IPO BUMN 2027: 10 Saham Pelat Merah dengan Nilai Penawaran Terbesar, MTEL Tembus Rp18,34 Triliun

- Jurnalis

Senin, 19 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

IPO BUMN 2027 mulai dikaji Danantara

IPO BUMN 2027 mulai dikaji Danantara

BISNIS,JS- Rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) pada 2027 mulai menarik perhatian pelaku pasar modal. Langkah tersebut berpotensi membuka peluang investasi baru sekaligus memperluas sumber pendanaan perusahaan pelat merah.

Di tengah rencana itu, rekam jejak IPO BUMN dan anak usahanya menjadi salah satu hal yang menarik untuk dicermati. Sejumlah perusahaan telah menghimpun dana triliunan rupiah melalui penjualan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI).

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) memimpin daftar berdasarkan nilai bruto penawaran saham dalam data yang dihimpun untuk artikel ini. Anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. tersebut mencatatkan nilai IPO sekitar Rp18,34 triliun pada 2021.

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) menyusul dengan nilai penawaran sekitar Rp9,06 triliun pada 2023. Sementara itu, sejumlah emiten lain dari sektor konstruksi, penerbangan, perbankan, energi, dan telekomunikasi turut masuk dalam daftar 10 besar.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, pada 7 Oktober 2026 menyampaikan bahwa Danantara tengah mengidentifikasi dan mengkaji perusahaan yang berpotensi melantai di bursa pada 2027. Kajian tersebut mencakup sejumlah sektor, termasuk finansial, infrastruktur, dan pertambangan.

Danantara menargetkan pengumuman sejumlah kandidat sebelum akhir 2026. Namun, hingga pengumuman resmi keluar, investor perlu membedakan rencana awal dari keputusan final mengenai perusahaan yang akan menggelar IPO.

MTEL Pimpin IPO BUMN dengan Nilai Rp18,34 Triliun

MTEL menempati posisi pertama dalam daftar IPO jumbo dengan nilai penawaran sekitar Rp18,34 triliun. Mitratel, nama yang dikenal untuk perusahaan penyedia infrastruktur telekomunikasi tersebut, mencatatkan saham di BEI pada 22 November 2021.

Dalam penawaran perdana itu, MTEL menawarkan sekitar 22,92 miliar saham dengan harga Rp800 per saham. Perhitungan jumlah saham dan harga penawaran menghasilkan nilai bruto sekitar Rp18,34 triliun.

Nilai tersebut menempatkan MTEL di atas sejumlah emiten pelat merah lainnya dalam daftar ini. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur telekomunikasi, Mitratel memiliki peran dalam mendukung kebutuhan jaringan dan layanan komunikasi.

Meski demikian, investor perlu memperhatikan bahwa nilai IPO tidak otomatis mencerminkan keuntungan perusahaan atau potensi kenaikan harga saham. Kinerja bisnis, kondisi keuangan, prospek industri, dan valuasi tetap menjadi pertimbangan penting ketika menilai suatu emiten.

PGEO Himpun Dana Rp9,06 Triliun dari IPO

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) menempati posisi kedua dengan nilai IPO sekitar Rp9,06 triliun. Perusahaan energi panas bumi tersebut melantai di BEI pada 24 Februari 2023.

PGEO menawarkan sekitar 10,35 miliar saham dengan harga Rp875 per saham. Perusahaan yang berada dalam kelompok usaha Pertamina ini menjalankan bisnis pengembangan dan pemanfaatan energi panas bumi.

Sektor panas bumi menjadi salah satu bagian dari industri energi yang menarik perhatian karena Indonesia memiliki potensi sumber daya panas bumi yang besar. Namun, investor tetap perlu menilai kemampuan perusahaan mengembangkan proyek, kebutuhan belanja modal, kondisi utang, dan prospek pendapatan sebelum mengambil keputusan investasi.

Dengan nilai penawaran yang mencapai triliunan rupiah, IPO PGEO menjadi salah satu transaksi besar di antara perusahaan dalam kelompok usaha BUMN yang masuk dalam daftar ini.

WSBP dan Garuda Indonesia Masuk Empat Besar

PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP) menempati posisi ketiga dengan nilai IPO sekitar Rp5,17 triliun. Perusahaan yang bergerak di bidang beton pracetak tersebut mencatatkan saham di BEI pada 20 September 2016.

Saat itu, WSBP menawarkan sekitar 10,54 miliar saham dengan harga Rp490 per saham. Perusahaan ini berada dalam kelompok usaha PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Selanjutnya, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) menempati posisi keempat. Maskapai penerbangan nasional itu menggelar IPO pada 11 Februari 2011 dengan menawarkan sekitar 6,34 miliar saham pada harga Rp750 per saham.

