Kabut Asap Jambi Makin Tebal, Operasi Modifikasi Cuaca Kembali Dijadwalkan 9-10 Oktober 2026

- Jurnalis

Selasa, 6 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi OMC Jambi

Ilustrasi OMC Jambi

JAMBI,JS- Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Jambi hingga awal Oktober 2026. Kondisi tersebut membuat Pemerintah Provinsi Jambi kembali menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu meningkatkan peluang turunnya hujan.

Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Provinsi Jambi menjadwalkan kembali pelaksanaan OMC pada pekan kedua Oktober. Pemerintah berharap kondisi atmosfer mendukung operasi tersebut pada 9 hingga 10 Oktober 2026.

Gubernur Jambi Al Haris mengatakan tim sebelumnya sudah menyiapkan pelaksanaan OMC. Namun, kabut asap yang cukup tebal menghambat aktivitas penerbangan.

“Kemarin kita akan melakukan OMC, tetapi karena visibility (jarak pandang) sangat rendah, pesawat tidak bisa lepas landas untuk operasi,” kata Al Haris di Kota Jambi, Senin (5/10/2026).

Menurut dia, kondisi serupa juga menyulitkan tim dalam menjalankan operasi water bombing menggunakan helikopter. Kabut asap yang tebal membuat penerbangan menjadi sulit dan meningkatkan risiko bagi kru maupun pesawat.

“Begitu juga dengan teman-teman yang ingin menerbangkan helikopter water bombing, sangat sulit karena kabut asapnya cukup tebal,” ujarnya.

Pemerintah Menunggu Kondisi Awan

Pemprov Jambi kini kembali melihat peluang pelaksanaan OMC pada 9 dan 10 Oktober. Pemerintah tidak dapat menjalankan operasi tersebut hanya berdasarkan jadwal karena keberhasilannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer.

Al Haris mengatakan pemerintah berharap potensi awan meningkat pada periode tersebut. Jika kondisi awan memenuhi persyaratan, tim dapat melakukan penyemaian dengan menaburkan bahan tertentu, termasuk garam, untuk membantu memicu pertumbuhan awan dan meningkatkan peluang hujan.

Namun, pemerintah tetap harus memperhitungkan kondisi cuaca sebelum menerbangkan pesawat untuk OMC. Tim membutuhkan keberadaan awan yang sesuai agar proses penyemaian dapat memberikan hasil optimal.

Karena itu, pemerintah tidak bisa memaksakan penerbangan ketika kondisi atmosfer tidak mendukung. Jarak pandang yang rendah juga menjadi pertimbangan penting dalam menjaga keselamatan penerbangan.

Situasi tersebut membuat pelaksanaan OMC pada pekan kedua Oktober menjadi salah satu langkah yang kembali pemerintah siapkan untuk menghadapi kabut asap dan karhutla di Jambi.

Kabut Asap Jambi Tidak Hanya dari Karhutla Lokal

Kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi dan sejumlah daerah di sekitarnya dalam beberapa hari terakhir juga memiliki faktor lain. Pemerintah Provinsi Jambi menyebut asap yang masuk ke wilayah Jambi tidak seluruhnya berasal dari titik kebakaran di dalam provinsi.

Al Haris mengatakan sebagian asap datang dari wilayah tetangga, terutama Sumatera Selatan (Sumsel). Angin kemudian membawa asap tersebut menuju wilayah Jambi sehingga kualitas udara di sejumlah daerah ikut terdampak.

Kondisi ini membuat penanganan kabut asap tidak cukup hanya dengan memadamkan titik api yang berada di wilayah Jambi. Pemerintah juga harus memperhatikan pergerakan angin dan kebakaran yang terjadi di wilayah sekitar.

“Namun, ada titik di luar wilayah kita yang lokasinya dekat dengan Jambi, tim kita tidak bisa menjangkau ke sana karena berada di luar kewenangan wilayah,” kata Al Haris.

Selain asap dari wilayah lain, perubahan arah angin dalam beberapa hari terakhir turut memengaruhi kondisi udara di Kota Jambi. Pergerakan angin dapat membawa asap dari satu kawasan menuju kawasan lain sehingga konsentrasi asap di wilayah perkotaan dapat berubah dalam waktu relatif cepat.

Faktor tersebut juga menjelaskan mengapa kondisi kabut asap di Jambi tidak selalu mengikuti pola titik kebakaran yang berada di dalam wilayah provinsi.

Baca Juga :  Kabut Asap Sarolangun Makin Pekat, ISPU Tembus 203,5 dan Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat

Luas Karhutla Jambi Capai 4.123,84 Hektare

Di tengah persoalan kabut asap, Satgas Karhutla Jambi terus melakukan pemantauan terhadap titik-titik kebakaran. Berdasarkan data hingga awal Oktober 2026, luas lahan yang terbakar di Provinsi Jambi mencapai 4.123,84 hektare.

Kebakaran tersebar di sejumlah kabupaten. Beberapa daerah mencatat luas area terbakar jauh lebih besar dibandingkan wilayah lainnya.

Kabupaten Batang Hari mencatat area terbakar paling luas dengan 1.240,79 hektare. Setelah itu, Tanjung Jabung Timur mencatat 659,18 hektare.

Kabupaten Tanjung Jabung Barat menyusul dengan luas 639,55 hektare. Sementara itu, Muaro Jambi mencatat luas area terbakar mencapai 577,71 hektare.

