Musim Kemarau Mencekam, 1 Ton Garam Ditebar di Langit Jambi untuk Memicu Hujan

- Jurnalis

Senin, 31 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI,JS- Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menjadi perhatian serius di Provinsi Jambi. Kemarau panjang membuat sebagian wilayah menghadapi kondisi yang lebih kering sehingga meningkatkan risiko kebakaran sekaligus memperburuk persoalan kabut asap.

Untuk menghadapi situasi tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama tim gabungan menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Salah satu langkah utama dalam operasi ini yakni menyemai sekitar 1 ton garam atau natrium klorida (NaCl) ke atmosfer menggunakan pesawat.

Langkah tersebut bukan sekadar upaya mendatangkan hujan. Tim juga mengarahkan operasi untuk membantu menjaga kelembapan wilayah yang rentan mengalami kebakaran selama periode kemarau.

Berdasarkan informasi BMKG Provinsi Jambi, pelaksanaan OMC berlangsung sejak 27 Agustus 2026 dan rencananya berjalan hingga 1 September 2026. Tim menyemai bahan semai pada ketinggian sekitar 5.000 hingga 10.000 kaki, terutama di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat.

1 Ton Garam Diterbangkan ke Wilayah Potensial Hujan

Kepala Tim Data dan Informasi BMKG Provinsi Jambi, Jaya Martuah Sinaga, menjelaskan bahwa tim memilih waktu penyemaian berdasarkan potensi pertumbuhan awan hujan yang terdeteksi melalui pemantauan cuaca.

Artinya, tim tidak menyebarkan garam secara sembarangan. Mereka menunggu kondisi atmosfer yang memungkinkan proses modifikasi cuaca memberikan hasil lebih optimal.

Pada Minggu, 30 Agustus 2026, hujan kemudian turun di sejumlah wilayah, termasuk Tanjung Jabung Timur dan Muaro Jambi.

Kondisi tersebut menjadi salah satu perkembangan penting dalam operasi penanganan karhutla di tengah periode kemarau.

Meski demikian, OMC bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Tim di lapangan tetap membutuhkan pemadaman langsung, pemantauan hotspot, patroli kawasan rawan kebakaran, serta upaya pencegahan agar api tidak kembali meluas.

Apa Itu Operasi Modifikasi Cuaca?

Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC merupakan teknologi rekayasa cuaca yang memanfaatkan penyemaian bahan tertentu ke dalam awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan.

Dalam operasi kali ini, tim menggunakan garam atau NaCl sebagai bahan semai.

Pesawat membawa bahan tersebut menuju wilayah yang memiliki kondisi atmosfer sesuai dengan target operasi. Setelah itu, tim melakukan penyemaian pada ketinggian tertentu dengan harapan proses pembentukan hujan dapat berlangsung lebih optimal.

Karena itu, masyarakat sering mengenal OMC dengan istilah hujan buatan atau cloud seeding. Namun, istilah tersebut tidak berarti manusia dapat menciptakan hujan dari langit yang benar-benar cerah tanpa awan.

Keberhasilan operasi tetap bergantung pada kondisi atmosfer, ketersediaan awan potensial, kelembapan, arah angin, dan sejumlah faktor meteorologi lainnya.

Mengapa Jambi Membutuhkan OMC Saat Ini?

Kemarau panjang meningkatkan risiko kebakaran pada berbagai jenis tutupan lahan. Kondisi tersebut menjadi lebih serius ketika lahan gambut, semak belukar, perkebunan, atau vegetasi kering kehilangan banyak kandungan air.

Ketika api muncul, angin dapat membantu mempercepat penyebaran api. Pada saat yang sama, asap hasil pembakaran dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan menurunkan kualitas udara.

Situasi karhutla juga dapat memberikan dampak ekonomi. Aktivitas transportasi, perdagangan, pendidikan, pertanian, perkebunan hingga kegiatan masyarakat bisa ikut terganggu apabila asap semakin pekat.

Karena itu, pemerintah membutuhkan strategi yang tidak hanya berfokus pada pemadaman setelah api muncul.

Pencegahan dan pengendalian risiko menjadi bagian penting dari penanganan bencana.

Baca Juga :  Sekolah TK dan PAUD di Kota Jambi Diliburkan, 794 Hotspot Karhutla Terpantau: Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

BMKG Pantau Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Jambi

Di tengah pelaksanaan OMC, BMKG juga mengeluarkan informasi mengenai potensi hujan di sejumlah wilayah.

Pada pembaruan peringatan dini cuaca 30 Agustus 2026 pukul 17.50 WIB, BMKG Jambi memperkirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang berpotensi disertai kilat, petir, dan angin kencang di sejumlah daerah.

Wilayah yang masuk dalam pemantauan tersebut antara lain beberapa kecamatan di Kabupaten Kerinci, Merangin, Muaro Jambi, Sarolangun, dan Tanjung Jabung Timur.

Di Kabupaten Kerinci, potensi cuaca tersebut mencakup Gunung Raya, Batang Merangin, Danau Kerinci, Keliling Danau, serta Bukit Kerman.

