AI Palsu Jadi Senjata Baru Hacker, ChatGPT Paling Banyak Dipakai sebagai Kedok

- Jurnalis

Selasa, 18 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Waspada serangan cyber berkedok teknologi AI

Waspada serangan cyber berkedok teknologi AI

TEKNOLOGI,JS- Popularitas artificial intelligence (AI) terus meningkat dan mengubah cara masyarakat bekerja, belajar, berkomunikasi, hingga menjalankan bisnis. Namun, perkembangan tersebut juga membuka peluang baru bagi penjahat siber.

Kaspersky Global Research and Analysis Team (GReAT) menemukan 92.000 serangan berbahaya yang menyamar sebagai layanan AI populer. Dalam temuan tersebut, ChatGPT menjadi nama yang paling sering dimanfaatkan pelaku untuk meyakinkan calon korban.

Sebanyak 49 persen serangan yang teridentifikasi menyamar sebagai aplikasi ChatGPT. Sementara itu, layanan AI Claude dan Gemini masing-masing menyumbang sekitar 18 persen.

Angka tersebut memperlihatkan perubahan pola dalam cybersecurity. Penjahat siber tidak hanya mencari celah keamanan pada sistem. Mereka juga mengeksploitasi kepercayaan pengguna terhadap merek teknologi yang sudah populer.

Karena itu, pengguna perlu memahami bahwa aplikasi yang memakai nama, logo, atau tampilan layanan AI terkenal belum tentu berasal dari pengembang resminya.

Popularitas ChatGPT Dimanfaatkan Penjahat Siber

ChatGPT menjadi salah satu layanan AI yang paling dikenal masyarakat. Popularitas tersebut ternyata memberikan keuntungan bagi penjahat siber.

Pelaku dapat menggunakan nama ChatGPT untuk membuat aplikasi palsu, halaman unduhan, atau perangkat lunak berbahaya yang tampak meyakinkan.

Korban yang mencari aplikasi AI untuk membantu pekerjaan sehari-hari bisa saja mengunduh software tanpa memeriksa sumbernya secara teliti.

Situasi tersebut menciptakan risiko malware infection, pencurian data, hingga pengambilalihan perangkat.

Temuan Kaspersky menunjukkan bahwa penjahat siber memahami perilaku pengguna. Mereka mengetahui bahwa masyarakat semakin membutuhkan AI untuk produktivitas, pembuatan konten, analisis informasi, pemrograman, dan berbagai aktivitas lainnya.

Dengan demikian, pelaku tidak selalu harus membuat skenario serangan yang rumit. Mereka cukup memanfaatkan nama layanan yang sudah dipercaya pengguna.

Claude dan Gemini Juga Menjadi Sasaran

Ancaman tersebut tidak hanya menyasar ChatGPT.

Kaspersky GReAT juga menemukan serangan yang menyamar sebagai Claude dan Gemini. Masing-masing layanan tersebut mencakup sekitar 18 persen dari serangan yang teridentifikasi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penjahat siber mengikuti perkembangan pasar AI dengan cepat.

Ketika sebuah layanan mendapatkan perhatian besar dari pengguna, pelaku dapat menjadikan popularitas tersebut sebagai bagian dari strategi phishing, malware distribution, dan social engineering.

Pengguna akhirnya menghadapi persoalan baru. Mereka tidak hanya perlu bertanya apakah sebuah aplikasi memiliki fitur AI yang menarik, tetapi juga harus memastikan siapa pengembangnya, dari mana sumber unduhannya, dan izin apa saja yang diminta aplikasi tersebut.

Baca Juga :  SIM Digital Gagal Muncul di Aplikasi Digital Korlantas? Ini Cara Mengatasinya, Jangan Panik!

Era Agentic AI Membawa Risiko Baru

Peneliti keamanan Kaspersky Sojun Ryu mengatakan perkembangan AI telah berlangsung sangat cepat.

Menurutnya, teknologi AI pada awalnya berfungsi sebagai alat untuk menghasilkan, meringkas, dan menyusun konten.

Kemudian, perusahaan teknologi mengembangkan konsep copilot. Sistem tersebut membantu pengguna menyelesaikan pekerjaan dengan memberikan rekomendasi, saran, dan panduan secara langsung.

Kini, industri teknologi mulai memasuki era agentic AI.