Nilai bruto penawaran Garuda Indonesia mencapai sekitar Rp4,75 triliun. Berbeda dari perusahaan infrastruktur, bisnis penerbangan memiliki tantangan tersendiri, mulai dari biaya operasional, harga bahan bakar, persaingan maskapai, hingga perubahan permintaan perjalanan.

Karena itu, investor perlu menilai karakteristik industri masing-masing perusahaan. Besarnya dana IPO saja tidak cukup untuk menentukan apakah suatu saham cocok dengan tujuan dan profil risiko investasi.

Baca Juga :  Asing Jual Saham BBCA Rp34 Triliun, Bagaimana Prospek Saham Bank BCA, BRI dan Mandiri?

Jasa Marga dan BRI Lengkapi Lima Besar hingga Enam Besar

PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) berada di posisi kelima dengan nilai IPO sekitar Rp3,47 triliun. Operator jalan tol tersebut mencatatkan saham di BEI pada 12 November 2007.

Jasa Marga menawarkan sekitar 2,04 miliar saham dengan harga Rp1.700 per saham. Perusahaan ini menjalankan bisnis yang berkaitan dengan pengelolaan jalan tol, sehingga kinerjanya juga berkaitan dengan lalu lintas kendaraan, pengembangan jaringan, dan kebutuhan investasi infrastruktur.

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menempati posisi keenam dengan nilai IPO sekitar Rp3,33 triliun.

BRI mencatatkan sahamnya pada 10 November 2003 dengan menawarkan sekitar 3,81 miliar saham pada harga Rp875 per saham. Sebagai bank yang memiliki fokus kuat pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), BRI memiliki karakter bisnis berbeda dari emiten konstruksi maupun energi.

Dalam menilai saham perbankan, investor dapat mencermati pertumbuhan kredit, kualitas aset, rasio kredit bermasalah, margin bunga bersih, serta kemampuan perusahaan menghasilkan laba secara berkelanjutan.

Bank Mandiri, Krakatau Steel, PGAS, dan Telkom Masuk 10 Besar

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menempati posisi ketujuh. Bank tersebut menggelar IPO pada 14 Juli 2003 dengan menawarkan 4 miliar saham pada harga Rp675 per saham. Nilai bruto penawarannya mencapai sekitar Rp2,70 triliun.

Berikutnya, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) menempati posisi kedelapan dengan nilai IPO sekitar Rp2,68 triliun. Emiten industri baja tersebut mencatatkan saham di BEI pada 10 November 2010 melalui penawaran sekitar 3,155 miliar saham baru dengan harga Rp850 per saham.

PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) berada di urutan kesembilan. Perusahaan yang bergerak di bidang transmisi dan distribusi gas bumi itu menggelar IPO pada 15 Desember 2003 dengan menawarkan sekitar 1,296 miliar saham pada harga Rp1.500 per saham. Nilai penawarannya mencapai sekitar Rp1,94 triliun.

Adapun PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) melengkapi posisi 10 besar. Telkom mencatatkan saham di BEI pada 14 November 1995 dengan menawarkan sekitar 933,33 juta saham pada harga Rp2.050 per saham. Nilai bruto IPO tersebut mencapai sekitar Rp1,91 triliun.

Daftar 10 IPO BUMN dan Anak Usahanya Berdasarkan Nilai Penawaran

Peringkat Emiten Tahun IPO Nilai IPO
1 MTEL 2021 Rp18,34 triliun
2 PGEO 2023 Rp9,06 triliun
3 WSBP 2016 Rp5,17 triliun
4 GIAA 2011 Rp4,75 triliun
5 JSMR 2007 Rp3,47 triliun
6 BBRI 2003 Rp3,33 triliun
7 BMRI 2003 Rp2,70 triliun
8 KRAS 2010 Rp2,68 triliun
9 PGAS 2003 Rp1,94 triliun
10 TLKM 1995 Rp1,91 triliun

Catatan: Angka dalam tabel merupakan nilai bruto penawaran saham perdana berdasarkan data yang digunakan dalam daftar ini. Nilai tersebut tidak menunjukkan kapitalisasi pasar saat ini, dana yang diterima bersih setelah biaya, ataupun kinerja saham setelah IPO.

Tidak Semua Emiten Memiliki Status BUMN Langsung

Dalam membaca daftar tersebut, investor juga perlu memahami struktur kepemilikan setiap perusahaan. Tidak semua emiten yang masuk dalam kelompok usaha BUMN berstatus sebagai perusahaan milik negara secara langsung.

MTEL merupakan anak usaha Telkom, sedangkan WSBP berada dalam kelompok usaha Waskita Karya. PGEO dan PGAS juga memiliki hubungan dengan kelompok usaha Pertamina. Sementara itu, TLKM, BBRI, BMRI, JSMR, GIAA, dan KRAS merupakan perusahaan yang berstatus BUMN.

