Suhu Indonesia Tembus 37,4°C, Ini Wilayah Terpanas dan Ancaman Kemarau Makin Kering

- Jurnalis

Selasa, 11 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA,JS- Gelombang panas dan kondisi kemarau mulai menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia. Data terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan beberapa daerah mencatat suhu maksimum lebih dari 35 derajat Celsius pada periode 10 Agustus pukul 07.00 WIB hingga 11 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB.

Kondisi tersebut terjadi ketika sebagian besar wilayah Indonesia memasuki fase kemarau. BMKG juga mencatat perkembangan indikator iklim yang menunjukkan atmosfer semakin mendukung kondisi kering.

Suhu maksimum tertinggi dalam periode tersebut mencapai 37,4 derajat Celsius. Angka itu tercatat di Stasiun Meteorologi Tebelian, Sintang, Kalimantan Barat.

Selain Sintang, sejumlah wilayah lain di Sumatera, Kalimantan, dan Aceh juga mengalami suhu maksimum di atas 35 derajat Celsius.

Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena cuaca panas dan minimnya hujan dapat meningkatkan kebutuhan air masyarakat, mempercepat pengeringan lahan, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Daftar Wilayah dengan Suhu Terpanas Menurut Data BMKG

Berdasarkan data BMKG untuk periode 10–11 Agustus 2026, berikut 10 stasiun yang mencatat suhu maksimum tertinggi:

  • Stamet Tebelian, Sintang, Kalimantan Barat – 37,4°C
  • Stageof Lampung Utara, Kotabumi, Lampung – 36,0°C
  • Stamet Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar – 35,8°C
  • Stamet Tanjung Harapan, Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara – 35,8°C
  • Stamet Pangsuma, Putussibau, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat – 35,7°C
  • Stamet Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan – 35,6°C
  • Staklim Aceh, Indrapuri, Aceh Besar – 35,6°C
  • Stamet Kalimarau, Berau, Kalimantan Timur – 35,5°C
  • Stamet Maritim Pontianak, Pontianak, Kalimantan Barat – 35,4°C
  • Stamet Nangapinoh, Nanga Pinoh, Melawi, Kalimantan Barat – 35,4°C
  • Sintang menempati posisi teratas dengan suhu 37,4°C.
  • Sementara itu, Kotabumi di Lampung berada di posisi kedua dengan suhu 36°C.

Beberapa wilayah Kalimantan juga masuk dalam daftar tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa cuaca panas tidak hanya terjadi di satu kawasan, tetapi muncul di sejumlah wilayah yang sedang mengalami pengaruh kuat musim kemarau.

Suhu 37 Derajat Celsius Bukan Berarti Seluruh Indonesia Mengalami Gelombang Panas

Masyarakat perlu memahami perbedaan antara suhu maksimum tinggi di suatu wilayah dengan fenomena gelombang panas secara umum.

Satu atau beberapa stasiun dapat mencatat suhu yang sangat tinggi karena kondisi lokal, seperti minimnya tutupan awan, rendahnya kelembapan, kuatnya radiasi matahari, serta kondisi permukaan tanah yang relatif kering.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa seluruh Indonesia sedang mengalami gelombang panas hanya berdasarkan satu angka suhu maksimum.

Namun, peningkatan suhu maksimum tetap menjadi indikator penting dalam menghadapi kondisi kemarau, terutama ketika wilayah tersebut juga mengalami penurunan curah hujan dalam periode yang cukup panjang.

Baca Juga :  Pertamax Turun Lagi! Ini Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Agustus 2026 di SPBU

Kemarau Meluas ke Ratusan Zona Musim

Perkembangan musim di Indonesia juga menunjukkan kondisi yang semakin kering.

BMKG mencatat sekitar 73,8 persen wilayah Indonesia atau 516 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau.

Angka tersebut menggambarkan luasnya wilayah yang menghadapi periode dengan curah hujan lebih rendah dibandingkan musim hujan.