Teknologi tersebut memungkinkan AI melakukan perencanaan, menggunakan berbagai perangkat, memanggil application programming interface (API), serta menjalankan tindakan secara lebih mandiri.

Kemampuan tersebut memberikan manfaat besar bagi produktivitas. Namun, pada saat yang sama, kemampuan AI yang semakin luas juga membuat keamanan menjadi semakin penting.

Jika pengguna memberikan akses terlalu besar kepada sebuah aplikasi AI yang ternyata berbahaya, pelaku dapat memanfaatkan akses tersebut untuk melakukan berbagai tindakan.

Apa Itu Agentic AI?

Agentic AI merujuk pada sistem kecerdasan buatan yang dapat menjalankan rangkaian tugas berdasarkan tujuan tertentu dengan tingkat kemandirian yang lebih tinggi.

Berbeda dari chatbot sederhana yang hanya memberikan jawaban berdasarkan perintah pengguna, sistem agentic AI dapat merencanakan langkah, menggunakan tools, mengakses layanan tertentu melalui API, dan menjalankan beberapa tahapan pekerjaan.

Kemampuan tersebut menjadikan agentic AI menarik bagi perusahaan.

Bisnis dapat memanfaatkannya untuk otomatisasi pekerjaan, customer service, analisis data, software development, marketing automation, hingga pengelolaan berbagai proses operasional.

Namun, semakin banyak kewenangan yang diberikan kepada AI, semakin besar pula konsekuensi jika pengguna menjalankan aplikasi palsu atau sistem yang tidak aman.

Karena itu, AI security mulai menjadi bagian penting dalam strategi keamanan digital perusahaan.

Lebih dari 15.000 Malware Menyamar sebagai AI

Selain menemukan 92.000 serangan yang menyamar sebagai layanan AI, Kaspersky GReAT mengidentifikasi lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai software agentic AI.

Para peneliti menemukan berbagai jenis ancaman dalam sampel tersebut.

Jenis malware itu mencakup:

  • Trojan
  • Spyware
  • Exploit
  • Downloader
  • Dropper
  • Backdoor

Masing-masing jenis malware dapat membawa risiko berbeda terhadap perangkat dan data pengguna.

Trojan, misalnya, dapat menyamar sebagai aplikasi yang tampak normal. Setelah korban menjalankannya, malware dapat melakukan aktivitas berbahaya di belakang layar.

Spyware dapat mengincar informasi pengguna, sedangkan downloader dapat mengunduh malware lain ke perangkat korban.

Sementara itu, backdoor dapat memberikan akses kepada penyerang sehingga mereka memiliki jalur masuk kembali ke perangkat yang sudah terinfeksi.

Risiko Pencurian Data Semakin Besar

Salah satu risiko terbesar dari aplikasi AI palsu berkaitan dengan pencurian informasi.

Pengguna mungkin menyimpan berbagai dokumen penting di komputer atau smartphone. Informasi tersebut dapat mencakup dokumen pekerjaan, data pelanggan, laporan keuangan, kredensial akun, hingga informasi internal perusahaan.

Ketika malware memperoleh akses ke perangkat, penyerang dapat mencoba mengambil data tersebut.

Bagi perusahaan, kebocoran informasi dapat menimbulkan konsekuensi yang lebih serius. Selain kehilangan data, perusahaan dapat menghadapi gangguan operasional, kerugian finansial, dan persoalan reputasi.

Oleh sebab itu, keamanan aplikasi AI tidak hanya menjadi persoalan pengguna individu.

Perusahaan juga perlu memasukkan penggunaan AI ke dalam kebijakan cyber risk management.

Aplikasi AI Palsu Bisa Terlihat Meyakinkan

Salah satu alasan serangan seperti ini berbahaya adalah kemampuan pelaku membuat aplikasi yang terlihat profesional.

Nama aplikasi, ikon, tampilan antarmuka, dan deskripsi software dapat menyerupai layanan resmi.

Pengguna yang terburu-buru bisa saja langsung menekan tombol download tanpa memeriksa informasi pengembang.

Pelaku juga dapat menggunakan halaman web yang menyerupai situs resmi. Strategi tersebut memanfaatkan teknik social engineering, yaitu manipulasi psikologis untuk membuat korban melakukan tindakan tertentu.

Karena itu, tampilan profesional tidak cukup untuk membuktikan keamanan sebuah aplikasi.

Pengguna harus melakukan verifikasi tambahan sebelum memasang software.

