JAKARTA,JS- Koin Rp100 bergambar Rumah Gadang pernah menjadi uang receh yang sering berpindah tangan di warung atau angkutan umum. Namun waktu mengubah segalanya. Kini, koin tersebut justru naik kelas dan menjadi incaran kolektor uang kuno di berbagai daerah.
Perubahan nilai ini tidak terjadi begitu saja. Seiring meningkatnya minat terhadap barang koleksi bernilai sejarah, koin Rp100 Rumah Gadang menjelma dari alat tukar sederhana menjadi aset bernilai ekonomi.
Dari Uang Kecil ke Benda Bernilai Sejarah
Bagi kolektor numismatik, koin ini bukan sekadar logam bernominal rendah. Desain Rumah Gadang merepresentasikan identitas budaya Minangkabau sekaligus jejak sejarah kebijakan moneter Indonesia.
Selain itu, usia koin yang sudah puluhan tahun membuat jumlahnya terus menyusut. Faktor inilah yang kemudian mendorong harga koin naik secara bertahap di pasar koleksi.
Secara umum, kolektor membagi koin Rp100 Rumah Gadang ke dalam dua versi utama. Masing-masing memiliki ciri fisik, bahan, dan nilai pasar yang berbeda.
Versi Tebal Tahun 1978
Koin versi pertama muncul pada 1978 dan dicetak menggunakan bahan aluminium-bronze berwarna emas kekuningan.
Bobotnya mencapai sekitar 4,13 gram dengan diameter 28,5 milimeter.
Karena jumlah edar yang terbatas dan usianya yang sudah lebih dari empat dekade, versi ini tergolong langka. Akibatnya, harga jualnya pun relatif tinggi. Untuk kondisi pemakaian biasa, kolektor biasanya menawar di kisaran Rp20.000 hingga Rp50.000. Sementara itu, koin berstatus uncirculated bisa menembus Rp100.000 sampai Rp250.000, bahkan lebih jika kondisinya nyaris sempurna.
Versi Tipis Tahun 1991–1998, Lebih Umum Namun Tetap Dicari
Berbeda dengan versi awal, koin Rp100 Rumah Gadang edisi 1991–1998 dibuat dari aluminium berwarna keperakan. Bobotnya jauh lebih ringan, sekitar 1,79 gram, dengan diameter 26 milimeter dan tepi polos.
Karena diproduksi massal, koin versi tipis masih relatif mudah ditemukan. Meski demikian, cetakan awal—khususnya tahun 1991—tetap memiliki nilai koleksi tersendiri.
Di pasaran, koin kondisi umum biasanya dihargai Rp5.000 hingga Rp15.000. Namun untuk koin berkualitas tinggi atau kondisi langka, harga bisa naik ke kisaran Rp25.000 hingga Rp35.000.
Kondisi Fisik Jadi Penentu Utama Harga
Selanjutnya, kondisi koin menjadi faktor paling krusial dalam menentukan nilai jual. Ciri koin bernilai tinggi antara lain permukaan masih mengilap, detail ukiran terlihat tajam, pinggiran utuh, serta warna logam tetap alami tanpa oksidasi. Semakin mendekati kondisi sempurna, semakin tinggi pula daya tawarnya.
Strategi Menjual Koin agar Mendapat Harga Maksimal
Bagi pemilik yang ingin menjual koin Rp100 Rumah Gadang, lelang sering kali menjadi jalur paling menguntungkan. Pertama, lakukan riset harga dengan membandingkan penawaran di marketplace seperti Tokopedia dan Bukalapak, serta forum kolektor.
Setelah itu, ambil foto koin dengan pencahayaan yang baik agar detail terlihat jelas. Selanjutnya, pilih platform lelang yang sesuai, baik dalam negeri maupun internasional seperti eBay atau Catawiki.
Pastikan deskripsi koin ditulis lengkap dan jujur. Cantumkan tahun cetak, bahan, tingkat kondisi, serta riwayat penyimpanan. Terakhir, gunakan kemasan pelindung dan jasa pengiriman berasuransi untuk menjaga keamanan transaksi.
Perawatan Tepat Menjaga Nilai Koin Tetap Tinggi
Selain menjual, banyak kolektor memilih menyimpan koin sebagai investasi jangka panjang. Karena itu, perawatan menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.
Gunakan sarung tangan saat memegang koin agar terhindar dari noda jari. Simpan koin di tempat kering dan hindari kelembapan. Jangan membersihkan koin dengan bahan kimia, karena justru bisa merusak permukaan aslinya. Album atau kapsul khusus menjadi pilihan terbaik untuk penyimpanan jangka panjang.
Dari Alat Tukar ke Aset Investasi
Pada akhirnya, koin Rp100 Rumah Gadang membuktikan bahwa benda kecil dari masa lalu bisa memiliki nilai besar di masa kini. Selain menyimpan nilai budaya dan sejarah, koin ini juga menawarkan potensi investasi yang menjanjikan.
Bagi pemilik koin ini, keputusan pun ada di tangan: menyimpannya sebagai warisan sejarah, atau melepasnya saat nilai sedang tinggi.(*)









