Bitcoin Bertahan di Atas US$80.000, Apakah Saatnya Beli atau Justru Waspada?

- Jurnalis

Jumat, 23 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Harga Bitcoin hari ini

Harga Bitcoin hari ini

BISNIS,JS- Harga Bitcoin berpeluang melanjutkan pemulihan hingga akhir 2026. Namun, investor masih perlu mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), serta perkembangan arus dana investasi institusional ke produk Bitcoin exchange-traded fund (ETF).

Kedua faktor tersebut dapat menentukan apakah Bitcoin mampu memperkuat kenaikan atau justru kembali menghadapi tekanan harga menjelang pergantian tahun.

Data CoinMarketCap pada Jumat (23/10/2026) pukul 18.05 WIB menunjukkan harga Bitcoin berada di level US$81.705. Angka tersebut mencerminkan pelemahan 0,22 persen dalam 24 jam terakhir dan penurunan 5,16 persen selama sebulan.

Meski demikian, Bitcoin masih bertahan di atas US$80.000 selama sekitar satu bulan terakhir. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar berusaha mempertahankan momentum pemulihan setelah koreksi tajam yang, menurut data dalam laporan, sempat membawa harga ke sekitar US$60.000 pada Juni 2026.

Pergerakan tersebut menjadi perhatian investor karena Bitcoin menghadapi dua kekuatan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, permintaan institusional memberikan dukungan terhadap harga. Di sisi lain, ketidakpastian ekonomi global dan kebijakan moneter AS masih membatasi ruang kenaikan.

Harga Bitcoin Menghadapi Ujian Menjelang Akhir 2026

Pemulihan harga Bitcoin belum tentu menandai awal tren kenaikan jangka panjang. Pasar masih membutuhkan dukungan permintaan yang konsisten serta kondisi ekonomi yang lebih kondusif agar harga mampu bergerak lebih tinggi.

Presiden Direktur PINTU, Andy Putra, menilai permintaan investor institusional melalui produk ETF menjadi salah satu pendorong pemulihan Bitcoin. Menurut catatannya, produk spot Bitcoin ETF mencatat arus dana masuk bersih sekitar US$2,6 miliar sepanjang September 2026.

Arus dana tersebut menunjukkan minat investor institusional terhadap Bitcoin masih memiliki peran penting dalam menjaga permintaan pasar. Namun, investor tetap perlu membedakan antara kenaikan harga jangka pendek dan perubahan tren yang lebih berkelanjutan.

Andy menilai pasar Bitcoin saat ini masih berada dalam fase pemulihan yang rentan. Karena itu, investor sebaiknya tidak langsung menganggap pergerakan harga di atas US$80.000 sebagai sinyal pasti bahwa Bitcoin akan kembali mencetak rekor baru.

“Berdasarkan analisis kami, kondisi saat ini masih mencerminkan fase pemulihan yang rentan dan belum sepenuhnya menandakan tren bullish yang berkelanjutan,” ujar Andy kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).

Ia menjelaskan bahwa arah pergerakan Bitcoin akan sangat bergantung pada kebijakan suku bunga The Fed dan konsistensi arus dana masuk ke produk spot Bitcoin ETF.

Kebijakan Suku Bunga The Fed Jadi Faktor Penting

Selain permintaan ETF, kebijakan moneter AS menjadi salah satu faktor utama yang dapat memengaruhi pasar kripto hingga akhir tahun.

Suku bunga memengaruhi daya tarik berbagai instrumen investasi. Ketika investor memperoleh imbal hasil menarik dari aset berisiko lebih rendah, sebagian dari mereka dapat mengurangi eksposur terhadap aset yang memiliki volatilitas tinggi, termasuk Bitcoin.

Sebaliknya, prospek pelonggaran kebijakan moneter dapat memperbaiki sentimen terhadap aset berisiko. Meski demikian, pengaruh tersebut tidak selalu berlangsung secara langsung karena investor juga mempertimbangkan inflasi, pertumbuhan ekonomi, likuiditas, dan perkembangan geopolitik.

Andy menyoroti pertemuan The Fed pada 28 Oktober 2026 sebagai salah satu agenda yang perlu dicermati pasar. Ia menyebut probabilitas suku bunga tetap pada level saat itu mencapai sekitar 86 persen berdasarkan perkiraan yang menjadi acuannya.

Setelah pertemuan tersebut, investor juga akan memantau sinyal kebijakan untuk Desember. Pernyataan pejabat The Fed mengenai inflasi dan prospek suku bunga dapat memengaruhi ekspektasi pasar, termasuk minat investor terhadap aset kripto.

Namun, angka probabilitas tersebut bukan keputusan resmi. Ekspektasi pasar dapat berubah mengikuti data ekonomi dan komunikasi terbaru dari bank sentral AS.

