KERINCI,JS- Keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) milik PT Kerinci Merangin Hidro (KMH) yang menjadi salah satu pembangkit listrik terbesar di Sumatera ternyata belum mampu menjamin kestabilan listrik di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh.
Sejak siang hingga malam hari pada Sabtu, 23 Mei 2026, masyarakat di sejumlah wilayah Kerinci dan Sungai Penuh kembali menghadapi pemadaman listrik bergilir. Kondisi tersebut muncul setelah gangguan jaringan transmisi Muara Bungo–Sungai Rumbai memicu blackout di beberapa wilayah Sumatera.
Akibatnya, PLN melakukan pengaturan distribusi daya dengan cara memadamkan listrik secara bergantian di beberapa kawasan Kerinci dan Sungai Penuh untuk membantu suplai ke daerah lain yang mengalami gangguan lebih parah.
Situasi itu langsung memicu reaksi masyarakat. Banyak warga mempertanyakan alasan pemadaman bergilir justru terjadi di daerah yang memiliki pembangkit listrik berkapasitas besar.
PLTA 350 MW, Kebutuhan Kerinci Hanya 21 MVA
PLTA PT Kerinci Merangin Hidro memiliki kapasitas pembangkit mencapai 350 Megawatt (MW). Kapasitas tersebut bahkan masuk jajaran PLTA terbesar di Pulau Sumatera.
Sementara itu, kebutuhan listrik untuk wilayah Kerinci dan Sungai Penuh hanya sekitar 21 MVA. Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan total daya yang dihasilkan PLTA KMH.
Karena itu, masyarakat menilai PLN seharusnya mengutamakan pasokan listrik untuk daerah penghasil energi sebelum mendistribusikan daya ke wilayah lain.
Riko Pirmando, lulusan Pendidikan Teknik Instalasi Listrik, menilai PLN perlu mengambil kebijakan khusus agar masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh tidak terus mengalami pemadaman bergilir.
Menurutnya, daerah yang memiliki pembangkit listrik besar seharusnya mendapatkan prioritas utama dalam distribusi energi listrik.
“Kerinci dan Sungai Penuh seharusnya tidak ikut digilir. Kita punya pembangkit listrik besar, jadi kebutuhan daerah sendiri mestinya dipenuhi lebih dulu sebelum listrik disalurkan ke wilayah lain,” tegasnya.
Warga Ramai Tolak Pemadaman Bergilir
Penolakan terhadap pemadaman bergilir juga terlihat dalam polling media sosial yang dibuat akun Instagram indojatipos_official.
Dalam polling tersebut, ribuan warga ikut memberikan suara terkait kebijakan pemadaman listrik bergilir di Kerinci dan Sungai Penuh.
Hasilnya menunjukkan mayoritas masyarakat tidak setuju dengan kebijakan tersebut.
Sebanyak 75 persen responden menolak pemadaman bergilir, sedangkan hanya 25 persen yang menyatakan setuju.
Polling itu berhasil menjangkau lebih dari 2.196 pengunjung hanya dalam waktu sekitar dua jam.
Tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan isu listrik masih menjadi persoalan sensitif di daerah tersebut. Selain mengganggu aktivitas rumah tangga, pemadaman listrik juga berdampak langsung terhadap pelaku usaha, layanan internet, aktivitas perkantoran, hingga kegiatan belajar masyarakat.
Pemadaman Ganggu Aktivitas Ekonomi dan Digital
Pemadaman listrik bergilir tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga menghambat aktivitas ekonomi masyarakat.
Sejumlah pelaku UMKM mengaku mengalami penurunan omzet akibat listrik yang sering mati mendadak. Banyak usaha seperti warung kopi, konter internet, percetakan, hingga bisnis kuliner bergantung penuh pada pasokan listrik stabil.
Selain itu, masyarakat modern saat ini juga sangat bergantung pada jaringan internet dan perangkat digital. Ketika listrik padam, jaringan komunikasi ikut terganggu.
Kondisi tersebut membuat warga semakin kecewa karena Kerinci dikenal sebagai daerah penghasil energi listrik besar melalui PLTA KMH.
Beberapa warga bahkan membandingkan kondisi tersebut dengan daerah lain yang tidak memiliki pembangkit besar tetapi justru menikmati pasokan listrik lebih stabil.
