SUNGAIPENUH,JS- Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar kembali menjadi keluhan para pengemudi di Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci, Jambi. Sopir truk, mobil pick up, hingga kendaraan pengangkut material proyek harus meluangkan waktu berjam-jam demi mendapatkan bahan bakar untuk menunjang aktivitas mereka.
Kondisi tersebut menyulitkan para pengemudi yang setiap hari mengandalkan kendaraan sebagai sumber penghasilan. Waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk mengangkut barang atau material justru habis di antrean SPBU.
Sejumlah sopir mengaku harus menunggu sejak siang hingga malam. Mereka juga mengeluhkan ketidakpastian jadwal kedatangan pasokan solar yang membuat mereka kesulitan mengatur pekerjaan.
Persoalan ini menjadi perhatian karena kebutuhan solar ikut menopang kegiatan transportasi, distribusi barang, dan pembangunan di wilayah Kerinci serta Sungai Penuh.
Sopir Pick Up Antre dari Siang hingga Malam
Rifzan, pemilik mobil pick up Mitsubishi L300, mengaku kerap menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengisi solar. Ia mengatakan, ketidakpastian pasokan membuat para pengemudi kesulitan memperkirakan kapan mereka bisa memperoleh BBM.
“Kadang kita antre dari siang sampai malam lagi. Jadwal pasokan solar tidak jelas kapan masuk,” ujar Rifzan.
Menurutnya, kondisi tersebut menyita waktu kerja dan mengurangi kesempatan untuk memperoleh pendapatan. Bagi pengemudi yang mengandalkan kendaraan untuk mencari nafkah, setiap jam memiliki nilai ekonomi.
Ketika antrean berlangsung hingga malam, mereka harus menyesuaikan jadwal pengangkutan dengan waktu pengisian BBM. Akibatnya, pekerjaan yang biasanya bisa mereka selesaikan dalam satu hari berpotensi mengalami keterlambatan.
Rifzan berharap pasokan solar lebih teratur sehingga para pengemudi dapat menjalankan pekerjaan tanpa harus menunggu terlalu lama. Ia juga menginginkan informasi yang lebih jelas mengenai jadwal kedatangan BBM di SPBU.
Kebutuhan Solar Meningkat Seiring Aktivitas Proyek
Rifzan menilai meningkatnya aktivitas pembangunan turut mendorong kebutuhan solar di wilayah tersebut. Sejumlah pekerjaan konstruksi membutuhkan kendaraan pengangkut material untuk mendukung mobilisasi pasir, batu, dan berbagai bahan bangunan lainnya.
Kendaraan pick up dan truk menjadi bagian penting dalam rantai distribusi material. Karena itu, kelancaran pengisian BBM berpengaruh terhadap kemampuan pengemudi memenuhi jadwal pengangkutan.
“Kami kewalahan mendapatkan solar. Padahal ini kesempatan kami untuk mendapatkan pendapatan,” jelasnya.
Bagi para sopir, antrean panjang bukan sekadar persoalan kenyamanan. Mereka juga harus mempertimbangkan biaya operasional, waktu kerja, serta target pengiriman material.
Jika waktu tunggu terus bertambah, pengemudi memiliki lebih sedikit kesempatan untuk mengambil pekerjaan berikutnya. Situasi tersebut berpotensi memengaruhi pendapatan harian, terutama bagi sopir yang menerima bayaran berdasarkan jumlah perjalanan atau muatan.
Meski demikian, besarnya dampak terhadap kegiatan proyek masih memerlukan data lebih lanjut. Belum ada angka pasti mengenai jumlah kendaraan yang mengantre, volume kebutuhan solar harian, maupun berapa banyak pekerjaan yang mengalami keterlambatan akibat kondisi tersebut.
Sopir Dump Truck Minta Pasokan Lebih Teratur
Keluhan serupa datang dari Son, sopir dump truck asal Kerinci. Ia mengatakan, tingginya permintaan pengangkutan material proyek membuat kebutuhan solar semakin penting bagi para pengemudi.
