1.521 Titik Panas Terdeteksi di Tanjab Barat, Batang Asam Paling Parah dengan 493,5 Hektare Lahan Terbakar

- Jurnalis

Kamis, 29 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

TANJABBAR,JS- Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, masih menjadi perhatian serius. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat 1.521 titik panas atau hotspot sepanjang Januari hingga 26 Oktober 2026.

Dari seluruh wilayah kecamatan, Batang Asam mencatat angka tertinggi, baik dari jumlah titik panas, luas lahan terbakar, maupun frekuensi kejadian karhutla.

Data tersebut menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan masih menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah dalam menjaga lingkungan, melindungi permukiman, serta mengantisipasi dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat.

Selain mendeteksi ribuan titik panas melalui pemantauan satelit, BPBD Tanjung Jabung Barat juga mencatat total luas lahan terbakar mencapai 709,35 hektare. Sepanjang periode yang sama, petugas menangani 860 kejadian kebakaran hutan dan lahan di berbagai kecamatan.

Besarnya angka tersebut memperlihatkan perlunya kewaspadaan berkelanjutan, terutama di wilayah yang berulang kali mengalami kebakaran.

Baca Juga :  Prabowo Kucurkan Rp125 Miliar untuk Karhutla Jambi, Ini Rincian Daerah Penerima

Batang Asam Catat 716 Titik Panas

Berdasarkan hasil pemantauan satelit Terra-Aqua, SNPP, dan NOAA-20, Kecamatan Batang Asam menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

BPBD mencatat 716 titik panas di kecamatan tersebut selama periode Januari hingga 26 Oktober 2026. Jumlah itu hampir mencapai separuh dari keseluruhan hotspot yang terdeteksi di kabupaten tersebut.
Kecamatan Betara menempati posisi berikutnya dengan 365 titik panas. Setelah itu, Bram Itam mencatat 239 titik dan Renah Mendaluh sebanyak 191 titik.

Sementara itu, kecamatan lain menunjukkan jumlah yang lebih rendah. Pengabuan mencatat 24 titik panas, Senyerang 15 titik, dan Merlung empat titik. Kuala Betara serta Tungkal Ilir masing-masing mencatat satu titik panas.

Sebaran tersebut menunjukkan bahwa ancaman karhutla tidak hanya terkonsentrasi di satu kawasan. Meski demikian, tingginya angka di Batang Asam dan sejumlah kecamatan lainnya perlu mendapat perhatian khusus dalam strategi pencegahan.
Pemantauan satelit membantu petugas mengenali indikasi panas di permukaan bumi.

Namun, petugas tetap perlu memeriksa kondisi lapangan untuk memastikan sumber panas, mengetahui keberadaan api, serta menentukan langkah penanganan yang tepat.

Luas Lahan Terbakar Mencapai 709,35 Hektare
Di tengah tingginya temuan hotspot, BPBD Tanjung Jabung Barat mencatat kebakaran telah menghanguskan lahan seluas 709,35 hektare hingga 26 Oktober 2026.

Batang Asam kembali menempati urutan teratas dengan luas lahan terbakar mencapai 493,5 hektare. Angka ini menunjukkan besarnya dampak kebakaran di kecamatan tersebut dibandingkan wilayah lain.

Renah Mendaluh menyusul dengan luas kebakaran 151,95 hektare. Selanjutnya, Betara mencatat 20,85 hektare dan Bram Itam mencapai 20,25 hektare.

Adapun Tebing Tinggi mencatat tujuh hektare lahan terbakar, sedangkan Senyerang mencapai enam hektare.

BPBD juga menemukan kebakaran di sejumlah kecamatan lain. Pengabuan mencatat tiga hektare, Kuala Betara 3,2 hektare, dan Merlung 1,6 hektare. Sementara itu, Tungkal Ulu dan Muara Papalik masing-masing mencatat satu hektare lahan terbakar.
Data tersebut memperlihatkan perbedaan tingkat dampak karhutla antarkecamatan.

Batang Asam dan Renah Mendaluh menjadi dua wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih besar karena luas lahan terbakar di kedua kawasan itu jauh melampaui sejumlah kecamatan lainnya.

Oleh karena itu, upaya pencegahan perlu mempertimbangkan riwayat kebakaran, kondisi lahan, serta potensi munculnya titik api baru di setiap wilayah.

BPBD Mencatat 860 Kejadian Karhutla

Selain jumlah titik panas dan luas lahan terbakar, frekuensi kejadian juga menjadi indikator penting dalam menggambarkan ancaman karhutla di Tanjung Jabung Barat.

BPBD mencatat 860 kejadian kebakaran hutan dan lahan sepanjang Januari hingga 26 Oktober 2026. Batang Asam menyumbang jumlah terbesar dengan 570 kejadian.
Renah Mendaluh berada di urutan kedua dengan 244 kejadian. Sementara itu, Betara mencatat 14 kejadian dan Senyerang sembilan kejadian.

Bram Itam serta Merlung masing-masing mencatat enam kejadian. Tebing Tinggi menyusul dengan empat kejadian, sedangkan Pengabuan, Kuala Betara, dan Muara Papalik masing-masing mencatat dua kejadian. Tungkal Ulu mencatat satu kejadian.

Tingginya frekuensi kebakaran di Batang Asam dan Renah Mendaluh menunjukkan pentingnya pengawasan yang konsisten. Petugas tidak hanya perlu merespons ketika api muncul, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan agar kebakaran tidak terus berulang.

Selain itu, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan rawan perlu memahami tanda-tanda awal kebakaran dan mengetahui cara melaporkan kemunculan asap atau api kepada petugas.