PLN Akui Ada Pemadaman Bergilir
Manager PLN ULP Sungai Penuh, Eko Pitono, membenarkan adanya pemadaman bergilir di wilayah Kerinci dan Sungai Penuh.
Menurutnya, PLN saat ini masih melakukan pengaturan distribusi daya untuk membantu wilayah lain yang terdampak blackout jaringan transmisi sejak malam sebelumnya.
“Iya, saat ini ada pengaturan suplai listrik. Kita berharap listrik di Kerinci dan Sungai Penuh bisa segera normal seluruhnya,” ujar Eko.
Selain itu, PLN juga terus melakukan koordinasi dengan Unit Pelaksana Pengatur Distribusi (UP2D) guna mempercepat normalisasi sistem kelistrikan.
Meski demikian, masyarakat berharap PLN tidak hanya fokus memperbaiki gangguan jaringan, tetapi juga mengevaluasi kebijakan distribusi daya agar daerah penghasil energi tidak terus menjadi korban pemadaman.
PLTA Kerinci Merangin Hidro Jadi Sorotan
Nama PT Kerinci Merangin Hidro kembali menjadi sorotan publik setelah pemadaman bergilir terjadi di daerah sekitar pembangkit.
PLTA yang berdiri di wilayah Kerinci tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu proyek strategis nasional di sektor energi baru terbarukan.
Pembangkit ini memasok listrik ke sistem interkoneksi Sumatera dan memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan pasokan energi di wilayah Sumatera bagian tengah.
Namun, masyarakat kini mempertanyakan manfaat langsung keberadaan PLTA bagi warga sekitar.
Banyak warga berharap keberadaan pembangkit listrik besar tidak hanya menguntungkan sistem kelistrikan regional, tetapi juga memberikan jaminan kestabilan listrik bagi masyarakat lokal.
Warga Minta Pemerintah dan PLN Evaluasi Sistem Distribusi
Masyarakat kini meminta pemerintah daerah, PLN, dan pihak terkait segera mengevaluasi sistem distribusi listrik di Kerinci dan Sungai Penuh.
Selain itu, warga juga berharap PLN menyusun skema prioritas distribusi listrik yang lebih adil untuk daerah penghasil energi.
Menurut masyarakat, pemadaman bergilir seharusnya menjadi pilihan terakhir, terutama di wilayah yang memiliki kapasitas pembangkit besar.
Jika kondisi tersebut terus terjadi, kepercayaan masyarakat terhadap sistem distribusi energi nasional bisa menurun.
Apalagi saat ini kebutuhan listrik terus meningkat seiring perkembangan ekonomi digital dan pertumbuhan usaha masyarakat.
FAQ
Kenapa listrik di Kerinci dan Sungai Penuh padam bergilir?
PLN melakukan pengaturan distribusi daya akibat gangguan jaringan transmisi Muara Bungo–Sungai Rumbai yang menyebabkan blackout di beberapa wilayah Sumatera.
Berapa kapasitas PLTA Kerinci Merangin Hidro?
PLTA PT Kerinci Merangin Hidro memiliki kapasitas sekitar 350 MW dan menjadi salah satu PLTA terbesar di Sumatera.
Berapa kebutuhan listrik Kerinci dan Sungai Penuh?
Kebutuhan listrik Kerinci dan Sungai Penuh hanya sekitar 21 MVA.
Apa penyebab warga protes?
Warga menilai daerah penghasil listrik seharusnya mendapat prioritas pasokan dan tidak mengalami pemadaman bergilir.
Apakah PLN sudah memberi penjelasan?
Manager PLN ULP Sungai Penuh membenarkan adanya pemadaman bergilir dan menyebut PLN sedang melakukan koordinasi untuk normalisasi sistem listrik.
Kesimpulan
Pemadaman listrik bergilir di Kerinci dan Sungai Penuh memunculkan pertanyaan besar di tengah keberadaan PLTA Kerinci Merangin Hidro yang memiliki kapasitas sangat besar.
Masyarakat berharap PLN segera memperbaiki sistem distribusi listrik dan mengutamakan kebutuhan daerah penghasil energi. Selain itu, warga juga meminta evaluasi menyeluruh agar pemadaman bergilir tidak terus berulang setiap kali terjadi gangguan jaringan di wilayah lain.
Jika persoalan ini tidak segera ditangani, dampaknya tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menghambat pertumbuhan ekonomi dan digital di Kerinci maupun Sungai Penuh.(*)









