BI Rate Diprediksi Naik Lagi Akhir 2026, Rupiah Jadi Perhatian dan Dampaknya ke Bunga Bank

- Jurnalis

Selasa, 29 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BISNIS,JS- Arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI) kembali menjadi perhatian pasar keuangan. Setelah beberapa kali menaikkan suku bunga pada 2026, BI masih mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22–23 September 2026.

Namun, kebijakan tersebut belum tentu menjadi keputusan terakhir pada tahun ini.

HSBC memperkirakan Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan sebanyak satu kali sebelum 2026 berakhir. Proyeksi tersebut muncul di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah, ketidakpastian pasar global, serta kemungkinan perubahan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve.

Chief Asia Economist & Co-head Global Investment Research Asia HSBC, Frederic Neumann, menyebut siklus pengetatan moneter Indonesia sudah mendekati akhir.

Menurutnya, BI kemungkinan hanya melakukan satu kali kenaikan suku bunga lagi menjelang akhir tahun. Setelah itu, siklus pengetatan moneter diperkirakan memasuki tahap akhir.

BI Rate Saat Ini Masih 5,75 Persen

Sebelum membahas potensi kenaikan berikutnya, penting melihat posisi suku bunga BI saat ini.

Bank Indonesia pada RDG September 2026 memutuskan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. Pada saat yang sama, BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen.

Keputusan tersebut menunjukkan BI masih mencari keseimbangan antara menjaga stabilitas rupiah dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.

BI menghadapi situasi yang cukup kompleks. Tekanan eksternal masih tinggi, sementara kondisi perekonomian domestik membutuhkan dukungan agar aktivitas kredit dan konsumsi tetap bergerak.

Karena itu, bank sentral tidak hanya mengandalkan suku bunga untuk mengendalikan kondisi ekonomi dan pasar keuangan.

BI juga menggunakan berbagai instrumen moneter lainnya.

Mengapa BI Masih Berpotensi Menaikkan Suku Bunga?

Salah satu faktor utama berkaitan dengan nilai tukar rupiah.

Bank Indonesia perlu menjaga agar pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih besar terhadap perekonomian. Ketika suku bunga domestik meningkat, aset keuangan dalam rupiah dapat menjadi lebih menarik bagi sebagian investor karena menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi.

Kondisi tersebut dapat membantu menjaga aliran modal masuk ke Indonesia.

Namun, kenaikan suku bunga juga membawa konsekuensi terhadap sektor domestik. Bunga kredit dapat ikut meningkat sehingga biaya pembiayaan bagi rumah tangga maupun perusahaan berpotensi bertambah.

Karena itu, BI perlu menghitung dampaknya secara hati-hati sebelum mengambil keputusan.

Dalam perkembangan terbaru, Gubernur BI Destry Damayanti juga menjelaskan bahwa bank sentral mempertimbangkan dampak kenaikan suku bunga terhadap pertumbuhan ekonomi.

BI memperkirakan kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin dapat memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1 persen. Karena itu, BI memilih mengombinasikan kebijakan suku bunga dengan instrumen lain yang lebih terarah.

Baca Juga :  Skor Kredit Buruk Gara-gara Pinjol, Begini Cara Memperbaikinnya

HSBC Melihat Siklus Kenaikan Bunga Hampir Berakhir

Proyeksi HSBC memberikan gambaran bahwa kenaikan berikutnya, jika terjadi, kemungkinan menjadi salah satu langkah terakhir BI dalam siklus pengetatan moneter saat ini.

Frederic Neumann menilai BI sudah mengambil langkah cukup agresif sepanjang tahun untuk menjaga stabilitas rupiah.

Karena itu, HSBC memperkirakan BI hanya membutuhkan satu kali kenaikan tambahan sebelum mengakhiri fase kenaikan suku bunga.

Pandangan tersebut sekaligus memberikan sinyal bahwa pasar tidak sedang menghadapi ekspektasi kenaikan bunga tanpa batas.

Sebaliknya, pasar kini mulai memperhatikan kapan siklus kenaikan tersebut berakhir.

Rupiah Menjadi Salah Satu Faktor Penting

Nilai tukar rupiah menjadi perhatian utama dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Bank Indonesia mencatat rupiah mengalami tekanan pada periode tertentu sepanjang 2026. Dalam laporan RDG September, BI menyebut ketidakpastian global masih tinggi dan memberikan tekanan terhadap pasar keuangan domestik.

Pada 22 September 2026, rupiah berada di level Rp17.855 per dolar AS. Posisi tersebut melemah terbatas 0,78 persen dibandingkan akhir Agustus.

Meskipun demikian, BI menilai stabilitas rupiah masih dapat dijaga melalui kombinasi kebijakan moneter dan berbagai instrumen stabilisasi.

Bank sentral juga melihat imbal hasil aset domestik, kondisi inflasi, serta prospek ekonomi sebagai faktor pendukung stabilitas mata uang.

Ancaman dari Kebijakan The Fed

Selain kondisi dalam negeri, keputusan Bank Indonesia juga tidak dapat dilepaskan dari kebijakan Federal Reserve.

Bank sentral Amerika Serikat menaikkan Federal Funds Rate menjadi 3,75–4 persen pada September 2026. BI juga memperkirakan masih terdapat kemungkinan kenaikan berikutnya pada kuartal IV 2026.

Situasi tersebut membuat bank sentral negara berkembang, termasuk Indonesia, harus memperhatikan perbedaan tingkat bunga dengan Amerika Serikat.

Jika suku bunga AS meningkat sementara tingkat bunga domestik tidak berubah, sebagian investor dapat mengubah komposisi aset mereka.

