KESEHATAN,JS- Sebuah riset global kembali membuka mata dunia soal gaya hidup modern. Kali ini, peneliti menilai tingkat aktivitas fisik masyarakat dari jumlah langkah kaki harian, bukan dari produktivitas atau jam kerja.
Tim peneliti dari Stanford University mempublikasikan temuan tersebut dalam jurnal ilmiah Nature. Hasilnya menunjukkan bahwa banyak negara besar masih gagal memenuhi standar kesehatan dari World Health Organization (WHO), yaitu minimal 5.000 langkah per hari.
Dari analisis jutaan data pelacak aktivitas, riset ini menyusun daftar tujuh negara dengan tingkat berjalan kaki terendah di dunia.
Indonesia Paling Jarang Jalan Kaki di Dunia
Pertama, Indonesia langsung menempati posisi teratas. Rata-rata masyarakat Indonesia hanya melangkah 3.513 langkah per hari, angka terendah dalam riset ini.
Kondisi infrastruktur menjadi penyebab utama. Trotoar rusak, sempit, atau beralih fungsi membuat warga enggan berjalan kaki. Di saat yang sama, masyarakat lebih memilih sepeda motor atau mobil meski jarak tujuan tergolong dekat.
Peneliti utama, Scott Delp, menegaskan bahwa angka ini jauh di bawah rata-rata global. Ia menilai Indonesia perlu membangun budaya jalan kaki yang lebih kuat agar kesehatan masyarakat tidak terus menurun.
Arab Saudi Terhambat Cuaca Panas
Selanjutnya, Arab Saudi berada di peringkat kedua dengan 3.807 langkah per hari. Cuaca panas ekstrem membuat warga jarang berjalan kaki di luar ruangan.
Selain itu, aktivitas sosial yang berpusat di dalam gedung serta ketergantungan pada kendaraan pribadi memperkuat gaya hidup sedentari. Meski demikian, pemerintah setempat mulai mendorong pola hidup sehat melalui pembangunan fasilitas olahraga dalam ruangan.
Malaysia Masih Andalkan Kendaraan Bermotor
Sementara itu, Malaysia mencatat rata-rata 3.963 langkah per hari. Kepadatan lalu lintas dan minimnya jalur pejalan kaki membuat masyarakat enggan berjalan.
Akibatnya, mayoritas aktivitas harian bergantung pada kendaraan bermotor. Jarak pendek pun jarang ditempuh dengan berjalan kaki.
Filipina Terjebak Kemacetan dan Polusi
Berikutnya, Filipina menempati posisi keempat dengan 4.008 langkah per hari. Kemacetan parah di kota besar seperti Manila mengurangi kenyamanan pejalan kaki.
Di samping itu, trotoar sempit, permukaan jalan tidak rata, serta polusi udara tinggi membuat aktivitas luar ruangan terasa melelahkan dan berisiko bagi kesehatan.
Afrika Selatan Hadapi Ketimpangan Aktivitas
Kemudian, Afrika Selatan berada di urutan kelima dengan 4.105 langkah per hari. Aktivitas fisik masyarakat menunjukkan perbedaan tajam antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Meski kota besar tampak sibuk, kebiasaan berjalan kaki tetap rendah secara nasional. Kondisi ini mencerminkan tantangan besar dalam pemerataan gaya hidup sehat.
Brasil Terkendala Faktor Sosial
Setelah itu, Brasil mencatat 4.289 langkah per hari. Masalah sosial dan ekonomi memengaruhi kebiasaan aktivitas fisik masyarakat.
Tidak semua wilayah menyediakan fasilitas aman dan nyaman untuk berjalan kaki. Padahal, Brasil dikenal luas sebagai negara dengan budaya olahraga yang kuat.
India Tutup Daftar Negara Paling Pasif
Terakhir, India mencatat rata-rata 4.297 langkah per hari. Cuaca panas, polusi udara tinggi, serta kemacetan lalu lintas membuat berjalan kaki terasa tidak praktis.
Situasi ini mirip dengan Indonesia, di mana kendaraan bermotor sering menjadi pilihan utama meski jarak perjalanan relatif dekat.
Alarm Kesehatan Global
Secara keseluruhan, riset ini menegaskan bahwa rendahnya aktivitas jalan kaki tidak muncul secara kebetulan. Infrastruktur kota, kondisi lingkungan, dan budaya transportasi berperan besar dalam membentuk kebiasaan masyarakat.
Jika negara-negara tersebut tidak segera mendorong perubahan, risiko penyakit akibat gaya hidup pasif akan terus meningkat dan membebani sistem kesehatan di masa depan.(*)









