AROLANGUN,JS- Kemarau panjang yang mengurangi ketersediaan hijauan pakan, ditambah kabut asap, mendorong peternak di Kabupaten Sarolangun, Jambi, meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit hewan. Peternak sapi dan kerbau perlu menjaga kualitas pakan, memantau kondisi kesehatan ternak, serta memastikan jadwal vaksinasi berjalan sesuai ketentuan.
Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sarolangun mengingatkan bahwa perubahan kondisi lingkungan dapat memengaruhi kesehatan dan produktivitas ternak. Karena itu, peternak perlu mengambil langkah pencegahan sejak dini, meskipun hingga saat ini belum ada laporan penyakit yang menonjol pada ternak besar di wilayah tersebut.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan), Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), dan Pengolahan serta Pemasaran Hasil Peternakan dan Perikanan (P2PH) Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sarolangun, drh. Deden Kusnandar, mengatakan pihaknya terus mengingatkan peternak agar memperhatikan kondisi ternak selama musim kemarau.
“Alhamdulillah, untuk ternak besar di Kabupaten Sarolangun belum ada laporan penyakit. Namun, karena kondisi pakan berkurang dan kualitasnya kurang bagus akibat kemarau, ditambah kabut asap, kita harus tetap waspada terhadap penyakit-penyakit endemis,” ujar Deden kepada RRI, Rabu (21/10/2026).
Kemarau Kurangi Ketersediaan Pakan Ternak
Musim kemarau menjadi tantangan bagi peternak karena pertumbuhan rumput dan tanaman pakan cenderung menurun ketika ketersediaan air terbatas. Kondisi ini dapat menyulitkan peternak dalam memenuhi kebutuhan pakan harian, terutama bagi usaha peternakan yang masih mengandalkan hijauan dari lingkungan sekitar.
Selain jumlahnya berkurang, kualitas hijauan juga perlu mendapat perhatian. Peternak perlu memastikan ternak memperoleh pakan yang cukup dan sesuai kebutuhan agar kondisi tubuh tetap terjaga.
Kekurangan pakan dalam jangka waktu tertentu dapat mengganggu pertumbuhan ternak, menurunkan bobot badan, serta memengaruhi produktivitas. Pada ternak yang sedang bunting atau menyusui, pemenuhan kebutuhan nutrisi juga menjadi perhatian penting.
Oleh sebab itu, peternak sebaiknya tidak menunggu hingga persediaan rumput benar-benar habis untuk mencari sumber pakan alternatif. Perencanaan persediaan pakan sejak awal kemarau dapat membantu mengurangi risiko kekurangan nutrisi.
Peternak juga perlu menyesuaikan pemberian pakan dengan jenis, umur, bobot badan, dan kondisi fisiologis ternak. Dengan langkah tersebut, kebutuhan nutrisi dapat tetap terpenuhi meskipun ketersediaan hijauan mengalami penurunan.
Tiga Penyakit Ternak yang Perlu Diwaspadai
Deden menyebutkan tiga penyakit yang perlu mendapat perhatian peternak sapi dan kerbau di Sarolangun, yakni septicaemia epizootica (SE), penyakit jembrana, dan penyakit mulut dan kuku (PMK).
Penyakit-penyakit tersebut memerlukan perhatian karena dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius dan berdampak terhadap aktivitas peternakan. Meski demikian, peternak perlu memahami bahwa setiap penyakit memiliki penyebab, pola penularan, dan karakteristik yang berbeda.
1. Septicaemia Epizootica atau Penyakit Ngorok
Septicaemia epizootica (SE), yang dikenal masyarakat sebagai penyakit ngorok, merupakan penyakit menular pada sapi dan kerbau akibat infeksi bakteri Pasteurella multocida.
Penyakit ini dapat berkembang secara serius dan menyebabkan kematian, terutama ketika ternak mengalami infeksi berat. Gejala yang perlu mendapat perhatian antara lain demam, lesu, kesulitan bernapas, serta pembengkakan pada bagian tertentu, termasuk daerah leher.
