LIFESTYLE,JS- Menjelang Lebaran, kebutuhan masyarakat biasanya meningkat drastis. Mulai dari belanja baju baru, membeli hampers atau parcel, hingga ongkos mudik, semua menekan kondisi keuangan. Banyak orang kemudian memilih pinjaman online (pinjol) atau layanan paylater untuk menutupi kebutuhan tersebut secara cepat.
Namun, kemudahan akses pinjaman digital berisiko menjerat konsumtif jika seseorang tidak merencanakan keuangannya dengan matang. Tanpa strategi, penggunaan pinjol atau paylater bisa menimbulkan utang yang membebani setelah Lebaran.
Berikut sejumlah cara cerdas untuk menghindari jebakan utang digital saat Lebaran:
1. Buat Anggaran Khusus Lebaran Sejak Dini
Perencana keuangan OneShildt, Budi Rahardjo, menekankan bahwa pengeluaran Lebaran sebenarnya bisa diprediksi setiap tahun. Namun, banyak orang tetap mengalami defisit karena kurang menghitung dengan cermat.
“Tanpa anggaran, setiap pengeluaran terjadi secara spontan dan tidak terkendali,” ujar Budi. Ia menyarankan masyarakat merencanakan arus kas sejak awal, termasuk pengeluaran besar seperti hari raya, pajak kendaraan, dan liburan. Misalnya, jika total pengeluaran Lebaran mencapai Rp12 juta, masyarakat sebaiknya menyisihkan Rp1 juta per bulan dari penghasilan rutin. Budi juga menyarankan memanfaatkan Tunjangan Hari Raya (THR) untuk menutup sebagian atau seluruh kebutuhan Lebaran.
2. Catat Semua Pola Pengeluaran
Budi menambahkan, banyak orang sering meremehkan beragam pos pengeluaran Lebaran, mulai dari zakat, infaq, sedekah, mudik, hingga bingkisan dan amplop THR untuk kerabat. Kekurangan dana mendorong sebagian orang memilih pinjol atau paylater, meskipun biayanya tinggi.
“Jika masyarakat mencatat pengeluaran dan menabung secara disiplin, keluarga dapat menghindari utang untuk kebutuhan hari raya sekaligus meringankan beban cicilan di bulan-bulan berikutnya,” jelasnya.
3. Sesuaikan Belanja dengan Kemampuan Finansial
Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andy Nugroho, menekankan agar masyarakat berbelanja kebutuhan Lebaran sesuai kemampuan finansial. Hal ini termasuk mempertimbangkan apakah pulang kampung atau tidak bila dana terbatas.
“Belanjalah sesuai budget yang dimiliki dan jangan memaksakan diri,” ujar Andy.
4. Hindari Gaya Hidup Pamer
Selain itu, Andy mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak gaya hidup saat Lebaran. Gunakan momen ini untuk mempererat silaturahmi dan saling memaafkan, bukan untuk pamer harta.
“Jika Lebaran dijadikan ajang pamer, masyarakat cenderung menghabiskan uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting, seperti gadget baru atau pakaian berlebihan,” ujarnya.
Dengan membuat perencanaan yang matang, mencatat setiap pengeluaran, dan menyesuaikan belanja dengan kemampuan, masyarakat bisa menikmati Lebaran dengan tenang tanpa terjerat utang konsumtif.(*)