Kondisi tersebut dapat memberikan dampak langsung terhadap berbagai sektor.

Sektor pertanian, misalnya, perlu menyesuaikan pola tanam dan pengelolaan air. Masyarakat di wilayah yang mengandalkan sumber air permukaan juga perlu mengantisipasi penurunan debit sungai maupun sumber air lainnya.

Selain itu, pemerintah daerah perlu memperkuat pemantauan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran lahan.

76 Persen Wilayah Mengalami Hujan di Bawah Normal

Kondisi kering semakin terlihat dari catatan curah hujan pada Dasarian III Juli 2026.

BMKG mencatat sekitar 76,3 persen wilayah Indonesia mengalami sifat hujan bawah normal.

Artinya, sebagian besar wilayah tersebut menerima curah hujan lebih rendah dibandingkan kondisi rata-rata klimatologisnya.

Situasi ini menjadi perhatian karena rendahnya curah hujan dapat membuat tanah kehilangan kelembapan secara bertahap.

Jika kondisi tersebut terus berlangsung, masyarakat dapat menghadapi sejumlah konsekuensi, mulai dari berkurangnya ketersediaan air hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Karena itu, pemantauan cuaca dan informasi resmi BMKG menjadi semakin penting selama puncak musim kemarau.

El Nino Kuat Ikut Mendorong Kondisi Kering

Salah satu faktor yang mendapat perhatian dalam perkembangan iklim Indonesia saat ini adalah El Nino.

Data yang disampaikan BMKG menunjukkan anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 berada di atas +2°C. Indikator tersebut menunjukkan kondisi El Nino berada pada kategori kuat.

El Nino dapat memengaruhi pola distribusi hujan di Indonesia. Dalam kondisi tertentu, fenomena tersebut membuat sebagian wilayah Indonesia menerima pasokan uap air lebih sedikit sehingga peluang hujan ikut menurun.

Dampaknya kemudian dapat terlihat melalui periode kemarau yang lebih kering di sejumlah wilayah.

Meski demikian, pengaruh El Nino tidak selalu sama di setiap daerah. Faktor lokal dan dinamika atmosfer lainnya juga ikut menentukan kondisi cuaca harian.

IOD Positif Tambah Tekanan terhadap Musim Kemarau

Selain El Nino, BMKG juga menyoroti perkembangan Indian Ocean Dipole (IOD).

Indeks IOD tercatat berada di angka +0,63, yang menunjukkan kecenderungan positif.

IOD positif dapat memengaruhi distribusi uap air di kawasan Samudra Hindia. Dalam kondisi tersebut, suplai uap air ke wilayah Indonesia dapat berkurang, terutama di sejumlah kawasan yang secara klimatologis memang rentan mengalami kondisi kering pada musim kemarau.

Kombinasi antara El Nino kuat dan IOD positif kemudian menjadi salah satu faktor yang membuat kondisi atmosfer Indonesia semakin mendukung terjadinya cuaca kering.

Hampir 96 Persen Wilayah Diprediksi Mengalami Hujan Rendah

Prospek cuaca pada Dasarian II Agustus 2026 juga menunjukkan dominasi kondisi kering.

BMKG memperkirakan sekitar 95,62 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan kategori rendah, yakni kurang dari 50 milimeter per dasarian.

Sementara itu, hanya sekitar 4,38 persen wilayah yang berpotensi menerima curah hujan kategori menengah.

Prediksi tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat perlu bersiap menghadapi periode dengan curah hujan terbatas.

Wilayah yang mengalami keterbatasan air perlu mengatur penggunaan air secara lebih efisien. Pemerintah daerah juga perlu memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak kekeringan.

Daerah yang Perlu Meningkatkan Kewaspadaan

Curah hujan rendah berpotensi terjadi di wilayah yang luas.

BMKG memprakirakan kondisi tersebut mencakup sebagian besar Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, hingga Papua.

