MERANGIN,JS- Kondisi darurat sampah di Kota Bangko, Kabupaten Merangin, hingga kini belum menunjukkan perubahan signifikan. Tumpukan sampah masih terlihat di sejumlah Tempat Pembuangan Sampah (TPS), bahkan mengeluarkan bau busuk yang menyengat dan mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.
Pemerintah Kabupaten Merangin melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus berupaya mengatasi persoalan tersebut.
Masalah sampah kini menjadi perhatian serius masyarakat. Selain mengganggu kebersihan kota, kondisi ini juga memicu kekhawatiran terhadap kesehatan lingkungan dan pencemaran udara.
TPS di Bangko Dipenuhi Tumpukan Sampah
Pantauan di sejumlah titik TPS di Kota Bangko menunjukkan volume sampah terus meningkat setiap hari. Armada pengangkut sampah terlihat bekerja sejak pagi hingga malam, tetapi kapasitas pengangkutan belum sebanding dengan jumlah sampah yang masuk.
Akibatnya, sampah menumpuk dan mengeluarkan aroma tidak sedap. Kondisi tersebut semakin parah saat cuaca panas karena bau menyebar hingga ke permukiman warga.
Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar persoalan sampah tidak semakin memburuk. Pasalnya, kondisi darurat sampah dapat mempengaruhi kualitas lingkungan dan citra kota.
DLH Merangin: Semua OPD Harus Ikut Menangani Sampah
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Merangin, Syafrani atau yang akrab disapa Bang Kanceng, menegaskan bahwa penanganan sampah bukan hanya tanggung jawab DLH semata.
Menurutnya, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Merangin juga memiliki tanggung jawab tambahan dalam menangani kondisi darurat sampah.
“Satgas sampah sudah melibatkan banyak instansi. Darurat sampah bukan hanya persoalan DLH. Semua OPD punya tanggung jawab untuk ikut menangani persoalan ini,” ujar Bang Kanceng, Jumat (29/5/2026).
Ia menjelaskan, kolaborasi lintas instansi menjadi langkah penting agar penanganan sampah berjalan lebih efektif dan cepat.
Selain itu, pemerintah daerah juga terus mencari solusi jangka panjang untuk mengurangi penumpukan sampah di TPS.
DLH Usulkan Excavator Penjepit untuk Angkut Sampah
Dalam upaya mempercepat proses pengangkutan sampah, DLH Merangin mengusulkan pengadaan satu unit alat berat jenis excavator penjepit.
Bang Kanceng menilai alat tersebut dapat mempercepat proses pemindahan sampah dari TPS ke armada pengangkut seperti dump truck.
“Secara lisan saya sudah menyampaikan kepada Bupati agar menganggarkan satu unit excavator penjepit. Alat itu sangat membantu proses pengangkutan sampah dari TPS ke armada pengangkut,” katanya.
Ia optimistis penggunaan alat berat modern dapat mengurangi penumpukan sampah yang selama ini terjadi di berbagai TPS di Kota Bangko.
Menurutnya, proses pengangkutan saat ini masih mengandalkan tenaga manual sehingga membutuhkan waktu lebih lama.
Jika usulan tersebut direalisasikan, DLH yakin penanganan sampah akan berjalan lebih efektif dan efisien.
Petugas Kebersihan Keluhkan Gaji Rp1,2 Juta
Di tengah kondisi darurat sampah yang belum teratasi, petugas kebersihan di lapangan juga menyampaikan keluhan terkait kesejahteraan mereka.
Salah seorang petugas kebersihan yang sedang mengangkut sampah mengaku berharap pemerintah segera merealisasikan usulan pengadaan excavator penjepit.
Menurutnya, alat tersebut akan sangat membantu pekerjaan mereka yang selama ini harus mengangkat sampah secara manual setiap hari.
“Kalau usulan kepala dinas kami direalisasikan, saya yakin sampah di TPS tidak akan menumpuk seperti sekarang,” ujarnya.
Selain persoalan alat kerja, petugas kebersihan juga meminta perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan mereka.
Ia mengungkapkan bahwa petugas kebersihan bekerja tanpa mengenal hari libur, tetapi hanya menerima gaji sekitar Rp1,2 juta per bulan.
