TEBO,JS- Semangat meraih pendidikan yang lebih tinggi kembali ditunjukkan oleh generasi muda dari komunitas Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba di Kabupaten Tebo, Jambi. Seorang pelajar bernama Begaya resmi mendaftarkan diri ke SMAN 3 Tebo melalui jalur afirmasi pada Selasa, 9 Juni 2026.
Langkah Begaya tidak hanya menjadi perjalanan menuju bangku sekolah menengah atas. Lebih dari itu, perjuangannya mencerminkan tekad kuat anak-anak pedalaman untuk memperoleh akses pendidikan yang layak demi mengubah masa depan.
Di tengah berbagai keterbatasan yang masih dihadapi masyarakat adat di kawasan hutan, kisah Begaya menjadi bukti bahwa pendidikan tetap menjadi harapan terbesar bagi generasi muda Orang Rimba.
Perjalanan Panjang dari Pedalaman Hutan ke Sekolah Favorit
Begaya datang langsung ke SMAN 3 Tebo bersama ayahnya, Jam, untuk menyelesaikan proses pendaftaran secara daring sekaligus melengkapi berbagai persyaratan administrasi yang diperlukan.
Dengan wajah penuh harapan, Begaya mengaku bersyukur karena proses pendaftarannya berjalan lancar berkat bantuan panitia sekolah.
“Sudah daftar, tadi dibantu oleh panitia pendaftaran,” ujarnya singkat usai menyelesaikan proses registrasi.
Begaya merupakan lulusan SMP Negeri 14 Muara Tabir. Ia berasal dari kelompok Temenggung Ngadap yang menetap di kawasan Makekal Ulu, wilayah Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Desa Tanah Garo, Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo.
Wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu kawasan tempat bermukimnya komunitas Orang Rimba yang masih mempertahankan tradisi dan kehidupan khas mereka di tengah hutan.
Meski hidup jauh dari pusat kota dan fasilitas pendidikan modern, Begaya memiliki cita-cita besar untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas hidupnya melalui pendidikan formal.
Memilih SMAN 3 Tebo karena Prestasi dan Kualitas Pendidikan
Keputusan Begaya untuk melanjutkan pendidikan ke SMAN 3 Tebo bukan tanpa alasan.
Sekolah tersebut dikenal sebagai salah satu SMA unggulan di Kabupaten Tebo dengan berbagai prestasi akademik maupun non-akademik yang berhasil diraih setiap tahun.
Bagi Begaya, bersekolah di lingkungan yang memiliki kualitas pendidikan baik menjadi kesempatan penting untuk mengembangkan kemampuan diri dan memperluas wawasan.
Ia berharap jalur afirmasi yang diikutinya dapat membuka jalan menuju pendidikan yang lebih tinggi.
“Semoga saya lolos dan bisa diterima di SMAN 3 Tebo,” katanya penuh optimisme.
Harapan tersebut juga mencerminkan keinginan banyak anak-anak pedalaman yang mendambakan kesempatan belajar setara dengan siswa lain di wilayah perkotaan.
Tantangan Berat yang Harus Dihadapi
Perjalanan menuju sekolah bukanlah hal mudah bagi Begaya dan keluarganya.
Dari permukiman Orang Rimba di kawasan Makekal Ulu menuju SMAN 3 Tebo, perjalanan dapat memakan waktu sekitar empat jam menggunakan sepeda motor.
Selain jarak yang jauh, kondisi jalan menuju kawasan tersebut juga masih menjadi tantangan serius.
Sejumlah ruas jalan mengalami kerusakan, berlubang, dan sulit dilalui terutama saat musim hujan.
Kondisi infrastruktur yang belum sepenuhnya memadai membuat akses pendidikan bagi masyarakat pedalaman masih menjadi pekerjaan rumah yang harus mendapat perhatian berbagai pihak.
Meski menghadapi hambatan tersebut, Begaya tetap menunjukkan semangat tinggi untuk melanjutkan sekolah.
