SUNGAIPENUH,JS– Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius di Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi. Dinas Kesehatan Kota Sungai Penuh mencatat 8.372 kasus hipertensi sepanjang 2025. Angka tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak mengabaikan pemeriksaan tekanan darah dan kebiasaan hidup sehari-hari.
Hipertensi tidak hanya berkaitan dengan faktor usia atau keturunan. Pola makan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, kualitas tidur, dan pengelolaan stres juga memengaruhi risiko seseorang mengalami tekanan darah tinggi.
Karena itu, masyarakat perlu memahami faktor pemicu hipertensi sekaligus mengambil langkah pencegahan sejak dini. Terlebih, penyakit ini kerap berkembang tanpa gejala yang jelas hingga seseorang mengalami gangguan kesehatan yang lebih serius.
Ribuan Kasus Hipertensi Jadi Perhatian Dinas Kesehatan
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Sungai Penuh, Yefrizal, menjelaskan bahwa gaya hidup memiliki peran penting dalam meningkatkan risiko hipertensi. Meski faktor keturunan turut memengaruhi, kebiasaan sehari-hari tetap menjadi bagian penting dalam upaya menjaga tekanan darah.
“Pola makan tinggi garam, kurang aktivitas fisik, stres berkepanjangan, kebiasaan merokok, serta kurang istirahat menjadi pemicu utama meningkatnya tekanan darah,” ujar Yefrizal, Rabu (21/1/2026).
Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan perlu tumbuh sebelum muncul gangguan yang menghambat aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan tekanan darah secara berkala juga membantu masyarakat mengenali kondisi kesehatannya lebih awal.
Namun, angka 8.372 kasus tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh warga Sungai Penuh mengalami hipertensi. Data itu merupakan jumlah kasus yang tercatat oleh Dinas Kesehatan sepanjang 2025, sedangkan jumlah penduduk yang mengalami hipertensi perlu merujuk pada data prevalensi dan cakupan pemeriksaan yang sesuai.
Hipertensi Bisa Muncul Tanpa Keluhan
Salah satu tantangan dalam menangani hipertensi terletak pada gejalanya. Banyak orang tetap merasa sehat meskipun tekanan darahnya berada di atas batas normal. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat menunda pemeriksaan hingga muncul keluhan yang mengganggu.
Karena sifatnya tersebut, masyarakat kerap mengenal hipertensi sebagai silent killer atau pembunuh senyap. Tekanan darah yang terus meningkat tanpa pengendalian dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, serta gangguan ginjal.
Oleh sebab itu, seseorang tidak perlu menunggu sakit kepala, pusing, atau keluhan lain untuk memeriksa tekanan darah. Pengukuran secara berkala memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi tekanan darah dibandingkan hanya mengandalkan perasaan tubuh.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa sakit kepala tidak selalu menandakan hipertensi. Sebaliknya, seseorang dapat mengalami tekanan darah tinggi tanpa merasakan keluhan apa pun.
Konsumsi Garam Berlebihan Tingkatkan Risiko
Pola makan menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian dalam pencegahan hipertensi. Konsumsi natrium berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, terutama pada orang yang sensitif terhadap garam.
Natrium tidak hanya terdapat dalam garam dapur. Makanan olahan, mi instan, makanan cepat saji, kerupuk, ikan asin, serta sejumlah bumbu kemasan juga dapat menyumbang asupan natrium harian.
Untuk mengurangi risiko, masyarakat dapat mulai membatasi penggunaan garam ketika memasak. Pilihan lain mencakup mengurangi makanan olahan, memperbanyak sayur dan buah, serta memilih sumber protein yang lebih sehat.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menganjurkan orang dewasa membatasi konsumsi natrium hingga kurang dari 2.000 miligram per hari, setara dengan kurang dari 5 gram garam. Batas ini mencakup natrium dari seluruh makanan dan minuman, bukan hanya garam yang ditambahkan ketika memasak.
Meski demikian, perubahan pola makan sebaiknya dilakukan secara konsisten. Mengurangi garam selama beberapa hari saja tidak cukup apabila kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi natrium kembali berlanjut.
Kurang Bergerak, Merokok, dan Stres Perlu Dikendalikan
Selain pola makan, aktivitas fisik juga berperan dalam menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Kebiasaan duduk terlalu lama tanpa olahraga dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, termasuk hipertensi.
Masyarakat dapat memulai aktivitas fisik melalui kegiatan sederhana, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau melakukan senam. Orang dewasa umumnya perlu menjalani aktivitas aerobik intensitas sedang setidaknya 150 menit per minggu, sesuai kemampuan dan kondisi kesehatannya.
Di samping itu, kebiasaan merokok perlu mendapat perhatian. Zat dalam asap rokok dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara dan merusak pembuluh darah. Berhenti merokok membantu mengurangi risiko penyakit kardiovaskular secara keseluruhan.