Tidak semua wilayah akan mengalami dampak yang sama. Namun, masyarakat di daerah yang sudah memasuki musim kemarau perlu memperhatikan perubahan kondisi lingkungan.

Beberapa tanda yang dapat menjadi perhatian antara lain debit sungai yang menurun, sumber air yang mulai mengering, tanah yang semakin kering, serta meningkatnya potensi kebakaran lahan.

Risiko Karhutla Perlu Mendapat Perhatian Serius

Salah satu dampak paling serius dari musim kemarau panjang adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.

Lahan yang kehilangan kelembapan akan lebih mudah terbakar ketika terkena sumber api. Kondisi angin juga dapat mempercepat penyebaran api apabila kebakaran terjadi.

Karena itu, masyarakat perlu menghindari aktivitas pembakaran terbuka, terutama di area yang memiliki vegetasi kering.

Petani dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan juga perlu meningkatkan kewaspadaan.

Langkah sederhana seperti tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak membakar sampah di lahan terbuka, dan segera melaporkan titik api dapat membantu mengurangi risiko kebakaran.

Dampak Cuaca Panas terhadap Aktivitas Masyarakat

Suhu maksimum di atas 35°C juga dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Paparan panas dalam waktu lama dapat membuat tubuh kehilangan cairan lebih cepat. Masyarakat yang bekerja di luar ruangan perlu memperhatikan waktu aktivitas dan memastikan kebutuhan cairan tetap terpenuhi.

Selain itu, kondisi panas dapat membuat penggunaan listrik meningkat karena masyarakat lebih sering menggunakan kipas angin atau pendingin ruangan.

Dari sisi rumah tangga, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah sederhana untuk mengurangi dampak panas, seperti memperbanyak ventilasi, mengurangi paparan sinar matahari langsung, dan memastikan tubuh tetap terhidrasi.

Hujan Masih Bisa Turun Secara Lokal

Meskipun sebagian besar wilayah Indonesia menghadapi kondisi kering, masyarakat tidak perlu menganggap bahwa hujan sama sekali tidak akan turun.

BMKG tetap melihat peluang hujan lokal akibat adanya gangguan atmosfer tertentu.

Artinya, wilayah yang mengalami kemarau tetap dapat menerima hujan pada waktu dan lokasi tertentu.

Hujan lokal tersebut biasanya memiliki cakupan terbatas sehingga satu wilayah dapat mengalami hujan sementara wilayah di sekitarnya tetap panas dan kering.

Karena itu, informasi prakiraan cuaca harian tetap penting, terutama bagi masyarakat yang melakukan aktivitas di luar ruangan.

Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat Saat Kemarau?

Menghadapi kondisi kemarau yang semakin luas, masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah antisipasi.

Pertama, gunakan air secara hemat. Hindari penggunaan air secara berlebihan untuk aktivitas yang tidak mendesak.

Kedua, hindari pembakaran terbuka. Sampah, daun kering, dan material mudah terbakar sebaiknya tidak dibakar sembarangan.

Ketiga, perhatikan kondisi tubuh saat cuaca panas. Masyarakat yang melakukan aktivitas luar ruangan perlu menyediakan air minum dan menghindari paparan panas berlebihan.

Keempat, pantau informasi cuaca resmi. Perubahan kondisi atmosfer dapat terjadi dengan cepat sehingga masyarakat perlu mengikuti pembaruan prakiraan cuaca.

Kelima, tingkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran. Jika menemukan asap atau indikasi titik api, masyarakat sebaiknya segera melaporkannya kepada pihak berwenang.

Baca Juga :  Harga Emas Turun, Warga Indonesia Justru Serbu Investasi Emas, Simak Prediksi Harga hingga Akhir 2026

Cuaca Indonesia Agustus 2026 Perlu Dipantau

Data suhu maksimum dan perkembangan indikator iklim menunjukkan bahwa Agustus 2026 menjadi periode penting dalam perjalanan musim kemarau di Indonesia.

