JAMBI,JS- Akses internet dan jaringan telekomunikasi di Provinsi Jambi terus menunjukkan perkembangan positif sepanjang 2025. Meski demikian, sejumlah wilayah terpencil masih menghadapi persoalan serius terkait keterbatasan sinyal internet seluler.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi dalam publikasi Provinsi Jambi Dalam Angka 2026 mencatat masih terdapat 19 desa dan kelurahan yang belum memperoleh akses sinyal internet telepon seluler.
Jumlah tersebut memang mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, BPS masih mencatat sebanyak 27 desa di Jambi berada dalam kategori blank spot atau belum terjangkau jaringan internet seluler.
Penurunan angka blank spot itu memperlihatkan pembangunan infrastruktur telekomunikasi mulai bergerak lebih cepat. Namun di sisi lain, masyarakat di wilayah terpencil masih menghadapi hambatan besar dalam memperoleh akses komunikasi dan layanan digital.
Sarolangun Jadi Daerah dengan Blank Spot Terbanyak
Kabupaten Sarolangun tercatat menjadi wilayah dengan jumlah desa tanpa sinyal internet paling banyak di Provinsi Jambi pada 2025.
BPS mencatat ada sembilan desa di daerah tersebut yang hingga kini belum memperoleh akses jaringan internet seluler secara memadai.
Kondisi itu membuat Sarolangun menjadi sorotan utama dalam pemerataan infrastruktur digital di Jambi. Warga desa yang tinggal di wilayah blank spot menghadapi kesulitan ketika mengakses layanan pendidikan digital, transaksi online, komunikasi darurat, hingga layanan pemerintahan berbasis internet.
Selain Sarolangun, Kabupaten Bungo juga masih menghadapi persoalan serupa. Sebanyak lima desa di wilayah itu belum memperoleh akses sinyal internet seluler.
Sementara itu, Kabupaten Kerinci tercatat memiliki tiga desa blank spot. Kabupaten Merangin menyisakan dua desa yang masih belum menikmati jaringan internet.
Merangin Berhasil Tekan Wilayah Tanpa Sinyal
Di tengah masih adanya desa blank spot, sejumlah daerah di Jambi berhasil menunjukkan perkembangan signifikan dalam pembangunan jaringan telekomunikasi.
Kabupaten Merangin misalnya, berhasil menekan jumlah desa tanpa sinyal internet secara drastis. Pada 2024 lalu, daerah ini masih memiliki tujuh desa blank spot. Namun pada 2025 jumlah tersebut turun menjadi hanya dua desa.
Kemajuan serupa juga terlihat di Kabupaten Tebo dan Tanjung Jabung Barat.
Kedua daerah itu kini berhasil keluar dari status blank spot sepenuhnya. Seluruh desa dan kelurahan di wilayah tersebut sudah memperoleh akses sinyal internet seluler.
Perkembangan tersebut menunjukkan pembangunan menara BTS dan perluasan jaringan operator telekomunikasi mulai memberikan dampak nyata bagi masyarakat desa.
Pemerataan Internet Jadi Tantangan Besar Pemerintah
Meski jumlah desa tanpa internet terus berkurang, pemerintah daerah dan operator telekomunikasi masih menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan pemerataan akses digital.
Wilayah perbukitan, kawasan hutan, hingga desa terpencil menjadi faktor utama yang menghambat pembangunan jaringan internet di beberapa daerah Jambi.
Selain itu, biaya pembangunan infrastruktur telekomunikasi di wilayah terpencil juga jauh lebih tinggi dibanding kawasan perkotaan.
Padahal, kebutuhan internet saat ini terus meningkat seiring perkembangan ekonomi digital, pendidikan online, layanan kesehatan digital, hingga aktivitas perbankan berbasis aplikasi.
Tanpa akses internet yang memadai, masyarakat desa berisiko tertinggal dalam berbagai sektor pembangunan.
Karena itu, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah terus mendorong percepatan pembangunan BTS dan perluasan jaringan 4G hingga 5G di wilayah pedesaan Indonesia.
Internet Jadi Kebutuhan Utama Masyarakat Modern
Internet kini tidak lagi sekadar menjadi alat komunikasi tambahan. Jaringan digital telah berubah menjadi kebutuhan utama masyarakat modern.
Pelajar membutuhkan internet untuk belajar daring dan mengakses materi pendidikan. Pelaku UMKM memanfaatkan internet untuk menjual produk secara online. Petani dan nelayan juga mulai menggunakan teknologi digital untuk memperoleh informasi pasar dan cuaca.
Karena itu, keberadaan desa blank spot menjadi perhatian serius dalam pembangunan nasional.
Pemerataan akses internet juga menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi digital Indonesia yang terus dipercepat pemerintah.
Di banyak daerah, kehadiran internet terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat desa. Aktivitas usaha kecil berkembang lebih cepat karena pelaku usaha bisa menjangkau pasar lebih luas melalui media sosial dan marketplace.
Daftar Desa Blank Spot di Jambi 2025
Berikut sebaran jumlah desa tanpa sinyal internet seluler di Provinsi Jambi pada 2025 berdasarkan data BPS:
- Kabupaten Sarolangun: 9 desa
- Kabupaten Bungo: 5 desa
- Kabupaten Kerinci: 3 desa
- Kabupaten Merangin: 2 desa
Sementara kabupaten dan kota lainnya di Provinsi Jambi telah menikmati akses internet seluler di seluruh desa dan kelurahan.
Infrastruktur Digital Jambi Terus Berkembang
Peningkatan akses internet di Provinsi Jambi menunjukkan pembangunan infrastruktur digital terus berjalan dari tahun ke tahun.
Perluasan jaringan telekomunikasi menjadi langkah penting dalam memperkuat konektivitas masyarakat, mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah, sekaligus membuka akses pendidikan dan layanan publik berbasis digital.
Meski masih tersisa 19 desa blank spot pada 2025, tren penurunan wilayah tanpa sinyal memperlihatkan arah pembangunan yang semakin positif.
Pemerintah dan operator telekomunikasi kini menghadapi tantangan berikutnya, yakni memastikan seluruh masyarakat Jambi bisa menikmati akses internet cepat, stabil, dan merata hingga ke pelosok desa.
Dengan pemerataan jaringan digital, masyarakat desa tidak hanya memperoleh kemudahan komunikasi, tetapi juga peluang ekonomi baru di era digital yang terus berkembang pesat.(*)









