Kenaikan Harga Pertamax Picu Kekhawatiran Baru, Daya Beli Kelas Menengah Tertekan

- Jurnalis

Minggu, 14 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA,JS- Kenaikan harga Pertamax hingga 32 persen dalam beberapa waktu terakhir memunculkan berbagai reaksi dari masyarakat. Meski harga jual BBM non subsidi tersebut sudah mengalami penyesuaian signifikan, kalangan ekonom menilai harga yang berlaku saat ini masih belum mencerminkan harga keekonomian sebenarnya.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengungkapkan bahwa harga Pertamax saat ini masih berada cukup jauh di bawah nilai ekonomis yang seharusnya berlaku di pasar. Kondisi tersebut membuat Pertamina masih harus menanggung selisih harga yang tidak sedikit setiap liter bahan bakar yang dijual kepada konsumen.

Harga Pertamax Masih di Bawah Harga Keekonomian

Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development INDEF, Abra Talattov, menjelaskan bahwa harga keekonomian Pertamax saat ini berada pada kisaran Rp20.000 hingga Rp21.000 per liter.

Sementara itu, harga jual Pertamax yang berlaku saat ini berada di level Rp16.250 per liter. Artinya, masih terdapat selisih sekitar Rp3.570 per liter yang harus ditanggung oleh Pertamina.

Menurut Abra, kenaikan harga yang sudah dilakukan memang berhasil memperkecil kesenjangan antara harga pasar dan harga jual kepada konsumen. Namun demikian, beban yang ditanggung perusahaan energi pelat merah tersebut masih tergolong besar.

Baca Juga :  BBM E5 Mulai Berlaku Juli 2026, Amankah Buat Kendaraan Kita?

Sebelum penyesuaian harga berlangsung, Pertamax dijual pada kisaran Rp12.300 per liter. Pada saat itu, selisih antara harga keekonomian dan harga jual bahkan mencapai sekitar Rp7.700 per liter.

Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan Pertamina dalam mempertahankan kebijakan harga yang masih berada di bawah harga pasar dalam jangka panjang.

Mengapa Harga Pertamax Belum Mengikuti Harga Pasar?

Harga BBM non subsidi sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor global. Pergerakan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, biaya distribusi, serta kondisi pasar energi internasional menjadi faktor utama yang menentukan harga akhir bahan bakar.

Dalam beberapa bulan terakhir, pasar energi global mengalami tekanan akibat ketidakpastian ekonomi dunia dan fluktuasi harga minyak mentah. Kondisi tersebut membuat biaya pengadaan BBM ikut meningkat.

Meski demikian, pemerintah dan Pertamina masih berupaya menjaga stabilitas harga agar tidak memberikan tekanan berlebihan kepada masyarakat.

Karena itu, harga Pertamax saat ini masih berada di bawah harga keekonomian yang sebenarnya.

Dampak Kenaikan Pertamax terhadap Inflasi

Di sisi lain, INDEF menilai kenaikan harga Pertamax belum memberikan dampak besar terhadap inflasi nasional.

Pertamax berbeda dengan Pertalite maupun Solar yang digunakan secara luas oleh masyarakat dan sektor produktif. Penggunaan Pertamax umumnya berasal dari kelompok kendaraan pribadi kelas menengah hingga atas.

Karena itu, kenaikan harga Pertamax tidak langsung memengaruhi biaya produksi barang maupun distribusi logistik secara luas.

Data inflasi sektor transportasi hingga Mei 2026 tercatat sekitar 0,28 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa dampak kenaikan Pertamax terhadap inflasi nasional masih relatif terbatas.

Sebaliknya, apabila terjadi kenaikan harga Pertalite atau Solar, efeknya berpotensi jauh lebih besar karena kedua jenis BBM tersebut menjadi tulang punggung aktivitas transportasi dan distribusi barang di Indonesia.

Kelas Menengah Menjadi Kelompok yang Paling Terdampak

Meskipun dampaknya terhadap inflasi tidak terlalu besar, kenaikan harga Pertamax tetap memberikan tekanan terhadap kelompok masyarakat kelas menengah.

Pengeluaran untuk bahan bakar kendaraan menjadi lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Akibatnya, sebagian masyarakat harus menyesuaikan alokasi anggaran rumah tangga mereka.

Baca Juga :  Penyalahgunaan BBM Subsidi Menggila, BPH Migas Siapkan QR Code Dinamis untuk Tutup Celah Mafia Solar

Kondisi tersebut dapat mengurangi belanja untuk kebutuhan lain seperti hiburan, rekreasi, elektronik, hingga konsumsi produk sekunder.

