JAMBI,JS- Dampak peningkatan pencemaran udara di Kota Jambi menjadi perhatian setelah BPBD setempat mencatat 12.616 warga menjalani pengobatan untuk berbagai keluhan kesehatan. Keluhan tersebut mencakup infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), konjungtivitis atau peradangan pada mata, hingga diare.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Jambi, Dodi Sumatriadi, menyampaikan data itu saat menjelaskan perkembangan penanganan dampak kekeringan dan kebakaran lahan. Ia menyebut masyarakat mendatangi sejumlah puskesmas di Kota Jambi untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
“Penderita penyakit ISPA, kemudian konjungtivitis, kemudian terkait dengan diare, itu sebanyak 12.616 penderita yang melaksanakan pengobatan pada puskesmas-puskesmas yang ada di wilayah Kota Jambi,” kata Dodi, Rabu (7/10/2026).
Angka tersebut menunjukkan besarnya jumlah kunjungan pengobatan untuk keluhan kesehatan yang tercatat dalam data BPBD. Namun, data itu belum menjelaskan jumlah kasus yang secara khusus berkaitan langsung dengan paparan kabut asap.
Kabut Asap dan Kualitas Udara Jadi Perhatian
Peningkatan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menambah perhatian terhadap kondisi lingkungan di Kota Jambi. ISPU menjadi salah satu indikator untuk menggambarkan tingkat pencemaran udara dan potensi dampaknya bagi kesehatan masyarakat.
Ketika asap kebakaran lahan menyelimuti permukiman, warga dapat mengalami ketidaknyamanan saat beraktivitas di luar ruangan. Paparan partikel halus dari asap juga dapat memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada kelompok yang lebih rentan.
Anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan perlu meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk. Meski demikian, masyarakat sebaiknya tidak langsung mengaitkan setiap keluhan kesehatan dengan kabut asap tanpa pemeriksaan tenaga medis.
Keluhan ISPA menjadi perhatian utama karena gangguan ini menyerang saluran pernapasan. Gejalanya dapat berupa batuk, pilek, sakit tenggorokan, hingga kesulitan bernapas pada kondisi tertentu.
Sementara itu, konjungtivitis dapat menimbulkan mata merah, gatal, berair, atau terasa perih. Asap dan partikel di udara dapat mengiritasi mata, meskipun berbagai faktor lain juga dapat memicu gangguan tersebut.
Diare juga masuk dalam catatan keluhan warga yang menjalani pengobatan. Akan tetapi, BPBD belum merinci penyebab setiap kasus maupun jumlah pasien untuk masing-masing jenis penyakit.
BPBD Catat 124 Kejadian Kebakaran Lahan
Di sisi lain, kebakaran lahan menjadi salah satu persoalan lingkungan yang terus membutuhkan penanganan. BPBD Kota Jambi mencatat 124 kejadian kebakaran lahan sejak awal Agustus hingga awal Oktober 2026.
Rangkaian kejadian tersebut menghanguskan lahan dengan luas keseluruhan lebih dari 12 hektare. Catatan itu memperlihatkan bahwa ancaman kebakaran masih muncul di tengah kondisi kering yang meningkatkan risiko api menyebar pada vegetasi dan lahan terbuka.
Setiap kejadian kebakaran membutuhkan respons cepat agar api tidak meluas ke area lain. Selain merusak lahan, kebakaran juga berpotensi menghasilkan asap yang mengganggu aktivitas warga dan menurunkan kualitas udara di sekitarnya.
Karena itu, penanganan kebakaran tidak hanya berfokus pada pemadaman api. Petugas juga perlu mengantisipasi titik rawan, memantau perkembangan kondisi lapangan, serta mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
BPBD Kota Jambi menjalankan penanganan bersama tim gabungan yang melibatkan petugas pemadam kebakaran, TNI, Polri, pemerintah kecamatan, dan pemerintah kelurahan. Koordinasi antarpihak membantu petugas merespons laporan kebakaran sesuai kondisi di lapangan.
