Telepon Mengaku dari Bank? Jangan Panik, Ini 5 Cara Cegah Penipuan dan Lindungi Rekening

- Jurnalis

Selasa, 29 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi dugaan penipuan melalui telepon

Ilustrasi dugaan penipuan melalui telepon

TEKNOLOGI,JS- Telepon dari nomor yang mengaku sebagai pihak bank bisa membuat siapa pun panik. Apalagi, penelepon terkadang mengetahui nama, nomor rekening, atau informasi pribadi lain sehingga percakapan terdengar sangat meyakinkan.

Modus penipuan mengatasnamakan bank kini juga semakin beragam. Pelaku tidak hanya mengandalkan nomor telepon biasa, tetapi dapat memanfaatkan teknologi untuk membuat identitas panggilan terlihat seperti berasal dari institusi resmi.

Dalam sejumlah kasus, penipu menghubungi calon korban dengan alasan ada transaksi mencurigakan, rekening mengalami masalah, atau sistem bank mendeteksi aktivitas tidak wajar.

Mereka kemudian mendorong korban untuk segera mengikuti instruksi. Tujuannya jelas, yaitu membuat korban mengambil keputusan sebelum sempat memeriksa informasi tersebut.

Karena itu, masyarakat perlu mengetahui cara menghadapi telepon penipuan dari bank. Jangan sampai kepanikan membuat data perbankan, kode keamanan, atau uang berpindah ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab.

Nomor Telepon Terlihat Resmi Belum Tentu Penelepon dari Bank

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah nomor telepon yang muncul pada layar ponsel.

Pelaku dapat memanfaatkan teknologi untuk menyamarkan identitas panggilan atau membuat nomor terlihat menyerupai kontak resmi sebuah perusahaan. Kondisi tersebut membuat calon korban sulit membedakan panggilan asli dan penipuan.

Pakar keamanan siber Kurt Knutsson menjelaskan bahwa teknologi kini memberi peluang bagi penipu untuk membuat komunikasi terlihat lebih meyakinkan.

Artinya, jangan langsung percaya hanya karena layar ponsel menampilkan nama bank atau nomor yang terlihat familiar.

Sebaliknya, anggap setiap panggilan yang tidak kamu nantikan sebagai komunikasi yang perlu kamu verifikasi terlebih dahulu.

Jika penelepon mengaku sebagai petugas bank, kamu tidak perlu menyelesaikan percakapan tersebut. Kamu dapat menutup telepon dan menghubungi bank melalui saluran resmi.

Langkah sederhana itu membuat kamu kembali memegang kendali.

1. Jangan Langsung Mengangkat Panggilan yang Tidak Dikenal

Panggilan dari nomor asing tidak selalu berarti penipuan. Namun, kamu tetap perlu berhati-hati jika sama sekali tidak menunggu telepon tersebut.

Penipu biasanya memanfaatkan percakapan langsung untuk membangun tekanan. Mereka bisa mengatakan rekeningmu mengalami pembobolan, terdapat transaksi mencurigakan, atau sistem bank mendeteksi aktivitas berbahaya.

Setelah itu, pelaku meminta kamu melakukan tindakan tertentu.

Dalam situasi seperti ini, kepanikan bisa mengganggu kemampuan seseorang mengambil keputusan. Kamu mungkin memberikan informasi yang sebenarnya tidak akan pernah kamu berikan ketika berada dalam kondisi tenang.

Karena itu, kamu tidak harus mengangkat setiap panggilan asing.

Jika panggilan tersebut memang penting, pihak yang benar-benar membutuhkan kamu biasanya masih memiliki cara lain untuk menghubungi atau memberikan informasi.

Lebih penting lagi, jangan menelepon balik menggunakan nomor yang diberikan oleh penelepon tanpa melakukan verifikasi.

2. Hubungi Bank Melalui Kanal Resmi

Jika seseorang mengaku sebagai petugas bank dan mengatakan ada masalah pada rekening, jangan langsung mengikuti instruksinya.

Sebagai gantinya, cari sendiri kontak resmi bank.