Perbedaan tersebut penting karena struktur kepemilikan, hubungan dengan induk usaha, serta kebijakan perusahaan dapat memengaruhi tata kelola dan pengambilan keputusan bisnis.

Selain itu, daftar ini menggunakan nilai bruto penawaran perdana sebagai dasar perbandingan. Investor sebaiknya tidak menyamakan angka tersebut dengan total nilai perusahaan atau kapitalisasi pasar setelah saham diperdagangkan di bursa.

Apa Arti Rencana IPO BUMN 2027 bagi Investor?

Rencana IPO BUMN pada 2027 berpotensi menambah pilihan saham bagi investor di pasar modal Indonesia. Jika sejumlah perusahaan benar-benar melantai di BEI, investor dapat memperoleh alternatif investasi dari berbagai sektor, mulai dari keuangan hingga infrastruktur dan pertambangan.

Bagi perusahaan, IPO dapat membuka akses pendanaan dari investor publik untuk mendukung ekspansi, pengembangan proyek, atau kebutuhan bisnis lainnya. Namun, perusahaan juga harus memenuhi ketentuan keterbukaan informasi dan menjalankan kewajiban sebagai emiten tercatat.

Bagi investor ritel, pengumuman kandidat IPO belum menjadi alasan untuk langsung membeli saham. Calon investor perlu menunggu prospektus resmi, memeriksa penggunaan dana hasil penawaran, mempelajari laporan keuangan, serta membandingkan valuasi perusahaan dengan emiten sejenis.

Investor juga perlu memperhatikan kondisi pasar ketika perusahaan melaksanakan IPO. Permintaan saham, harga penawaran, prospek sektor, dan sentimen pasar dapat memengaruhi respons investor setelah saham mulai diperdagangkan.

Danantara Belum Mengumumkan Daftar Final IPO

Hingga pengumuman resmi mengenai kandidat IPO 2027 keluar, belum ada kepastian mengenai perusahaan yang akan melaksanakan aksi korporasi tersebut. Kajian Danantara yang mencakup sektor finansial, infrastruktur, dan pertambangan masih menjadi bagian dari proses penjajakan.

Karena itu, investor perlu membedakan informasi mengenai perusahaan yang masuk dalam kajian dari pengumuman resmi mengenai jadwal dan nilai penawaran saham.

Jika rencana tersebut berlanjut, IPO BUMN berpotensi menambah aktivitas penghimpunan dana di pasar modal pada 2027. Namun, nilai dana yang berhasil dihimpun akan bergantung pada perusahaan yang dipilih, jumlah saham yang ditawarkan, harga IPO, serta kondisi pasar ketika penawaran berlangsung.

Catatan ; Artikel ini hanya memuat tentang informasi semata, bukan untuk mengajak masyarakat dan mengikuti investasi, pasar saham, trending dan sebagainya. segala resiko seperti kegagalan di luar tanggung jawab jambisun.id. (*)

Berita Terkait

Tabel Angsuran KUR BSI Rp50 Juta Tahun 2026, Cicilan Mulai Rp966 Ribu per Bulan
Harga Emas Antam Turun Rp10.000 pada 20 Oktober 2026, Cek Selisih Harga Jual dan Buyback
Harga Emas Perhiasan Hari Ini Rabu 21 Oktober 2026: Cek Daftar Harga 24 Karat hingga 12 Karat
Pajak Dropshipper dan Reseller 2026: Ini Aturan dan Cara Menghitungnya
BCA Lanjutkan Buyback Saham Oktober 2026, Harga BBCA Turun ke Rp4.820
Rupiah Menguat ke Rp18.029 per Dolar AS, Simak Prediksi Kurs Hari Ini
Tabel Angsuran KUR BNI Rp50 Juta 2026: Cicilan 3 Tahun Rp1,52 Juta per Bulan
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 19 Oktober 2026: Cek Daftar Harga Terbarunya
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 23:01 WIB

Tabel Angsuran KUR BSI Rp50 Juta Tahun 2026, Cicilan Mulai Rp966 Ribu per Bulan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:01 WIB

Harga Emas Antam Turun Rp10.000 pada 20 Oktober 2026, Cek Selisih Harga Jual dan Buyback

Rabu, 21 Oktober 2026 - 08:17 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Rabu 21 Oktober 2026: Cek Daftar Harga 24 Karat hingga 12 Karat

Selasa, 20 Oktober 2026 - 15:31 WIB

Pajak Dropshipper dan Reseller 2026: Ini Aturan dan Cara Menghitungnya

Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:31 WIB

BCA Lanjutkan Buyback Saham Oktober 2026, Harga BBCA Turun ke Rp4.820

Berita Terbaru

Seleksi CPNS 2027

Nasional

CPNS 2027 Kapan Dibuka? Ini Jawaban Menteri PANRB

Rabu, 21 Okt 2026 - 19:31 WIB