Baca Juga :  Harga Bitcoin dan Ethereum Kompak Turun, Kapitalisasi Pasar Kripto Susut ke US$2,73 Triliun

Yield Obligasi AS dan Harga Minyak Bisa Menekan Bitcoin

Di tengah peluang pemulihan, Bitcoin masih menghadapi sejumlah risiko makroekonomi. Andy menyoroti tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury yield, harga minyak yang masih tinggi, serta kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Ketiga faktor tersebut dapat memengaruhi pergerakan aset kripto melalui jalur yang berbeda.

Pertama, kenaikan imbal hasil obligasi AS dapat meningkatkan daya tarik instrumen pendapatan tetap bagi sebagian investor. Kondisi ini berpotensi mengurangi minat terhadap aset berisiko apabila investor memilih mengalihkan sebagian modalnya ke instrumen dengan profil risiko berbeda.

Kedua, kenaikan harga minyak dapat menambah tekanan inflasi. Jika tekanan harga berlangsung lebih lama, The Fed mungkin mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau mengambil kebijakan yang lebih ketat daripada ekspektasi pasar.

Ketiga, perubahan ekspektasi suku bunga dapat memicu volatilitas pada pasar keuangan. Bitcoin yang memiliki pergerakan harga relatif tajam dapat mengalami perubahan sentimen dengan cepat ketika investor menilai ulang risiko portofolionya.

Karena itu, investor tidak cukup hanya memantau grafik harga Bitcoin. Perkembangan inflasi AS, imbal hasil obligasi, harga energi, serta arus dana ETF juga perlu masuk dalam pertimbangan sebelum mengambil keputusan investasi.

Prediksi Harga Bitcoin: Berpeluang ke US$95.000

Dalam proyeksinya, Andy memperkirakan Bitcoin berpotensi bergerak pada kisaran US$72.000 hingga US$95.000 sampai akhir 2026.

Rentang tersebut memperlihatkan peluang kenaikan sekaligus risiko koreksi yang masih cukup besar. Dengan harga sekitar US$81.705 pada 23 Oktober 2026, Bitcoin belum memiliki kepastian untuk langsung bergerak menuju batas atas proyeksi.

Skenario dasar yang digunakan Andy mengarah pada fase konsolidasi. Dalam kondisi ini, harga dapat bergerak naik dan turun dalam rentang tertentu sebelum pasar memperoleh katalis yang cukup kuat untuk menentukan arah berikutnya.

Jika permintaan ETF tetap konsisten dan tekanan inflasi mereda, Bitcoin berpeluang memperkuat pemulihan. Sebaliknya, arus dana yang melemah atau ekspektasi kenaikan suku bunga dapat menambah tekanan jual.

Investor juga perlu memahami bahwa rentang US$72.000–US$95.000 merupakan perkiraan, bukan jaminan harga akan mencapai salah satu batas tersebut. Perubahan kondisi ekonomi, sentimen pasar, serta keputusan investor besar dapat membuat pergerakan aktual berbeda dari proyeksi.

Apakah Bitcoin Sudah Mencapai Titik Terendah?

Setelah mengalami koreksi, Bitcoin kini menunjukkan upaya untuk membangun kembali momentum harga. Namun, penentuan titik terendah atau bottom baru bisa terlihat lebih jelas setelah pasar menunjukkan pola pergerakan yang konsisten.

Andy menilai Bitcoin tengah menjalani fase konsolidasi setelah mencapai titik terendah. Menurutnya, secara historis Bitcoin kerap menghabiskan beberapa bulan dalam fase tersebut sebelum melanjutkan momentum bullish.

Meski demikian, pola historis tidak menjamin siklus berikutnya akan berjalan dengan cara yang sama. Kondisi likuiditas global, struktur pasar kripto, permintaan investor, serta kebijakan regulator dapat mengubah karakter pergerakan harga.

Oleh sebab itu, investor sebaiknya tidak menjadikan anggapan bahwa Bitcoin telah mencapai bottom sebagai satu-satunya alasan untuk membeli. Analisis risiko dan kemampuan menghadapi penurunan harga tetap menjadi pertimbangan utama.

Ethereum, Solana, dan Hyperliquid Jadi Alternatif

Selain Bitcoin, investor dengan toleransi risiko tinggi dapat mencermati sejumlah aset kripto lain, seperti Ethereum, Solana, dan Hyperliquid.

Ketiga aset tersebut memiliki karakteristik dan ekosistem yang berbeda. Ethereum mendukung berbagai aplikasi blockchain dan layanan keuangan terdesentralisasi. Solana menawarkan jaringan untuk aplikasi dan transaksi digital, sedangkan Hyperliquid berfokus pada ekosistem perdagangan aset kripto.

Namun, potensi keuntungan setiap aset berjalan beriringan dengan risiko. Perubahan sentimen pasar dapat menekan harga altcoin lebih tajam daripada Bitcoin, terutama ketika likuiditas menyusut atau investor mengurangi kepemilikan aset berisiko.

Sebelum membeli, investor perlu mempelajari fungsi token, perkembangan proyek, likuiditas perdagangan, distribusi kepemilikan, serta potensi risiko teknis dan regulasi. Popularitas sebuah aset tidak otomatis menjamin kenaikan harga.

