Monadi dan Tomi Emiral Terima Gelar Adat pada Pengukuhan Gelar Sko di Tigo Luhah Belui

- Jurnalis

Selasa, 16 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Kerinci, Monadi dan Anggota DPRD Kerinci, Tomi Emiral TERIMA Gelar adat Kehormatan dari lembaga adat Belui

Bupati Kerinci, Monadi dan Anggota DPRD Kerinci, Tomi Emiral TERIMA Gelar adat Kehormatan dari lembaga adat Belui

KERINCI,JS- Suasana sakral sekaligus meriah menyelimuti wilayah Empat Desa Belui, Kecamatan Depati Tujuh, Kabupaten Kerinci, Selasa (16/6/2026). Ratusan warga dari berbagai kalangan memadati lokasi prosesi adat untuk menyaksikan salah satu tradisi budaya paling bergengsi di Tanah Kerinci, yakni Pengukuhan Gelar Sko yang digelar oleh Lembaga Kerapatan Adat Tigo Luhah Belui.

Tradisi turun-temurun tersebut tidak hanya menghadirkan nuansa khidmat, tetapi juga memperlihatkan kuatnya komitmen masyarakat dalam menjaga identitas budaya di tengah derasnya arus modernisasi.

Masyarakat tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian acara sejak pagi. Tokoh adat, pemuka masyarakat, keluarga besar para pemangku adat, hingga generasi muda ikut larut dalam momentum bersejarah tersebut.

Lembaga Adat Kukuhkan Depati, Mangku dan Ninik Mamak

Dalam prosesi adat tersebut, Lembaga Kerapatan Adat Tigo Luhah Belui resmi mengukuhkan puluhan pemangku adat baru.

Sebanyak 7 orang Depati, 5 orang Mangku, serta 17 orang Ninik Mamak atau Rio menerima amanah adat untuk memimpin masyarakat sesuai tatanan budaya yang telah diwariskan leluhur selama ratusan tahun.

Pengukuhan ini memiliki makna penting bagi masyarakat Kerinci. Para pemangku adat bukan sekadar simbol budaya, melainkan figur sentral yang menjaga keseimbangan sosial, menyelesaikan persoalan masyarakat, hingga mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal.

Masyarakat Belui percaya bahwa keberadaan Depati, Mangku, dan Ninik Mamak menjadi benteng utama dalam menjaga persatuan masyarakat adat.

Selain itu, prosesi pengukuhan berlangsung dengan tata cara adat yang sangat kental. Para tokoh adat mengenakan pakaian kebesaran lengkap dengan atribut tradisional khas Kerinci yang memancarkan wibawa dan kehormatan.

Nuansa budaya semakin terasa ketika lantunan petatah-petitih adat menggema di tengah acara. Setiap tahapan prosesi berjalan penuh penghormatan terhadap nilai leluhur.

Baca Juga :  Viral di Kerinci! Lansia 76 Tahun Hidup Menumpang dan Kesulitan Berobat, Butuh Uluran Tangan

Monadi dan Tomi Emiral Terima Gelar Kehormatan Adat yang Bergengsi

Salah satu momen paling menyita perhatian masyarakat dalam prosesi tersebut ialah penganugerahan Gelar Sko kepada Bupati Kerinci, Monadi dan Anggota DPRD Kerinci, Tomi Emiral.

Lembaga Kerapatan Adat Tigo Luhah Belui secara resmi menyematkan gelar kehormatan:

“Depati Tanah Baserau Tanah Ba Imba Atur Negeri”

Gelar tersebut bukan sekadar simbol seremonial bagi seorang kepala daerah. Tokoh adat menilai Monadi memiliki hubungan emosional yang kuat dengan masyarakat Depati Tujuh.

Begitu juga dengan Tomi Emiral yang merupakan keturunan Asli Belui yang sudah mengabdi dan peduli dengan masyarakat belui.

Karena alasan itulah, masyarakat adat Tigo Luhah Belui memberikan penghormatan khusus kepada Monadi dan Tomi Emiral melalui gelar adat tersebut.

Momentum itu langsung mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang hadir. Banyak warga mengabadikan prosesi penganugerahan gelar adat menggunakan telepon genggam mereka.

Monadi Tegaskan Komitmen Menjaga Budaya Kerinci

Usai menerima gelar adat kehormatan, Monadi menyampaikan rasa syukur dan apresiasi mendalam kepada seluruh tokoh adat serta masyarakat Belui.

Ia menegaskan bahwa gelar adat tersebut bukan hanya bentuk penghormatan pribadi, melainkan amanah besar yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.

“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pemangku adat dan seluruh masyarakat Belui atas kehormatan luar biasa ini. Bagi saya, gelar adat ini bukan sekadar simbol, tetapi amanah besar untuk terus menjaga nilai budaya, adat istiadat, dan kebersamaan masyarakat Kerinci,” ujar Monadi.

Monadi juga mengenang masa-masa ketika dirinya bertugas sebagai Camat di wilayah Depati Tujuh.

“Saya memiliki banyak kenangan indah bersama masyarakat Depati Tujuh. Oleh karena itu, penghargaan adat ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi saya pribadi,” tambahnya.

Pernyataan tersebut langsung mendapat tepuk tangan meriah dari masyarakat yang hadir di lokasi acara.

Tradisi Gelar Sko Jadi Benteng Kearifan Lokal

Pengukuhan Gelar Sko bukan hanya acara seremonial budaya biasa. Tradisi ini memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi dalam kehidupan masyarakat adat Kerinci.

