Pokir DPRD Kerinci: Kepentingan Dapil atau Kepentingan Pribadi?

- Jurnalis

Minggu, 4 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kantor DPRD Kerinci di Bukit Tengah, doc saat masih pengerjaan.

Kantor DPRD Kerinci di Bukit Tengah, doc saat masih pengerjaan.

KERINCI,JS— Proses pengajuan Pokok Pikiran (Pokir) oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kerinci kembali memicu perdebatan. Meskipun Pokir dirancang untuk mengakomodasi aspirasi rakyat dan mendorong pemerataan pembangunan, beberapa pihak menilai bahwa kepentingan pribadi anggota DPRD seringkali lebih dominan daripada kepentingan masyarakat umum.

Pokir adalah salah satu mekanisme penting dalam penyusunan program pembangunan daerah. Melalui sistem ini, anggota DPRD diharapkan bisa memperjuangkan kebutuhan dasar yang muncul di daerah pemilihannya (Dapil). Namun, belakangan ini, muncul pertanyaan mengenai apakah usulan-usulan yang disampaikan benar-benar mewakili kebutuhan masyarakat atau hanya menguntungkan segelintir pihak.

Baca Juga :  Bupati dan Wabup Kerinci Gelar Program Bunga Desa di Masgo

Pokir: Tujuan dan Proses Pengajuan

Pokir menjadi sarana penting untuk menyalurkan aspirasi masyarakat dalam bentuk usulan program pembangunan. Setiap tahun, anggota DPRD mengadakan pertemuan dengan masyarakat melalui musyawarah dan forum aspirasi untuk menyerap berbagai kebutuhan dan usulan. Masyarakat biasanya mengajukan permintaan terkait infrastruktur, fasilitas umum, serta layanan sosial seperti pendidikan dan kesehatan. Anggota DPRD kemudian mengajukan usulan tersebut dalam bentuk Pokir yang akan dipertimbangkan oleh pemerintah daerah.

“Pokir seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun, kami sering melihat usulan yang lebih menguntungkan segelintir pihak ketimbang banyak orang,” ujar Romi salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Baca Juga :  Proyek Irigasi WIKA di Muara Jaya Sungai Penuh Tuai Sorotan

Kepentingan Dapil vs. Kepentingan Pribadi: Apa yang Terjadi di Lapangan?

Salah satu isu utama yang muncul dalam penerapan Pokir adalah kesenjangan antara kepentingan Dapil dengan kepentingan pribadi anggota DPRD. Banyak yang menilai bahwa sebagian besar proyek yang diajukan tidak berdasarkan kebutuhan riil masyarakat, tetapi lebih mengarah pada keuntungan kelompok atau individu tertentu yang memiliki kedekatan dengan anggota dewan.

Proyek pembangunan infrastruktur, misalnya, kadang lebih sering menguntungkan pengusaha atau kontraktor yang memiliki hubungan erat dengan anggota DPRD. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah Pokir benar-benar didorong oleh kebutuhan rakyat atau sekadar untuk memperkuat posisi politis dan ekonomi pihak-pihak tertentu.

“Ada beberapa proyek yang tidak seharusnya diprioritaskan, namun tetap mendapat anggaran karena ada pihak yang dekat dengan anggota dewan. Ini tentu merugikan masyarakat luas,” kata seorang aktivis sosial Kerinci yang lebih memilih untuk tidak disebutkan namanya.

Transparansi yang Kurang: Tantangan Besar Pokir

Masalah lain yang muncul adalah kurangnya transparansi dalam pengelolaan Pokir. Banyak warga yang merasa tidak mendapatkan informasi yang jelas mengenai usulan yang diajukan dan bagaimana proyek tersebut dijalankan. Transparansi menjadi kunci agar masyarakat bisa mengawasi dan memastikan bahwa Pokir memang diarahkan untuk kepentingan umum, bukan untuk kepentingan pribadi anggota DPRD.