Cara Mengenali Aplikasi AI Palsu

Pengguna dapat melakukan beberapa pemeriksaan sederhana sebelum mengunduh aplikasi AI.

1. Periksa Sumber Download

Prioritaskan situs resmi pengembang atau toko aplikasi terpercaya.

Hindari mengunduh software dari situs tidak dikenal, forum acak, tautan pop-up, atau iklan yang mengarahkan ke halaman download mencurigakan.

2. Periksa Nama Pengembang

Nama aplikasi yang terkenal tidak otomatis menjamin keaslian software.

Periksa nama developer dan cocokkan dengan informasi yang tercantum pada kanal resmi layanan tersebut.

Jika nama pengembang terlihat berbeda atau mencurigakan, pengguna sebaiknya membatalkan proses instalasi.

3. Jangan Mudah Percaya Iklan AI

Penjahat siber dapat menggunakan iklan online untuk mengarahkan pengguna ke halaman berbahaya.

Karena itu, pengguna sebaiknya tidak langsung mengklik iklan hanya karena iklan tersebut menawarkan akses AI gratis, fitur premium gratis, atau klaim peningkatan kemampuan AI.

4. Perhatikan Izin Aplikasi

Aplikasi yang meminta akses berlebihan patut mendapat perhatian.

Jika aplikasi AI sederhana meminta akses ke data yang tidak berkaitan dengan fungsi utamanya, pengguna sebaiknya memeriksa kembali kebutuhan izin tersebut.

5. Gunakan Software Keamanan

Perangkat dengan perlindungan keamanan yang memadai dapat membantu mendeteksi aktivitas mencurigakan.

Pengguna juga perlu memperbarui sistem operasi, browser, dan aplikasi secara berkala.

Pembaruan software dapat memperbaiki kelemahan keamanan dan mengurangi peluang eksploitasi.

Jangan Asumsikan Aplikasi Gratis Selalu Aman

Tawaran gratis sering menjadi daya tarik utama dalam distribusi software berbahaya.

Pelaku dapat menawarkan fitur AI premium secara gratis untuk membuat pengguna tertarik memasang aplikasi.

Setelah pengguna menginstalnya, malware dapat menjalankan aktivitas berbahaya di perangkat.

Karena itu, pengguna perlu mempertimbangkan keamanan sebelum mengejar fitur premium gratis.

Dalam konteks online security, harga sebuah aplikasi bukan satu-satunya indikator keamanan. Pengguna harus memeriksa reputasi developer, sumber aplikasi, izin, ulasan, serta informasi keamanan lainnya.

AI Security Kini Menjadi Kebutuhan Penting

Perkembangan AI membawa peluang besar bagi individu maupun perusahaan.

AI dapat membantu meningkatkan produktivitas, mengurangi pekerjaan berulang, mempercepat analisis data, dan membantu berbagai aktivitas profesional.

Namun, pertumbuhan tersebut juga membuat AI cybersecurity menjadi semakin penting.

Perusahaan yang mengadopsi AI perlu membuat kebijakan penggunaan yang jelas. Karyawan juga perlu mendapatkan edukasi mengenai phishing, aplikasi palsu, pencurian kredensial, dan keamanan data.

Langkah tersebut penting karena satu perangkat yang terinfeksi malware dapat menjadi pintu masuk menuju sistem perusahaan.

Baca Juga :  Serangan Siber Serbu Platform AI, ChatGPT Jadi Target Utama

Pengguna Perlu Mengubah Kebiasaan Digital

Ancaman aplikasi AI palsu menunjukkan bahwa keamanan digital tidak hanya bergantung pada teknologi.

Kebiasaan pengguna juga memegang peranan besar.

Pengguna perlu membangun kebiasaan untuk memeriksa sumber informasi sebelum mengunduh aplikasi. Mereka juga perlu berhati-hati ketika menerima tautan, iklan, file, atau tawaran software yang tidak biasa.

Selain itu, pengguna sebaiknya menggunakan password yang kuat dan unik serta mengaktifkan multi-factor authentication (MFA) pada akun penting.

MFA memberikan lapisan perlindungan tambahan ketika penyerang berhasil memperoleh password.

Jangan Hanya Percaya pada Nama Besar

Nama ChatGPT, Claude, dan Gemini memang sudah sangat dikenal.