Dump truck berperan dalam mengangkut material untuk berbagai pekerjaan konstruksi. Tanpa pasokan BBM yang memadai, pengemudi kesulitan menjalankan perjalanan sesuai jadwal.
Son berharap SPBU dapat meningkatkan ketersediaan solar sesuai kebutuhan masyarakat dan aktivitas usaha di wilayah Kerinci. Ia juga meminta pengelola SPBU memperketat pengawasan distribusi agar pelayanan berlangsung lebih tertib.
“Kami berharap SPBU menambah pasokan solar untuk Kerinci. Pihak SPBU juga perlu lebih ketat mengawasi distribusi agar semua sopir bisa terlayani,” katanya.
Menurut para pengemudi, kepastian pasokan menjadi salah satu hal penting untuk mengurangi waktu tunggu. Informasi yang jelas mengenai ketersediaan BBM juga membantu mereka menentukan waktu pengisian dan menyusun jadwal kerja.
Selain itu, pengawasan distribusi perlu mendapat perhatian agar penyaluran solar berjalan sesuai ketentuan. Namun, keluhan mengenai antrean panjang belum dengan sendirinya membuktikan adanya pelanggaran dalam distribusi BBM.
Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebab utama antrean, termasuk kecukupan pasokan, tingginya permintaan, dan pola penyaluran di setiap SPBU.
Koordinasi SPBU dan Pemerintah Daerah Dibutuhkan
Situasi ini mendorong perlunya koordinasi antara pengelola SPBU, pihak terkait dalam distribusi BBM, dan pemerintah daerah. Langkah tersebut penting untuk memahami kebutuhan solar di lapangan sekaligus mencari solusi yang sesuai.
Pihak terkait perlu mengevaluasi pola permintaan di wilayah Sungai Penuh dan Kerinci. Data mengenai jumlah kendaraan, kebutuhan harian, serta waktu kedatangan pasokan dapat membantu menentukan langkah penanganan yang lebih tepat.
Selain itu, penyampaian informasi kepada masyarakat juga perlu mendapat perhatian. Informasi yang mudah diakses mengenai ketersediaan solar dapat membantu pengemudi merencanakan perjalanan dan mengurangi ketidakpastian saat mencari BBM.
Pemerintah daerah juga dapat menyampaikan keluhan para sopir kepada pihak berwenang agar evaluasi distribusi berlangsung berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Meski begitu, penambahan pasokan perlu mempertimbangkan alokasi resmi, ketentuan penyaluran, dan kebutuhan pengguna lain. Penanganan yang tepat harus menjaga kelancaran kegiatan usaha sekaligus memastikan distribusi BBM mengikuti aturan yang berlaku.
Antrean Solar Menjadi Perhatian Pengemudi
Bagi Rifzan, Son, dan pengemudi lainnya, kepastian memperoleh solar menjadi kebutuhan utama untuk menjaga kelangsungan pekerjaan. Mereka berharap antrean panjang tidak terus menyita waktu produktif, terutama ketika aktivitas pengangkutan material meningkat.
Ketersediaan BBM yang lebih teratur, pengawasan distribusi, serta komunikasi yang jelas antara SPBU dan pihak terkait dapat menjadi bagian dari upaya mengatasi persoalan tersebut.
Hingga ada penjelasan lebih lanjut mengenai kondisi pasokan di setiap SPBU, para pengemudi masih berharap kebutuhan solar di Sungai Penuh dan Kerinci mendapat perhatian serius.
Mereka menginginkan pelayanan yang lebih tertib dan kepastian pasokan agar dapat kembali berfokus pada pekerjaan, memenuhi kebutuhan pelanggan, serta memperoleh pendapatan dari aktivitas transportasi setiap hari. (AN)










