinggi dapat memengaruhi kebijakan pemerintah terkait subsidi dan kompensasi energi. Karena itu, perkembangan konflik Timur Tengah tidak hanya memengaruhi pasar komoditas, tetapi juga berpotensi memengaruhi kondisi fiskal dan stabilitas nilai tukar.

Ekspektasi Suku Bunga AS Ikut Menekan Rupiah

Selain konflik geopolitik, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat turut memperburuk sentimen pasar keuangan.

Ketika investor memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi atau menaikkannya, aset keuangan berbasis dolar dapat menjadi semakin menarik. Investor kemudian berpeluang mengalihkan sebagian dana dari negara berkembang menuju instrumen yang menawarkan imbal hasil kompetitif di AS.

Erwin menjelaskan bahwa memburuknya sentimen risk-off mendorong penguatan dolar AS sekaligus memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang atau emerging markets.

Dalam situasi risk-off, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset yang mereka anggap lebih berisiko. Akibatnya, mata uang negara berkembang dapat menghadapi tekanan ketika permintaan terhadap dolar AS meningkat.

Kenaikan imbal hasil atau yield obligasi juga memperkuat dinamika tersebut. Perubahan preferensi investor dapat memengaruhi arus modal lintas negara, pasar obligasi, dan perdagangan valuta asing secara bersamaan.

Namun, ekspektasi pasar tidak selalu berakhir dengan keputusan kenaikan suku bunga. Pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan inflasi AS, data ketenagakerjaan, komunikasi bank sentral AS, serta keputusan kebijakan moneter berikutnya.

Kekhawatiran MSCI Tambah Tekanan dari Dalam Negeri

Tekanan terhadap rupiah juga muncul dari kekhawatiran investor mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

MSCI merupakan penyedia indeks pasar keuangan yang banyak digunakan investor global sebagai acuan dalam menyusun portofolio investasi. Perubahan klasifikasi atau bobot suatu negara dalam indeks dapat memengaruhi keputusan investasi, terutama bagi pengelola dana yang mengikuti indeks tersebut.

Jika kekhawatiran mengenai status pasar saham Indonesia meningkat, investor berpotensi meninjau kembali alokasi dana mereka. Perubahan persepsi terhadap prospek pasar domestik juga dapat memengaruhi sentimen terhadap aset Indonesia secara lebih luas.

Meski demikian, potensi dampak terhadap arus modal bergantung pada keputusan resmi, metodologi indeks, respons investor, serta kondisi pasar ketika perubahan berlaku. Karena itu, kekhawatiran mengenai MSCI perlu dibedakan dari keputusan resmi yang benar-benar telah diumumkan.

Di tengah situasi tersebut, kebutuhan valuta asing di dalam negeri menjelang akhir bulan turut menambah tekanan. Perusahaan biasanya membutuhkan valas untuk memenuhi berbagai kewajiban, termasuk pembayaran impor dan transaksi bisnis internasional.

Ketika permintaan dolar meningkat pada saat sentimen global melemah, tekanan terhadap rupiah dapat semakin besar.

Rupiah Melemah 1,15 Persen Sepanjang Bulan
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya terlihat dalam perdagangan harian. Bank Indonesia mencatat rupiah telah melemah 1,15 persen secara bulanan.

Meski demikian, BI menilai pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan dinamika mata uang negara-negara kawasan. Artinya, tekanan nilai tukar juga berkaitan dengan perubahan kondisi global yang memengaruhi sejumlah mata uang di pasar berkembang.

Pergerakan harian dan bulanan tersebut perlu dibaca bersama perkembangan dolar AS, harga komoditas, arus investasi, serta kebutuhan valuta asing domestik. Sebab, satu faktor saja tidak cukup untuk menjelaskan seluruh perubahan nilai tukar.

Bagi dunia usaha, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya pembelian barang dari luar negeri. Importir yang membayar transaksi menggunakan dolar AS membutuhkan lebih banyak rupiah untuk memenuhi kewajiban yang sama ketika nilai tukar melemah.

Sebaliknya, eksportir yang menerima pendapatan dalam dolar AS berpotensi memperoleh nilai konversi rupiah lebih besar. Namun, manfaat tersebut bergantung pada struktur biaya, kewajiban valas, dan kondisi bisnis masing-masing perusahaan.

Baca Juga :  Rupiah Kembali Terpuruk, Dolar AS Menguat! Ini Proyeksi Nilai Tukar Pekan Depan

Cadangan Devisa Indonesia Masih US$146,3 Miliar

Di tengah tekanan nilai tukar, Indonesia masih memiliki cadangan devisa sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026.

Cadangan devisa berperan penting dalam mendukung ketahanan eksternal perekonomian. Bank Indonesia dapat memanfaatkan instrumen yang sesuai untuk membantu menjaga stabilitas pasar valuta asing ketika terjadi tekanan berlebihan.

Meski demikian, angka cadangan devisa tidak berarti rupiah akan langsung menguat atau tekanan pasar segera berakhir. Pergerakan nilai tukar tetap bergantung pada berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi global, arus modal, kebutuhan dolar, dan kepercayaan investor.

Karena itu, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan cadangan devisa bersama indikator ekonomi lainnya. Perubahan data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan Indonesia menghadapi tekanan eksternal, tetapi bukan jaminan atas arah rupiah pada perdagangan berikutnya.

BI Siapkan Intervensi untuk Menjaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen intervensi di pasar keuangan.

Erwin menyebut BI terus melakukan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan transaksi spot. Selain itu, BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari upaya stabilisasi.