Namun, popularitas tersebut justru dapat dimanfaatkan penjahat siber untuk membuat aplikasi palsu terlihat meyakinkan.

Temuan Kaspersky menjadi pengingat bahwa pengguna harus memisahkan antara popularitas layanan AI dan keamanan aplikasi yang mengatasnamakan layanan tersebut.

Sebuah aplikasi tidak menjadi resmi hanya karena menggunakan nama AI populer.

Pengguna tetap harus memeriksa sumbernya.

Ancaman AI Akan Terus Berkembang

Penjahat siber kemungkinan akan terus mengikuti perkembangan teknologi AI.

Ketika AI menghadirkan fitur baru, pelaku dapat mencoba memanfaatkannya sebagai umpan serangan.

Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya mempelajari cara menggunakan AI. Mereka juga perlu memahami risiko keamanan yang muncul dari penggunaan teknologi tersebut.

Terlebih lagi, agentic AI dapat menjalankan lebih banyak tugas secara mandiri.

Semakin besar akses yang diberikan kepada sistem AI, semakin penting pula kontrol terhadap identitas aplikasi, izin akses, data, dan aktivitas yang berjalan di belakangnya.

Kesimpulan

Temuan 92.000 serangan berbahaya yang menyamar sebagai layanan AI menunjukkan bahwa popularitas kecerdasan buatan telah menciptakan sasaran baru bagi penjahat siber.

ChatGPT menjadi nama yang paling banyak digunakan sebagai kedok dengan porsi 49 persen. Claude dan Gemini masing-masing mencapai 18 persen.

Kaspersky GReAT juga menemukan lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai software agentic AI.

Ancaman tersebut mencakup Trojan, spyware, exploit, downloader, dropper, hingga backdoor.

Karena itu, pengguna perlu meningkatkan kewaspadaan saat mengunduh aplikasi AI. Pastikan software berasal dari sumber resmi, periksa pengembangnya, evaluasi izin aplikasi, gunakan sistem keamanan yang memadai, dan aktifkan autentikasi multifaktor pada akun penting.

Kemajuan AI memang menawarkan peluang besar, tetapi keamanan digital harus ikut berkembang. Semakin pintar teknologi yang digunakan, semakin cermat pula pengguna harus memeriksa siapa yang berada di balik aplikasi tersebut.(*)

Berita Terkait

iPhone 18 Pro vs iPhone 18 Pro Max: Baterai Jumbo 5.567 mAh hingga Kamera Variable Aperture, Mana yang Lebih Layak Dibeli?
Engagement Instagram Turun Drastis? Ini Penyebab Utama dan Cara Menaikkannya Lagi
Pajak Marketplace Ditunda 2 Bulan! Seller Online Siap Hadapi Aturan Baru November 2026
Pendapatan YouTube AdSense Tidak Masuk? Ini Penyebab, Jadwal Pencairan, dan Cara Mengatasinya
Bareskrim Ungkap Modus Baru Judi Online: Deposit Pakai Pulsa, Anak Jadi Sasaran Risiko
PETI Jambi Capai 60.323 Hektare, DPRD Soroti Ancaman Kerusakan Lingkungan dan Masa Depan Warga
Instagram Reels Tidak Dibayar per View? Ini Cara Monetisasi Terbaru agar Konten Tetap Menghasilkan Uang
Data Pribadi Bocor? Ini Cara Melindungi NIK, Rekening, OTP, dan Jejak Digital dari Penipuan Online
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 09:01 WIB

AI Palsu Jadi Senjata Baru Hacker, ChatGPT Paling Banyak Dipakai sebagai Kedok

Senin, 17 Agustus 2026 - 09:01 WIB

iPhone 18 Pro vs iPhone 18 Pro Max: Baterai Jumbo 5.567 mAh hingga Kamera Variable Aperture, Mana yang Lebih Layak Dibeli?

Minggu, 16 Agustus 2026 - 18:00 WIB

Engagement Instagram Turun Drastis? Ini Penyebab Utama dan Cara Menaikkannya Lagi

Minggu, 16 Agustus 2026 - 15:01 WIB

Pajak Marketplace Ditunda 2 Bulan! Seller Online Siap Hadapi Aturan Baru November 2026

Minggu, 16 Agustus 2026 - 12:01 WIB

Pendapatan YouTube AdSense Tidak Masuk? Ini Penyebab, Jadwal Pencairan, dan Cara Mengatasinya

Berita Terbaru