“Proses Pokir seharusnya terbuka agar masyarakat tahu proyek mana yang benar-benar bermanfaat. Namun, informasi yang kami dapat sering kali minim, sehingga membuat kami kesulitan untuk mengawasi jalannya pembangunan,” ujar seorang tokoh masyarakat.

Transparansi yang rendah ini berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga legislatif. Jika Pokir terus dikelola tanpa pengawasan yang memadai, maka tujuan awal sistem ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat akan sulit tercapai.

Harapan Masyarakat untuk DPRD Kerinci

Melihat berbagai masalah yang muncul, masyarakat Kerinci berharap agar DPRD dapat mengevaluasi dan memperbaiki sistem Pokir. DPRD perlu memastikan bahwa setiap usulan yang disampaikan benar-benar mencerminkan kebutuhan rakyat. Proyek-proyek yang diusulkan harus berdasarkan skala prioritas yang nyata, bukan sekadar untuk memenuhi kepentingan pribadi atau golongan tertentu.

“Kami menginginkan agar Pokir benar-benar digunakan untuk pembangunan yang merata, bukan hanya untuk kepentingan sekelompok orang. Kami ingin melihat proyek yang benar-benar berdampak positif untuk masyarakat,” kata Jul, salah seorang aktivis dari LSM Kerinci.

Agar Pokir lebih efektif, dibutuhkan pengawasan yang lebih ketat dari pihak eksekutif dan masyarakat. Masyarakat juga berharap agar DPRD terus berkomitmen untuk menjadikan sistem ini lebih transparan dan akuntabel. Dengan begitu, Pokir bisa menjadi instrumen yang membawa kemajuan nyata bagi Kabupaten Kerinci.(AN)

Berita Terkait

Bangunan Milik Warga Tanjung Pauh Hilir Dilalap Sijago Merah, Usaha Pemadaman Masih Dilakukan
Sri Kartini Alfin Bekali 20 Finalis Bujang Gadis Sungai Penuh 2026, Kenalkan Program 3S dan Peran Generasi Muda
PPPK Paruh Waktu Sungai Penuh Diminta Segera Ajukan Perpanjangan Kontrak, Berikut Format Dokumen yang Harus Disiapkan
Peringatan Hari Pancasila, Pemkot Sungai Penuh Berikan Bantuan Alsintan hingga Program Kopi 400 Hektare ke Petani
Sewa Aset Pemkot Tunggak Dua Tahun, Bank Jambi Sungai Penuh Baru Melunasi Setelah Jadi Temuan BPK
DPRD Sungai Penuh Setujui Perubahan APBD 2026, Alfin Minta OPD Percepat Program
Dua Nelayan Tanjab Barat Hilang Saat Melaut, Ditemukan Selamat Setelah Dicari hingga 46 Mil
Ternyata! Bimtek BPD SE Kota Sungai Penuh di Jambi Telan Rp1,46 Miliar, SPPD hingga Biaya Hotel Jadi Dipertanyakan
Berita ini 38 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:16 WIB

Bangunan Milik Warga Tanjung Pauh Hilir Dilalap Sijago Merah, Usaha Pemadaman Masih Dilakukan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 15:01 WIB

Sri Kartini Alfin Bekali 20 Finalis Bujang Gadis Sungai Penuh 2026, Kenalkan Program 3S dan Peran Generasi Muda

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:15 WIB

Peringatan Hari Pancasila, Pemkot Sungai Penuh Berikan Bantuan Alsintan hingga Program Kopi 400 Hektare ke Petani

Kamis, 1 Oktober 2026 - 08:01 WIB

Sewa Aset Pemkot Tunggak Dua Tahun, Bank Jambi Sungai Penuh Baru Melunasi Setelah Jadi Temuan BPK

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:10 WIB

DPRD Sungai Penuh Setujui Perubahan APBD 2026, Alfin Minta OPD Percepat Program

Berita Terbaru