JAKARTA,JS- Keputusan Moody’s Investors Service menurunkan outlook peringkat utang Indonesia langsung menekan pasar keuangan. Pada perdagangan pagi Jumat (6/2/2026), IHSG dan rupiah sama-sama bergerak di zona merah karena investor menahan diri menunggu arah kebijakan.
Meskipun Moody’s mempertahankan peringkat Indonesia di level investment grade Baa2, lembaga ini mengubah outlook dari stabil menjadi negatif. Perubahan ini menandakan prediktabilitas kebijakan menurun, sehingga berpotensi melemahkan efektivitas kebijakan dan menimbulkan kekhawatiran terkait tata kelola.
Sentimen Moody’s Membebani Pasar
Akibat keputusan tersebut, pasar saham dan valuta asing bergerak menurun. Investor menahan diri dan melakukan aksi jual terbatas pada aset berisiko. Selain itu, kehati-hatian meningkat karena ketidakpastian arah kebijakan semakin nyata.
IHSG Dibuka di Zona Merah
Seiring sentimen negatif, IHSG membuka perdagangan di level 7.945,04 dan bergerak di rentang 7.894–7.945 pada awal sesi. Akibatnya, tekanan jual langsung mendominasi indeks sejak pembukaan.
Data BEI menunjukkan 74 saham menguat, 434 saham melemah, dan 142 saham stagnan. Kapitalisasi pasar turun ke Rp14.295 triliun.
Saham Big Caps Tertekan
Tekanan paling terlihat pada saham berkapitalisasi besar. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) turun 1,58% ke Rp4.970 per saham.
Selain itu, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) melemah 1,60% ke Rp7.675, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) turun 3,33% ke Rp232, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) turun 2,55% ke Rp955, dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) melemah 1,90% ke Rp2.060.
Rupiah Ikut Melemah
Di sisi lain, rupiah melemah terhadap dolar AS. Data Bloomberg pukul 09.04 WIB menunjukkan rupiah turun 0,18% ke Rp16.872 per dolar AS, sementara indeks dolar AS menguat 0,07% ke 97,89.
Risiko Surat Utang Naik
Selain itu, investor menaikkan premi risiko surat utang pemerintah. Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun naik 3 basis poin ke 80 bps, mencerminkan meningkatnya risiko investor terhadap aset keuangan Indonesia.
Phintraco: Outlook Negatif Jadi Sentimen Utama
Tim Riset Phintraco Sekuritas menyebutkan pelemahan IHSG hari ini terutama disebabkan Moody’s menurunkan outlook, meskipun peringkat tetap investment grade. Selain itu, penurunan prediktabilitas kebijakan berpotensi melemahkan efektivitas kebijakan dan menekan pasar jangka pendek.
Mirae Asset: Fundamental Belum Memburuk
Di sisi lain, Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyebut keputusan Moody’s tidak menunjukkan memburuknya fundamental makroekonomi.
Ia menambahkan, Moody’s menyoroti ketidakpastian kebijakan fiskal dan moneter serta melemahnya tata kelola pemerintahan. Oleh karena itu, komunikasi kebijakan yang kurang efektif meningkatkan risiko volatilitas pasar saham dan valuta asing.
“Akibat kondisi ini, investor menaikkan risk premium lintas aset, terutama pada SBN tenor panjang, saham BUMN dan bank besar, serta rupiah dan arus modal asing,” ujarnya.
Catatan: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Jambisun.id tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.(*)
Sumber Berita: Bisnis.com