Kamu bisa menggunakan aplikasi mobile banking, situs resmi bank, kartu ATM, buku rekening, atau dokumen resmi yang kamu miliki.

Kemudian, hubungi layanan pelanggan melalui nomor tersebut.

Cara ini penting karena kamu menentukan sendiri jalur komunikasi. Penipu tidak lagi memiliki kesempatan untuk mengarahkan kamu ke nomor telepon, tautan, atau layanan tertentu yang mereka siapkan.

Saat menghubungi bank, tanyakan apakah memang ada transaksi mencurigakan atau masalah pada rekening.

Jika bank menyatakan tidak ada aktivitas seperti yang disebutkan penelepon, kamu sudah mendapatkan petunjuk kuat bahwa panggilan tersebut patut dicurigai.

Jangan Percaya Hanya karena Penelepon Mengetahui Data Pribadi

Penelepon mungkin mengetahui nama lengkap, nomor rekening, alamat, atau informasi lain tentang kamu.

Namun, pengetahuan tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa dia bekerja di bank.

Penipu dapat memperoleh data pribadi dari berbagai sumber. Mereka kemudian menggunakan informasi tersebut untuk membangun kepercayaan korban.

Karena itu, jangan menjadikan banyaknya informasi yang diketahui penelepon sebagai alasan untuk menyerahkan data tambahan.

Justru sebaliknya, semakin banyak informasi pribadi yang diketahui seseorang, semakin penting bagi kamu untuk melakukan verifikasi secara mandiri.

Baca Juga :  668 Ribu Laporan Penipuan Masuk IASC, 659 Ribu Rekening Sudah Diblokir: Waspadai 5 Modus Ini

3. Jangan Pernah Memberikan OTP, PIN, dan Password

Bagian paling penting dalam menghadapi bank scam adalah menjaga informasi keamanan rekening.

Jangan memberikan kode OTP, PIN, password, nomor kartu, CVV, atau informasi keamanan lain kepada orang yang menghubungi kamu secara mencurigakan.

Pelaku bisa menggunakan berbagai alasan untuk meminta informasi tersebut.

Misalnya, mereka mengaku membutuhkan kode OTP untuk membatalkan transaksi. Ada pula yang mengatakan kode tersebut diperlukan untuk mengamankan rekening atau memverifikasi identitas.

Jangan mudah percaya.

Kode keamanan memiliki fungsi penting dalam melindungi akun. Karena itu, kamu harus memperlakukannya sebagai informasi rahasia.

Jika seseorang meminta kode tersebut melalui telepon atau pesan dan membuat kamu merasa terdesak, segera hentikan komunikasi.

Bank Tidak Menjadi Alasan untuk Membuat Kamu Panik

Kamu juga perlu memperhatikan cara seseorang berkomunikasi.

Penelepon yang terus menerus membuat kamu takut, mendesak, atau meminta keputusan dalam hitungan menit patut kamu curigai.

Misalnya, pelaku mengatakan:

  • Rekening akan diblokir jika kamu tidak mengikuti instruksi.
  • Dana akan hilang jika kamu tidak segera memindahkannya.
  • Transaksi harus dibatalkan melalui kode OTP.
  • Kamu harus memberikan PIN untuk mengamankan rekening.
  • Kamu tidak boleh menutup telepon sebelum proses selesai.

Jangan mengikuti pola komunikasi tersebut.

Tutup telepon, lalu lakukan pemeriksaan melalui bank.

4. Waspadai Penelepon yang Memaksa Kamu Bertindak Cepat

Penipu memahami bahwa orang yang panik cenderung mengambil keputusan dengan cepat.

Karena itu, mereka sering menciptakan situasi darurat.

Kamu mungkin mendengar kalimat seperti rekening sedang dibobol atau ada transaksi bernilai besar yang baru saja terjadi.

Selanjutnya, pelaku memberikan batas waktu agar kamu segera bertindak.

Padahal, kamu selalu memiliki hak untuk berhenti dan memeriksa informasi tersebut.

