Hujan Deras Teror Warga Kerinci, Longsor Intai Permukiman hingga Sekolah di Muara Emat

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 9 Mei 2026 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Desa Muara Emat diteror bencana Longsor

Ilustrasi Desa Muara Emat diteror bencana Longsor

KERINCI,JS- Hujan deras yang terus mengguyur wilayah Kabupaten Kerinci dalam beberapa hari terakhir membuat warga Desa Muara Emat dilanda kecemasan. Masyarakat takut longsor susulan kembali terjadi setelah bencana sebelumnya menghantam desa tersebut dan menyeret satu unit rumah milik warga ke aliran sungai.

Cuaca ekstrem yang melanda kawasan pegunungan Kerinci kini memunculkan ancaman serius terhadap keselamatan warga. Selain merusak permukiman, longsor juga mulai mengancam fasilitas pendidikan dan akses masyarakat.

Warga berharap pemerintah segera turun tangan sebelum korban kembali berjatuhan.

Rumah Warga Amblas ke Sungai Akibat Longsor

Bencana longsor sebelumnya masih meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat Desa Muara Emat. Dalam kejadian tersebut, satu rumah milik warga bernama Edi amblas dan terbawa material longsor hingga masuk ke sungai.

Peristiwa itu membuat warga semakin waspada setiap kali hujan deras turun dengan intensitas tinggi. Mereka khawatir struktur tanah di sejumlah titik sudah tidak lagi stabil dan sewaktu-waktu bisa kembali bergerak.

“kami khawatir akan longsor susulan,” ungkap Tarmi, salah seorang warga Desa Muara Emat.

Menurut Tarmi, kondisi geografis desa yang berada di wilayah perbukitan membuat masyarakat sangat rentan terhadap bencana alam, terutama saat curah hujan meningkat drastis.

Titik Rawan Longsor Bertambah, Permukiman Terancam

Warga menyebut saat ini terdapat beberapa titik rawan longsor yang berada dekat permukiman masyarakat. Retakan tanah mulai terlihat di sejumlah area perbukitan, terutama di lokasi yang sebelumnya pernah mengalami longsor.

Selain itu, aliran air hujan yang terus menggerus tebing mempercepat pergerakan tanah. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin cemas karena longsor dapat terjadi kapan saja.

Situasi ini juga memicu kekhawatiran terhadap potensi bencana yang lebih besar apabila hujan ekstrem terus berlangsung dalam beberapa hari ke depan.

Baca Juga :  Resmi! Perpisahan Sekolah Tak Boleh Mewah, Ini Aturan Baru Disdik Kerinci

Masyarakat meminta pemerintah daerah segera melakukan pemetaan wilayah rawan longsor serta memasang sistem peringatan dini agar warga dapat melakukan evakuasi lebih cepat saat kondisi memburuk.

Sekolah SD dan SMP Dibayangi Ancaman Longsor

Ancaman longsor kini tidak hanya mengintai rumah warga. Fasilitas pendidikan di Desa Muara Emat juga berada dalam kondisi mengkhawatirkan.

Warga menyebut sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di desa tersebut saat ini berada di bawah tebing yang rawan longsor. Kondisi itu membuat aktivitas belajar mengajar terancam terganggu apabila hujan deras kembali turun.

“bahkan sekolah sd dan smp di desa muara emat juga saat ini dibayangi longsor, karena kondisi tebing di atas desa sudah mulai gundul dan ada titik longsor sebelumnya di lokasi tersebut,” kata Tarmi.

Masyarakat menilai kerusakan vegetasi di kawasan perbukitan menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko longsor. Pohon-pohon yang sebelumnya menahan struktur tanah kini mulai berkurang sehingga tanah menjadi lebih mudah bergerak saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Cuaca Ekstrem dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Bencana

Fenomena hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi di Kerinci juga berkaitan dengan perubahan pola cuaca global. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai daerah di Indonesia mengalami peningkatan frekuensi cuaca ekstrem yang memicu banjir dan longsor.

Isu climate change atau perubahan iklim kini menjadi perhatian dunia karena berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama di daerah rawan bencana.

Wilayah pegunungan seperti Kerinci memiliki risiko lebih besar karena kontur tanah yang curam sangat mudah mengalami pergerakan ketika curah hujan tinggi berlangsung dalam waktu lama.

Selain faktor cuaca, aktivitas pembukaan lahan dan berkurangnya kawasan hijau juga memperbesar potensi terjadinya bencana tanah longsor.

Baca Juga :  Tiga Pejabat Berebut Kursi Dewan Pengawas Perumda Tirta Khayangan, UKK Digelar di Universitas Jambi

Karena itu, masyarakat berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan darurat, tetapi juga menjalankan langkah pencegahan jangka panjang melalui penghijauan kembali kawasan rawan longsor.

