JAKARTA,JS- Sejumlah kader dari berbagai partai mulai bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Pengamat politik Agung Baskoro menyebut fenomena ini terkait dengan adanya “Jokowi Effect” yang membuat PSI semakin menarik bagi politisi.
Jokowi Effect Dorong Magnet Politik
Agung menjelaskan, Jokowi Effect memberikan berkah elektoral dan insentif politik bagi para politisi yang pindah ke PSI. “Secara personal, Jokowi Effect hadir di PSI sehingga menjadi magnet politik yang mampu memberikan keuntungan elektoral dan insentif lainnya,” kata Agung kepada Tribunnews.com, Sabtu (24/1/2026).
Selain faktor elektoral, politisi juga mempertimbangkan peluang berkembang yang masih luas di PSI. Menurut Agung, partai ini memungkinkan mereka memiliki peran politik lebih signifikan dibandingkan di partai lama.
Peluang Politik Lebih Besar Jadi Alasan Pindah
Agung menambahkan, banyak elit partai lain memanfaatkan ruang berkembang di PSI. “Secara institusional, ruang berkembang untuk PSI masih terbuka. Banyak elit pindah karena melihat peran politik mereka bisa lebih signifikan daripada sebelumnya,” jelasnya.
Selain itu, tren suara PSI menunjukkan kenaikan dari satu Pemilu Legislatif (Pileg) ke Pileg berikutnya, meskipun partai ini belum masuk parlemen. Kenaikan tren suara ini menambah daya tarik PSI bagi para politisi.
Deretan Politikus yang Pindah ke PSI
Beberapa tokoh yang dikonfirmasi bergabung dengan PSI antara lain:
-
Ahmad Ali, mantan Wakil Ketua Umum DPP Partai NasDem
-
Bestari Barus, Ketua DPP NasDem
-
Rusdi Masse Mappasess, Ketua DPW NasDem Sulawesi Selatan
-
Ricky Valentino, Ketua Bidang Pemilih Pemula NasDem
-
I Wayan Suyasa, kader senior Partai Golkar
Langkah ini memperkuat posisi PSI di panggung politik nasional dan menandai tren migrasi elit partai menuju partai yang lebih dinamis.(TIM)









