Harga Cabai Merah Keriting dan Cabe Rawit di Kerinci dan Sungai Penuh Semakin Pedas

- Jurnalis

Kamis, 29 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUNGAIPENUH,JS- Harga cabai merah keriting dan cabai rawit di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh, Jambi, mengalami kenaikan. Kondisi ini membawa kabar baik bagi petani yang mulai menikmati harga jual lebih menguntungkan.

Namun, di sisi lain, kenaikan harga cabai turut menambah beban pengeluaran masyarakat, terutama ibu rumah tangga yang setiap hari membutuhkan komoditas tersebut untuk memasak.

Berdasarkan informasi harga yang dihimpun, cabai merah keriting di pasaran Kerinci dan Sungai Penuh kini berada di kisaran rata-rata Rp62.000 per kilogram.

Sementara itu, harga cabai rawit mencapai Rp70.000 per kilogram.
Perbedaan harga di sejumlah tempat penjualan membuat masyarakat perlu lebih cermat ketika berbelanja.

Meski begitu, tingginya harga cabai juga memberikan peluang bagi petani untuk memperoleh pendapatan yang lebih baik dibandingkan ketika harga komoditas tersebut berada pada level rendah.

Kenaikan harga ini menjadi perhatian masyarakat karena cabai termasuk kebutuhan pokok dalam konsumsi sehari-hari. Selain untuk kebutuhan rumah tangga, pedagang makanan dan pelaku usaha kuliner juga membutuhkan cabai sebagai bahan utama dalam berbagai jenis masakan.

Harga Cabai Merah Keriting Tembus Rp62 Ribu per Kilogram

Harga cabai merah keriting saat ini mencapai rata-rata Rp62.000 per kilogram di pasaran Kerinci dan Sungai Penuh. Sementara itu, cabai rawit mencatat harga lebih tinggi, yakni sekitar Rp70.000 per kilogram.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kedua jenis cabai sama-sama mengalami kenaikan dan memberikan pengaruh berbeda bagi petani maupun konsumen.

Bagi petani, harga jual yang tinggi membuka peluang untuk meningkatkan pendapatan dari hasil panen. Namun, bagi masyarakat yang membeli cabai setiap hari, kenaikan tersebut membuat anggaran belanja dapur semakin besar.

Sebagai gambaran, warga yang membeli satu kilogram cabai merah keriting perlu menyiapkan uang sekitar Rp62.000. Jika memilih cabai rawit, mereka harus mengeluarkan dana sekitar Rp70.000 untuk jumlah yang sama.

Dengan demikian, selisih harga kedua jenis cabai mencapai sekitar Rp8.000 per kilogram. Selisih tersebut dapat memengaruhi pilihan konsumen, terutama keluarga yang berusaha menekan pengeluaran harian.

Meski demikian, harga di setiap pasar maupun pedagang dapat berbeda. Karena itu, masyarakat sebaiknya memeriksa harga secara langsung sebelum membeli dalam jumlah besar.

Petani Kerinci Bersyukur Harga Cabai Membaik

Kenaikan harga cabai membawa angin segar bagi petani di Kabupaten Kerinci. Salah seorang petani setempat, Andi, membenarkan bahwa harga cabai merah keriting saat ini mencapai sekitar Rp60.000 per kilogram di tingkat penjualan yang ia temui.

Baca Juga :  Banjir Bandang Kerinci 2026: Rumah Warga Terendam, Akses Jalan Depati Parbo Lumpuh Total

Menurut Andi, harga tersebut cukup menggembirakan bagi petani karena memberikan kesempatan untuk memperoleh hasil penjualan yang lebih baik.

“Alhamdulillah harga cabai saat ini cukup mendukung, semoga harga cabai bertahan,” ungkap Andi.

Ia berharap harga cabai tetap berada pada tingkat yang menguntungkan sehingga petani dapat menikmati hasil kerja mereka secara lebih layak.

Bagi petani hortikultura, kestabilan harga menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha. Mereka perlu mengeluarkan biaya untuk membeli benih, pupuk, obat tanaman, serta memenuhi kebutuhan tenaga kerja dan perawatan kebun.

Selain itu, petani juga menghadapi risiko perubahan cuaca, serangan hama, dan penyakit tanaman yang dapat memengaruhi hasil panen. Oleh sebab itu, harga jual yang baik membantu mereka menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan pendapatan.

Namun, harga tinggi tidak serta-merta menjamin keuntungan besar bagi seluruh petani. Besarnya hasil panen, kualitas cabai, biaya perawatan, dan ongkos pengangkutan turut menentukan pendapatan bersih yang mereka terima.

Karena itu, Andi berharap kondisi harga yang mendukung dapat bertahan dalam beberapa waktu ke depan agar petani memiliki kepastian lebih baik ketika mengelola kebun dan merencanakan musim tanam berikutnya.

Ibu Rumah Tangga Keluhkan Harga Cabai Semakin Mahal

Berbeda dengan petani yang menikmati kenaikan harga jual, konsumen justru menghadapi tambahan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan dapur.

Salah seorang warga Kerinci, Lia, membenarkan bahwa harga cabai di wilayah tersebut semakin mahal. Ia menilai kenaikan harga cukup memberatkan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga yang harus mengatur anggaran belanja setiap hari.

“Semoga harga cabai di Kerinci dan Sungai Penuh kembali stabil,” sebut Lia.

Menurut kondisi yang dirasakan konsumen, kenaikan harga cabai menjadi persoalan tersendiri karena bahan tersebut sering digunakan dalam berbagai masakan. Ketika harga meningkat, masyarakat perlu menyesuaikan jumlah pembelian atau mencari cara lain untuk menghemat pengeluaran.

