JAMBI,JS- Krisis kepercayaan terhadap Bank Jambi semakin menguat. Ketua DPRD Provinsi Jambi, Hafiz Fattah, secara terbuka melontarkan kritik tajam kepada jajaran direksi bank daerah tersebut.
Ia menilai manajemen gagal menepati janji terkait pemulihan layanan setelah serangan siber yang sempat membobol dana nasabah hingga Rp143 miliar. Meski pihak bank menyampaikan bahwa dana telah kembali ke rekening nasabah, kondisi layanan di lapangan menunjukkan hal berbeda.
Sebagai akibatnya, masyarakat masih mengalami kesulitan mengakses layanan perbankan, terutama ATM dan mobile banking.
Antrean Panjang Nasabah Jadi Sorotan
Lebih lanjut, Hafiz mengungkapkan kondisi nyata yang ia lihat langsung di beberapa kantor cabang. Ia menemukan antrean panjang nasabah yang mengular hingga berjam-jam.
Bahkan, sejumlah nasabah membawa kursi sendiri dari rumah hanya untuk menunggu giliran menarik uang tunai di ATM. Kondisi ini menggambarkan betapa lambatnya penanganan gangguan sistem.
Selain itu, keterbatasan akses digital memaksa seluruh transaksi kembali dilakukan secara manual. Situasi ini jelas membebani masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil yang membutuhkan transaksi cepat.
Janji Direksi Bank Jambi Dipertanyakan
Sebelumnya, direksi Bank Jambi sempat menghadiri rapat di gedung DPRD dan menyampaikan komitmen kuat untuk menyelesaikan gangguan sistem sebelum Idulfitri.
Namun, hingga beberapa hari setelah Lebaran, layanan mobile banking dan ATM tetap belum berjalan normal.
Hafiz menegaskan bahwa ketidaksesuaian antara pernyataan resmi dan kondisi lapangan tidak bisa terus dibiarkan. Ia menilai hal tersebut berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap bank daerah.
Bandingkan dengan Bank Lain, Evaluasi Direksi Menguat
Di sisi lain, Hafiz membandingkan kondisi ini dengan bank lain yang mampu memulihkan sistem dalam waktu singkat setelah gangguan serupa.
Menurutnya, durasi pemulihan Bank Jambi yang berlangsung hingga berminggu-minggu tergolong tidak wajar.
Karena itu, ia secara tegas meminta evaluasi menyeluruh terhadap kinerja direksi. Ia menekankan pentingnya langkah cepat dan konkret agar krisis tidak semakin meluas.
Transparansi Jadi Kunci Pemulihan Kepercayaan
Tidak hanya itu, Hafiz juga mendesak pihak Bank Jambi untuk membuka informasi secara transparan kepada publik.
Ia meminta manajemen berhenti menyampaikan pernyataan normatif di media tanpa diikuti perbaikan nyata di lapangan.
Sebaliknya, ia mendorong adanya penjelasan rinci mengenai kendala teknis yang menghambat pemulihan sistem. Dengan begitu, masyarakat dapat memahami situasi secara utuh.
Dampak Ekonomi Mulai Terasa
Gangguan layanan perbankan ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga sektor ekonomi lokal.
Para pelaku UMKM mengeluhkan terhambatnya transaksi harian. Selain itu, keterlambatan akses dana juga berpotensi mengganggu arus kas usaha kecil.
Jika kondisi ini terus berlanjut, maka dampaknya bisa meluas terhadap stabilitas ekonomi daerah.
Upaya Pemulihan Harus Dipercepat
Melihat situasi yang semakin kompleks, DPRD mendorong langkah percepatan pemulihan sistem.
Bank Jambi perlu segera:
- Memperbaiki sistem keamanan digital
- Mengoptimalkan layanan ATM dan mobile banking
- Menambah tenaga layanan di cabang
- Menyediakan solusi darurat bagi nasabah
Dengan langkah tersebut, bank dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat secara bertahap.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
- Apa penyebab gangguan di Bank Jambi?
Gangguan terjadi akibat serangan siber yang berdampak pada sistem layanan perbankan. - Apakah dana nasabah aman?
Pihak bank menyatakan dana telah dikembalikan, namun layanan masih belum sepenuhnya normal. - Kenapa layanan lama pulih?
Kemungkinan terjadi kendala teknis kompleks pada sistem keamanan dan infrastruktur digital. - Apa dampaknya bagi masyarakat?
Nasabah kesulitan bertransaksi, antrean panjang terjadi, dan aktivitas ekonomi terganggu. - Apa solusi yang didorong DPRD?
DPRD meminta percepatan pemulihan, transparansi, serta evaluasi direksi Bank Jambi.
Kesimpulan
Kasus Bank Jambi menjadi peringatan serius bagi sektor perbankan daerah dalam menghadapi ancaman siber. Kritik dari Hafiz Fattah menunjukkan bahwa publik menuntut transparansi, kecepatan, dan tanggung jawab nyata.
Ke depan, Bank Jambi harus bergerak cepat memperbaiki sistem dan meningkatkan kualitas layanan. Tanpa langkah konkret, kepercayaan masyarakat akan terus menurun dan berpotensi memicu dampak ekonomi yang lebih luas.(*)









