SOLO,JS- Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, mengeluarkan peringatan tegas kepada seluruh Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia menegaskan, mobil operasional SPPG hanya boleh digunakan untuk mendistribusikan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Nanik menekankan, penggunaan kendaraan untuk belanja bahan pangan atau kepentingan lain melanggar aturan dan berpotensi menimbulkan sanksi berat.
“Mobil operasional SPPG khusus untuk distribusi MBG ke sekolah dan Posyandu. Jangan gunakan untuk belanja, apalagi urusan lain,” tegasnya.
Rapat Koordinasi Libatkan Ratusan Pengelola Dapur
Peringatan itu Nanik sampaikan dalam rapat koordinasi bersama 933 pengelola dapur MBG se-Solo Raya. Kegiatan tersebut melibatkan Kepala SPPG, Pengawas Keuangan, serta Pengawas Gizi dari Kota Surakarta, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sragen, dan Kabupaten Karanganyar.
Melalui forum tersebut, BGN menegaskan kembali standar operasional agar seluruh dapur MBG menjalankan program secara seragam dan disiplin.
Namun demikian, Nanik mengungkapkan masih menerima laporan adanya mobil operasional SPPG yang digunakan untuk belanja ke pasar.
“Kalau masih ada mobil operasional dipakai belanja ke pasar, saya langsung suspend,” ujarnya dengan nada serius.
Supplier Wajib Antar Bahan Pangan
Selanjutnya, Nanik meminta para Kepala SPPG bersikap tegas terhadap mitra atau supplier. Ia menegaskan, pengangkutan bahan pangan menjadi tanggung jawab penuh penyedia, bukan dapur MBG.
“Urusan angkut bahan pangan itu kewajiban supplier. Kepala SPPG harus berani menolak jika ada tekanan,” kata Nanik.
Dengan sikap tegas, ia berharap tidak ada lagi penyalahgunaan fasilitas negara.
Pengawasan Bahan Baku Jadi Fokus Utama
Selain kendaraan, Nanik menyoroti proses penerimaan bahan baku di dapur SPPG. Menurutnya, fase ini menjadi titik paling krusial dalam menjaga mutu makanan bergizi gratis.
Saat bahan pangan tiba di dapur, tiga unsur wajib hadir secara bersamaan. Pengawas Gizi memeriksa kualitas dan kesegaran bahan. Pengawas Keuangan mengecek harga agar sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) serta mencegah markup. Sementara itu, Asisten Lapangan menimbang dan mengukur volume bahan sesuai perencanaan.
Jangan Terima Bahan Bermasalah
Lebih jauh, Nanik meminta petugas tidak ragu mengambil keputusan di lapangan.
“Kalau bahannya busuk atau harganya di-markup, kembalikan ke supplier dan minta pengganti,” tegasnya.
Harapan untuk Program MBG
Dengan pengawasan ketat dan disiplin tinggi, Nanik berharap program MBG benar-benar menghadirkan makanan yang aman, higienis, dan bergizi bagi anak-anak penerima manfaat. Ia menegaskan, kualitas pangan menjadi kunci keberhasilan program nasional tersebut.(*)









