BISNIS,JS- Otoritas Jasa Keuangan (Otoritas Jasa Keuangan/OJK) menegaskan bahwa suku bunga kredit perbankan terus menurun dan kini telah mendekati angka 8 persen. Kondisi ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa bunga kredit masih bertahan di level tinggi.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyatakan penurunan bunga kredit berlangsung cukup signifikan dalam setahun terakhir.
“Sekarang sudah turun dan mendekati 8 persen. Sebelumnya masih berada di atas 9 persen,” kata Dian usai menghadiri The 2nd Indonesia Climate Banking Forum (ICBF) di Jakarta, Kamis (26/2/2026), dikutip dari Antara.
Data Bank Indonesia Perkuat Klaim OJK
Sementara itu, data dari Bank Indonesia memperkuat pernyataan OJK. Bank sentral mencatat suku bunga kredit turun sekitar 40 basis poin (bps), dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi 8,80 persen pada Januari 2026.
Penurunan tersebut menandai perbaikan kondisi pembiayaan di sektor perbankan nasional. Selain itu, tren ini memberi ruang lebih luas bagi perbankan untuk menyalurkan kredit dengan bunga yang lebih kompetitif.
Likuiditas Meningkat Dorong Penurunan Bunga
Lebih lanjut, Dian menjelaskan bahwa peningkatan likuiditas menjadi faktor utama di balik turunnya suku bunga kredit. Pemerintah menempatkan dana sebesar Rp200 triliun ke sistem perbankan dan memperpanjang masa penempatan hingga September 2026.
“Dana itu langsung menambah likuiditas dan menekan biaya dana. Saat likuiditas melimpah, persaingan penghimpunan dana membuat bunga ikut turun,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai menertibkan praktik pemberian suku bunga khusus atau special rate. Selama ini, praktik tersebut kerap muncul dalam kerja sama dengan lembaga pemerintah dan BUMN.
Menurut Dian, kebijakan ini penting untuk membangun struktur suku bunga yang lebih sehat. Dengan menekan special rate, perbankan dapat menerapkan bunga kredit yang lebih adil dan berkelanjutan.
Kredit Berpeluang Tumbuh, Ekonomi Diharapkan Menggeliat
Akhirnya, OJK optimistis penurunan bunga kredit akan mendorong pertumbuhan permintaan pinjaman. Masyarakat diperkirakan lebih berani mengambil kredit, baik untuk konsumsi maupun pengembangan usaha.
“Ketika bunga kredit turun, minat pinjaman pasti meningkat. Aktivitas konsumsi dan usaha akan bergerak, sehingga perekonomian ikut menggeliat,” tutup Dian.(*)









