194 Hektare Sawah di Batang Hari Gagal Panen, Kekeringan Ancam Ratusan Hektare Lainnya

- Jurnalis

Rabu, 21 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI,JS- Kekeringan mulai menekan sektor pertanian di Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi. Minimnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir membuat ribuan petani menghadapi ancaman penurunan produksi padi, bahkan sebagian lahan sawah sudah tidak mampu menghasilkan panen.

Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Batang Hari mencatat sekitar 1.200 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 194 hektare sawah telah mengalami puso atau gagal panen.

Kondisi ini menambah kekhawatiran petani terhadap keberlanjutan produksi pangan daerah. Pasalnya, kekeringan tidak hanya menghambat pertumbuhan tanaman padi, tetapi juga membatasi kemampuan petani untuk mempertahankan hasil panen pada musim tanam berjalan.

Kepala Bidang Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Batang Hari, Roma Uliana, menjelaskan bahwa lahan sawah yang mengalami puso tersebar di tujuh kecamatan yang memiliki area pertanaman padi.

Menurutnya, keterbatasan pasokan air menjadi persoalan utama yang harus segera diatasi agar kerusakan tanaman tidak semakin meluas.

1. Kekeringan Meluas, 194 Hektare Sawah Tak Bisa Dipanen

Angka 194 hektare menunjukkan besarnya dampak kekeringan terhadap pertanian Batang Hari. Pada lahan yang mengalami puso, petani kehilangan kesempatan untuk memperoleh hasil panen dari tanaman padi yang mereka rawat.

Sementara itu, total area terdampak mencapai sekitar 1.200 hektare. Artinya, persoalan ini tidak hanya menyangkut lahan yang sudah gagal panen, tetapi juga area persawahan lain yang masih membutuhkan pasokan air untuk mempertahankan pertumbuhan tanaman.

Oleh karena itu, petani perlu mendapatkan dukungan pengairan yang memadai agar lahan yang masih berpeluang menghasilkan gabah tidak mengalami nasib serupa.

Kondisi tersebut juga menuntut pemerintah daerah untuk memetakan tingkat kerusakan secara berkala. Dengan pemantauan yang teratur, petugas dapat menentukan lahan yang masih bisa diselamatkan dan memprioritaskan bantuan berdasarkan kebutuhan di lapangan.

Baca Juga :  Provinsi Jambi Dilanda Kekeringan, BMKG Prediksi Musim Hujan Jambi Mulai Akhir Oktober 2026

2. Minim Hujan dan Terbatasnya Sumber Air Jadi Pemicu

Curah hujan yang rendah dalam beberapa waktu terakhir memperburuk ketersediaan air untuk persawahan di Batang Hari.

Selain mengandalkan hujan, petani membutuhkan sumber air lain untuk menjaga kelembapan tanah dan memenuhi kebutuhan tanaman. Namun, pasokan dari Sungai Batanghari maupun sumur milik petani belum mampu memenuhi kebutuhan pengairan secara optimal.

Akibatnya, sebagian lahan mengalami kekeringan yang mengganggu pertumbuhan padi. Jika petani tidak segera memperoleh tambahan air, tanaman yang masih bertahan juga menghadapi risiko kerusakan lebih berat.

Di sisi lain, hujan yang turun sesekali belum tentu menyelesaikan persoalan. Tanaman padi membutuhkan ketersediaan air yang cukup selama fase pertumbuhan, sehingga hujan dengan intensitas terbatas belum tentu mampu memulihkan kondisi lahan yang telanjur kering.

Karena itu, petani dan pemerintah daerah perlu memperhatikan ketersediaan sumber air secara menyeluruh, bukan hanya mengandalkan perubahan cuaca dalam beberapa hari.

3. Sebanyak 183 Hektare Sawah Masih Mengalami Kekeringan Berat

Selain lahan yang sudah mengalami puso, sekitar 183 hektare sawah di Batang Hari masih menghadapi kekeringan berat.