Selain pemadaman, pencegahan juga memerlukan peran aktif masyarakat. Warga dapat membantu dengan segera melaporkan kemunculan api atau asap mencurigakan, menghindari pembakaran sampah dan lahan saat kondisi kering, serta tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.
Distribusi Air Bersih Capai 1,83 Juta Liter
Selain menghadapi kebakaran lahan dan dampak pencemaran udara, BPBD Kota Jambi juga menangani persoalan kekeringan. Salah satu upaya yang berjalan ialah mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan.
Hingga awal Oktober 2026, BPBD mencatat penyaluran air bersih mencapai 1.837.000 liter. Petugas menyalurkan air tersebut ke 11 kecamatan di Kota Jambi.
Penyaluran ini membantu warga memenuhi kebutuhan air untuk aktivitas sehari-hari ketika ketersediaan air mengalami kendala. Namun, BPBD belum merinci jumlah penerima manfaat, jumlah titik distribusi, maupun pembagian volume air untuk setiap kecamatan.
Kondisi kekeringan membutuhkan perhatian karena dapat meningkatkan risiko kebakaran vegetasi dan menyulitkan masyarakat memperoleh air bersih. Oleh sebab itu, penanganan perlu berjalan beriringan, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar warga hingga pencegahan kebakaran.
Pemerintah daerah juga perlu memastikan distribusi air menjangkau kawasan yang paling membutuhkan. Pemantauan berkala dapat membantu petugas menentukan wilayah prioritas dan menyesuaikan penyaluran berdasarkan kondisi di lapangan.
Warga Perlu Mengurangi Paparan Asap
Di tengah peningkatan pencemaran udara, masyarakat perlu memperhatikan kondisi lingkungan sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Jika udara terlihat berasap atau menimbulkan bau menyengat, warga sebaiknya mengurangi kegiatan berat di luar rumah.
Penggunaan masker yang sesuai, penutupan jendela saat asap pekat masuk ke permukiman, serta pemantauan informasi kualitas udara dapat membantu mengurangi paparan. Warga juga perlu menjaga kebersihan mata dan menghindari menggosok mata ketika terasa perih atau gatal.
Masyarakat yang mengalami sesak napas, napas cepat, nyeri dada, atau gejala yang semakin berat perlu segera mencari pertolongan medis. Orang tua juga perlu memperhatikan kondisi anak-anak ketika muncul batuk berkepanjangan atau gangguan pernapasan.
Langkah pencegahan tersebut penting, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan medis. Warga sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika mengalami keluhan yang menetap atau memburuk.
Penanganan Lingkungan dan Kesehatan Perlu Berjalan Bersamaan
Catatan 12.616 warga yang menjalani pengobatan, 124 kejadian kebakaran lahan, serta distribusi 1.837.000 liter air bersih menggambarkan sejumlah persoalan yang dihadapi Kota Jambi dalam penanganan dampak kekeringan dan pencemaran udara.
Meski demikian, ketiga angka tersebut mengukur hal yang berbeda. Jumlah warga berobat menunjukkan catatan pelayanan kesehatan untuk sejumlah keluhan, jumlah kebakaran menggambarkan kejadian di lapangan, sedangkan volume air menunjukkan upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Pemerintah perlu terus memantau kualitas udara, memperkuat pencegahan kebakaran, dan memastikan warga memperoleh akses air bersih serta pelayanan kesehatan. Di saat yang sama, masyarakat dapat membantu mengurangi risiko dengan menghindari pembakaran terbuka dan segera melaporkan kebakaran.
Data lanjutan mengenai jumlah pasien ISPA secara khusus, tren kunjungan kesehatan, serta perkembangan ISPU akan membantu masyarakat memahami tingkat risiko secara lebih terukur. Informasi tersebut juga penting untuk menentukan langkah perlindungan yang sesuai dengan kondisi udara di Kota Jambi.
Dengan penanganan lingkungan dan kesehatan yang berjalan beriringan, pemerintah dan masyarakat dapat menekan risiko lanjutan dari kekeringan serta kebakaran lahan, sekaligus melindungi warga yang paling rentan terhadap paparan asap.(*)