Setiap instrumen memiliki fungsi berbeda. Transaksi spot berkaitan dengan pertukaran valuta asing pada pasar tunai, sedangkan NDF dan DNDF merupakan instrumen berjangka yang membantu pelaku pasar mengelola risiko perubahan nilai tukar.

Melalui instrumen tersebut, BI berupaya menjaga agar mekanisme pasar berjalan dengan baik dan gejolak tidak mengganggu stabilitas keuangan secara berlebihan.

Bank sentral juga membeli SBN di pasar sekunder sebagai bagian dari langkah stabilisasi. Kebijakan ini berlangsung dalam konteks pengelolaan pasar keuangan, dengan tetap memperhatikan kondisi likuiditas dan perkembangan pasar obligasi.

Dalam pernyataan tertulisnya, Erwin menegaskan bahwa BI akan terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar dan stabilitas rupiah sesuai fundamental ekonomi.
Selain intervensi, BI memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi, pelaku pasar, serta berbagai pihak terkait. Langkah tersebut bertujuan menjaga kepercayaan pasar dan membantu pelaku usaha memahami perkembangan kondisi keuangan domestik.

Apa Dampak Rupiah Rp18.175 bagi Masyarakat?

Rekor pelemahan rupiah menjadi perhatian karena perubahan nilai tukar dapat merambat ke berbagai sektor ekonomi. Meski begitu, dampaknya terhadap masyarakat tidak selalu muncul secara langsung atau dalam waktu bersamaan.

Pertama, barang impor berpotensi mengalami kenaikan biaya ketika importir harus membayar pemasok menggunakan dolar AS. Besarnya dampak terhadap harga konsumen bergantung pada biaya produksi, persediaan barang, kontrak pembelian, dan kebijakan harga perusahaan.

Kedua, industri yang mengandalkan bahan baku impor dapat menghadapi kenaikan biaya operasional. Jika perusahaan tidak mampu menyerap seluruh kenaikan tersebut, mereka mungkin menyesuaikan harga produk atau menekan biaya lainnya.

Ketiga, masyarakat yang memiliki kebutuhan pembayaran dalam dolar AS, seperti biaya pendidikan atau transaksi tertentu di luar negeri, perlu memperhitungkan nilai tukar ketika menyiapkan anggaran.

Sementara itu, dampak terhadap harga bahan bakar, inflasi, dan daya beli masyarakat bergantung pada kebijakan pemerintah, perkembangan harga energi, serta kemampuan dunia usaha menyerap kenaikan biaya.

Oleh sebab itu, pelemahan rupiah tidak otomatis membuat seluruh harga barang langsung naik. Namun, jika tekanan berlangsung lama dan meningkatkan biaya impor secara luas, risiko kenaikan harga tetap perlu diperhatikan.

Prospek Rupiah Bergantung pada Perkembangan Global

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, arah harga minyak dunia, kebijakan suku bunga AS, serta aliran modal ke pasar negara berkembang.

Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada langkah stabilisasi Bank Indonesia, perkembangan pasar saham Indonesia, kebutuhan dolar perusahaan, dan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.

Kombinasi faktor tersebut akan menentukan seberapa besar tekanan terhadap rupiah pada perdagangan selanjutnya. Jika sentimen global membaik dan permintaan dolar mereda, tekanan terhadap mata uang negara berkembang berpotensi berkurang. Sebaliknya, eskalasi konflik atau perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS dapat kembali meningkatkan volatilitas pasar.

Untuk saat ini, penutupan rupiah di Rp18.175 per dolar AS menjadi sinyal bahwa tekanan eksternal dan domestik perlu terus dicermati. Namun, arah nilai tukar berikutnya tetap tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan satu hari perdagangan.

Bank Indonesia menyatakan akan terus memantau perkembangan pasar dan menggunakan instrumen yang tersedia untuk menjaga stabilitas rupiah. Pelaku usaha dan masyarakat juga perlu mengikuti perkembangan resmi agar dapat menyesuaikan keputusan keuangan berdasarkan kondisi terbaru.(*)

Berita Terkait

BRI Buyback Saham Rp1 Triliun hingga Januari 2027, Apa Dampaknya bagi Investor?
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp18.120 per Dolar AS, Transaksi LCT dan Harga Minyak Jadi Sorotan
Harga Emas Perhiasan Hari Ini Selasa 27 Oktober 2026: Cek Daftar Harga per Karat
BSI dan Prudential Syariah Perkuat Bancassurance, Kontribusi Asuransi Mulai Rp1 Juta per Tiga Bulan
Rupiah Tembus Rp18.120 per Dolar AS, Pasar Waspadai Keputusan The Fed dan Gejolak Global
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 26 Oktober 2026: Cek Daftar Raja Emas dan Laku Emas
Harga Emas Digital Hari Ini 25 Oktober 2026: Cek Treasury, Lakuemas, dan IndoGold
Rupiah Kembali Terpuruk, Dolar AS Menguat! Ini Proyeksi Nilai Tukar Pekan Depan
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:31 WIB

Rupiah Tembus Rp18.175 per Dolar AS, Rekor Terlemah Sepanjang Masa! Ini Penyebabnya

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:01 WIB

BRI Buyback Saham Rp1 Triliun hingga Januari 2027, Apa Dampaknya bagi Investor?

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:31 WIB

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp18.120 per Dolar AS, Transaksi LCT dan Harga Minyak Jadi Sorotan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:01 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Selasa 27 Oktober 2026: Cek Daftar Harga per Karat

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:01 WIB

BSI dan Prudential Syariah Perkuat Bancassurance, Kontribusi Asuransi Mulai Rp1 Juta per Tiga Bulan

Berita Terbaru