Warga Minta Pemerintah Segera Bertindak

Masyarakat Desa Muara Emat mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera mengambil langkah nyata demi melindungi warga.

Beberapa tuntutan warga antara lain:

  • Pemerintah segera memeriksa titik rawan longsor
  • Pemasangan bronjong dan penahan tebing
  • Normalisasi aliran sungai
  • Penghijauan kawasan perbukitan
  • Penyediaan sistem peringatan dini bencana
  • Relokasi warga di zona paling berbahaya

Warga juga berharap Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) turun langsung melakukan pemantauan kondisi tanah agar masyarakat mendapatkan informasi yang jelas mengenai tingkat ancaman longsor.

Selain itu, masyarakat meminta pemerintah memastikan keselamatan siswa dan tenaga pengajar di sekolah yang berada dekat area rawan longsor.

Longsor Jadi Ancaman Serius di Wilayah Pegunungan Jambi

Bencana longsor memang menjadi ancaman tahunan di sejumlah daerah pegunungan Provinsi Jambi. Saat musim hujan tiba, banyak wilayah mengalami kerusakan jalan, permukiman terdampak, hingga korban jiwa akibat tanah bergerak.

Kabupaten Kerinci termasuk salah satu daerah dengan risiko longsor cukup tinggi karena memiliki topografi berbukit dan curah hujan tinggi.

Karena itu, mitigasi bencana menjadi langkah penting yang harus dilakukan secara berkelanjutan.

Pemerintah daerah bersama masyarakat perlu menjaga kelestarian hutan dan memperkuat pengawasan terhadap aktivitas yang dapat merusak lingkungan.

Warga Berharap Tidak Ada Korban Lagi

Trauma akibat longsor sebelumnya membuat masyarakat Muara Emat kini hidup dalam kecemasan setiap kali hujan turun.

Mereka berharap pemerintah segera bertindak cepat sebelum longsor susulan kembali memakan korban dan merusak lebih banyak rumah warga.

“kami hanya berharap ada perhatian serius dari pemerintah, jangan sampai ada korban lagi,” ujar salah seorang warga.

Dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu, masyarakat kini memilih meningkatkan kewaspadaan dan memantau kondisi tebing di sekitar permukiman secara berkala.(AN)

Berita Terkait

Balek Kalahek Tempurung Jadi Simbol Pelestarian Budaya Sungai Penuh, Warisan Leluhur Luhah Rio Mendiho di Tengah Modernisasi
Hati-Hati! Penipu Catut Nama Kepala BKPSDM Kota Sungai Penuh, Ini Modusnya
Resmi Didorong Kemenkum, Kopi Arabika Sungai Penuh Siap Bersaing di Pasar Global
BKN Fasilitasi Penataan Kepala Sekolah di Sungai Penuh, BKPSDM Dorong Sistem Merit dan Profesionalisme ASN
Pengusaha di Merangin Garut Kepala!, Pemkab Naikkan Tarif Listrik Perusahaan dari Rp200 Jadi Rp1.035 per kWh
Cabe Merah Kriting Turun, Ini Daftar Harga Pangan Terbaru di Pasar Induk Tanjung Bajure
Beras Payo Koerintji Resmi Kantongi Sertifikat Indikasi Geografis, Harganya Berpotensi Naik dan Tembus Pasar Global
Tokoh Adat Enam Luhah Siapkan Gelar Kehormatan untuk Wali Kota Alfin, Momentum Besar Kenduri Sko Sungai Penuh 2026
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 10:44 WIB

Balek Kalahek Tempurung Jadi Simbol Pelestarian Budaya Sungai Penuh, Warisan Leluhur Luhah Rio Mendiho di Tengah Modernisasi

Sabtu, 27 Juni 2026 - 11:13 WIB

Hati-Hati! Penipu Catut Nama Kepala BKPSDM Kota Sungai Penuh, Ini Modusnya

Kamis, 25 Juni 2026 - 22:01 WIB

Resmi Didorong Kemenkum, Kopi Arabika Sungai Penuh Siap Bersaing di Pasar Global

Kamis, 25 Juni 2026 - 15:31 WIB

BKN Fasilitasi Penataan Kepala Sekolah di Sungai Penuh, BKPSDM Dorong Sistem Merit dan Profesionalisme ASN

Kamis, 25 Juni 2026 - 13:01 WIB

Pengusaha di Merangin Garut Kepala!, Pemkab Naikkan Tarif Listrik Perusahaan dari Rp200 Jadi Rp1.035 per kWh

Berita Terbaru

Internasional

Ringgit Malaysia Menguat! Kurs MYR ke Rupiah Hari Ini Tembus Rp4.381

Minggu, 28 Jun 2026 - 22:18 WIB