Investor juga perlu mempertimbangkan alokasi dana secara proporsional. Menempatkan seluruh modal pada satu aset dapat meningkatkan risiko kerugian ketika pasar bergerak berlawanan dengan perkiraan.

Tokenisasi Aset Riil Menjadi Pilihan Diversifikasi

Selain Bitcoin dan altcoin, pasar juga mengenal tokenized real-world assets (RWA), yakni representasi digital atas aset dunia nyata melalui teknologi blockchain.

Kategori ini dapat mencakup instrumen keuangan, surat utang, komoditas, dan bentuk aset lain sesuai struktur produk serta ketentuan yang berlaku. Dalam skema tertentu, tokenisasi dapat membuka akses digital terhadap aset yang sebelumnya membutuhkan proses transaksi lebih kompleks.

Andy menilai aset tertokenisasi dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperluas diversifikasi portofolio. Melalui produk tertentu, investor dapat memperoleh eksposur terhadap aset seperti saham perusahaan global atau emas.

Namun, investor harus memeriksa struktur hukum dan hak yang melekat pada setiap token. Tidak semua token memberikan kepemilikan langsung atas aset dasarnya. Risiko penerbit, kustodian, likuiditas, teknologi, dan kepatuhan terhadap regulasi juga perlu mendapat perhatian.

Dengan demikian, investor tidak sebaiknya membeli produk RWA hanya karena tren tokenisasi sedang berkembang. Pemahaman terhadap mekanisme produk dan perlindungan hak investor tetap menjadi dasar sebelum menempatkan dana.

Strategi Investor Menghadapi Volatilitas Kripto

Menjelang akhir 2026, pasar Bitcoin masih menawarkan peluang sekaligus risiko. Permintaan institusional melalui ETF dapat membantu menopang harga, tetapi arah kebijakan The Fed dan kondisi ekonomi AS berpotensi mengubah sentimen secara cepat.

Investor sebaiknya menyusun strategi sesuai tujuan keuangan, jangka waktu investasi, serta kemampuan menanggung kerugian. Dana kebutuhan sehari-hari dan dana darurat tidak ideal untuk menanggung risiko tinggi dari fluktuasi aset kripto.

Selain itu, investor perlu menentukan batas risiko, menghindari penggunaan utang untuk mengejar keuntungan, serta tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan prediksi harga atau tren media sosial.

Proyeksi Bitcoin menuju US$95.000 hingga akhir 2026 memang membuka peluang yang menarik untuk dicermati. Namun, skenario koreksi menuju US$72.000 juga menunjukkan bahwa pasar belum bebas dari tekanan.

Pada akhirnya, perkembangan suku bunga The Fed, konsistensi arus dana ETF, inflasi, dan likuiditas pasar akan menjadi sejumlah faktor penting yang menentukan arah Bitcoin dalam beberapa bulan mendatang. Investor perlu menilai seluruh faktor tersebut secara berkala sebelum menambah atau mengurangi eksposur terhadap aset kripto.

Catatan: Proyeksi harga bukan jaminan hasil investasi. Setiap aset kripto memiliki risiko volatilitas dan potensi kerugian modal.(*)

Berita Terkait

Prabowo Siapkan Kredit Rp400 Triliun pada 2027, 28 Juta Keluarga Jadi Sasaran
Cara Memperbaiki BI Checking Setelah Melunasi Utang, Cek SLIK OJK dan Pulihkan Riwayat Kredit
38 Kepala Sekolah di Sungai Penuh Dilantik, Ini Daftar Nama dan Sekolahnya
Aset Bank Mandiri Tembus Rp2.359 Triliun, Kredit Rp1.592 Triliun hingga Agustus 2026
Harga Bitcoin dan Ethereum Kompak Turun, Kapitalisasi Pasar Kripto Susut ke US$2,73 Triliun
Alfin Perjuangkan Pasar Tanjung Bajure, Kemendag Beri Respons Positif
Sidak Kantor Camat Tabir Lintas, Bupati Merangin Kecewa: Pegawai Sepi
Reinkarnasi Supra X, Honda Biz 110 2026 Kini Sudah Hadir di Dealer
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:01 WIB

Bitcoin Bertahan di Atas US$80.000, Apakah Saatnya Beli atau Justru Waspada?

Jumat, 23 Oktober 2026 - 09:43 WIB

Prabowo Siapkan Kredit Rp400 Triliun pada 2027, 28 Juta Keluarga Jadi Sasaran

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:01 WIB

Cara Memperbaiki BI Checking Setelah Melunasi Utang, Cek SLIK OJK dan Pulihkan Riwayat Kredit

Rabu, 21 Oktober 2026 - 06:01 WIB

38 Kepala Sekolah di Sungai Penuh Dilantik, Ini Daftar Nama dan Sekolahnya

Selasa, 20 Oktober 2026 - 23:01 WIB

Aset Bank Mandiri Tembus Rp2.359 Triliun, Kredit Rp1.592 Triliun hingga Agustus 2026

Berita Terbaru