Gelar Sko menjadi simbol legitimasi sosial sekaligus penghormatan terhadap garis keturunan, kepemimpinan, dan tanggung jawab adat.

Di tengah perkembangan teknologi digital dan budaya modern, masyarakat Kerinci tetap mempertahankan tradisi ini sebagai identitas daerah.

Banyak tokoh masyarakat menilai tradisi adat seperti Pengukuhan Gelar Sko mampu memperkuat karakter generasi muda agar tidak kehilangan akar budaya.

Selain itu, tradisi adat juga berpotensi besar mendukung sektor pariwisata budaya di Kabupaten Kerinci.

Kerinci selama ini terkenal sebagai daerah wisata alam unggulan di Provinsi Jambi. Namun, kekayaan budaya yang dimiliki daerah tersebut juga menyimpan potensi besar untuk menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.

Dengan promosi yang tepat, tradisi adat Kerinci dapat berkembang menjadi daya tarik wisata budaya yang mendunia.

Budaya Jadi Perekat Persatuan Masyarakat Kerinci

Monadi menegaskan bahwa adat dan budaya memiliki peran penting dalam menjaga persatuan masyarakat.

Menurutnya, pembangunan daerah tidak boleh mengabaikan akar budaya lokal yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Kerinci.

Ia berharap tradisi pengukuhan adat seperti Gelar Sko terus dilestarikan dari generasi ke generasi.

“Budaya bukan hanya identitas daerah, tetapi juga perekat persatuan masyarakat. Karena itu, kita harus terus menjaga dan melestarikan adat istiadat agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” tegasnya.

Pernyataan tersebut sejalan dengan harapan tokoh adat yang ingin melihat generasi muda semakin mencintai budaya daerahnya sendiri.

Baca Juga :  70 Desa di Kerinci Resmi Go Digital, Urus Surat Kini Tak Perlu Antre Lama

Antusias Warga Warnai Prosesi Adat Tigo Luhah Belui

Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi sepanjang acara berlangsung.

Warga dari berbagai desa di wilayah Depati Tujuh hadir untuk menyaksikan langsung prosesi adat yang jarang digelar dalam skala besar tersebut.

Sebagian warga bahkan datang sejak pagi demi mendapatkan posisi terbaik untuk melihat rangkaian acara.

Tidak sedikit masyarakat yang menganggap prosesi Pengukuhan Gelar Sko sebagai momentum penting untuk memperkuat tali silaturahmi antarwarga.

Acara berlangsung penuh kekeluargaan. Tokoh adat, pejabat daerah, hingga masyarakat umum tampak menyatu dalam suasana kebersamaan yang hangat.

Momentum itu sekaligus memperlihatkan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Kerinci.

Tradisi Kerinci dan Wisata Budaya Nasional

Kuatnya unsur budaya, tokoh daerah, dan nilai kearifan lokal membuat tradisi Pengukuhan Gelar Sko memiliki daya tarik tinggi di era digital saat ini.

Konten budaya lokal dengan sisi human interest seperti ini sangat potensial menarik perhatian publik nasional, terutama pembaca yang menyukai tema budaya Indonesia, wisata adat, dan kepemimpinan daerah.

Selain itu, berita budaya dengan unsur tradisi unik memiliki peluang besar tampil di Google Discover karena mengandung nilai visual, emosional, serta kedekatan sosial yang tinggi.

Prosesi adat Tigo Luhah Belui pun menjadi bukti bahwa masyarakat Kerinci tetap berdiri kokoh menjaga warisan leluhur mereka di tengah perkembangan zaman yang terus berubah.(*)

Berita Terkait

Pemkab Merangin Perketat Pengawasan Dana BOSP, Sekda Minta Setiap Rupiah Anggaran Pendidikan Tepat Sasaran
ISPU Tembus 226, SMA-SMK dan SLB Jambi Terapkan Belajar Daring
Kabar Baik untuk Warga Bungo! Tiket Pesawat ke Jakarta Turun Jadi Segini
Karhutla Tebo Masih Jadi Ancaman, Status Siaga Darurat Berakhir 30 September 2026
Kebakaran Hebat di Pasar Baru Pelompek Kerinci Siang Ini, Satu Rumah Warga Ludes Dilalap Api
Nelayan 23 Tahun Hilang di Perairan Kuala Tungkal, Tim SAR Gabungan Kerahkan RIB untuk Pencarian
Soal Kisruh Bimtek BPD, Walikota Sungai Penuh Diminta Evaluasi Kinerja Kadis PMD
GRADE+ Resmi Hadir di Kota Jambi, Internet Unlimited 100 Mbps Mulai Rp210 Ribu, Gratis Instalasi
Berita ini 44 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 16:31 WIB

Pemkab Merangin Perketat Pengawasan Dana BOSP, Sekda Minta Setiap Rupiah Anggaran Pendidikan Tepat Sasaran

Senin, 28 September 2026 - 14:01 WIB

ISPU Tembus 226, SMA-SMK dan SLB Jambi Terapkan Belajar Daring

Minggu, 27 September 2026 - 20:31 WIB

Karhutla Tebo Masih Jadi Ancaman, Status Siaga Darurat Berakhir 30 September 2026

Minggu, 27 September 2026 - 14:01 WIB

Kebakaran Hebat di Pasar Baru Pelompek Kerinci Siang Ini, Satu Rumah Warga Ludes Dilalap Api

Minggu, 27 September 2026 - 13:01 WIB

Nelayan 23 Tahun Hilang di Perairan Kuala Tungkal, Tim SAR Gabungan Kerahkan RIB untuk Pencarian

Berita Terbaru