Apabila kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, sektor konsumsi rumah tangga berpotensi mengalami perlambatan. Padahal konsumsi domestik selama ini menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pemerintah Sebut Harga Pertamax Masih Lebih Murah dari Negara Tetangga

Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa harga Pertamax saat ini masih tergolong lebih rendah dibandingkan harga BBM dengan kualitas setara di sejumlah negara kawasan Asia Tenggara.

Menurut Kementerian ESDM, harga bahan bakar dengan spesifikasi setara RON 92 di beberapa negara tetangga berada pada kisaran Rp20.000 hingga Rp21.000 per liter.

Jika dibandingkan dengan harga tersebut, Pertamax yang dijual Rp16.250 per liter masih jauh lebih murah.

Pemerintah menilai kebijakan penyesuaian harga yang dilakukan saat ini merupakan langkah untuk mendekatkan harga jual dengan kondisi pasar yang sesungguhnya tanpa memberikan guncangan besar kepada masyarakat.

Tantangan Besar Pertamina di Tengah Fluktuasi Harga Energi Global

Ke depan, tantangan yang dihadapi Pertamina diperkirakan semakin kompleks. Perusahaan harus menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis, stabilitas pasokan energi nasional, dan kemampuan daya beli masyarakat.

Jika harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan signifikan, tekanan terhadap biaya pengadaan BBM juga akan meningkat.

Dalam situasi seperti itu, pemerintah dan Pertamina perlu mencari formula terbaik agar kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi tanpa mengganggu kesehatan keuangan perusahaan.

Kesimpulan

Kenaikan harga Pertamax hingga 32 persen memang berhasil memperkecil selisih antara harga jual dan harga keekonomian. Namun, harga Pertamax saat ini masih berada jauh di bawah nilai ekonomis yang diperkirakan mencapai Rp20.000 hingga Rp21.000 per liter.

Pertamina masih menanggung selisih sekitar Rp3.570 per liter, meskipun beban tersebut jauh lebih rendah dibandingkan sebelum kenaikan harga dilakukan.

Di sisi lain, dampak terhadap inflasi nasional relatif kecil. Namun kenaikan harga BBM non subsidi ini tetap memberikan tekanan terhadap daya beli kelompok kelas menengah yang menjadi pengguna utama Pertamax.

Perkembangan harga minyak dunia, kebijakan energi nasional, dan kondisi ekonomi global akan menjadi faktor penting yang menentukan arah harga BBM Indonesia pada periode berikutnya.(*)

Berita Terkait

Data Bansos Tidak Sesuai? Begini Cara Cek Desil DTSEN dan Ajukan Pemutakhiran
Harga BBM Terbaru 16 September 2026: Pertamax Turbo dan Dexlite Naik, Ini Daftar Harga Pertamina, BP, Shell, dan Vivo
Geger OTT KPK! 17 Orang dan 20 Kardus dan Koper Diamankan
BMKG Ingatkan Kekeringan September 2026, 81 Persen Wilayah Indonesia Sudah Masuk Musim Kemarau
Harga BBM Terbaru 13 September 2026: Pertamax Green, Turbo, Dexlite hingga Shell Diesel Naik
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Dibayar Negara Selama 2 Tahun, Berapa Besarannya?
Hampir 1 Juta Guru PPPK Dapat Peluang Ikut Seleksi CPNS 2027, Ini Syarat dan Mekanismenya
Pemerintah Siapkan Rekening Gratis untuk Warga, Ada Saldo Awal Rp50 Ribu-Rp80 Ribu
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 07:52 WIB

Data Bansos Tidak Sesuai? Begini Cara Cek Desil DTSEN dan Ajukan Pemutakhiran

Rabu, 16 September 2026 - 12:04 WIB

Harga BBM Terbaru 16 September 2026: Pertamax Turbo dan Dexlite Naik, Ini Daftar Harga Pertamina, BP, Shell, dan Vivo

Selasa, 15 September 2026 - 14:01 WIB

Geger OTT KPK! 17 Orang dan 20 Kardus dan Koper Diamankan

Senin, 14 September 2026 - 08:04 WIB

BMKG Ingatkan Kekeringan September 2026, 81 Persen Wilayah Indonesia Sudah Masuk Musim Kemarau

Minggu, 13 September 2026 - 10:01 WIB

Harga BBM Terbaru 13 September 2026: Pertamax Green, Turbo, Dexlite hingga Shell Diesel Naik

Berita Terbaru