Peternak perlu segera menghubungi petugas kesehatan hewan apabila menemukan gejala yang mengarah pada SE. Penanganan dini membantu petugas menentukan langkah pemeriksaan dan pengendalian yang sesuai.
Selain itu, peternak perlu mengikuti program vaksinasi SE sesuai jadwal dan rekomendasi petugas veteriner setempat. Peternak juga sebaiknya tidak memindahkan ternak yang sakit tanpa arahan petugas karena tindakan tersebut dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit.
2. Penyakit Jembrana pada Sapi Bali
Gejalanya dapat berupa demam tinggi, lemah, pembengkakan kelenjar getah bening, serta penurunan kondisi tubuh. Pada kasus berat, penyakit ini dapat menyebabkan kematian.
Karena itu, peternak perlu mengenali perubahan kondisi ternak dan segera meminta pemeriksaan apabila menemukan gejala yang tidak biasa. Peternak juga perlu memperhatikan kebersihan kandang, pengendalian serangga pengisap darah, serta langkah biosekuriti sesuai arahan petugas kesehatan hewan.
Pengendalian penyakit jembrana memerlukan kewaspadaan dan pengawasan berkelanjutan, terutama pada wilayah yang memelihara sapi Bali. Peternak sebaiknya berkonsultasi dengan petugas mengenai langkah pencegahan yang sesuai dengan kondisi wilayah dan jenis ternak.
3. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)
Penyakit mulut dan kuku (PMK) merupakan penyakit virus yang sangat menular pada hewan berkuku belah, termasuk sapi dan kerbau.
Gejala PMK dapat meliputi demam, luka atau lepuh pada mulut, air liur berlebihan, luka pada kaki, serta kesulitan berjalan. Kondisi tersebut dapat membuat ternak kehilangan nafsu makan dan mengalami penurunan produktivitas.
Jika peternak menemukan gejala yang mengarah pada PMK, peternak perlu segera melapor kepada petugas kesehatan hewan. Sambil menunggu pemeriksaan, peternak sebaiknya membatasi perpindahan ternak dan menghindari kontak dengan hewan lain.
Langkah tersebut penting karena PMK dapat menyebar melalui kontak langsung maupun perantara tertentu yang membawa virus. Peternak juga perlu mengikuti arahan petugas terkait vaksinasi, sanitasi, dan pengendalian lalu lintas ternak.
Vaksinasi Menjadi Bagian Penting Pencegahan
Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sarolangun terus mendorong peternak mengikuti program vaksinasi sesuai jadwal. Vaksinasi menjadi salah satu langkah penting untuk membantu membangun perlindungan terhadap penyakit tertentu pada ternak.
Namun, peternak perlu memahami bahwa vaksinasi tidak menggantikan seluruh langkah pencegahan. Perlindungan yang lebih baik memerlukan kombinasi vaksinasi sesuai jenis penyakit, pemenuhan nutrisi, kebersihan kandang, serta pemantauan kesehatan secara rutin.
Deden menegaskan bahwa peternak perlu memanfaatkan layanan petugas kesehatan hewan apabila menemukan persoalan pada ternaknya. Komunikasi sejak dini dapat membantu petugas menilai kondisi hewan dan menentukan tindakan yang tepat.
Peternak juga sebaiknya menyimpan catatan vaksinasi, riwayat penyakit, serta perubahan kondisi ternak. Catatan tersebut dapat membantu petugas mengevaluasi kebutuhan kesehatan hewan dan menentukan jadwal tindakan berikutnya.
Di samping itu, peternak perlu menghindari pemberian obat secara sembarangan. Penggunaan obat tanpa pemeriksaan dapat menghambat penanganan yang tepat, terutama ketika gejala beberapa penyakit terlihat serupa.
Pelepah dan Daun Sawit Bisa Menjadi Alternatif Pakan
Untuk mengatasi keterbatasan hijauan selama kemarau, Deden menyarankan peternak memanfaatkan sumber pakan alternatif yang tersedia di lingkungan sekitar, termasuk pelepah dan daun sawit.