Satgas Perketat Pemantauan di Wilayah Rawan
Perwakilan tim Satuan Tugas BPBD Tanjung Jabung Barat menegaskan bahwa Batang Asam menjadi wilayah dengan jumlah hotspot dan luas kebakaran terbesar di kabupaten tersebut.

“Kecamatan Batang Asam memang menjadi wilayah dengan jumlah hotspot dan luas kebakaran terbesar di Tanjab Barat,” tutur perwakilan tim Satgas BPBD Tanjung Jabung Barat pada Rabu, 28 Oktober 2026.

Menghadapi potensi kebakaran yang masih mengancam, BPBD terus menyiagakan personel dan memperketat pemantauan lapangan. Langkah tersebut bertujuan mengantisipasi kemunculan titik api baru sekaligus mempercepat penanganan apabila petugas menemukan kebakaran.

Pemantauan secara berkala juga membantu petugas menentukan wilayah yang membutuhkan perhatian lebih besar. Dengan menggabungkan informasi satelit dan pemeriksaan langsung, tim dapat mengenali indikasi kebakaran serta menyesuaikan langkah penanganan dengan kondisi di lapangan.

Di sisi lain, keterlibatan masyarakat turut berperan penting dalam menekan risiko karhutla. Warga dapat membantu dengan segera melaporkan kemunculan asap atau api, menghindari pembakaran lahan, dan tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan di area yang mudah terbakar.

Karhutla Berpotensi Mengganggu Kesehatan dan Aktivitas Warga

Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan. Asap dari kebakaran juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.

Ketika kebakaran meluas, asap dapat mengurangi jarak pandang dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi kegiatan transportasi, pendidikan, dan pekerjaan masyarakat, bergantung pada tingkat penyebaran asap.

Selain dampak kesehatan, kebakaran dapat merusak vegetasi dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Jika api menjalar ke lahan produktif, masyarakat juga berisiko menghadapi kerugian ekonomi akibat kerusakan tanaman maupun lahan usaha.

Karena itu, pencegahan karhutla perlu menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah daerah, petugas lapangan, pelaku usaha, dan masyarakat perlu memperkuat koordinasi agar risiko kebakaran dapat ditekan sejak dini.

Warga juga perlu menghindari tindakan yang berpotensi memicu api, khususnya ketika kondisi lingkungan mendukung penyebaran kebakaran. Jika menemukan titik api, masyarakat sebaiknya segera menghubungi petugas dan tidak memaksakan diri melakukan pemadaman apabila situasinya membahayakan keselamatan.

Batang Asam dan Renah Mendaluh Perlu Perhatian Khusus

Rekapitulasi BPBD hingga 26 Oktober 2026 menempatkan Batang Asam sebagai wilayah dengan beban karhutla tertinggi di Tanjung Jabung Barat. Kecamatan tersebut mencatat 716 titik panas, 493,5 hektare lahan terbakar, dan 570 kejadian kebakaran.

Sementara itu, Renah Mendaluh mencatat 191 titik panas, luas kebakaran 151,95 hektare, dan 244 kejadian. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kedua kecamatan memiliki kontribusi besar terhadap keseluruhan catatan karhutla di kabupaten tersebut.

Dengan total 1.521 titik panas, 709,35 hektare lahan terbakar, dan 860 kejadian kebakaran, pemerintah daerah menghadapi pekerjaan besar untuk menekan risiko karhutla.

BPBD terus memperkuat kesiapsiagaan personel dan pemantauan wilayah. Ke depan, konsistensi pencegahan, kecepatan pelaporan masyarakat, serta koordinasi antarpihak menjadi faktor penting untuk mengurangi kemunculan titik api baru dan membatasi dampak kebakaran terhadap lingkungan maupun kehidupan warga Tanjung Jabung Barat.(*)

Berita Terkait

Pilkades Sarolangun 29 Oktober 2026: Bupati Hurmin Peringatkan Panitia, Ini Aturan yang Harus Dipatuhi
Harga Cabai Merah Keriting dan Cabe Rawit di Kerinci dan Sungai Penuh Semakin Pedas
BKPSDM Sungai Penuh Buka Pengusulan Pencantuman Gelar PNS dan PPPK, Ini Syarat Lengkapnya
BKPSDM Sungai Penuh Raih Penghargaan Muzakki Teladan, Alfin Apresiasi ASN yang Bayar Zakat
Tol Jambi–Bayung Lencir Disiapkan Jadi Pusat Ekonomi Baru, Al Haris Bidik Investasi dan Lapangan Kerja di Muaro Jambi
Wako Alfin Pimpin Upacara Sumpah Pemuda ke-98, Tegaskan ASN Sungai Penuh Jangan Jadikan Efisiensi Alasan untuk Malas
Prabowo Kucurkan Rp125 Miliar untuk Karhutla Jambi, Ini Rincian Daerah Penerima
Jelang MTQH ke-55 Provinsi Jambi, Kerinci Matangkan Persiapan 38 Peserta
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 20:01 WIB

1.521 Titik Panas Terdeteksi di Tanjab Barat, Batang Asam Paling Parah dengan 493,5 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15:31 WIB

Pilkades Sarolangun 29 Oktober 2026: Bupati Hurmin Peringatkan Panitia, Ini Aturan yang Harus Dipatuhi

Kamis, 29 Oktober 2026 - 12:31 WIB

Harga Cabai Merah Keriting dan Cabe Rawit di Kerinci dan Sungai Penuh Semakin Pedas

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:40 WIB

BKPSDM Sungai Penuh Buka Pengusulan Pencantuman Gelar PNS dan PPPK, Ini Syarat Lengkapnya

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:01 WIB

BKPSDM Sungai Penuh Raih Penghargaan Muzakki Teladan, Alfin Apresiasi ASN yang Bayar Zakat

Berita Terbaru