Jangan merasa bersalah ketika ingin menutup telepon. Kamu juga tidak perlu takut kehilangan kesempatan jika ingin melakukan verifikasi terlebih dahulu.

Permintaan Merahasiakan Percakapan Juga Perlu Diwaspadai

Ada tanda lain yang tidak kalah penting.

Penipu terkadang meminta korban merahasiakan percakapan. Mereka bisa melarang korban menghubungi bank secara langsung atau meminta korban tidak menceritakan persoalan tersebut kepada keluarga.

Permintaan seperti itu seharusnya membuat kamu semakin waspada.

Jika seseorang benar-benar ingin membantu menyelesaikan masalah rekening, kamu tetap memiliki hak untuk melakukan pemeriksaan secara mandiri.

Jangan biarkan orang lain mengendalikan seluruh proses komunikasi, terutama ketika percakapan tersebut berkaitan dengan uang.

5. Buat Kode Rahasia Bersama Keluarga

Ancaman penipuan tidak hanya datang dari orang yang mengaku sebagai petugas bank.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan juga membuat penipuan berbasis suara semakin perlu mendapat perhatian.

Teknologi tertentu dapat membantu seseorang meniru suara orang lain. Pelaku kemudian bisa berpura-pura sebagai anak, pasangan, orang tua, atau anggota keluarga.

Mereka mungkin mengaku sedang mengalami keadaan darurat dan membutuhkan uang secepatnya.

Dalam kondisi seperti itu, suara yang terdengar familiar bisa membuat korban langsung percaya.

Salah satu langkah pencegahan yang dapat kamu lakukan adalah membuat kata atau frasa rahasia bersama keluarga.

Pilih kata yang tidak mudah ditebak. Jangan membagikannya kepada orang lain atau mempublikasikannya di media sosial.

Jika suatu hari kamu menerima telepon darurat dari anggota keluarga, kamu bisa meminta kode tersebut sebelum mengambil keputusan.

Cara sederhana ini memberikan lapisan verifikasi tambahan.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Terlanjur Menjawab Telepon Penipuan?

Jika kamu sudah terlanjur menerima telepon mencurigakan, jangan langsung panik.

Pertama, akhiri percakapan jika penelepon mulai meminta data sensitif atau memaksa kamu melakukan transaksi.

Kedua, jangan memberikan OTP, PIN, password, nomor kartu, CVV, atau informasi keamanan lainnya.

Ketiga, hubungi bank melalui kanal resmi.

Keempat, periksa riwayat transaksi rekening dan notifikasi perbankan.

Jika kamu sudah terlanjur memberikan informasi penting atau mengikuti instruksi pelaku, segera laporkan kepada bank dan lakukan langkah pengamanan yang mereka sarankan.

Semakin cepat kamu bertindak, semakin besar peluang untuk mengurangi dampak yang mungkin muncul.

Jangan Ikuti Nomor atau Tautan yang Diberikan Penelepon

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah korban langsung menghubungi nomor yang diberikan oleh penelepon.

Cara tersebut justru dapat membuat korban tetap berada dalam kendali pelaku.

Hal yang sama berlaku untuk tautan yang dikirim melalui SMS, WhatsApp, email, atau aplikasi pesan lainnya.

Jika seseorang mengatakan kamu harus membuka tautan tertentu untuk mengamankan rekening, jangan langsung mengkliknya.

Buka aplikasi resmi bank atau situs resmi bank secara mandiri.

Dengan begitu, kamu dapat memeriksa informasi tanpa mengikuti jalur komunikasi yang dibuat oleh orang lain.