Angka tersebut menjadi perhatian karena tanaman yang masih bertahan membutuhkan penanganan cepat. Tanpa tambahan air yang cukup, sebagian lahan berpotensi mengalami kerusakan lebih parah dan meningkatkan luas gagal panen.

Dengan demikian, upaya penyelamatan perlu berfokus pada sawah yang masih memiliki peluang menghasilkan panen. Petugas dapat membantu petani menentukan kebutuhan pengairan berdasarkan kondisi tanaman, ketersediaan air, serta tingkat kekeringan di setiap lokasi.

Namun, penanganan tentu membutuhkan perencanaan yang tepat. Ketersediaan pompa saja tidak cukup apabila sumber air tidak mampu memasok kebutuhan lahan secara berkelanjutan.

Pemerintah dan kelompok tani juga perlu memperhitungkan jarak sumber air ke persawahan, kapasitas pompa, serta pembagian air agar bantuan menjangkau lahan yang paling membutuhkan.

4. Tanaman Padi Usia Muda Paling Rentan Mengalami Puso

Usia tanaman menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan dampak kekeringan terhadap produksi padi.

Menurut Roma Uliana, tanaman padi yang baru berusia nol hingga satu bulan atau masih berada dalam fase vegetatif termasuk kelompok yang paling rentan. Pada tahap tersebut, tanaman membutuhkan pasokan air untuk menunjang pertumbuhan awal.

Apabila lahan kekurangan air dalam waktu cukup lama, pertumbuhan tanaman dapat terganggu dan peluang petani memperoleh hasil panen ikut menurun.

Sebaliknya, tanaman yang sudah memasuki fase generatif atau mulai menghasilkan buah masih memiliki peluang untuk dipanen. Meski demikian, kekurangan air tetap berpotensi menurunkan hasil produksi.

Perbedaan kondisi tersebut membuat penanganan kekeringan perlu mempertimbangkan usia tanaman. Petani dapat memprioritaskan pengairan pada lahan yang masih berpeluang menghasilkan panen sehingga bantuan air memberikan manfaat yang lebih optimal.

Selain itu, pemantauan berkala dapat membantu petugas mengenali perubahan kondisi tanaman sebelum kerusakan berkembang lebih jauh.

Baca Juga :  Ironi Lumbung Pangan Provinsi Jambi Ditengah Kekeringan, Petaninya Beli Beras

5. Dinas Pertanian Optimalkan Pompa Air untuk Menyelamatkan Sawah

Untuk mengurangi dampak kekeringan, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Batang Hari mengoptimalkan pemanfaatan pompa air milik kelompok tani.

Dinas juga meminjamkan pompa air yang tersedia kepada petani yang membutuhkan bantuan pengairan.

Langkah tersebut bertujuan membantu memenuhi kebutuhan air di lahan persawahan yang masih dapat diselamatkan. Dengan dukungan peralatan tersebut, petani memiliki alternatif untuk mengalirkan air dari sumber yang tersedia menuju area tanam.

Meski demikian, efektivitas penggunaan pompa tetap bergantung pada ketersediaan air di sumbernya. Karena itu, petugas perlu memastikan setiap kelompok tani menggunakan peralatan sesuai kondisi lahan dan kebutuhan pengairan.

Koordinasi antara dinas, kelompok tani, dan petani juga penting agar penggunaan pompa berjalan efektif. Pembagian jadwal pengairan dapat membantu mengatur pemanfaatan air, terutama ketika sejumlah lahan membutuhkan pasokan dalam waktu bersamaan.

Selain penanganan jangka pendek, kondisi ini menunjukkan pentingnya penguatan sistem pengairan pertanian. Infrastruktur yang mampu mendukung distribusi air dapat membantu petani menghadapi periode minim hujan dengan lebih siap.

6. Petani Berharap Hujan Segera Turun

Di tengah ancaman gagal panen, ketersediaan air hujan masih menjadi salah satu faktor yang menentukan kondisi persawahan Batang Hari.