Suhu maksimum mencapai 37,4°C di Sintang menjadi salah satu indikator kondisi panas yang terjadi di sejumlah wilayah. Pada saat yang sama, luas wilayah yang memasuki musim kemarau telah mencapai 73,8 persen.

Prediksi curah hujan rendah yang mencapai sekitar 95,62 persen wilayah Indonesia juga menunjukkan bahwa masyarakat perlu bersiap menghadapi kondisi kering.

Namun, kondisi cuaca setiap daerah tetap dapat berbeda. Faktor atmosfer lokal dapat memunculkan hujan di wilayah tertentu meskipun secara umum Indonesia berada dalam periode kemarau.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak hanya melihat suhu maksimum, tetapi juga memperhatikan prakiraan hujan, kelembapan, angin, dan peringatan dini cuaca dari BMKG.

Kesimpulan

Indonesia memasuki periode kemarau dengan kondisi atmosfer yang semakin mendukung cuaca kering. Data BMKG periode 10–11 Agustus 2026 mencatat suhu maksimum tertinggi mencapai 37,4°C di Stamet Tebelian, Sintang, Kalimantan Barat.

Sejumlah stasiun lain juga mencatat suhu di atas 35°C, termasuk Lampung Utara, Aceh, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan sejumlah wilayah Kalimantan Barat.

Di sisi lain, sekitar 73,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut semakin mendapat perhatian karena 76,3 persen wilayah mengalami sifat hujan bawah normal pada Dasarian III Juli.

BMKG juga memperkirakan curah hujan rendah akan mendominasi Dasarian II Agustus 2026.

Kombinasi kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan, keterbatasan air, cuaca panas, dan kebakaran hutan serta lahan.

Informasi cuaca dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer. Karena itu, masyarakat sebaiknya selalu mengikuti pembaruan resmi BMKG sebelum melakukan aktivitas yang bergantung pada kondisi cuaca.(*)

Berita Terkait

Orang Kaya Dilarang Beli Pertalite, Pemerintah Siapkan Sistem Baru Berdasarkan Desil
Terbaru!, KIP Kuliah 2026: Cara Cek Penerima, Jadwal Terbaru, Besaran Bantuan hingga Proses Pencairan Dana
PPPK Tak Boleh Dirumahkan! Pemerintah Siapkan Rp18,9 Triliun untuk 546 Daerah
Karhutla Mengancam Sejumlah Wilayah, Bromo hingga Rinjani Terbakar di Tengah Musim Kemarau
Pertamax Turun Lagi! Ini Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Agustus 2026 di SPBU
Dana Rp20,5 Triliun Cair untuk 497 Pemda, GTKN Desak PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu
Punya Rumah Lebih dari Satu? Pemerintah Mulai Bidik Penghasilan Sewa untuk Perluasan Basis Pajak
Hasil CAT PPPK Sekolah Rakyat 2026 Kapan Keluar? Ini Jadwal Terbaru Kemensos
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 22:01 WIB

Orang Kaya Dilarang Beli Pertalite, Pemerintah Siapkan Sistem Baru Berdasarkan Desil

Selasa, 11 Agustus 2026 - 19:01 WIB

Terbaru!, KIP Kuliah 2026: Cara Cek Penerima, Jadwal Terbaru, Besaran Bantuan hingga Proses Pencairan Dana

Selasa, 11 Agustus 2026 - 18:13 WIB

Suhu Indonesia Tembus 37,4°C, Ini Wilayah Terpanas dan Ancaman Kemarau Makin Kering

Selasa, 11 Agustus 2026 - 10:30 WIB

PPPK Tak Boleh Dirumahkan! Pemerintah Siapkan Rp18,9 Triliun untuk 546 Daerah

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:01 WIB

Karhutla Mengancam Sejumlah Wilayah, Bromo hingga Rinjani Terbakar di Tengah Musim Kemarau

Berita Terbaru