Tekadnya membuktikan bahwa keterbatasan geografis tidak mampu menghentikan mimpi seorang anak untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.
Pengorbanan Sang Ayah Demi Masa Depan Anak
Di balik semangat Begaya, terdapat sosok ayah yang memiliki peran besar dalam mendukung pendidikan anaknya.
Jam mengaku sempat merasa berat melepas anaknya bersekolah jauh dari rumah.
Sebagai orang tua, ia tentu khawatir karena anaknya harus tinggal jauh dari lingkungan keluarga dan komunitas tempat ia dibesarkan.
Namun setelah mempertimbangkan masa depan sang anak, Jam akhirnya memutuskan memberikan izin penuh.
Keputusan tersebut menjadi bentuk pengorbanan besar seorang ayah yang ingin anaknya memiliki kehidupan lebih baik dibandingkan dirinya.
“Saya sudah koordinasi dengan pendamping kami dari Yayasan Orang Rimba. Alhamdulillah mereka akan membantu mengurus anak saya selama sekolah di Tebo, jadi saya tidak terlalu khawatir lagi,” ujarnya.
Dukungan dari Yayasan Orang Rimba (ORIK) menjadi faktor penting yang membantu keluarga Begaya menghadapi berbagai tantangan selama proses pendidikan berlangsung.
Pendidikan sebagai Jalan Keluar dari Keterbatasan
Jam menyadari bahwa pendidikan memiliki peran besar dalam mengubah masa depan generasi muda Orang Rimba.
Karena itu, ia tidak ingin anaknya mengalami keterbatasan yang sama seperti yang pernah dirasakannya.
Dengan suara penuh harap, Jam mengungkapkan keinginannya agar Begaya dapat diterima di sekolah yang diimpikannya.
“Cukup saya yang bodoh karena tidak sekolah. Jangan sampai anak saya juga bodoh karena saya tidak mengizinkan dia sekolah jauh-jauh. Semoga anak saya diterima dan mampu mengikuti semua aturan serta pendidikan di sekolah itu,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan kesadaran masyarakat adat bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang mampu membuka peluang ekonomi, sosial, dan kehidupan yang lebih baik.
Peran Jalur Afirmasi dalam Membuka Kesempatan Pendidikan
Program jalur afirmasi menjadi salah satu instrumen penting pemerintah dalam memberikan akses pendidikan yang lebih merata.
Melalui jalur ini, siswa dari kelompok masyarakat tertentu yang membutuhkan perhatian khusus memperoleh kesempatan lebih besar untuk melanjutkan pendidikan.
Kehadiran jalur afirmasi memberikan harapan bagi anak-anak dari komunitas adat terpencil seperti Orang Rimba agar dapat bersaing dan berkembang melalui pendidikan formal.
Kebijakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menciptakan pemerataan pendidikan di Indonesia.
Inspirasi bagi Generasi Muda Indonesia
Kisah Begaya memberikan pesan kuat bahwa semangat belajar tidak mengenal batas wilayah, latar belakang ekonomi, maupun kondisi sosial.
Di saat sebagian pelajar memiliki akses mudah menuju sekolah, masih banyak anak-anak di daerah terpencil yang harus menempuh perjalanan panjang demi mendapatkan pendidikan.
Perjuangan Begaya menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus mengejar cita-cita dan tidak mudah menyerah menghadapi berbagai tantangan.
Dukungan keluarga, sekolah, pemerintah, serta lembaga pendamping juga sangat diperlukan agar semakin banyak anak-anak dari komunitas adat dan wilayah pedalaman dapat menikmati pendidikan berkualitas.
Keberhasilan Begaya melangkah menuju jenjang SMA diharapkan menjadi awal lahirnya generasi baru Orang Rimba yang mampu membawa perubahan positif bagi komunitas mereka sekaligus berkontribusi bagi pembangunan daerah dan bangsa.
Semangat yang ditunjukkan Begaya membuktikan bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari mana saja, termasuk dari pedalaman hutan di Kabupaten Tebo.(*)









