TANJABTIM,JS- Musim kemarau yang melanda wilayah pesisir timur Provinsi Jambi ternyata membawa keuntungan besar bagi para nelayan. Di tengah kondisi cuaca yang lebih bersahabat, nelayan Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjab Timur) menikmati masa panen udang mantis atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai udang nenek dan udang ketak.
Fenomena tahunan ini menjadi sumber pendapatan tambahan yang sangat berarti bagi keluarga nelayan. Bahkan, harga udang mantis ukuran besar kini mampu menembus Rp100 ribu per ekor, sehingga komoditas laut tersebut menjadi salah satu hasil tangkapan paling bernilai di kawasan pesisir Jambi.
Musim Kemarau Meningkatkan Hasil Tangkapan Nelayan
Salah seorang nelayan di Kecamatan Kuala Jambi, Sulaiman, mengatakan bahwa hasil tangkapan udang mantis mulai meningkat sejak beberapa pekan terakhir.
Menurut pria yang akrab disapa Leman itu, perubahan kondisi perairan saat kemarau membuat udang mantis lebih mudah ditemukan dibandingkan pada musim penghujan.
“Beberapa minggu terakhir hasil tangkapan udang nenek cukup banyak. Kami lebih mudah mendapatkannya dibanding sebelumnya,” ujarnya.
Leman menjelaskan, aktivitas melaut biasanya dimulai pada sore hari sekitar pukul 18.00 WIB. Bersama rekan nelayan lainnya, ia menuju bagang yang berada ratusan meter dari bibir pantai Kuala Jambi.
Penangkapan berlangsung hingga dini hari sekitar pukul 04.00 WIB. Dalam satu malam, jumlah tangkapan dapat mencapai 35 hingga 50 ekor, tergantung kondisi arus dan cuaca.
Setelah seluruh hasil tangkapan terkumpul, para nelayan langsung membawa udang mantis ke tempat penampungan milik pengepul langganan.
Harga Udang Mantis Tembus Rp100 Ribu per Ekor
Nilai jual udang mantis sangat bergantung pada ukuran. Untuk kategori besar dengan panjang sekitar satu jengkal tangan orang dewasa, harga mencapai Rp100 ribu per ekor.
Sementara itu, udang mantis ukuran sedang dihargai antara Rp60 ribu hingga Rp80 ribu per ekor.
Harga tersebut tergolong tinggi dibanding beberapa jenis hasil laut lainnya. Tidak heran jika banyak nelayan pesisir menjadikan musim panen udang mantis sebagai momentum penting untuk meningkatkan pendapatan.
Dalam satu kali melaut, seorang nelayan dapat memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp600 ribu. Namun, angka tersebut belum termasuk biaya operasional seperti bahan bakar solar, kebutuhan konsumsi, dan perawatan alat tangkap.
Meski demikian, penghasilan tersebut tetap membantu ekonomi keluarga nelayan, terutama saat hasil tangkapan ikan biasa mengalami penurunan.
Udang Mantis Jadi Seafood Premium Bernilai Ekspor
Udang mantis atau mantis shrimp termasuk komoditas laut bernilai tinggi. Beberapa negara di Asia menjadikan jenis udang ini sebagai bahan makanan premium karena memiliki tekstur daging yang lembut dan rasa khas.
Di Indonesia, permintaan udang mantis terus meningkat, terutama dari restoran seafood dan pasar khusus produk laut.
Potensi pasar yang besar membuka peluang usaha baru bagi masyarakat pesisir, mulai dari sektor penangkapan, distribusi, hingga pengolahan hasil laut.
Selain itu, perkembangan industri makanan laut juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan nelayan.
Ekonomi Pesisir Jambi Bergantung pada Sumber Daya Laut
Kabupaten Tanjung Jabung Timur dikenal sebagai salah satu daerah pesisir utama di Provinsi Jambi. Sebagian masyarakat menggantungkan hidup dari sektor perikanan tangkap.
Karena itu, keberadaan musim panen udang mantis memiliki dampak besar terhadap perputaran ekonomi lokal.
Peningkatan pendapatan nelayan tidak hanya menguntungkan keluarga mereka, tetapi juga menggerakkan aktivitas perdagangan, transportasi, hingga usaha kecil di kawasan pesisir.
Para pengepul, pedagang, hingga pelaku usaha kuliner ikut merasakan manfaat dari meningkatnya hasil tangkapan laut.
Tantangan Nelayan di Tengah Tingginya Harga Seafood
Meski harga udang mantis cukup tinggi, nelayan tetap menghadapi sejumlah tantangan. Biaya bahan bakar yang terus berubah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keuntungan.
Selain itu, kondisi cuaca ekstrem dan perubahan iklim juga berpotensi mengganggu aktivitas melaut.
Para nelayan berharap pemerintah dapat memberikan dukungan melalui program bantuan alat tangkap, peningkatan sarana pelabuhan, serta penguatan akses pasar.
Langkah tersebut akan membantu nelayan memperoleh harga jual yang lebih baik dan meningkatkan daya saing produk perikanan daerah.
Musim Kemarau Bawa Harapan Baru
Bagi nelayan di pesisir Kuala Jambi, musim kemarau bukan sekadar perubahan cuaca. Periode ini menjadi waktu yang membawa harapan dan tambahan penghasilan.
Leman mengaku bersyukur karena hasil tangkapan udang mantis masih melimpah.
“Kami merasa terbantu karena hasil tangkapan cukup banyak. Penghasilan ini sangat penting untuk kebutuhan keluarga,” katanya.
Panen udang mantis membuktikan bahwa sumber daya laut masih menjadi kekuatan utama ekonomi masyarakat pesisir. Dengan pengelolaan yang baik, potensi tersebut dapat terus berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang bagi daerah.(TIM)