Perubahan arus modal tersebut kemudian dapat memengaruhi nilai tukar mata uang negara berkembang.

Karena itu, BI perlu memperhitungkan perkembangan kebijakan The Fed ketika menentukan langkah moneter berikutnya.

Baca Juga :  Skor Kredit Turun Drastis, Pinjaman Bank Langsung Ditolak! Ini Penyebab Utama yang Sering Diabaikan

Harga Minyak dan Inflasi Global Ikut Diperhatikan

Faktor lain yang mendapat perhatian adalah harga minyak dunia.

Gubernur BI Destry Damayanti sebelumnya menyampaikan bahwa harga minyak sempat melonjak hingga sekitar US$125,53 per barel. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga minyak pada Agustus 2026 yang berada di sekitar US$90,88 per barel.

Kenaikan harga energi dapat memberikan tekanan terhadap inflasi global.

BI dalam laporan September juga mencatat bahwa inflasi global diperkirakan meningkat menjadi sekitar 4,6 persen pada 2026. Kondisi tersebut membuat lingkungan kebijakan moneter global menjadi lebih ketat.

Indonesia tentu perlu memperhatikan efek lanjutan dari kondisi tersebut.

Jika harga energi meningkat terlalu tinggi, biaya produksi dan distribusi dapat ikut terdorong. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat memengaruhi harga barang dan jasa di dalam negeri.

Apakah Kenaikan BI Rate Langsung Membuat Bunga Kredit Naik?

Pertanyaan ini penting bagi masyarakat yang memiliki pinjaman bank.

Secara umum, perubahan suku bunga acuan dapat memengaruhi biaya dana di sektor perbankan. Namun, kenaikan BI-Rate tidak otomatis membuat seluruh bunga kredit berubah pada hari yang sama.

Bank memiliki struktur biaya dana, kebijakan kredit, serta jenis produk masing-masing.

Nasabah dengan kredit berbunga mengambang atau floating rate perlu lebih memperhatikan perubahan suku bunga pasar. Sementara itu, kredit dengan skema bunga tetap memiliki mekanisme yang berbeda sesuai perjanjian antara bank dan nasabah.

Oleh sebab itu, masyarakat yang memiliki cicilan sebaiknya tidak hanya melihat angka BI-Rate.

Perhatikan juga jenis suku bunga kredit, periode penyesuaian bunga, serta ketentuan dalam perjanjian kredit.

Dampak Potensi Kenaikan Bunga bagi KPR

Sektor properti menjadi salah satu bidang yang perlu memperhatikan arah suku bunga.

Kredit pemilikan rumah atau KPR biasanya berlangsung dalam jangka panjang. Karena itu, perubahan tingkat bunga dapat memengaruhi total biaya pembiayaan dalam periode yang cukup panjang, terutama bagi nasabah yang memasuki fase bunga floating.

Jika suku bunga meningkat, cicilan pada skema tertentu dapat ikut naik.

Namun, besarnya perubahan cicilan tetap bergantung pada produk KPR, kebijakan bank, saldo pokok pinjaman, serta formula bunga yang berlaku.

Calon pembeli rumah juga perlu menghitung kemampuan membayar sebelum mengambil kredit.

Bagaimana dengan Deposito dan Tabungan?

Dari sisi penghimpunan dana, kenaikan suku bunga dapat memberikan perubahan pada strategi bank dalam menawarkan produk simpanan.

Deposito menjadi salah satu instrumen yang biasanya mendapat perhatian ketika suku bunga berada pada level tinggi.

Bagi nasabah, tingkat bunga deposito bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan. Tenor, pajak bunga, reputasi bank, batas penjaminan, dan kebutuhan likuiditas juga perlu masuk dalam perhitungan.

Dengan demikian, masyarakat sebaiknya tidak mengambil keputusan hanya karena melihat angka bunga yang lebih tinggi.(*)

Berita Terkait

IHSG Anjlok 1,51 Persen, Ini 3 Saham Pilihan untuk Trading Pekan Ini
Harga Emas Perhiasan Hari Ini Senin 28 September 2026: Cek Harga per Gram Semua Kadar, Ada Perubahan Menarik
Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Ekonom Ungkap 3 Tekanan Global yang Bisa Bikin Kurs Makin Tertekan
BEI Catat 6 Calon Emiten Baru, 3 Sektor Ini Siap Ramaikan Pasar Saham
Asuransi Kesehatan Cashless Terbaik 2026: 3 Pilihan dengan Fasilitas Klaim Tanpa Talangan
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 26 September 2026 Naik atau Turun? Cek Disini
Rupiah Tertekan Mendekati Rp18.000 per Dolar AS, Ini Risiko bagi Ekonomi dan Proyeksinya Pekan Depan
Bitcoin, Ethereum Rally More Than 14% in a Week as Institutional Money Drives Crypto Market
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 23:25 WIB

BI Rate Diprediksi Naik Lagi Akhir 2026, Rupiah Jadi Perhatian dan Dampaknya ke Bunga Bank

Senin, 28 September 2026 - 23:01 WIB

IHSG Anjlok 1,51 Persen, Ini 3 Saham Pilihan untuk Trading Pekan Ini

Senin, 28 September 2026 - 08:16 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Senin 28 September 2026: Cek Harga per Gram Semua Kadar, Ada Perubahan Menarik

Minggu, 27 September 2026 - 19:01 WIB

Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Ekonom Ungkap 3 Tekanan Global yang Bisa Bikin Kurs Makin Tertekan

Minggu, 27 September 2026 - 11:31 WIB

BEI Catat 6 Calon Emiten Baru, 3 Sektor Ini Siap Ramaikan Pasar Saham

Berita Terbaru