“Kita tetap melakukan vaksinasi sesuai jadwal. Untuk pakan, peternak bisa memanfaatkan bahan alternatif yang masih tersedia agar kebutuhan pakan ternak tetap terpenuhi,” katanya.
Meski demikian, peternak perlu memperhatikan kualitas dan cara pengolahan bahan alternatif sebelum memberikannya kepada ternak. Pelepah dan daun sawit memiliki karakteristik nutrisi serta tingkat kecernaan yang berbeda dari hijauan pakan pada umumnya.
Peternak sebaiknya mencacah bahan tersebut agar lebih mudah dikonsumsi. Pemberian juga perlu menyesuaikan kebutuhan ternak dan tidak mengandalkan satu jenis bahan sebagai satu-satunya sumber nutrisi.
Untuk menjaga keseimbangan pakan, peternak dapat berkonsultasi dengan penyuluh atau petugas peternakan mengenai kombinasi hijauan, sumber energi, dan sumber protein yang tersedia secara lokal.
Peternak juga harus memastikan bahan pakan tidak berjamur, membusuk, atau tercemar bahan kimia. Pakan yang kurang layak justru dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan menurunkan manfaat dari upaya pemenuhan nutrisi.
Dengan pengelolaan pakan yang tepat, peternak memiliki peluang lebih besar untuk menjaga kondisi ternak selama persediaan hijauan mengalami penurunan.
Kenali Gejala dan Segera Laporkan kepada Petugas
Selain menjaga pakan dan mengikuti vaksinasi, peternak perlu memantau kondisi ternak setiap hari. Perubahan nafsu makan, aktivitas yang menurun, demam, gangguan pernapasan, air liur berlebihan, maupun kesulitan berjalan dapat menjadi tanda bahwa ternak membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Peternak sebaiknya tidak langsung menyimpulkan jenis penyakit hanya berdasarkan satu gejala. Pemeriksaan oleh petugas kesehatan hewan diperlukan untuk membantu menentukan penyebab dan penanganan yang sesuai.
Apabila menemukan dugaan penyakit menular, peternak perlu membatasi kontak antara ternak yang sakit dan ternak sehat. Peternak juga sebaiknya tidak menjual atau memindahkan hewan yang menunjukkan gejala mencurigakan sebelum memperoleh arahan dari petugas.
Langkah pelaporan dini dapat membantu petugas melakukan pemeriksaan, menilai risiko penularan, serta menentukan tindakan pengendalian. Dengan demikian, peternak dapat mengurangi potensi kerugian dan melindungi ternak lain di sekitarnya.
Jaga Kesehatan Ternak Selama Kemarau
Kondisi kemarau dan kabut asap menjadi pengingat bagi peternak di Kabupaten Sarolangun untuk memperkuat pengelolaan kesehatan hewan. Ketersediaan pakan yang memadai, air minum bersih, kandang yang memiliki ventilasi baik, dan vaksinasi sesuai rekomendasi merupakan bagian penting dari upaya pencegahan.
Peternak juga perlu mengurangi paparan asap terhadap ternak sejauh memungkinkan. Jika ternak menunjukkan gangguan pernapasan, peternak sebaiknya segera meminta pemeriksaan dan menghindari tindakan yang dapat memperburuk kondisinya.
Hingga Rabu (21/10/2026), Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sarolangun belum menerima laporan penyakit yang menonjol pada sapi dan kerbau. Namun, kondisi tersebut tidak berarti peternak dapat mengabaikan langkah pencegahan.
Kewaspadaan, pengamatan rutin, dan komunikasi dengan petugas kesehatan hewan menjadi kunci untuk mendeteksi gangguan kesehatan lebih awal. Melalui langkah tersebut, peternak dapat menjaga kondisi ternak sekaligus mempertahankan produktivitas usaha peternakan di tengah tantangan musim kemarau.(*)










