KESEHATAN,JS- Stroke kini menjadi ancaman kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius, terutama karena penyakit ini juga menyerang masyarakat usia produktif. BPJS Kesehatan mencatat peningkatan jumlah kasus stroke dalam satu dekade terakhir sekaligus mendorong masyarakat untuk mengenali risiko penyakit sejak dini melalui layanan skrining kesehatan.
Data BPJS Kesehatan menunjukkan jumlah kasus stroke meningkat dari 1,47 juta kasus pada 2015 menjadi 9,56 juta kasus pada 2025. Angka tersebut menggambarkan besarnya tantangan dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit kronis di Indonesia.
Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, menegaskan bahwa stroke tidak lagi hanya menjadi persoalan kesehatan kelompok lanjut usia. Masyarakat usia produktif juga menghadapi risiko yang perlu mereka antisipasi melalui pemeriksaan kesehatan dan perubahan gaya hidup.
Selain berdampak terhadap kondisi fisik, stroke dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk bekerja, menjalankan aktivitas sehari-hari, dan memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan tanpa harus menunggu munculnya keluhan kesehatan.
Kasus Stroke pada Usia Muda Ikut Menjadi Perhatian
Peningkatan kasus stroke pada kelompok usia muda menjadi salah satu perhatian BPJS Kesehatan. Berdasarkan catatan yang disampaikan lembaga tersebut, peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berusia 26–30 tahun mengalami sekitar 38 ribu kasus stroke sepanjang 2025.
Dari jumlah tersebut, sekitar 53 persen merupakan laki-laki. Angka kasus pada kelompok usia yang sama juga menunjukkan kenaikan dalam tiga tahun terakhir, dari sekitar 26 ribu kasus pada 2023 menjadi 34 ribu kasus pada 2024, kemudian mencapai sekitar 38 ribu kasus pada 2025.
Rangkaian data tersebut memperlihatkan pentingnya upaya pencegahan sejak usia muda. Masyarakat tidak seharusnya mengabaikan pemeriksaan kesehatan hanya karena merasa masih kuat bekerja atau tidak mengalami keluhan tertentu.
Tekanan darah tinggi, diabetes, kadar kolesterol yang tidak terkendali, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, dan pola makan yang tidak seimbang dapat meningkatkan risiko stroke.
Sejumlah faktor tersebut juga dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala yang mudah dikenali pada tahap awal.
Oleh sebab itu, pemeriksaan berkala menjadi langkah penting untuk membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya. Dengan mengenali faktor risiko lebih awal, seseorang dapat berkonsultasi dengan tenaga medis dan mengambil langkah pencegahan sesuai kebutuhan.
Pembiayaan Stroke Melalui JKN Capai Rp37,47 Triliun
Di samping peningkatan kasus, biaya penanganan stroke juga menjadi perhatian dalam keberlanjutan layanan kesehatan nasional.
BPJS Kesehatan mencatat pembiayaan penyakit stroke melalui Program JKN mencapai Rp37,47 triliun sepanjang 2015–2025. Besarnya pembiayaan tersebut menunjukkan bahwa penanganan stroke membutuhkan perhatian dari sisi kesehatan masyarakat maupun pengelolaan pembiayaan pelayanan medis.
Stroke dapat membutuhkan pemeriksaan, perawatan rumah sakit, obat-obatan, rehabilitasi, hingga pemantauan kesehatan setelah pasien menjalani perawatan. Kebutuhan setiap pasien tentu berbeda, bergantung pada jenis stroke, tingkat keparahan, dan kondisi kesehatannya.
Dalam situasi tertentu, pasien juga memerlukan pendampingan keluarga untuk menjalani proses pemulihan. Dampak tersebut dapat memengaruhi aktivitas rumah tangga dan produktivitas anggota keluarga yang membantu perawatan.
Karena itu, pencegahan memiliki peran penting. Masyarakat perlu mengendalikan faktor risiko sebelum berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih serius.
Meski demikian, deteksi dini tidak menjamin seseorang terbebas sepenuhnya dari stroke, sehingga masyarakat tetap perlu menjaga kesehatan dan mengikuti saran tenaga medis.
Cara Peserta BPJS Kesehatan Melakukan Skrining Dini
Untuk membantu peserta mengenali risiko penyakit kronis, BPJS Kesehatan menyediakan Skrining Riwayat Kesehatan yang dapat peserta ikuti satu kali dalam setahun.
Layanan ini menyasar peserta JKN berusia 15 tahun ke atas. Peserta menjawab sejumlah pertanyaan mengenai gaya hidup, riwayat penyakit pribadi, serta riwayat kesehatan keluarga.
Proses skrining membutuhkan waktu sekitar 5–10 menit. Hasilnya dapat membantu peserta mengenali faktor risiko yang perlu mereka konsultasikan lebih lanjut dengan fasilitas kesehatan.
BPJS Kesehatan menyediakan beberapa jalur untuk mengakses layanan tersebut, yaitu:
- Aplikasi Mobile JKN, melalui layanan skrining riwayat kesehatan.
- WhatsApp PANDAWA, melalui nomor 08118165165.
- Situs resmi BPJS Kesehatan, di www.bpjs-kesehatan.go.id.
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), yaitu puskesmas, klinik, atau dokter praktik tempat peserta terdaftar, sesuai layanan yang tersedia.
Peserta sebaiknya mengisi informasi kesehatan secara jujur dan lengkap. Informasi mengenai kebiasaan sehari-hari serta riwayat penyakit dapat membantu proses penilaian risiko.