Stres berkepanjangan dan kurang tidur juga dapat mengganggu kebiasaan sehat serta pengendalian tekanan darah. Karena itu, masyarakat perlu menjaga waktu istirahat, mengatur aktivitas harian, dan mencari cara yang sehat untuk mengelola tekanan psikologis.
Meski begitu, hipertensi tidak selalu muncul akibat satu faktor tertentu. Usia, riwayat keluarga, penyakit penyerta, konsumsi obat tertentu, serta berbagai faktor lain juga dapat memengaruhi tekanan darah seseorang.
Faringitis dan Gastritis Masuk Tiga Besar Kasus
Selain hipertensi, Dinas Kesehatan Kota Sungai Penuh mencatat dua penyakit lain dengan jumlah kasus yang cukup tinggi sepanjang 2025.
Faringitis atau radang tenggorokan menempati urutan kedua dengan 6.478 kasus. Kondisi ini dapat menimbulkan nyeri ketika menelan, tenggorokan terasa kering, serta rasa tidak nyaman saat berbicara. Infeksi virus menjadi salah satu penyebab yang umum, meskipun bakteri juga dapat memicu kondisi tersebut.
Sementara itu, gastritis atau peradangan pada lapisan lambung menempati urutan ketiga dengan 4.630 kasus.
Gastritis dapat menimbulkan nyeri atau rasa perih di bagian atas perut, mual, kembung, dan gangguan pencernaan. Penyebabnya beragam, termasuk infeksi bakteri Helicobacter pylori, penggunaan obat antiradang tertentu, serta iritasi pada lapisan lambung.
Makanan pedas tidak selalu menyebabkan gastritis, tetapi dapat memperburuk keluhan pada sebagian orang. Karena itu, masyarakat sebaiknya mengenali makanan atau minuman yang memicu gejala dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika keluhan terus berulang.
Data tiga penyakit tersebut menunjukkan pentingnya edukasi kesehatan yang mudah dipahami masyarakat. Namun, setiap penyakit memerlukan langkah pencegahan dan penanganan yang berbeda sesuai penyebab serta kondisi pasien.
Puskesmas Jadi Tempat Pemeriksaan Awal
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, Yefrizal mengajak warga Kota Sungai Penuh memanfaatkan layanan kesehatan di Puskesmas. Masyarakat dapat berkonsultasi mengenai tekanan darah, faktor risiko, pola makan, dan langkah pencegahan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
“Masyarakat perlu menjaga pola makan seimbang, mengurangi asupan garam, rutin berolahraga, dan mengelola stres dengan baik,” jelasnya.
Pemeriksaan rutin menjadi langkah penting, terutama bagi orang yang memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga, berusia lebih tua, mengalami kelebihan berat badan, atau memiliki penyakit penyerta. Tenaga kesehatan dapat membantu menentukan jadwal pemeriksaan dan kebutuhan penanganan berdasarkan hasil pengukuran.
Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah tinggi, masyarakat perlu mengikuti anjuran tenaga medis. Dokter dapat menyarankan perubahan gaya hidup, memberikan obat jika diperlukan, dan memantau perkembangan tekanan darah secara berkala.
Masyarakat yang sudah mengonsumsi obat hipertensi juga tidak boleh menghentikan pengobatan hanya karena tubuh terasa sehat. Penghentian atau perubahan dosis harus mengikuti arahan dokter.
Jika seseorang mengalami nyeri dada, sesak napas berat, kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh, gangguan bicara, atau sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba, segera cari pertolongan medis darurat.
Pencegahan Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari
Yefrizal menegaskan pentingnya membangun kebiasaan hidup sehat untuk mengurangi risiko hipertensi. Upaya tersebut membutuhkan konsistensi, baik dalam menjaga pola makan maupun meningkatkan aktivitas fisik.
Pencegahan tidak selalu memerlukan perubahan besar sekaligus. Masyarakat dapat memulainya dengan mengurangi garam, memilih makanan bergizi seimbang, berjalan kaki secara teratur, berhenti merokok, menjaga berat badan, dan tidur cukup.
Keluarga juga dapat mengambil peran dengan menyediakan makanan yang lebih sehat serta mengingatkan anggota keluarga untuk memeriksa tekanan darah. Dukungan lingkungan membantu masyarakat mempertahankan kebiasaan sehat dalam jangka panjang.
“Jika masyarakat disiplin menjalani gaya hidup sehat dan rutin memeriksa kesehatan, risiko hipertensi bisa dikendalikan sejak awal,” tutup Yefrizal.
Dengan jumlah kasus hipertensi yang mencapai 8.372 sepanjang 2025, kesadaran masyarakat Sungai Penuh terhadap kesehatan perlu terus meningkat. Pemeriksaan dini, perubahan gaya hidup, dan kepatuhan terhadap anjuran tenaga medis menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko komplikasi serta menjaga kualitas hidup.(AN)










