Penertiban Lahan Bikin Produksi Sawit RI Mandek di 2026

- Jurnalis

Selasa, 10 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tampak lahan sawit di Indonesia

Tampak lahan sawit di Indonesia

BISNIS,JS– Pemerintah memperketat penertiban lahan perkebunan sawit. Kebijakan ini mulai menekan iklim investasi sektor sawit nasional. Akibatnya, produksi minyak sawit Indonesia terancam stagnan pada 2026.

Dorab Mistry, Direktur Godrej International Ltd, memproyeksikan Indonesia hanya mampu menjaga produksi di kisaran 50 juta ton. Sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, Indonesia kehilangan ruang pertumbuhan akibat kebijakan tersebut.

Baca Juga :  TNBS Musnahkan 98,8 Hektare Sawit Ilegal di Taman Nasional

Pengetatan Lahan Picu Kekhawatiran Investor

Pengetatan pengawasan lahan sawit memicu kekhawatiran investor. Ketidakpastian kebijakan membuat pelaku usaha menahan modal. Mereka menunda pembukaan lahan baru dan mengurangi belanja produksi.

Selain itu, pelaku usaha menekan penggunaan pupuk. Sejumlah petani bahkan memilih menghentikan kegiatan produksi karena merasa tidak aman berinvestasi.

“Rencana penyitaan tambahan 5 juta hektare pada 2026 membuat banyak orang ketakutan. Investor menghentikan ekspansi. Pertumbuhan industri pun berhenti,” ujar Mistry kepada Bloomberg, Selasa (10/2/2026).

Produksi Sawit Kehilangan Momentum

Kondisi tersebut mempersempit peluang peningkatan produksi sawit nasional. Tanpa ekspansi dan peremajaan kebun, produksi hanya bergerak di tempat.

Pada saat yang sama, tekanan dari kebijakan domestik melemahkan daya saing Indonesia di pasar minyak nabati global.

Baca Juga :  Petani Kegirangan, Berikut Harga TBS Sawit di Jambi

Harga CPO Tertekan Pasokan Global

Selain produksi, tekanan juga muncul dari sisi harga. Mistry memperkirakan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) turun pada April 2026.

Ia memprediksi harga CPO jatuh ke bawah 4.000 ringgit per ton. Angka ini setara sekitar Rp17.173 per kilogram dengan asumsi kurs Rp4.293 per ringgit.

Minyak Kedelai Amerika Selatan Banjiri Pasar

Lonjakan pasokan minyak kedelai dari Amerika Selatan menekan harga minyak nabati global. Pasokan besar tersebut membanjiri pasar internasional dan menggeser keseimbangan harga.

Negara sensitif harga seperti India langsung menyesuaikan strategi impor.

“Minyak sawit harus lebih murah agar menarik permintaan, terutama dari India,” kata Mistry.

Persaingan Sawit dan Kedelai Semakin Ketat

Dalam beberapa bulan terakhir, minyak sawit dan minyak kedelai bersaing ketat dari sisi harga. Pembeli aktif mengalihkan pengiriman sesuai selisih harga dan ketersediaan pasokan.

Sebelumnya, kilang dan produsen makanan India mengandalkan minyak sawit karena harga lebih terjangkau. Kini, mereka beralih ke minyak kedelai saat selisih harga menyempit.

“Sejak tahun lalu, pola perdagangan berubah total,” ujar Mistry.

India Perluas Negara Pemasok

Persaingan harga mendorong India memperluas sumber pasokan minyak nabati. Saat ini, India mengimpor minyak kedelai dari 10 negara. Sebelumnya, negara tersebut hanya mengandalkan tiga pemasok.

India menempati posisi sebagai importir terbesar minyak sawit, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari dunia. Total impor minyak nabati negara itu mencapai sekitar 16 juta ton per tahun.

Impor Sawit dan Kedelai India Meningkat

Kenaikan harga minyak bunga matahari mendorong India meningkatkan impor minyak sawit dan minyak kedelai. Kedua komoditas ini menjadi alternatif utama.

Mistry memperkirakan impor minyak sawit India mencapai sekitar 9 juta ton. Sementara itu, impor minyak kedelai berpotensi menembus 5,5 juta ton.

Perubahan arus perdagangan minyak nabati global ini menghadirkan tantangan besar bagi industri sawit Indonesia. Tekanan regulasi domestik dan persaingan harga global terus membayangi sektor ini.(AN/*)

Berita Terkait

Bank Digital Makin Populer, Transaksi Digital Indonesia Capai 5,50 Miliar
MotoGP Indonesia 2026 Segera Digelar, BRI Dorong Ekonomi Digital dan Peluang UMKM
Terbaru! KUR BRI Rp20 Juta September 2026: Cicilan Mulai Rp396 Ribu, Cek Simulasi Lengkap dan Syarat Pinjaman BRI
IHSG Hari Ini Diprediksi Melemah, Investor Wajib Cermati Level 6.000 dan 6.200
BI Rate Diprediksi Naik Lagi Akhir 2026, Rupiah Jadi Perhatian dan Dampaknya ke Bunga Bank
IHSG Anjlok 1,51 Persen, Ini 3 Saham Pilihan untuk Trading Pekan Ini
Harga Emas Perhiasan Hari Ini Senin 28 September 2026: Cek Harga per Gram Semua Kadar, Ada Perubahan Menarik
Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Ekonom Ungkap 3 Tekanan Global yang Bisa Bikin Kurs Makin Tertekan
Berita ini 56 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 21:45 WIB

Bank Digital Makin Populer, Transaksi Digital Indonesia Capai 5,50 Miliar

Rabu, 30 September 2026 - 18:01 WIB

MotoGP Indonesia 2026 Segera Digelar, BRI Dorong Ekonomi Digital dan Peluang UMKM

Rabu, 30 September 2026 - 15:01 WIB

Terbaru! KUR BRI Rp20 Juta September 2026: Cicilan Mulai Rp396 Ribu, Cek Simulasi Lengkap dan Syarat Pinjaman BRI

Rabu, 30 September 2026 - 14:00 WIB

IHSG Hari Ini Diprediksi Melemah, Investor Wajib Cermati Level 6.000 dan 6.200

Selasa, 29 September 2026 - 23:25 WIB

BI Rate Diprediksi Naik Lagi Akhir 2026, Rupiah Jadi Perhatian dan Dampaknya ke Bunga Bank

Berita Terbaru