“Kami bekerja setiap hari, bahkan saat hari libur tetap turun mengangkut sampah. Tapi gaji yang kami terima hanya sekitar Rp1,2 juta per bulan,” katanya.
Keluhan tersebut langsung menjadi sorotan masyarakat karena dinilai tidak sebanding dengan beban kerja dan risiko kesehatan yang dihadapi petugas kebersihan setiap hari.
Masalah Sampah Jadi Ancaman Lingkungan dan Kesehatan
Persoalan sampah bukan hanya berkaitan dengan kebersihan kota. Tumpukan sampah yang tidak tertangani dengan baik juga dapat memicu berbagai masalah kesehatan dan lingkungan.
Sampah organik yang menumpuk berpotensi menghasilkan bakteri, lalat, hingga pencemaran udara akibat bau menyengat.
Selain itu, saluran drainase yang tersumbat sampah juga dapat menyebabkan banjir saat musim hujan.
Karena itu, pemerintah daerah membutuhkan langkah cepat dan terukur agar kondisi darurat sampah tidak semakin parah.
Peningkatan armada pengangkut, penambahan alat berat, hingga edukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah dinilai menjadi solusi penting dalam jangka panjang.
Masyarakat Harap Penanganan Sampah Lebih Serius
Warga Kota Bangko berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata untuk mengatasi persoalan sampah yang terus berulang.
Masyarakat juga meminta adanya pengawasan terhadap jadwal pengangkutan sampah agar TPS tidak lagi dipenuhi tumpukan sampah selama berhari-hari.
Selain itu, warga berharap kesejahteraan petugas kebersihan turut menjadi perhatian pemerintah daerah.
Pasalnya, petugas kebersihan menjadi garda terdepan dalam menjaga kebersihan kota setiap hari.
Dengan dukungan fasilitas yang memadai dan kesejahteraan yang lebih baik, proses penanganan sampah diharapkan dapat berjalan lebih maksimal.
Upaya Penanganan Sampah Perlu Dukungan Semua Pihak
Persoalan sampah tidak dapat diselesaikan pemerintah sendiri. Kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya juga menjadi faktor penting dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Selain itu, pengurangan penggunaan sampah plastik dan penerapan pola hidup bersih dapat membantu mengurangi volume sampah harian di Kota Bangko.
Kolaborasi antara pemerintah, petugas kebersihan, dan masyarakat menjadi kunci utama agar status darurat sampah di Bangko segera berakhir.
FAQ
Mengapa Kota Bangko masih darurat sampah?
Karena volume sampah terus meningkat sementara proses pengangkutan belum berjalan maksimal sehingga sampah menumpuk di TPS.
Apa solusi yang diusulkan DLH Merangin?
DLH Merangin mengusulkan pengadaan excavator penjepit untuk mempercepat pemindahan sampah dari TPS ke armada pengangkut.
Berapa gaji petugas kebersihan di Bangko?
Salah satu petugas mengaku hanya menerima gaji sekitar Rp1,2 juta per bulan meski bekerja setiap hari tanpa libur.
Apa dampak sampah menumpuk bagi masyarakat?
Tumpukan sampah dapat menimbulkan bau busuk, pencemaran lingkungan, penyakit, hingga memicu banjir akibat saluran tersumbat.
Siapa yang bertanggung jawab menangani sampah?
DLH Merangin menegaskan seluruh OPD dan masyarakat harus ikut terlibat dalam penanganan darurat sampah.
Kesimpulan
Darurat sampah di Kota Bangko masih menjadi pekerjaan besar bagi Pemerintah Kabupaten Merangin. Penumpukan sampah di TPS menunjukkan sistem pengangkutan masih membutuhkan pembenahan serius.
Usulan pengadaan excavator penjepit dari DLH Merangin menjadi salah satu solusi yang dinilai mampu mempercepat proses pengangkutan sampah.
Di sisi lain, perhatian terhadap kesejahteraan petugas kebersihan juga menjadi hal penting karena mereka bekerja di garis depan menjaga kebersihan kota setiap hari.
Kolaborasi pemerintah, OPD, petugas kebersihan, dan masyarakat menjadi kunci utama agar persoalan sampah di Bangko dapat segera teratasi.(*)