Sebagian keluarga mungkin memilih membeli cabai dalam jumlah lebih sedikit. Sementara itu, keluarga lain dapat menyesuaikan menu makanan agar kebutuhan dapur tetap terpenuhi tanpa menghabiskan terlalu banyak uang.

Di sisi lain, pedagang makanan juga perlu memperhitungkan kenaikan biaya bahan baku. Jika harga cabai terus bertahan tinggi, mereka harus menentukan langkah agar biaya operasional tetap terkendali.

Meski demikian, masyarakat berharap kenaikan harga tidak berlangsung terlalu lama. Mereka menginginkan harga cabai kembali stabil sehingga kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi dengan biaya yang lebih terjangkau.

Baca Juga :  BPOM Jambi Sikat Kosmetik Ilegal Jelang Ramadhan, Produk Berbahaya Terancam Disita!

Mengapa Harga Cabai Perlu Terus Dipantau?

Harga cabai di pasar dapat berubah mengikuti kondisi pasokan, permintaan konsumen, hasil panen, dan biaya distribusi. Ketika pasokan dari petani berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga berpotensi meningkat.

Sebaliknya, pasokan yang melimpah dapat membantu menekan harga apabila jumlah cabai yang masuk ke pasar melebihi kebutuhan pembeli.

Cuaca juga dapat memengaruhi produksi cabai. Curah hujan yang berlebihan, misalnya, berpotensi meningkatkan risiko penyakit tanaman dan mengganggu kualitas hasil panen. Kondisi tersebut dapat memengaruhi jumlah cabai yang layak dijual ke pasar.

Selain faktor produksi, biaya pengangkutan dari kebun menuju pasar turut memengaruhi harga akhir yang harus dibayar konsumen. Perbedaan jarak distribusi dan biaya operasional antarpedagang juga dapat menimbulkan variasi harga di setiap lokasi.

Namun, belum ada data terperinci mengenai penyebab utama kenaikan harga cabai di Kerinci dan Sungai Penuh saat ini. Karena itu, diperlukan pemantauan lebih lanjut terhadap pasokan, hasil panen, serta perkembangan harga di tingkat petani dan pedagang untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait dapat memanfaatkan pemantauan harga tersebut sebagai dasar untuk mengantisipasi gejolak harga pangan. Informasi yang akurat juga membantu masyarakat mengetahui perkembangan harga sebelum berbelanja.

Warga Berharap Harga Cabai Kembali Stabil

Kenaikan harga cabai merah keriting hingga rata-rata Rp62.000 per kilogram dan cabai rawit sekitar Rp70.000 per kilogram memperlihatkan perbedaan kepentingan antara petani dan konsumen.

Petani berharap harga jual tetap menguntungkan agar biaya produksi dapat tertutupi dan usaha pertanian terus berjalan. Sebaliknya, konsumen menginginkan harga yang lebih terjangkau supaya pengeluaran rumah tangga tidak terus meningkat.

Oleh karena itu, kestabilan harga menjadi harapan bersama. Harga yang wajar dapat membantu petani memperoleh pendapatan yang layak sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

Untuk sementara, warga Kerinci dan Sungai Penuh perlu memperhatikan perkembangan harga di pasar masing-masing. Masyarakat juga dapat menyesuaikan jumlah pembelian dengan kebutuhan agar pengeluaran rumah tangga tetap terkendali.

Sementara itu, petani berharap harga cabai tetap memberikan keuntungan yang sepadan dengan biaya dan tenaga yang mereka keluarkan selama proses budidaya.

Perkembangan harga cabai dalam beberapa waktu ke depan akan menjadi perhatian petani, pedagang, dan masyarakat. Warga berharap harga kembali stabil tanpa menghilangkan kesempatan petani untuk mendapatkan penghasilan yang layak dari hasil panen mereka.(AN)

Berita Terkait

BKPSDM Sungai Penuh Buka Pengusulan Pencantuman Gelar PNS dan PPPK, Ini Syarat Lengkapnya
BKPSDM Sungai Penuh Raih Penghargaan Muzakki Teladan, Alfin Apresiasi ASN yang Bayar Zakat
Tol Jambi–Bayung Lencir Disiapkan Jadi Pusat Ekonomi Baru, Al Haris Bidik Investasi dan Lapangan Kerja di Muaro Jambi
Wako Alfin Pimpin Upacara Sumpah Pemuda ke-98, Tegaskan ASN Sungai Penuh Jangan Jadikan Efisiensi Alasan untuk Malas
Prabowo Kucurkan Rp125 Miliar untuk Karhutla Jambi, Ini Rincian Daerah Penerima
Jelang MTQH ke-55 Provinsi Jambi, Kerinci Matangkan Persiapan 38 Peserta
28 Pemuda Daki Gunung Kerinci, Bawa Semangat Sumpah Pemuda 2026
BPK Periksa Dana BOSP Merangin 2025–2026, Pemkab Diminta Buka Data Pengelolaan Anggaran
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 12:31 WIB

Harga Cabai Merah Keriting dan Cabe Rawit di Kerinci dan Sungai Penuh Semakin Pedas

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:40 WIB

BKPSDM Sungai Penuh Buka Pengusulan Pencantuman Gelar PNS dan PPPK, Ini Syarat Lengkapnya

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:01 WIB

BKPSDM Sungai Penuh Raih Penghargaan Muzakki Teladan, Alfin Apresiasi ASN yang Bayar Zakat

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Tol Jambi–Bayung Lencir Disiapkan Jadi Pusat Ekonomi Baru, Al Haris Bidik Investasi dan Lapangan Kerja di Muaro Jambi

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:11 WIB

Wako Alfin Pimpin Upacara Sumpah Pemuda ke-98, Tegaskan ASN Sungai Penuh Jangan Jadikan Efisiensi Alasan untuk Malas

Berita Terbaru