Besarnya luasan tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla masih membutuhkan kerja terpadu antara pemerintah daerah, Satgas Karhutla, aparat keamanan, petugas lapangan, serta masyarakat.

Pemerintah juga harus bergerak cepat ketika muncul titik api baru. Langkah tersebut penting agar api tidak meluas dan menghasilkan asap yang semakin mengganggu aktivitas masyarakat.

OMC Jadi Salah Satu Upaya Tekan Kabut Asap

Operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu upaya pemerintah untuk membantu mengatasi dampak karhutla. Melalui penyemaian awan, pemerintah berharap hujan dapat turun di wilayah yang membutuhkan.

Akan tetapi, OMC bukan solusi yang dapat pemerintah jalankan setiap saat. Tim harus menunggu kondisi atmosfer yang tepat, terutama keberadaan awan yang memenuhi persyaratan untuk penyemaian.

Kegagalan penerbangan sebelumnya akibat rendahnya jarak pandang juga menunjukkan tantangan yang pemerintah hadapi. Kabut asap tidak hanya mengganggu masyarakat di darat, tetapi juga menyulitkan operasi udara untuk penanganan karhutla.

Situasi itu membuat pemerintah harus mempertimbangkan keselamatan penerbangan sebelum menjalankan OMC maupun water bombing.

Jika kondisi awan pada 9 hingga 10 Oktober memenuhi persyaratan, pemerintah berharap tim dapat menjalankan penyemaian secara lebih maksimal. Hujan yang turun kemudian dapat membantu membasahi lahan dan mengurangi potensi meluasnya kebakaran.

Baca Juga :  Kualitas Udara Jambi Masuk Zona Berbahaya, Muaro Jambi dan Tebo Catat PM2.5 di Atas 300

Penanganan Karhutla Membutuhkan Kerja Lintas Wilayah

Persoalan kabut asap di Jambi juga menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan tidak selalu berhenti pada batas administrasi. Asap dapat bergerak mengikuti arah angin dan memasuki wilayah lain.

Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan koordinasi lintas daerah. Ketika titik kebakaran muncul di wilayah yang berdekatan dengan Jambi tetapi berada di luar kewenangan pemerintah provinsi, tim Jambi tidak dapat melakukan penanganan secara langsung.

Pada saat yang sama, masyarakat tetap merasakan dampak asap yang masuk ke wilayah mereka.

Pemerintah Provinsi Jambi saat ini terus memantau kondisi lapangan sambil menyiapkan kembali pelaksanaan OMC. Keberadaan awan, arah angin, jarak pandang, serta kondisi titik api akan menjadi faktor penting dalam menentukan langkah berikutnya.

Dengan luas karhutla yang mencapai lebih dari 4.100 hektare hingga awal Oktober, pemerintah menghadapi tantangan besar untuk menjaga kondisi lingkungan sekaligus mengurangi dampak asap terhadap masyarakat.

Pelaksanaan OMC pada 9 hingga 10 Oktober diharapkan dapat menjadi salah satu upaya tambahan. Namun, efektivitas operasi tetap bergantung pada kondisi cuaca dan kesiapan penerbangan.

Sementara itu, Satgas Karhutla tetap harus melakukan pemadaman dan pemantauan titik api di lapangan. Pemerintah juga perlu memperkuat koordinasi dengan daerah sekitar agar sumber asap dari luar wilayah Jambi dapat ikut tertangani.

Dengan kombinasi penanganan langsung di titik kebakaran, pemantauan pergerakan asap, koordinasi lintas wilayah, serta peluang hujan melalui OMC, pemerintah berharap kondisi kabut asap di Jambi segera membaik.(TIM)

Berita Terkait

Data Kontak Bisa Jadi Sasaran, Kenali Ciri Aplikasi Pinjaman Online yang Patut Dihindari
Kredit Macet Pinjaman Online Dekati Angka 5 Persen, Ini Penyebabnya
Strategi BTN Menghadapi Tekanan Ekonomi 2026, Dari Tabungan Digital hingga Dana Murah
Tidak Hanya Abaikan Efisiensi, BIMTEK BPD se-Sungai Penuh juga Langgar Perwako
Suzuki Baleno Facelift Makin Canggih, Punya ADAS Level 2 dan Mesin Z12E, Harga Rp111 Jutaan
Kartu Kredit Hilang? Jangan Panik, Ini Cara Blokir, Cek Transaksi dan Ajukan Kartu Pengganti
Waspada! 5 Tanda Paylater Mulai Mengganggu Keuangan, Nomor 3 Paling Sering Terjadi
Data KTP Jangan Diumbar di Internet, Ini Cara Cegah NIK Disalahgunakan Penipu
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 23:01 WIB

Data Kontak Bisa Jadi Sasaran, Kenali Ciri Aplikasi Pinjaman Online yang Patut Dihindari

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:31 WIB

Kabut Asap Jambi Makin Tebal, Operasi Modifikasi Cuaca Kembali Dijadwalkan 9-10 Oktober 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:40 WIB

Kredit Macet Pinjaman Online Dekati Angka 5 Persen, Ini Penyebabnya

Minggu, 4 Oktober 2026 - 11:15 WIB

Strategi BTN Menghadapi Tekanan Ekonomi 2026, Dari Tabungan Digital hingga Dana Murah

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:00 WIB

Tidak Hanya Abaikan Efisiensi, BIMTEK BPD se-Sungai Penuh juga Langgar Perwako

Berita Terbaru