Sementara itu, di Kabupaten Merangin, wilayah yang masuk pemantauan antara lain Jangkat, Jangkat Timur, Muara Siau, Lembah Masurai, dan Pangkalan Jambu.

Di Muaro Jambi, potensi hujan mencakup Kumpeh, Taman Rajo, Kumpeh Ulu, dan Sungai Gelam.

Kemudian di Sarolangun, wilayah Batang Asai juga masuk dalam peringatan tersebut. Adapun di Tanjung Jabung Timur, BMKG memantau Dendang dan Berbak.

Tim Gabungan Bergerak Bersama

Penanganan karhutla di Jambi tidak hanya melibatkan satu lembaga. OMC kali ini melibatkan berbagai unsur pemerintah, aparat, perusahaan, serta pihak penerbangan.

Tim yang terlibat mencakup BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Korem 042/Garuda Putih, Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara, Basarnas Jambi, PT Wira Karya Sakti (WKS), serta PT Alkonost Aviasi Indonesia.

Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan membutuhkan koordinasi lintas sektor.

Selain OMC, pemerintah juga menjalankan strategi pemadaman langsung dan penguatan personel di wilayah rawan kebakaran.

Sebelumnya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga menyebut pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi potensi karhutla di Jambi, termasuk OMC dan water bombing. Pemerintah juga menambah satu unit helikopter untuk mendukung operasi pemadaman dari udara.

Baca Juga :  649 Hotspot Terdeteksi di Tanjung Jabung Barat, Ratusan Titik Diduga Api Aktif: BPBD Ungkap Wilayah Rawan Karhutla

Hotspot Masih Menjadi Ancaman

Potensi karhutla di Jambi tidak bisa dilepaskan dari kemunculan titik panas atau hotspot.

Pemantauan sebelumnya menunjukkan sejumlah wilayah Jambi memiliki konsentrasi hotspot yang cukup tinggi. Pada rapat koordinasi penanganan karhutla 25 Agustus 2026, pemerintah mencatat hotspot antara lain berada di Sarolangun, Batanghari, Tebo, Tanjung Jabung Barat, dan Muaro Jambi.

Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan semakin penting.

Apalagi, BMKG sebelumnya memprediksi Agustus 2026 menjadi periode puncak musim kemarau di Jambi. Pada awal Agustus, BMKG juga mencatat akumulasi ratusan hotspot di wilayah Jambi berdasarkan pemantauan satelit.

Dengan demikian, ancaman kebakaran tidak berhenti hanya pada satu lokasi. Tim harus terus memantau perubahan cuaca, kelembapan tanah, arah angin, serta perkembangan hotspot.

OMC Bukan Jaminan Hujan Turun di Semua Wilayah

Masyarakat juga perlu memahami bahwa operasi modifikasi cuaca tidak otomatis menghasilkan hujan di seluruh wilayah Jambi.

Teknologi tersebut membutuhkan awan yang memenuhi kondisi tertentu. Karena itu, ketika atmosfer tidak mendukung, tim tidak dapat memaksakan pembentukan hujan.

Dalam konteks karhutla, OMC berfungsi sebagai salah satu instrumen pendukung.

Tim tetap harus mengombinasikannya dengan pemadaman di darat, patroli kawasan rawan, pemantauan hotspot, pengendalian sumber api, serta edukasi kepada masyarakat dan pelaku usaha.

Pendekatan tersebut menjadi semakin penting karena kebakaran lahan dapat kembali muncul setelah hujan berhenti jika kondisi lahan kembali kering.

Kabut Asap Menjadi Perhatian Masyarakat

Selain kerusakan lingkungan, karhutla juga membawa persoalan kesehatan dan kualitas udara.

Asap dari pembakaran hutan, lahan gambut, semak, dan vegetasi dapat membawa partikel yang mengganggu sistem pernapasan. Karena itu, ketika kualitas udara memburuk, masyarakat perlu memperhatikan informasi resmi mengenai kondisi udara dan mengikuti imbauan pemerintah.

Persoalan kabut asap juga dapat mengganggu jarak pandang dan aktivitas transportasi.

Beberapa hari sebelumnya, sejumlah wilayah Jambi bahkan mengalami persoalan kualitas udara yang cukup serius. Media lokal mencatat adanya wilayah Muaro Jambi yang mengalami peningkatan nilai Indeks Standar Pencemar Udara atau ISPU.

Karena itu, pengendalian karhutla memiliki dampak yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar memadamkan api.

Masyarakat Perlu Ikut Mencegah Karhutla

Upaya pemerintah tidak akan maksimal tanpa partisipasi masyarakat.

Masyarakat dapat membantu dengan tidak membakar lahan secara sembarangan, segera melaporkan kemunculan asap atau api, serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran ketika kondisi lingkungan sangat kering.

Pemilik perkebunan dan pengelola lahan juga memiliki peran penting dalam menjaga area masing-masing.