Kenali Pola Umum Penipuan Perbankan

Agar lebih mudah mengenali modus, perhatikan beberapa pola berikut:

Tanda yang Muncul Mengapa Perlu Waspada
Penelepon mengaku petugas bank Identitas perlu diverifikasi melalui kanal resmi
Meminta OTP Kode keamanan tidak boleh diberikan sembarangan
Meminta PIN atau password Data tersebut bersifat rahasia
Mengancam rekening segera diblokir Pelaku mungkin ingin menciptakan kepanikan
Meminta transfer dana Jangan mengikuti instruksi transaksi dari panggilan mencurigakan
Meminta membuka tautan Tautan dapat mengarahkan ke halaman palsu
Melarang menghubungi bank Pelaku ingin mempertahankan kendali
Memaksa mengambil keputusan cepat Tekanan waktu dapat membuat korban kehilangan kewaspadaan

Tabel tersebut tidak berarti setiap panggilan yang memenuhi satu tanda pasti merupakan penipuan. Namun, semakin banyak tanda yang muncul, semakin penting bagi kamu untuk menghentikan komunikasi dan melakukan verifikasi.

Baca Juga :  Cara Tarik Tunai OVO di ATM BCA dan Indomaret Tanpa Kartu, Praktis dan Cepat 2026

Tetap Tenang Saat Menerima Telepon Mencurigakan

Pada akhirnya, cara menghindari penipuan bank tidak hanya bergantung pada teknologi keamanan.

Kebiasaan pengguna juga memiliki peran penting.

Berhenti sejenak.

Tutup telepon jika perlu.

Kemudian, hubungi bank melalui kanal resmi yang kamu cari sendiri.

Langkah tersebut jauh lebih aman daripada mengambil keputusan berdasarkan informasi dari orang yang identitasnya belum kamu pastikan.

Penipuan melalui telepon memang semakin sulit dikenali. Namun, kewaspadaan tetap menjadi salah satu perlindungan paling sederhana.

Selama kamu menjaga OTP, PIN, password, dan data keamanan lainnya serta selalu melakukan verifikasi melalui kanal resmi, kamu dapat memperkecil peluang menjadi korban.

Yang paling penting, jangan biarkan rasa takut menentukan keputusan terkait uang. Ketika menerima telepon mencurigakan, tetap tenang, periksa informasinya, dan pastikan kamu sendiri yang mengendalikan proses komunikasi.(*)

Berita Terkait

Infinix XPAD 30 Pro Hadir di Indonesia, Tablet 11 Inci Ini Siap Temani Gamer Push Rank
Samsung Rilis One UI 9: Ini Fitur Baru Galaxy untuk Gaming, AI hingga Multitasking
HP Sering Dipinjam Teman? 5 Cara Mengunci Aplikasi Ini Bisa Lindungi Chat, Foto hingga Mobile Banking
Kartu Kredit Hilang? Jangan Panik, Ini Cara Blokir, Cek Transaksi dan Ajukan Kartu Pengganti
Waspada! 5 Tanda Paylater Mulai Mengganggu Keuangan, Nomor 3 Paling Sering Terjadi
668 Ribu Laporan Penipuan Masuk IASC, 659 Ribu Rekening Sudah Diblokir: Waspadai 5 Modus Ini
HarmonyOS 7 Resmi Meluncur, Ini Daftar HP Huawei yang Bisa Update dan Fitur Barunya
GRADE+ Resmi Hadir di Kota Jambi, Internet Unlimited 100 Mbps Mulai Rp210 Ribu, Gratis Instalasi
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 18:01 WIB

Telepon Mengaku dari Bank? Jangan Panik, Ini 5 Cara Cegah Penipuan dan Lindungi Rekening

Selasa, 29 September 2026 - 15:01 WIB

Infinix XPAD 30 Pro Hadir di Indonesia, Tablet 11 Inci Ini Siap Temani Gamer Push Rank

Selasa, 29 September 2026 - 09:01 WIB

Samsung Rilis One UI 9: Ini Fitur Baru Galaxy untuk Gaming, AI hingga Multitasking

Senin, 28 September 2026 - 15:01 WIB

HP Sering Dipinjam Teman? 5 Cara Mengunci Aplikasi Ini Bisa Lindungi Chat, Foto hingga Mobile Banking

Senin, 28 September 2026 - 12:01 WIB

Kartu Kredit Hilang? Jangan Panik, Ini Cara Blokir, Cek Transaksi dan Ajukan Kartu Pengganti

Berita Terbaru