Pemerintah daerah berharap hujan segera turun dengan intensitas yang memadai agar kekeringan tidak semakin meluas. Tambahan air dapat membantu memenuhi kebutuhan tanaman yang masih bertahan, meskipun hasilnya tetap bergantung pada tingkat kerusakan dan kondisi masing-masing lahan.

Roma Uliana mengingatkan bahwa kekeringan yang berlanjut dapat meningkatkan luas sawah yang mengalami puso sekaligus menekan produktivitas padi di daerah tersebut.

Oleh sebab itu, petani perlu terus memantau kondisi tanaman dan berkoordinasi dengan petugas pertanian setempat. Langkah ini dapat membantu mempercepat penanganan apabila lahan menunjukkan tanda-tanda kekurangan air yang semakin berat.

Di sisi lain, pemerintah perlu melanjutkan pemantauan terhadap perubahan kondisi cuaca dan ketersediaan sumber air. Data terbaru akan membantu menentukan langkah penanganan berikutnya secara lebih tepat.

7. Ancaman Gagal Panen Perlu Diantisipasi Sejak Dini

Dampak kekeringan terhadap pertanian tidak berhenti pada kerusakan tanaman. Ketika petani kehilangan hasil panen, mereka juga berisiko mengalami penurunan pendapatan dari usaha tani.

Selain itu, penurunan produksi padi dapat menghambat upaya daerah menjaga ketersediaan pangan. Karena itu, penyelamatan lahan yang masih produktif menjadi salah satu langkah penting dalam menghadapi kondisi tersebut.

Pemerintah daerah perlu menyesuaikan penanganan dengan tingkat kekeringan di setiap kecamatan. Sementara itu, kelompok tani dapat berperan aktif dalam menyampaikan perkembangan kondisi sawah, kebutuhan pompa, dan kendala pengairan kepada petugas.

Dengan koordinasi yang baik, bantuan dapat menjangkau petani secara lebih tepat sasaran. Upaya tersebut juga membantu pemerintah menentukan kebutuhan penanganan lanjutan apabila kondisi cuaca belum menunjukkan perbaikan.

Pada akhirnya, keberhasilan menyelamatkan sawah yang masih bertahan bergantung pada ketersediaan air, kecepatan penanganan, serta kerja sama antara pemerintah dan petani.(*)

Berita Terkait

Tiga Besar Hasil Seleksi 5 Kepala OPD Sungai Penuh Diumumkan, Berikut Namanya
133 ASN Pemkab Tebo Pensiun hingga September 2026, Guru Paling Banyak
Hari Kesadaran Nasional, ASN Sungai Penuh Diingatkan soal Disiplin dan Pelayanan
Kejari Sungai Penuh Ikut Gerakan 3S, Alfin Dorong Kepedulian Sosial Meluas
4.363 Hektare Lahan Terbakar di Jambi, Batang Hari Catat Kebakaran Terluas
Wako Alfin Hadiri Pengukuhan DPC PKB Sungai Penuh 2026–2031
MTQH Jambi 2026, Merangin Bidik Tiga Besar dengan 62 Kafilah
Bukan Cuma Cek Bangunan! Aktivis Minta Proyek P3-TGAI Kerinci dan Sungai Penuh Diaudit APH Hingga BPK
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:01 WIB

194 Hektare Sawah di Batang Hari Gagal Panen, Kekeringan Ancam Ratusan Hektare Lainnya

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:58 WIB

Tiga Besar Hasil Seleksi 5 Kepala OPD Sungai Penuh Diumumkan, Berikut Namanya

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:31 WIB

133 ASN Pemkab Tebo Pensiun hingga September 2026, Guru Paling Banyak

Senin, 19 Oktober 2026 - 19:01 WIB

Hari Kesadaran Nasional, ASN Sungai Penuh Diingatkan soal Disiplin dan Pelayanan

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Kejari Sungai Penuh Ikut Gerakan 3S, Alfin Dorong Kepedulian Sosial Meluas

Berita Terbaru