Deteksi dini dapat mempercepat penanganan. Api yang masih kecil jauh lebih mudah dikendalikan dibandingkan kebakaran yang sudah menyebar ke area luas.

Karena itu, masyarakat perlu melihat pencegahan karhutla sebagai tanggung jawab bersama.

Strategi Penanganan Harus Berjalan Bersamaan

Situasi karhutla di Jambi menunjukkan bahwa pemerintah membutuhkan strategi berlapis.

  • Pertama, pemerintah perlu meningkatkan pemantauan hotspot dan kondisi cuaca.
  • Kedua, tim harus memperkuat patroli di kawasan yang memiliki risiko kebakaran tinggi.
  • Ketiga, pemadaman harus bergerak cepat ketika petugas menemukan titik api.
  • Keempat, OMC dapat membantu meningkatkan peluang turunnya hujan ketika kondisi atmosfer mendukung.
  • Kelima, pemerintah dan masyarakat harus terus mencegah pembukaan lahan dengan cara membakar.

Dengan strategi tersebut, penanganan karhutla tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga mengutamakan pencegahan.

Operasi Modifikasi Cuaca Berlangsung hingga 1 September

Untuk tahap operasi yang sedang berjalan, BMKG menjadwalkan OMC di Jambi sejak 27 Agustus hingga 1 September 2026.

Selama periode tersebut, tim akan terus memantau perkembangan awan dan kondisi atmosfer untuk menentukan lokasi serta waktu penyemaian yang tepat.

Hujan yang turun di sejumlah wilayah pada 30 Agustus menjadi perkembangan positif dalam rangka membantu mengurangi kondisi kering. Namun, tim tetap perlu memantau kondisi lapangan karena hujan di satu wilayah tidak otomatis menghilangkan risiko karhutla di seluruh Provinsi Jambi.

Dengan demikian, masyarakat tetap perlu waspada terhadap potensi kebakaran dan mengikuti informasi cuaca resmi.

Tantangan Karhutla Jambi Belum Selesai

Penanganan karhutla tidak dapat selesai hanya dengan satu kali hujan.

Selama musim kemarau masih berlangsung, kawasan yang kembali mengering tetap memiliki risiko terbakar. Karena itu, pemerintah perlu mempertahankan pemantauan dan kesiapsiagaan, terutama di daerah yang sebelumnya mengalami kebakaran atau memiliki tutupan lahan yang mudah terbakar.

Operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu bagian dari strategi tersebut.

Di sisi lain, keberhasilan penanganan karhutla juga bergantung pada kecepatan tim mendeteksi titik api, kemampuan petugas memadamkan kebakaran, kondisi cuaca, serta kepatuhan masyarakat terhadap larangan pembakaran lahan.(*)

Berita Terkait

Wako Alfin Sambangi BNPB, Bawa Usulan Rehabilitasi Infrastruktur dan Strategi Penanganan Bencana Sungai Penuh
Setelah 37 Tahun Gelap, 86 KK di Merangin Segera Nikmati Listrik PLN, Jaringan 3 Km Mulai Dibangun
Sekolah Kembali Dibuka, SD-SMP di Muaro Jambi Wajib Pakai Masker, PAUD dan TK Masih Belajar dari Rumah
Tebo Dihantui Karhutla, Api Muncul di Sejumlah Lokasi dalam Beberapa Hari Terakhir
Bunda PAUD Sri Kartini Alfin Ajak Anak Cintai Buku Sejak Dini, Perpustakaan Jadi Ruang Belajar Ceria
Ujian Dinas dan Kenaikan Pangkat PNS 2026 Sungai Penuh Dibuka, Cek Syarat, Jadwal CAT BKN dan Cara Daftar
Karhutla Mengancam, BBTNKS Tutup Jalur Pendakian Gunung Kerinci Sejak 1 September
Sri Kartini Alfin Turun Langsung Salurkan Program 3S Sungai Penuh, Sasar Keluarga Berisiko Stunting
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 18:45 WIB

Wako Alfin Sambangi BNPB, Bawa Usulan Rehabilitasi Infrastruktur dan Strategi Penanganan Bencana Sungai Penuh

Kamis, 3 September 2026 - 16:01 WIB

Setelah 37 Tahun Gelap, 86 KK di Merangin Segera Nikmati Listrik PLN, Jaringan 3 Km Mulai Dibangun

Kamis, 3 September 2026 - 14:01 WIB

Sekolah Kembali Dibuka, SD-SMP di Muaro Jambi Wajib Pakai Masker, PAUD dan TK Masih Belajar dari Rumah

Kamis, 3 September 2026 - 13:01 WIB

Tebo Dihantui Karhutla, Api Muncul di Sejumlah Lokasi dalam Beberapa Hari Terakhir

Kamis, 3 September 2026 - 09:01 WIB

Ujian Dinas dan Kenaikan Pangkat PNS 2026 Sungai Penuh Dibuka, Cek Syarat, Jadwal CAT BKN dan Cara Daftar

Berita Terbaru