Namun, masyarakat perlu memahami bahwa skrining riwayat kesehatan bukan pemeriksaan yang dapat memastikan diagnosis stroke. Jika hasil skrining menunjukkan risiko tertentu, peserta perlu berkonsultasi dengan tenaga medis untuk menentukan pemeriksaan dan langkah penanganan berikutnya.
Prolanis Muda Menyasar Risiko Penyakit Kronis
Selain mendorong skrining, BPJS Kesehatan mengembangkan Program Prolanis Muda untuk merespons persoalan penyakit kronis, termasuk hipertensi dan diabetes melitus, pada masyarakat berusia di bawah 45 tahun.
Program berbasis komunitas ini bertujuan mendorong perubahan perilaku kesehatan secara berkelanjutan. Pendekatan tersebut penting karena pencegahan penyakit kronis tidak cukup mengandalkan pemeriksaan sesekali, tetapi juga membutuhkan kebiasaan sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui upaya pengendalian penyakit kronis, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya memantau kondisi tubuh, mengikuti anjuran tenaga medis, serta memperbaiki pola makan dan aktivitas fisik.
Di sisi lain, keluarga juga dapat berperan dengan membangun kebiasaan sehat bersama.
Misalnya, anggota keluarga dapat menyediakan makanan bergizi seimbang, membatasi konsumsi garam berlebihan, mengurangi kebiasaan merokok, dan meluangkan waktu untuk berolahraga.
Dengan demikian, upaya pencegahan tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga pada kesadaran setiap individu untuk menjaga kesehatannya.
Kenali Gejala Stroke dan Jangan Menunda ke Rumah Sakit
Masyarakat juga perlu mengenali gejala stroke karena kecepatan penanganan dapat memengaruhi peluang pemulihan pasien.
Kementerian Kesehatan mengenalkan pesan “SeGeRa Ke RS” untuk membantu masyarakat mengingat tanda-tanda stroke yang muncul secara mendadak.
Berikut tanda-tanda yang perlu mendapat perhatian:
- Se – Senyum tidak simetris: salah satu sisi wajah terlihat turun atau mencong.
- Ge – Gerak melemah: salah satu sisi tubuh, termasuk lengan atau kaki, mendadak melemah.
- Ra – Bicara pelo: seseorang tiba-tiba kesulitan berbicara atau mengucapkan kata-kata dengan jelas.
- Ke – Kebas: muncul rasa baal atau kesemutan mendadak pada salah satu sisi tubuh.
- R – Rabun: penglihatan mendadak kabur atau terganggu, terutama pada salah satu mata.
- S – Sakit kepala hebat: sakit kepala muncul mendadak dengan intensitas berat, terutama jika disertai gejala lain.
Jika seseorang mengalami gejala tersebut, keluarga harus segera membawanya ke rumah sakit atau menghubungi layanan kegawatdaruratan setempat.
Jangan menunggu gejala menghilang dan jangan mencoba mengobati sendiri tanpa arahan tenaga medis.
Masyarakat juga perlu mengingat waktu pertama kali gejala muncul. Informasi tersebut dapat membantu tenaga medis menentukan langkah pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Gejala yang menghilang setelah beberapa menit tetap memerlukan pemeriksaan segera karena bisa berkaitan dengan gangguan aliran darah sementara ke otak.
Kebiasaan Sehat Membantu Mengendalikan Risiko Stroke
Pencegahan stroke dapat dimulai melalui perubahan kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Kementerian Kesehatan menganjurkan masyarakat mengendalikan faktor risiko, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, kurang aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok.
Masyarakat dapat memulai langkah tersebut dengan memeriksa tekanan darah secara berkala serta memantau gula darah dan kolesterol sesuai kebutuhan medis.
Selanjutnya, lakukan aktivitas fisik secara rutin.
Berjalan kaki, bersepeda, atau melakukan olahraga sesuai kemampuan dapat membantu menjaga kebugaran dan kesehatan jantung.
Pola makan juga perlu mendapat perhatian. Perbanyak konsumsi sayur, buah, dan makanan bergizi seimbang. Sebaliknya, batasi garam, gula, serta makanan tinggi lemak jenuh sesuai kebutuhan kesehatan.
Selain itu, hindari rokok dan paparan asap rokok. Pastikan pula tubuh memperoleh istirahat yang cukup dan kelola stres dengan cara yang sehat.
Bagi masyarakat yang sudah memiliki hipertensi, diabetes, atau gangguan kesehatan lainnya, konsultasi rutin dengan tenaga medis menjadi bagian penting dari pencegahan komplikasi. Jangan menghentikan atau mengubah penggunaan obat tanpa arahan dokter.
BPJS Ajak Masyarakat Lebih Peduli terhadap Kesehatan
BPJS Kesehatan menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah, fasilitas kesehatan, tenaga medis, dan masyarakat untuk mengendalikan risiko penyakit kronis.
Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, juga mengingatkan bahwa keberlanjutan Program JKN bertumpu pada prinsip gotong royong. Melalui mekanisme tersebut, iuran peserta mendukung pembiayaan pelayanan kesehatan bagi peserta yang membutuhkan.
Karena itu, pemanfaatan layanan pencegahan dan skrining menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan peserta untuk lebih memahami kondisi kesehatannya.
Pada akhirnya, meningkatnya kasus stroke pada usia produktif menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan perlu dimulai sejak dini. Masyarakat tidak harus menunggu munculnya gejala untuk memeriksa tekanan darah, mengevaluasi pola hidup, dan berkonsultasi dengan tenaga medis.
Dengan pemeriksaan rutin, pengendalian faktor risiko, serta penanganan cepat ketika gejala muncul, masyarakat dapat mengambil langkah yang lebih baik untuk melindungi kesehatan diri dan keluarga.(*)










